Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 102


__ADS_3

flashback Bu Ira.


Aku berlari menjauh dari Ardan, hatiku rapuh. Rasanya sakit sekali. Terduduk di taman kota, aku melihat diriku begitu menyedihkan.


Seketika Roby menelponku, ia memarahiku habis-habisan karna aku tidak ada di rumah seharian.


Saat itulah aku segera pulang menemui Roby.


Sepertinya dia marah besar.


Dan benar saja saat sampai di rumah, Roby sudah ada di abang pintu dengan berkacak pinggang.


Saat itulah aku datang menghampirinya berniat mencium punggung tangannya, namun Roby malah menjambak rambutku.


"Sakit mas," ucapku meringis kesakitan. Roby malah semakin keras menjambak rambutku. Menyered paksa tubuhku untuk masuk ke dalam rumah.


Tanpa segan-segan ia mendorong tubuhku hingga tersungkur jatuh.


"Kelayapan saja kamu, dari mana saja kamu hah. Awas saja kalau kamu sampai keluar lagi dari rumah ini, aku tidak akan segan-segan menyiksa kamu Ira."


Kelakuan Roby benar-benar keterlaluan, dia begitu kasar, dia lupa memperlakukan seorang istri bagaimana. Kalau saja dia tahu kenyataan pahit, apakah dia akan menerima.


Tok ... tok ...


"Kamu tunggu di sini, aku akan membuka pintu."


Aku mencoba berdiri, melihat siapa yang bertamu ke rumah. Saat aku melihat ke ruangan tamu, ternyata itu Ardan dan juga Naira, ada apa mereka datang ke sini?


Saat itulah tanpa sengaja aku mendengar percakapan mereka, tenyata mereka tinggal bertetanggan dengan rumahku.


Kenapa harus seperti ini?


Aku mendengar Naira menanyakan keberadaanku. Tapi Mas Roby malah, berbohong bahwa aku sedang tidur.


Aku mengintip di sisi pintu, membuat Ardan seakan menatapku saat itu. Mencoba menutup pintu agar Ardan tak melihat penampilanku.


Seperti biasa Roby meninggalkan aku di rumah sendirian, untuk pergi ke luar kota. Karna kebetulan ia mewarisi perusahaan ayahnya.


Hidup bersama Roby tidak pernah kekurangan, karna dia anak orang kaya. Dibalik kekurangan itu, aku tidak bahagia karna ternyata Roby lelaki yang sangat pemarah dan tak sabaran.


Pernah dulu aku memegroki dia selingkuh, tapi dia malah bersikap santai. Bukan menyesali tapi malah menyalahkan aku karna aku yang mandul tidak bisa punya anak.


Hingga itu berulang kali, membuat aku sudah muak dan meminta cerai, tapi Roby malah tidak mau menceraikan aku. Entahlah semua membuat aku seakan tertekan.


Satu notipikasi pesan muncul dari sahabatku Lala, ia mengirim poto bahwa Roby tengah bersama wanita lain di dalam hotel.

__ADS_1


Kesal, sedih. Marah, itulah yang aku rasakan saat ini. Untuk apa aku bertahan tapi dia seperti itu. Roby kamu berengsek.


Pagi hari Arpan datang mengirim kueh bolu untukku. Anak kecil yang manis membuat aku selalu ingin mengajak dia bermain di dalam rumah.


Naira begitu baik, selalu mengirim makanan untukku dengan menyuruh Arpan anaknya.


"Bu Ira sendirian di rumah?"tanya Arpan.


"Ia nak!" jawabku.


Anak kecil itu senang jika memanggil aku dengan sebutan Bu, atau Bi. Aku selalu memakluminya karna dia hanyalah seorang bocah.


Entah kenapa Arpan begitu senang main di rumahku, hingga malam tiba pun. Dia masih betah bermainan di rumahku. Karna memang aku sering membelikan Arpan mainan cuma-cuma, ia jadi senang tinggal di rumahku.


Saag itu sang ayah menjemput anaknya. Ardan datang ke rumah menjemput Arpan anaknya.


"Apa anakku ada Ira?" tanya Ardan. Terseyum ramah kapadaku. Seyumannya itu tak pernah berubah selalu manis.


Aku menujukan Arpan di kamarku, ia tengah tertidur pulas. Membuat Ardan terlihat begitu senang.


