Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 127 Cicin permata


__ADS_3

Rudi berlari menghampiri anaknya, yang tengah melempar kerikil batu pada jembatan.


Setelah sampai di belakang punggung anaknya, nafas lelaki berbadan kekar itu nampak terengah-engah. Membuat Rudi harus menarik nafasnya pelan, dan mengeluarkannya lagi secara perlahan.


Kedua tangan Rudi memegang bahu anaknya, Seraya berkata," kamu lihat dari pohon itu, ada sangkar burung yang terlihat di dalamnya, seorang ibu dan anak-anaknya. Burung yang menjadi Ibu dari anak-anak itu terus berterbangan kemana-mana, hanya untuk mencari makan, hanya untuk membuat anak-anaknya tidak kelaparan. Bagaimana jika ibu burung tidak kembali lagi membawa makanan untuk anak-anaknya yang masih kecil, apa mereka bisa mencari makanan sendiri atau terus hidup tanpa makanan. Tentu tidak Dodi. Mereka akan mati terlantar. Tanpa kasih sayang tanpa makanan dari ibu burung yang tak kembali."


Dodi hanya terdiam, mencerna perkataan papahnya.


"Coba kamu liat papa ke sini, papah ingin tanya sama kamu?"


Saat itu mulut Dodi mulai berucap." tanya apa!"


"Dodi mau jadi anak-anak burung itu?" tanya Rudi menujuk pada batang pohon besar dengan adanya sangkar burung.


Dodi menggeleng-gelengankan kepala, seraya menjawab," tidak mau."


Rudi terseyum dan mengelus pipi kiri anaknya dan berkata," jika kamu tidak mau jadi anak-anak burung itu, kamu harus menerima semua takdir yang di berikan yang maha kuasa untuk kita. Jika orang yang kita cintai pergi, berusaha untuk menerima, dan bangkit dari keterpurukan, jangan sampai menunggu hingga kita menjadi orang yang menyesal di kemudian hari dan mati sia-sia."


"Papah, Dodi sayang papa," ucap Dodi memeluk sang papah begitu erat. Air mata yang sudah Rudi tahan kini mengalir juga ke dasar pipi."


"Papa Dodi sekarang bisa menerima mama, jika mama sudah tiada. Dodi tidak akan jadi anak burung yang hanya menunggu dan mati sia-sia. Dodi akan terus bangkit dan menjadi anak ceria, untuk papah."


Rudi menangis terisak-isak saat Dodi berucap, nada tangisannya terdengar membuat Dodi mengusap pelan punggung papahnya.


"Terima Kasih, sayang."


Mereka bergegas pergi ke rumah sakit, setelah membeli kueh.


Setelah sampai di rumah sakit, Dodi mulai menghampiri ranjang Ami dan berkata.


"Mama, selamat ulang tahun, walau di ulang tahun mama yang sekarang mama tidak melihat Dodi, Dodi sangat senang. Saat mama, datang ke alam mimpi Dodi."


Bu Sumyati yang mendengar ucapan Dodi di hadapan Ami, menangis terisak-isak.

__ADS_1


Ciuman mendarat dari bibir mungil anak itu pada kening sang ibu.


"Mama, maafkan Dodi yang suka nakal. Dodi janji kalau mama sembuh Dodi enggak bakal lagi nakal, dan bakal jadi anak baik. Tapi jika sang maha kuasa sudah rindu mama untuk kembali kepangkuannya, Dodi sudah ikhlas, Dodi akan tetap jadi anak baik dan selalu memberikan doa untuk mama."


Rudi mendekat, memberikan hadiah untuk Ami yang di pilihkan Dodi.


"Mama, dengar Dodi bicarakan, oh ya. Dodi mau cerita loh sama mama. Tadi Dodi beli cincin permata untuk mama, pelayan tokonya baik loh ma. Kaka itu bilang kalau mama di kasih hadiah cincin permata, mama akan terseyum dan meluk Dodi. Tapi jika mama tidak meluk Dodi atau terseyum Dodi tidak apa-apa ko mah. Yang ada sekarang Dodi yang meluk mama dan terseyum pada mama."


