
Dina yang tak tega melihat Sarah, menempelkan pistol pada kepala suruhannya. Seketika langsung menghentikannya saat itu juga.
“Tunggu.”
Jari tangan yang mulai menekan pistol seketika terhenti saat Dina menghentikan aksi di Sarah. Wanita ber rambut pendek itu langsung berkata kepada Sarah,” aku percaya padamu sekarang.”
Sarah tersenyum kecil, ia kini meletakan pistolnya di atas meja.
“ kalau kamu sudah Percaya Padaku, berarti kamu mau apa keinginan?” tanya Sarah melipatkan kedua tangannya, mendekat ke arah wajah Dina yang menunduk penuh keraguan.
“Iya, aku akan menuruti apa keinginanmu!” jawab Dina.
Sarah tertawa dengan apa yang di ucapkan Dina, dia senang jika wanita yang ia tangkap bisa ya bodohi dengan segitu gampangnya.
Pada saat itulah Sarah mulai mengajak Dina untuk segera makan, karena ia tahu kenapa pasti kelaparan seharian berada di dalam hutan.
Sarah memperlakukan Dina seperti Tamu Istimewa, sedangkan Dina sedikit enggan akan tawaran yang selalu Ia berikan. Dimakan ataupun yang lainnya.
“Ayolah makan, aku tidak akan meracuni kamu. Kan aku sangat membutuhkan kamu Dina.”
Dina menelan ludah, ia mulai duduk di kursi, menikmati makanan yang berada di atas meja. Makanan yang baru saja ia temukan kembali.
Wajah Dina yang menunduk sekilas menatap ke arah Sarah yang tengah menikmati makanan bersamanya, Dina seakan melihat wanita bernama Sara itu, persis sekali dengan wanita yang mengaku-ngaku sebagai ibu Dodi di dalam pesawat.
“Kenapa kamu memandangku begitu, Dina?”
Pertanyaan Sarah membuat Dina langsung menatap ke arah wajahnya, ia berucap dengan nada sedikit ragu,” wajahmu mengingatkan aku pada wanita di dalam pesawat.”
Kini Sarah mulai menghentikan makanan yang akan ia suapan pada mulutnya, ia menaruh pada piringnya kembali dan bertanya,” Apa wanita itu bernama Sarah juga?”
Kini Dina menjawab dengan sedikit tenang,” iya. Dia salah satu penumpang yang mengaku bahwa dirinya adalah ibu dari Dodi.”
“Uuh, menarik. Terus sekarang dia ada di mana?” tanya Sarah membuat Dina menceritakan semuanya.
“Dia mati di terkam hewan buas di dalam hutan. Mayatnya sudah di bawa ke rumah sakit. Oh ya apa jangan- jangan dia suruhan kamu?” tanya Dina dengan lancangnya.
Sarah tersenyum kecil pada saat itulah ia berkata,” dia bukan suruhku saja, dia itu adik pertamaku wajahnya memang percis denganku.”
Setelah mendengar ucapan itu, Dina tak mengerti dengan pikiran Sarah.
“Kenapa dengan kamu Dina, apa kamu tidak mengerti dengan akal pikiranku kenapa aku tidak sedih.”
“Mm, entahlah. Apa kamu tidak menyesali kepergian adikmu sendiri?”
Sarah tersenyum dan berkata,” untuk apa. Hanya membuang-buang waktu menyesali kepergian orang yang memang sudah di takdirkan mati.”
Deg ....
__ADS_1
Ucapan Sarah sangat lah keterlaluan.
Setelah acara makan selesai, Dina mulai meminta izin pada Sarah untuk pergi ke toilet. Pada saat itulah, Sarah menunjuk di mana letak toilet itu.
Rumah Sarah sangat lah besar, sampai Dina penasaran dengan isi ruangan yang tertutup. Membuat ia mengintip sekilas pada ruangan itu,” ada apa ya, di dalam ruangan itu?”
Setelah melihat pada ruangan itu, terlihat seorang lelaki terikat. Wajahnya bengkak dan dari ujung bibirnya darah mengalir segar.
“Siapa lelaki itu?”
Tiba-tiba satu tangan memegang bahu Dina, membuat Dina menghela nafas panjang ketakutan.
