
Hp-ku terus saja berbunyi.
"Siapa lagi ini," gumamku dalam hati.
Ku lihat dari layar ponsel, ternyata Luky.
[Brow, ikut gak]
Malam-malam begini dia ngajak pergi kemana, ta-pi gak ada salahnya kalau aku pergi dengan Luky, toh istriku juga pergi dengan laki-laki lain tadi pagi.
[Yah, sudah nanti, gue kesana] Balasku, sembari berjalan menghampiri mobil.
[Oke]
Setelah sampai di kediaman Luky, terlihat pria bertubuh gemuk itu menungguku di depan rumahnya.
"Kemana?" tanyaku sedikit menurunkan kaca mobil.
Dia langsung membuka pintu mobilku.
"Gue yang bawa mobilnya." ucapnya menarik tubuhku ke luar.
Dengan terpaksa aku mengikuti ajakanya.
"Istri loe engga marah Rud?" tanya Luky sembari mengendarai mobil. Entahlah, aku tidak izin pada istriku, karna dia seakan tidak peduli dengan suaminya ini. Kalau dia peduli pasti dia menelpon. Tapi buktinya tidak ada.
"Eh loe malah ngelamun," tersentak kaget ketika ia menepuk pundakku keras, tawanya menggema di dalam mobil.
"Sudah nikmati malam ini sama gue," ucapnya sedikit mengedipkan ke dua alisnya.
"Kemana sih kita?" tanyaku seketika membuat mobil terhenti.
Ternyata Dia membawaku ke tempat di mana orang-orang yang suka bermain wanita dan minum-minuman keras.
Aku tertohok menatap tempat itu.
"Loe gila ngapain bawa gue ke tempat beginian." ucapku mendelik kesal.
"Biar loe tau apa namanya kesenangan." jawabnya terseyum tipis. Di langsung membuka pintu mobil.
Dan membukakan pintu mobilku.
"Keluar loe, ayo kita senang-senang."
Dengan terpaksa aku mengikuti perkataanya, ke luar dari mobil.
Terlihat dari ke jauhan Sinta dan Sisi menghampiri kami berdua. Mereka ternyata ada di sini.
"Hay." Sapa Sisi terseyum lebar kepadaku. Dia mendekat, seakan tidak tahu malu. Ku hiraukan sapaannya.
Ternyata ada cewek ondel-ondel di sini. Gumamku dalam hati.
"Gimana pak, vidionya Hot kan." ucapnya sembari bergelayut manja ke tanganku. mengedipkan sebelah matanya.
"Kenapa loe si, bintitan, ngedip-ngedip Rudi segitunya."
Kutepiskan tangannya. "Menyingkir." ucapku.
"Ngapai kamu kirim aku, vidio kamu ketika tak memakai baju , gila apa." cecarku membulatkan kedua bola mataku.
__ADS_1
Luky dan Sinta tertawa, terlihat sekali wajah Sisi yang memerah.
"Gak nyangka Sisi nekad begitu," ejek Luky mentertawakan Sisi.
Sisi malah memanyukan bibirnya.
"Sudahlah ayo kita masuk." ucap Luky menarik tanganku.
Terpaksa aku mengikuti langkah mereka.
Ya terlihat sekali di dalam club malam ini, banyak orang-orang yang berjoged, dan minum-minum seperti orang yang tidak punya beban.
"Nih, Coba loe minum?" Luky menyodorkan 1 gelas penuh di hadapanku.
Ada rasa ragu di dalam hatiku.
"Sudah ayo minum, nanti kamu bakal merasakan sensasi yang luar biasa." ucap Luky meyakinkanku.
Dengan tak yakin, ku ambil segelas penuh minuman berwarna kuning itu, ku minum habis tanpa tersisa sedikitpun.
Benar saja, aku merasakan sensasi yang berbeda membuat pikiranku tenang, tertawa tanpa beban, berjoged kesana kemari dengan lagu disko.
