
Riri membelokkan mobil, hingga mobil itu menabarak pohon besar, untung saja Riri selamat begitu pun dengan Dina.
Riri ke luar dari dalam mobil, menarik paksa Dina yang masih duduk di dalam mobil. Ia tak mau ke luar, padahal mobil itu mengeluarkan asap. Riri takut jika mobil itu meledak.
“Dasar keras kepala.” Gerutu Riri.
Mau tidak mau dengan sekuat tenaga, Riri mulai menarik kerah baju Dina. Sampai di mana Dina keluar dari dalam mobil, karna lehernya yang terasa sakit karna tarikan tangan Riri.
“Akhirnya kamu ke luar juga.” Ucap Riri.
Dina mulai berdiri, mendengus kesal. Menatap ke arah wajah Riri.
“Kenapa? Marah, sudah untung kamu selamat. Dasar bodoh. Mau mati sia-sia karna cinta,” sindir Riri.
Riri mendengar suara mobil yang datang, dimana mobil itu melewati mereka berdua. Saat itulah diri dengan sikap menarik lengan Dina, berlari hingga masuk ke dalam hutan.
“Apa-apaan sih.” Gerutu Dina.
Riri mulai menutup mulut Dina dengan telapak tangannya, berusaha agar Dina tak bersuara sedikitpun.
Tapi Dina yang tak mau dibekam oleh Riri, berusaha meronta-ronta. Ia mulai menggigit tangan Riri pada saat itu.
“Ahkkk.” Teriak Riri. Mengibas-ngibaskan tangannya Yang sudah digigit Dina.
Karna kesal, dengan kelakuan Dina yang seperti anak kecil Riri mulai mencari benda di atas tanah. Hanya ada batu sedang yang ia lihat. Dengan sigap Riri mulai mengambil batu itu dan melemparkan pada punggung Dina, hingga di mana Dina tersungkur jatuh ke atas tanah.
“Rasain. Emang enak, siapa suruh tak mau di atur.”
Ucap Riri. Menahan tawa dengan menutup mulutnya, ia mulai menghampiri Dina yang meringis kesakitan.
“Aduh, sakit.”
“ Sakit ya. Emang enak.”
“Ihk, Riri.”
Pada saat itulah suara mobil berhenti, di mana mobil itu berhenti di tempat kecelakaan Dina dan Riri.
Riri seakan curiga jika mobil itu adalah, mobil suruhan Sarah, membuat ia mengintip pada dedaunan.
“Benarkan dugaanku, mobil suruhan Sarah.”
Riri bergegas menghampiri Dina, setelah ia melihat Sarah. Tangannya menarik paksa tangan Dina untuk segera pergi dan bersembunyi.
“Ayo cepat berdiri,” ucap Riri.
__ADS_1
“Aku tidak mau,” balas Dina.
Riri benar-benar tak kuat dengan Dina yang begitu keras kepala, ingin sekali rasanya Ia berlari sendiri menyelamatkan diri tanpa harus mengajak Dina, wanita yang keras kepala.
Tapi hatinya tak tega, bagaimana pun Dina adalah sahabatnya sendiri. Ia tak mungkin membuat Dina dalam genggaman Sarah yang jahat itu.
Kini Riri mulai mencari akal, agar Dina bisa berlari bersamanya, ia memikirkan sebuah ide di mana Dina bisa berlari dengan sangat cepat.
“Dina, ada tikus di kakimu,” teriak Riri.
“Dimana?”
“Itu.”
Riri menunjuk-nunjuk ke arah kaki Dina, membuat Dina tanpa berpikir panjang berlari dengan cepatnya. Sedangkan Riri mengejar dari belakang.
Napas Riri terengah-engah tak kuat mengejar Dina yang sudah jauh masuk ke dalam hutan. Saat itulah ia mulai berjalan pelan karna menurut Riri dirinya tak mungkin di temukan oleh suruhan Sarah.
“Sepertinya sudah aman.” Ucap Riri duduk pada pohon besar. Ia mulai mengistirahatkan tubuhnya sejenak, sedangkan Dina kini mulai sadar, ia perlahan berhenti berlari melihat ke arah belakang.
“Sial tikusnya tak ada, sepertinya Riri mengerjaiku, awas saja ya. Tak akan aku beri ampun dia.” Cetus Dina. Mulai membalikkan badan dengan napas terengah-engah mencari keberadaan Riri.
