
Rudi membuka lembar surat yang baru saja ia pegang, membaca setiap baris kata, ada air mata yang tak terduga. Yang mulai jatuh dari pelipih mata lelaki bertubuh kekar itu, tanganya Rudi bergetar. Nafasnya mulai tak beraturan.
Ami mengelus punggung sang suami. Mengusap setiap bulir bening yang jatuh saat itu.
Isi surat itu adalah, kata maaf dari seorang Bu Nunik.
Maafkan ibu nak, sejauh ini ibu telah jahat padamu. Ibu tersadar dari ganguan jiwa ibu ketika, kamu sering menengok ibu ke rumah sakit jiwa. Ibu menyesal sekali, dengan apa yang telah ibu lakukan selama ini.
Asal kamu tahu, ibu sangat menyayangimu Rudi.
Lelaki bertubuh kekar itu seketika menjatuhkan badannya hinga duduk, seraya berkata." setelah berubah kenapa, tuhan ambil Ibu Nunik saat ini."
Melihat Rudi yang duduk di bawah lantai, membuat Ami seakan tak kuasa. Wanita berwajah tirus itu memeluk sang suami seraya berkata,"semua takdir. Apapun itu sudah garis tangan yang maha kuasa, kita sebagai manusia hanya mampu berserah diri. Menerima semuanya."
Melirik pada wajah istrinya. Rudi langsung memeluk balik Ami saat itu, dengan begitu erat. Langakah kaki terdengar dari kejauhan, Ami melirik wanita tua itu ternya Bu Sumyati yang tengah, berlari tergopoh-gopoh menghampiri anak-anaknya.
"Rudi, Ami," panggil Bu Sumyati. Ibu Sumyati membantu anaknya Rudi untuk bangun, membawa ke tempat kursi rumah sakit.
"Bagaimana Almarhum Bu Nunik, apa sudah di makamkan?" tanya Bu sumyati yang baru saja datang.
"Katanya sudah, oleh pihak rumah sakit. Karna mayat Almarhum Bu Nunik tidak bisa berlama-lama di ruang pendingin. Entah kenapa katanya mayatnya langsung membusuk begitu saja!" jawab Ami.
"Sebaiknya kita pergi ke pemakaman Almarhum Bu Nunik," ajak Bu Suamyati pada Alan dan Ami.
Mereka segera bergegas pergi menuju pemakaman Alamarhum Bu Nunik, dengan langkah ngontai Rudi memaksakan diri untuk melihat pemakaman Almarhum Bu Nunik.
Entah kenapa tiba-tiba jalanan begitu macet, membuat perjalanan menuju pemakaman Bu Nunik sedikit terhalang. Angin begitu besar membuat dedaunan berserakan kemana-mana.
Ada rasa ngeri menyelimuti Bu Sumyati saat itu.
"Ada apa ini?"
Bu Sumyati berdoa dalam hati, lancarkan semuanya. Aku telah memaafkan segala kesalahan Nunik.
Rudi masih melamun, ia seakan tak percaya dengan semuanya.
**************
Berbeda dengan Alan dan Delia mereka seakan menikmati indahnya kebersamaan dan rasa cinta yang baru tubuh di hati mereka.
Terik matahari menyinari kamar tidur mereka yang berantakan, bantal berserakan kemana-mana. Karna pertempuran yang baru di rasakan Alan.
Membuka mata, menikmati setiap sinar yang masuk ke dalam kamar tidurnya," sudah siang," ucap Alan. Lelaki itu terperanjat bangun dari kasur, mengeliatkan kedua tanganya.
"Hari yang bahagia," seyum mengambang di bibir sang Dokter Alan. Betapa tidak dia bahagia merasakan, rasanya bercinta dengan sang istri.
Meraba kasur, ternyata Delia tidak ada di pinggirnya.
__ADS_1
"Kemana istriku," ucap Alan. Lalaki berkulit putih itu,
Segera bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Mencium setiap aroma tubuhnya sudah wangi. Alan dengan rasa senang dan bahagia, mencari sang istri,dimana kah istri tercintanya berada? Memanggil-manggil nama Delia.
"Sayang ...." Panggil Alan beberapa kali. Tidak ada jawaban dari Delia, mencari ke dapur pun tidak ada.
"Kemana istriku ini," ucap Alan. Pelan.
