Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 264 Tangan Ita yang ngemetar.


__ADS_3

“Saya tidak tahu, Dok. Jelas saya ada di ruangan Delia pagi itu. Saya tidak pergi kemana-mana,” ucap Ita, Ane tetap saja bersikeras bahwa Ita berbohong.


“Ita jika kamu berkata jujur, aku tidak akan memecatmu. Jujurlah Ita,” balas Dokter Ane menekan Ita.


“Saya berkata apa adanya, dok. Saya memang tidak mas ....,”


Belum perkataan Ita terucap semuanya Ane langsung memukul meja yang berada di hadapannya,” cukup. Aku tegaskan lagi padamu, Ita. Aku beri kamu kesempatan. Berkata jujur atau kamu aku pecat sekarang juga.”


Ane adalah orang yang tegas, ia selalu menekan orang yang menurut dirinya mencurigai. Ita yang hanya berdiri sembari menundukkan pandangan, kini hanya bisa pasrah dan berkata,” saya sudah berkata apa adanya. Jika memang dokter mau memecat saya silakan saja, tidak perlu menekan saya untuk berkata jujur. Karna saya sudah berterus terang dengan apa yang saya katakan, dan tak ada kebohongan yang saya sembunyikan.”


Di tengah perbincangan yang menegangkan, seseorang datang mengetuk pintu.


Tok .... Tok ....


Membuat Ane langsung menyuruh orang itu masuk.


“Masuk.”


“Maaf Dokter, ada yang mau bertemu dengan dokter.”


“Suruh dia masuk.”


“Baik, dok.”


Saat itulah orang itu masuk, membuat Ane sedikit kaget.


“Alan.”


“Apa kabar Ane.”


Ane langsung menyuruh Ita pergi dari ruangannya dan berkata,” urusan kita belum selesai.”


“Baik, dok.”


Ita ke luar dari ruangan Ane, ia menemui Delia kembali. Yang di mana Delia tengah duduk menyisir rambutnya agar terlihat rapi.


“Suster Ita, akhirnya kamu kembali lagi?” tanya Delia. Tersenyum seraya menyisir rambutnya dengan pelan.


Ita menatap tajam ke arah Delia, hatinya seakan curiga. Apa semua ulah Delia? Tapi mana mungkin, karna Delia masih dalam tahap penyembuhan. Dirinya tak mungkin bisa melakukan hal yang membuat orang bertanya-tanya dalam kebingungan. Apalagi dalam melakukan hal yang begitu membahayakan.


“Hey, Suster Ita. Kenapa kamu melamun seperti itu? Apa ada yang tengah kamu pikirkan?” tanya Delia.


“Hem, tidak!” jawab Ita.


Delia tersenyum senang hatinya berbisik,” dasar bodoh. Dia tidak tahu apa keahlianku selama ini.”

__ADS_1


“Oh ya, Delia waktunya kamu minum obat,” ucap Suster Ita, mulai menyediakan beberapa obat untuk Delia minum.


“Oke,” balas Delia.


Ita begitu ragu, saat mendekat ke arah Delia. Bibirnya begitu gatal ingin bertanya tentang dirinya kenapa bisa tertidur di atas ranjang Delia.


“Sudah selesai.”


Delia kini mulai membaringkan tubuhnya setelah meminum obat, tapi karna Ita yang benar-benar tak kuat ingin bertanya. Dengan terpaksa bertanya pada Delia.


“Aku ingin bertanya padamu?”


Delia membuka matanya kembali, yang tadinya ia sengaja tutup. Untuk segera tidur siang.


“Suster Ita mau bertanya apa padaku!”


Delia kini bangun dan duduk di atas ranjang tempat tidur.


“Kenapa aku bisa tertidur di atas ranjangmu, sedangkan aku tadi pagi tengah mempersiapkan obat,” ucap sang suster.


Membuat kedua alis Ita mengkerut,” mm, entahlah. Bukanya suster yang menyuruhku pergi, agar suster bisa beristirahat di ranjang tempat tidurku.”


Suster Ita, sama sekali tak mengingat apa yang di katakan Delia.” Kenapa aku tidak mengingat semuanya Delia?”


Delia tertawa terbahak-bahak,” mungkin karna keasyikan tidur suster jadi lupa.”