"Sepertinya Arpan nyaman tinggal denganmu!"


"Iya. Ngomong-ngomong Naira kemana?"


"Sudah satu minggu dia belum pulang. Sibuk urusan kantor di luar kota."


"Oh."


Karna Roby yang tidak pernah pulang, ke rumah. Aku dan Ardan begitu dekat, hingga Ardan sering datang ke rumahku hanya untuk menjenguk anaknya Arpan.


Hingga kejadian yang tak menyenangkan itu terjadi, Ardan mengira Arpan ada di rumahku. Ternyata Arpan pergi bersama Naira seharian.


Membuat Ardan melakukan hal yang tak seharusnya di lakukan.


Keadaan rumahku begitu sepi, saat itu lampu tiba-tiba mati di rumahku. Ardan dengan terpaksa menemaniku.


Aku sempat menyuruh dia pulang. Namun karna rasa takutku membuat dia tak tega meninggalkan aku sendirian di rumah.


Hingga akhirnya semua itu terjadi.


Kami melakukannya tanpa sengaja karna dorongan hasrat dan rasa cinta kami yang begitu besar.


"Maafkan aku Ira."


Aku hanya terdiam ketika kata maaf itu terus terlontar dari mulut Ardan.

__ADS_1


"Sudahlah Ardan, ini semua sudah terjadi. Lupakan saja."


Karna kejadian itu aku dan Ardan semakin canggung kita jarang mengobrol seperti dulu.


Hingga akhirnya Ardan berkata kepadaku." Aku tahu kamu tersiksa kan karna Roby selingkuh lagi, sekarang hidupmu menjadi menderita."


Aku diam tanpa berkata-kata.


"Sudahlah Ardan jangan lagi membahas kehidupanku. Urus saja kehidupanmu yang bahagia itu bersama Naira."


"Itu menurut kamu bahagia, tapi tetap saja hatiku masih mencintai kamu Ira."


Mana mungkin Ardan berkata seperti itu.


"Kamu harus ingat Naira, dia istrimu. Cinta kita hanya semu dan kita tidak akan pernah bersatu."


"Aku mencintai kamu Ira."


Perkataan Ardan membuat hatiku bingung, sebenarnya aku masih mengiginkan Ardan. Tapi bagaimana dengan Naira dan Mas Roby.


"Aku tahu. Kamu masih mencintai aku kan Ira?" tanya Arpan.


"Ayolah jawab. Dengan jujur."


Ardan terus mendesakku hingga aku berkata jujur.


"Iya aku masih mencintai kamu."


Hingga akhirnya hubungan terlarang itu terjadi. Beberpakali aku melakukan hal-hal yang tidak pantas aku lakukan bersama Ardan. Membuat hatiku merasakan ketakutan.


Tapi di tengah lain aku sangat menikmati hubungan terlarang itu. Hingga akhirnya aku mengandung anak Ardan, yang tidak di ketahui oleh Roby, mambuat Roby yang biasa bermain wanita kini menjadi setia. Ia berubah menjadi lembut. Tak kasar lagi. Karna mendengar aku yang mengandung.


Ada rasa bersalah karna anak ini bukan anak Roby.


Sampai saat itulah, anakku lahir dia berjenis kelamin perempuan yang aku namakan Arsyla. Karna ini anak Ardan. Maka dari itu depan hurup Ardan aku bawa ke nama anakku. Untung saja Roby tak mencurigaiku saat itu. Dia setuju saja, karna rasa senangnya telah memiliki seorang anak.


Hingga Arsyla beranjak berumur delapan tahun, dimana Arsyla sudah mengerti tentang berbagai hal. Ia anak manis yang cantik dan baik, sifat baiknya di warisi dari ayahnya. Ardan.


Walau yang Arsyla tahu ayahnya adalah Roby.


Sebagaimana kamu menyebunyikan bangkai pasti lama kelamaan akan tercium bau busuknya. Seperti halnya hubungan terlarangku dengan Ardan ternyata menjadi petaka untuk kematian suamiku.


Dimana saat itu Roby, melihat lembaran surat dari dokter bahwa dirinya dinyatakan mandul. Membuat ia tak percaya dengan surat itu.


Hingga Roby mencari bukti, dan memegrokiku tengah bercumbu dengan Ardan.

__ADS_1


__ADS_2