Alan mencari kekolong meja pun tak ada, keluar pun tak ada. Sampai saat itu sebuah pelukan dari belakang datang tiba-tiba, merasakan pelukan pada punggungnya .
Alan membalikan badan, ternyata istrinya, Delia terseyum memakai Lingerie berwarna merah yang teransparan. Membuat mulut Alan membuka lebar.
"Seksi sekali," ucap Alan. Menatap sang istri tanpa berkedip sedikitpun.
"Gimana kalau kita lanjut," ajak Alan kepada sang istri.
"Lanjut makan?" tanya Delia.
Alan mengeleng-gelengkan kepala, mengedipkan kedua matanya. " Ehem ... ehem."
Delia terseyum seraya berkata," malam ajah. Aku sakit pinggang!" jawab Delia. Membuat Alan lemas tak berdaya.
"Aku buatin makanan loh buat kamu sayang," ucap Delia menarik tangan Alan.
"Aku belum lapar sayang," ucap Alan. Delia menarik paksa suaminya, untuk duduk di kursi makan.
Menatap hidangan di meja seakan membuat perut keroncongan, ada rasa ragu memakan masakan Delia. Namun Alan mencoba menahan keraguan itu, menyuapkan secara perlahan pada mulutnya.
Mengunyah dengan pelan, mata Alan membulat seraya berkata," ini enak sekali."
"Beneran ni, jangan bohong."
"Ya, beneran sayang."
"Kemarin aja, bohong. Tahunya masakan aku keasaninan."
Alan kaget dengan ucapan istrinya saat itu.
"Ko kamu bisa tahu?" tanya Alan.
Delia menundukan pandangan dan menjawab!" pasti tahu lah, orang aku di paksa sama Ami. Nyobain nasi goreng buatan ku sendiri, dan ternyata keasinan. Kebetulan Ami bikin resep buat aku. Nih bukunya."
"Pinter, gitu dong Ami kan wanita hebat."
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Istriku yang terhebat!"
Mereka tertawa merasakan kebahagiaan.
Saat itu ... tok ... tok ..., suara pintu.
Alan bergegas menghampiri suara itu, saat di lihat ternyata Pak Hendra dan Sisi sudah pulang.
"Ada apa pah?" tanya Alan. Menatap ke arah wajah wanita di sebelah ayahnya seakan kesal.
"Alan, tolong bantu papah untuk jagain Sisi. Kasian dia tidak bisa melihat!" jawab Pak Hendra. Membuat Alan seakan enggan menjaga Sisi saat itu.
"Maaf pah, kayanya Alan engga bisa," tolak Alan.
"Bantu papah satu minggu ini ya," permohonan ayah pada anaknya.
"Kenapa papah malah menyuruh Alan mengurus Sisi, bukanya sebentar lagi Sisi bakal papah talak. Dan dia bukan siapa-siapa lagi di keluarga kita," ucap Alan.
Pak Hendra seakan sedih dengan perkataan anaknya.
"Tolong bantu papah, satu minggu ini. Papah akan pulang menemui mamah mu dan mengurus surat cerai."
Lelaki tua itu terus memohon pada anaknya agar mau membantunya.
"Itu urusan papah, Alan sudah tidak mau ikut campur urusan papah sekarang. Sebaiknya papah pergi dari sini," usir Alan. Membuat Pak Hendra membalikan badan, kecewa dengan perkataan anaknya.
Delia mendekat ke arah Alan seraya bertanya,"ada apa?"
"Papah, membawa Sisi ke rumah ini. Untuk kita urus!"
jawab Alan membuat Delia seakan tengah berpikir.
Wanita bermata sipit itu, membisikan pada Alan sebuah rencana. Alan yang mendengar rencana itu seakan tertarik.
"Gimana?" tanya Delia.
"Menarik."
Saat itu Alan, berlari menghampiri ayahnya.
"Pah, tunggu," panggil Alan. Pak Hendra langsung membalikan badan," ada apa?"
"Kami mau mengurus Sisi selama seminggu," ucap Alan. Pak Hendra begitu senang dengan perkataan anaknya.
Saat itu Alan membawa Delia masuk ke dalam rumahnya, berbeda dengan Pak Hendra yang terburu-buru untuk pulang.
Delia dan Alan terseyum, mereka tak sabar ingin mengerjai Sisi.
__ADS_1