Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 212 Mobil yang membawa Alan dan Dodi.


__ADS_3

Riri mulai mendekati mayat itu menyelidiki dengan detail, Dodi yang ketakutan di tarik paksa oleh Riri untuk melihat mayat itu.


“Tante Riri, dia sama seperti orang yang mengaku ibu Dodi di dalam pesawat.”


“Benar.”


“Iya.”


Saat itulah, para bantuan datang. Di mana mereka adalah orang-orang yang akan menyelamatkan Alan beserta dengan yang lain.


Alan dan yang lainnya sangat senang sekali, mereka bisa bebas dari penderitaan yang terus menerus mereka rasakan di dalam hutan.


Raut wajah Alan seakan tak sabar ingin segera melihat sang pujaan hati, yaitu Delia. Kini Alan mulai berpamitan pada wanita tua yang sudah menolongnya.


Wanita tua itu tersenyum dan memberikan beberapa makanan untuk perjalanan menuju pulang. Alan, sebenarnya wanita itu sudah melarang Alan untuk tidak pergi saat ini juga.


Tapi Alan yang sudah tak sabar, tetap membantah ucapan wanita tua itu.


“Ini ada bekal sedikit dari ibu, jangan lupa di makan.”


Alan begitu senang dengan kebaikan wanita tua yang sudah menolongnya. Ia berharap jika suatu saat nanti bisa menemui wanita tua itu lagi.


“Terima kasih Bu, kapan-kapan aku akan berkunjung lagi ke kampung ibu.”


Wanita tua itu hanya menganggukkan kepala, seraya tersenyum. Hatinya berdebar, seakan ia merasakan hal yang tidak baik akan menimpa Alan dan yang lainnya.


Riri dan Dina mulai mengobrol mereka heran kenapa wanita tua yang berada di kampung itu, begitu tak boleh mengizinkan mereka pergi pada saat itu juga.


“Din, kamu tahu tidak. Wanita tua itu memberikan aku alat tajam ini.”


Dina terheran- heran dengan ucapan Riri yang menujukan benda tajam padannya.


“Tunggu, untuk apa wanita tua itu memberikan benda tajam ini. Kepada kamu Ri?”


“Entahlah padahal kita sudah mau pulang, dan di bantu para penyelamat.”


Lelaki tua yang tak lain ialah Pak Tejo juga memperlihatkan sebuah besi tua yang diberikan wanita tua itu.


“Jangankan kalian, lihat ini.”


Alan hanya tersenyum melihat kepolosan mereka semua. Alan juga bingung dengan tingkah wanita tua itu, melihat wajahnya yang begitu cemas dan mengkhawatirkan Alan begitupun dengan Riri Dina dan yang lainnya.


Dodi mulai tertidur menyender pada bahu Alan, sedangkan Alan masih terjaga. Ia ingin melihat setiap jalan yang ia tempuh. Agar suatu saat nanti, Alan mempunyai waktu, Alan ingin bertemu lagi dengan wanita tua yang sudah menyelamatkannya.


Sudah lima jam perjalanan di tempuh, tapi Alan merasakan hal yang janggal. Kenapa belum sampai-sampai juga.


Ada apa ini?


@@@@@


Disaat keraguan Alan, yang masih heran dengan mobil yang ia tumpangi tak berhenti-henti sampai tujuan.

__ADS_1


Di saat itulah, Arpan mulai bergegas mencari tahu akan kecelakaan yang menimpa Alan dan juga Dodi. Begitu juga Alan ingin mencari tahu nama orang yang bernama Sarah.


Arpan dengan sebisa mungkin, datang ke setiap rumah sakit. Melihat mayat-mayat korban kecelakaan pesawat.


Saat itulah ada korban bernama Sarah, wanita itu sudah terlihat membusuk. Membuat Arpan menutup hidungnya.


“Apa korban ini baru di temukan?”


“Korban ini baru saja sampai!”


“Terus korban yang lainnya?”


“Di perkirakan sekarang juga sampai, karna ada korban yang masih hidup.”


“Boleh saya tahu, nama-nama korban itu.”


Perawat itu langsung memberikan daftar nama orang-orang yang masih hidup,”ini tuan.”