Sampai di mana Dina melihat Riri yang tengah duduk di pada pohon besar, dengan hembusan angin yang membuat tidur wanita itu begitu pulas.
Dina mulai mendekat, mengambil dedaunan dan mengesekkannya pada hidung Riri. Sampai di mana, Riri bangun dan bersin.
“Kurang ajar kamu, sudah ganggu tidurku Dina.”
Kini aksi kejar saling kejar di lakukan Dina dan Riri, terukir tawa bersama tanpa beban pada diri mereka.
@@@@@
Sisi dan yang lainnya mulai mengantarkan Alan untuk pulang menaiki pesawat, betapa bahagianya Alan dia masih hidup dan bisa menemui sang istri kembali.
“Alan, aku titip salam untuk Delia di sana,” ucap Sisi begitu pun dengan Rudi.
Berbeda dengan Dodi, ia memeluk tubuh sang om dengan rasa sayang dari hatinya. “Dodi juga titip salam untuk Tante Delia.”
Air mata Alan tak terasa mengalir, ia tak dapat menahan air mata itu. Hatinya tak bisa berbohong, kalau ia membutuhkan Dodi di sampingnya, untuk jadi penguat jiwa dan hidupnya.
Namun itu tak mungkin, karna Dodi bukanlah hak miliknya. Dirinya tak boleh egois, karna Dodi berhak bahagia bersama kedua orang tuanya.
Perpisahan itu tak terasa hanya sebentar saja, Alan mulai menaiki pesawat untuk menemui sang istri.
Pintu pesawat pun tertutup, hanya lambaian tangan Dodi yang tak henti melabai ke arah pesawat. Membuat Alan menangis terisak-isak di dalam pesawat.
__ADS_1
“Selamat tinggal Dodi, entah kapan om akan menemui kamu lagi, nak.”
Pesawat pun kini terbang menjauh, membuat Dodi menghampiri sang papah.
“Dodi, menangis?”
Dodi menganggukkan kepala, pada saat itulah Rudi memeluk sang papah dengan begitu erat.
“Ayo kita pulang, temui mamah Ami.”
“Iya pah.”
@@@@@
Kini tinggal Dodi yang menghampiri sang mamah yang masih berada di rumah sakit.
Sisi mulai mengingatkan Rudi agar berhati-hati, karna ia takut jika Sarah kembali menemukan Dodi kembali.
“Kamu tenang saja, aku akan menjaga anakku.”
“Baguslah, kalau begitu. Aku berharap Sarah tak menemukan keberadaan kalian.”
“Terima kasih Sisi, sudah memperhatikan kami berdua.”
“Iya, aku akan berusaha bertanggung jawab. Untuk menyadarkan Sarah dari perbuatannya.”
“Aku berharap Sarah akan berubah, kamu juga berhati-hati dengan dia. Karna Sarah bukanlah wanita sembarangan.”
“Baik, Rud.”
Kini Rudi dan Dodi mulai masuk ke dalam mobil, untuk segera pulang menemui Ami di rumah sakit.
Di dalam mobil. Dodi mengajak mengobrol sang papah.
“Pah, apa mamah akan mengingat Dodi?” tanya Dodi yang takut jika Ami masih sama seperti dulu.
“Kamu ngomong apa Dodi, tentu saja mamah Ami akan mengingat anaknya ini!” jawab Rudi. Mengusap pelan rambut kepala sang anak.
“Dodi takut ...,” belum ucapan Dodi terlontar semuanya, Rudi langsung berucap.” Sudah jangan berpikir yang tidak-tidak. Mamah Ami akan bahagia dengan kedatanganmu Dodi, kamu harus tenang. Bagaimana pun keadaan seorang ibu akan tetap ingat dengan anaknya.”
Dodi kini terdiam setelah mendengar ucapan dari sang papa, ia hanya menatap jalan dengan fokus, hingga di mana. Seseorang berlari melewati mobil mereka. Membuat Rudi mengerem mendadak mobilnya.
"Ada apa, pah?" tanya Dodi. yang sedikit kaget dengan mobil papahnya yang tiba-tiba berhenti.
"Entahlah, seperti ada dua orang yang berlari melewati mobil kita!" jawab Rudi.
__ADS_1
Siapakah orang itu?