“Ada lagi yang mau di tanyakan Suster Ita?” tanya Delia.


Suster Ita menggelengkan kepala dan menjawab!” tidak ada.”


“Ya, sudah kalau begitu saya mau tidur. Karna waktunya jam tidur siang saya,” balas Delia.


Pada saat itulah Ita mulai masuk ke kamar mandi, membersihkan wajahnya yang terlihat suntuk.


Hanya saja ada hal yang mencurigakan pada saat Ita membuang tisu bekas mengelap wajahnya, ia melihat tong sampah itu ada bercak darah yang entah bekas apa itu.


Membuat ia tanpa ragu mencium bekas darah itu, baunya begitu anyir dan segar. Seperti baru saja di buang dengan sengaja.


Karna hatinya yang penasaran, tong sampah itu di lumuri bercak-bercak darah. Begitu segar, Ita sanggatlah kaget. Kepalanya terasa berdenyut apalagi tangannya begitu gemetar.


Ita ingin sekali, mengeluarkan isi perutnya. Namun ia tahan, dengan tergesa-gesa Ita ke luar dari kamar mandi itu dan membuat ia tak sadar menabrak sahabatnya yang masuk ke dalam kamar mandi.


“Aduh, Ita. Kamu ini kenapa sih, bisa tidak pelan-pelan kalau jalan,” pekik sang sahabat.


Ita hanya berkata,” maaf.” Pada saat itulah ia ke luar dari kamar mandi. Untuk segera menemui Delia.

__ADS_1


Namun, betapa kagetnya Ita, Delia sudah ada di depan pintu tengah berdiri tegak. Membuat ia kaget setengah mati.


“Delia.”


Jantung Ita berpacu lebih cepat dari sebelumnya, hatinya tak karuan.


Delia menutup mulutnya, yang menguap. “Suster Ita lupa ya.”


Ita mengerutkan alisnya, tak mengerti dengan perkataan Delia,” lupa apa Delia?”


“Suster Ita memberikan aku terus menerus obat. Tapi tidak memberikan aku makan.”


Ita benar-benar lupa dengan itu, ia lupa memberi makan untuk Delia terlebih dahulu.


“Maaf Delia, aku lupa. Aku ambilkan dulu makan untuk kamu.”


Delia menganggukkan kepala, dia kembali lagi ke ranjang tempat tidurnya.


Saat itulah Ita mulai berjalan kembali ke arah dapur rumah sakit, iya lupa jika pengantar makanan sedang cuti saat ini. Jadi terpaksa yang mengambilkan makanan untuk pasien dirinya.


Pikirannya kembali mengingat tentang darah yang berada pada tong sampah, darah yang begitu segar. Membuat Ita bergidik ngeri.


“Sebenarnya kenapa ada darah di dalam tong sampah itu?” tanya Ita dalam hatinya sendiri.


Ita seakan memikirkan semua itu, sampai di mana. Tanpa sengaja Ita menabrak mayat Ainun yang akan di bawa pulang oleh keluarganya.


Ita tak sengaja menarik kain putih, dan membuat wajah Ainun terlihat begitu hancur.


“AHKK ...”


Suster yang membawa mayat Ainun, kini menutup kembali kain putih itu,” jalan itu hati-hati Ita.” Tegas sang suster.


“Maaf, aku enggak sengaja.”


Tangan Ita semakin bergetar hebat, ia benar-benar merasa ketakutan sekali,” kenapa semua begitu menyeramkan.”


Ia mulai memberanikan diri berjalan ke dapur, dengan menarik napasnya lalu mengeluarkan secara perlahan. Melupakan hal yang menakutkan pada dirinya.


“Tenang Ita, kamu harus. Tenang.”


Setelah hatinya mulai tenang, Ita mulai berjalan lagi ke tempat dimana ia mau mengambilkan makanan untuk pasien Delia, dia baru ingat jika pergi ke arah dapur sama saja melewati ruangan Pak Deni.


Dengan rasa penasarannya ia menatap kearah jendela ruangan Pak Deni, dimana lelaki itu terbaring dengan kedua kaki yang tak bisa di ucapkan Ita.


“Aku tak menyangka Pak Deni bisa mendapatkan musibah seperti itu.”

__ADS_1


Saat ia fokus menatap ruangan jendela kamar Pak Deni tiba-tiba?


__ADS_2