Deg ....


Arpan tak menyangka orang-orang yang masih hidup ternyata Dodi dan juga Alan.


“Sekarang mereka ada di mana?”


“Seharusnya sekarang sampai, karna korban di temukan pas dengan mayat ini. Tapi entah kenapa jam segini belum sampai juga.”


“Ada yang aneh.”


“Terus dengan Sarah.”


“Ada mayat bernama Sarah, mayat itu sama. Tapi ada yang berbeda.”


“Maksud kamu.”


“Entahlah, seakan ada sebuah tipuan.”


Sisi tak mengerti apa yang dikatakan Arpan, tipuan kesamaan.


Semua seakan menjadi drama dan juga misteri bagi Arpan.


Arpan kini mencari tahu tentang identitas bernama Sarah, di mana ia mempunyai info dari sahabatnya.


“Sarah tinggal di sebuah kota.”


Berarti Sarah yang berada di pesawat bukan Sarah yang di maksud Sisi?


Suara langkah kaki kini terdengar, di mana Arpan berada di ruang mayat.


Seorang wanita memakai sepatu high heels tinggi, suara wanita itu terdengar seperti senang.


“Dasar bodoh, aku menyuruhmu untuk membawa anak Rudi. Tapi kamu malah mati sia-sia.”

__ADS_1


Arpan yang bersembunyi di balik pintu, mendengar apa yang di katakan wanita itu.


Kini wanita itu memanggil beberapa suruhannya.


“Bagaimana kamu sudah membawa anak kecil bernama Dodi?”


“Sudah Nyonya. Kami sudah mengelabui mereka dengan datang ke kampung halaman. Dan para suruhan sudah kami suruh berpura-pura jadi penolong.”


“Bagus, kalian bisa aku andalkan.”


Tawa Wanita itu terdengar menyeramkan, membuat Arpan begitu penasaran dengan wajahnya.


Wanita itu kini melangkah ke luar ruangan kamar mayat, membuat Arpan berusaha mengejar wanita itu.


Namun, sial. Wanita itu berjalan cepat darinya, ia kehilangan jejak wanita itu.


Kini Arpan mulai menelpon salah satu sahabatnya yang bernama Jenny.


Arpan meminta bantuan pada Jenny untuk menemukan mobil berwarna merah, mengatakan nomor mobil itu.


Untung saja Arpan mempunyai banyak kenalan di beberapa kota, Iya tak usah susah payah mencari sendiri keberadaan mobil yang ditumpangi wanita yang ia lihat di kamar mayat.


“Sepertinya ada yang tidak beres, saat ini.”


@@@@@


Saat itu Sisi mulai menelepon sang suami, tapi tak ada jawaban sama sekali. Sisi masih heran dengan ucapan yang di lontarkan Arpan.


Tentang ke samaan dan tipuan.


Namun, saat Sisi menunggu telepon dari Arpan.


Pesan dari Rudi datang.


(Aku tegaskan lagi sama kamu Sisi, dalam urung satu minggu ini kamu tidak bisa membalikan keadaan. Jangan harap aku akan memaafkan kamu.)


Rudi membuat hati Sisi bergetar ketakutan, kenapa bisa Rudi melayangkan ancaman yang begitu menakutkan bagi Sisi.


(Rudi, aku akan membalikan keadaan. Tapi waktu seminggu itu tidak cukup.)


(Jangan bicara omong kosong. Kamu sendiri yang sudah memulai semuanya, jadi kamu yang harus bertanggung jawab.)


(Oke aku akan tanggung jawab. Tapi jangan ancam aku dengan ancaman harus selesai selama seminggu.)


Pesan dari Sisi terkirim, Rudi tak membalas pesan itu lagi. Sisi benar-benar diselimuti dengan rasa cemas.


"Ahk, kenapa semua jadi begini."


Sisi mengacak rambut panjangnya. Kini rasa cemas dan rasa takutnya membuat ia stres. menelepon sang suami Tak Ada Jawaban sedikitpun, membuat Sisi semakin stress.


"Andai saja dulu aku tidak melakukan perbuatan ini, mungkin aku tidak akan menjadi orang yang gila seperti ini."

__ADS_1


__ADS_2