“Sarah.” Dina memegang dadanya dengan tangan kanan, kaget dengan Sarah yang ada di depan mata.
“Dina, bukanya kamu mau ke toilet?” tanya Sarah. Mengangkat ke dua alisnya.
“Iya, aku sempat lupa jalannya. Dan melihat ke sana ke mari belum menemukan toilet sama sekali!” jawab Dina. Gugup.
Sarah mulai menunjuk jari ke arah pintu toilet, mendekat ke arah Dina.
“Dina, kamu tinggal lurus saja. Tak perlu belok ke sana ke mari.” Bisik Sarah pada telinga Dina.
kini Dina mulai berjalan secara perlahan, hatinya sedikit ketakutan dengan bisikan yang tak biasa di lontarkan Sarah.
Hatinya mulai bertanya-tanya, siapa lelaki yang terikat dengan tali dan juga wajah bengkak itu?
"Ternyata tidak ada?"
Dengan tenangnya ia mulai melepaskan celananya untuk sekedar buang air kecil saja.
Setelah selesai.
Belum juga membuka pintu.
"Tolong ... tolong."
Gedoran dan suara lolongan terdengar dari toilet yang di tempati Dina, hatinya sedikit penasaran. Ia melihat ke arah jendela toilet yang sengaja di tutup.
Perlahan dan yang apa ia lihat sungguh mengejutkan hati, kedua matanya membulat tak percaya dengan apa yang ia lihat. Tangannya bergetar ketakutan.
Ia mendengar suara Sarah begitu jelas, saat jendela yang sengaja di tutup itu ia buka.
"Cepat jelaskan padaku, apa rencana kamu datang ke sini. Apa kamu tahu keberadaan Ami dan istrimu sekarang?"
Lelaki itu menundukan pandangan terdiam, ia tak menjawab pertanyaan Sarah.
Saat itulah Sarah langsung mencekram pipi lelaki itu dengan erat, membuat rasa sakit terasa pada mulut lelaki itu.
__ADS_1
"Aku tidak akan biarkan istriku tertangkap olehmu, asal kamu tahu. Untuk apa kamu mencari keberadaan Ami."
Lelaki itu kini di pukul habis-habisan sampai darah bercucuran lewat sobekan bibir.
"Cepat katakan."
Lelaki itu ialah Arpan, begitu menjaga mulutnya tak ingin Ami dan yang lainnya dalam bahaya.
"Sampai mati pun tak akan aku beritahu di mana keberadaan Ami."
Arpan membuang ludah di samping kiri Sarah, membuat Sarah dengan segannya menampar Arpan beberapa kali.
Palk ...
palk ....
"Sudahlah Sarah sadarlah, tak ada gunanya kamu menjadi wanita pedendam seperti sekarang. Itu tak ada gunanya. Karna semua itu akan membuat dirimu menyesali semuanya."
Palk ....
Satu tamparan di layangakan sekali lagi oleh Sarah.
"Diam, asal kamu tahu, aku melakukan semua ini karna tak ingin melihat wanita yang sudah menghancurkan hidupku bahagia. Dia harus merasakan semuanya."
"kamu hanya di butakan dengan rasa cemburu dan dendam. Terpengaruh dengan ucapan orang lain."
"Apa kamu yakin dengan ucapanmu itu, aku terpengaruh ucapan orang lain?"
Brug ....
Suara toilet terdengar terbanting. Dimana Dina ketakutan dengan berlari ke luar rumah itu.
Sarah yang mendengar suara itu langsung menyuruh para suruhannya untuk mencari keberadaan Dina. Agar dia tidak lari dan membuat kekacauan di luar sana.
"Lepaskan aku wanita si*alan."
"Apa kamu bilang, aku tidak akan membiarkan kamu bebas. Sebelum Sisi istri kamu menjemputmu ke sini."
"Kamu akan menyesal."
Sarah tertawa terbahak-bahak dan berkata," tidak ada rasa menyesal pada diriku saat ini dan sampai nanti."
"Itu katamu, tapi suatu saat nanti. Dendammu akan berbalik kepadamu sendiri. Ingat itu Nona."
"
Sarah yang kesal langsung menyuruh suruhanya menghajar Arpan hingga pingsan. Saat itulah Sarah mulai menghampiri Dina
__ADS_1
@@@@@