Bu Sumyati yang mendengar cucunya berkata seperti itu, dia pergi ke luar ruangan. Menangis sekeras mungkin, air mata terus saja tumpah hingga tak tertahankan lagi.


Sedangkan Rudi masih bertahan dan menemani anaknya untuk tetap bercerita.


"Mama, nih cincinnya Dodi pasangin di jari manis mama. Wah, cantiknya."


Dodi yang melihat sang Mama masih menutup mata membuat dirinya tersenyum palsu, ia menahan kedua mata agar tidak menangis.


"Papa, nenek kemana?" tanya Dodi pada sang papa.


" Nenek ada di luar ruangan, sayang!" jawab Rudi.


Dodi malah melangkahkan kakinya ke luar ruangan, ia melihat sang nenek yang duduk menangis terisak-isak.


"Nenek, kenapa ada disini?"


Dodi bertanya dengan suara lembutnya sembari memegang kue bolu. Sang nenek langsung berdiri, sembari mengusap air mata yang terus mengalir.


"Loh, Dodi ngapain coba ke sini, emang sudah cerita sama neneknya?"


Pertanyaan sang nenek membuat Dodi terseyum ceria dan berkata," sudah nek. Dodi pengen ngasih bolu ini pada nenek, karna tanpa nenek Dodi tidak bisa tubuh besar seperti ini."


Bu Sumyati menerima bolu yang diberikan oleh Dodi, Rudi menghampiri mereka berdua, mencoba untuk membantu memegang bolu Itu.


Dodi yang begitu terlihat ceria, perlahan memotong bolu dan menyuapkan kepada sang nenek.

__ADS_1


"Gimana rasanya? enakan kan, nek."


Sang nenek menganggukan kepala dan berkata," enak sekali Dodi."


Bu Sumyati langsung memeluk begitu erat, menangis terisak-isak." Nenek Jangan menangis, kalau nenek manangis Dodi jadi sedih."


" Iya, Iya. Nanek enggak bakal Menangis lagi."


Mereka menikmati kueh yang Dodi beli dengan seyuman dan kebahagiana. Kini Dodi merasakan dirinya seakan tidak ada beban yang membuat ia terus menangis dan berharap.


Di sisi lain Dodi melihat bayangan putih terseyum menampakan pada dirinya wajah sang ibu, membuat Dodi membulatkan matanya dan mengosok-gosonya dengan punggung tangan. Tak percaya apa yang ia lihat.


"Mama?"


Dodi berlari menuju ruangan sang mama, tangan dan bibirnya bergetar hebat. Membuat Rudi mengejar Dodi ikut masuk ke ruangan Ami di rawat.


"Ada apa Dodi?" tanya Rudi pada anaknya.


Dodi tak bisa berkata jujur, Kalaupun dia berkata jujur kepada sang papa, mungkin Rudi tidak akan percaya apa yang di katakan dan di lihat Dodi.


Membuang pikiran negatif Dodi berpikir, bahwa itu hanyalah khayalan semata dari mata dan pikirannya yang membuat suatu bentuk asap menjadi bayangan wajah sang mama.


Melihat Ke sisi ranjang tempat Ami terbaring, Dodi langsung memeluk punggung tangan Ami dan berkata," jangan menjadikan aku bebanmu mama, Dodi akan selalu pasrah, apa yang sudah menjadi kehendak sang maha kuasa."


Rudi terseyum dan melihat Dodi menutup mata, hingga anak itu terlelap tidur. Dengan kepala yang di tahan oleh tangannya.


Mengelus kepala Dodi dan mencium kening anaknya," kamu pasti kelelahan Dodi."


Sang nenek yang datang dengan pelan melangkah dan berbisik," Dodi tidur."


Baru saja, Rudi berbalik arah, Ami seakan menarik nafasnya. Mengangkat dada, seakan orang yang tengah bertaruh menahan sakit ketika ajal menjemput.


Semua tampak panik, membuat Rudi mendekat ke arah telinga Ami.

__ADS_1


Apa ini akhir dari segalanya?


__ADS_2