Namun, saat itu Sisi mendekati tubuhku, dia menempelkan belahan dadanya, pada tubuhku, entahlah, bagaimanapun aku tetap sadar, ku dorong tubuhnya, dia tersungkir jatuh dan mendelik kesal kehadapan wajahku.
Siapa suruh tetenya nempel, mending tetenya kenceng, udah lembek gitu.
Sisi langsung menyodorkan satu gelas minuman padaku." Pak ini minumanya."
Aku menepis minuman itu hingga bercucuran ke lantai, membuat bajunya sedikit basah.
"Sisi, biarkan Rudi menikmati malamnya jangan kau ganggu dia," ucap Luky merangkul pundak Sisi, membuat ia mengangguk. Dan kembali berjoged dengan yang lain.
Tanpa sadar jam sudah menunjukan tengah malam, aku mengajak Luky pulang.
Namun, dia tidak mau, katanya akan menginap di hotel, entahlah, masa bodo saja, saat aku hendak menaiki mobil, Sisi mengekor dari belakang.
"Ada apa kamu?" tanyaku menatap ke arah wajahnya dengan berjalan gontai karna terlalu banyak minum.
"Anterin pulang yuk," ucapnya memelas.
"Naik taksi ajah!" jawabku menatap raut wajahnya.
"Pak Rudi, malam gini gak mungkin ada angkot."
"Bukan angkot, taksi bodoh."
Mungkin karna pengaruh alkohol, pendengaran wanita itu seketika menjadi budek.
Aku menghiraukan dia di luar.
Saat mesin mobil ku nyalakan, banyak lelaki berdatangan menghampiri Sisi yang tengah mabuk. Mereka mencoel dan merayu Sisi.
Ahk, dengan terpaksa aku membuka mobil dan menarik tanganya. Mengantarkan pulang.
Di dalam perjalanan menuju pulang, kepalanya terus menyender pada pundakku.
kusingkirkan beberapa kali tapi dia tetap menyender. Hingga saatnya tanganku menghepaskan kepalanya.
"Aw," Dia berteriak kesakitan karna kepalanya terbentur kaca mobil.
__ADS_1
"Pasti sakit yah Si?" aku tertawa seketika, melihat Sisi yang kesakitan. Sudah tau aku risih, dia tetap saja begitu.
"Pak Rudi jahat." Dia merengek kesakitan.
Aku mengusap kepalanya sembari meminta maaf.
Akhirnya sudah sampai juga. Di rumah Sisi.
"Ayok cepat ke luar." Aku mengusir wanita yang berada di dalam mobilku. Kesalnya dia malah, tidur-tiduran di mobil, menghiroukan perkataanku.
Segera mulut ini berteriak keras. Pada telinganya.
"Woy bangun."
"Aduh bapak, sakit telingaku," ucapnya dengan mengusap-ngusap telinga kirinya.
"Kamu ini ngeyel, sudah tau. Sudah sampai malah. Tidur-tiduran," nada bicaraku semakin meninggi.
"Ya maaf pak ngantuk," melutnya menguap, menguap.
Dia menatap raut wajahku, mendekat, dan semakin mendekat. Merangkul pundakku dengan ke dua tanganya.
Emh, dasar cewek ganjen.
Saat itulah tasnya aku sentuhkan ke bibirnya yang mau menyosor menciumku.
"Aw."
"Sakit yah Si."
Matanya mendelik kesal kepadaku.
"Pak bagaimana kalau bapak, temenin Sisi di rumah," Ajaknya sembari terseyum manja.
"Gak bisa, sebaiknya kamu cepat ke luar dari mobilku." Teriakku, membuat dia terdiam.
"Sisi kesepian pak," ucapnya sembari melengok-lengokan tubuhnya.
"Maaf aku gak bisa, sekarang udah malam. Istriku pasti nunggu di rumah!" Aku menjawab sembari menelan ludah. Menahan hasrat karna ia terus menggodaku.
"Ya elah pak. Malam ini ajah," tanganya mencuil daguku.
"Maaf Sisi, sebaiknya kamu ke luar, atau saya akan mengusir paksa kamu ke luar dari mobil saya."
Dia mendekat ke arah tubuhku, menatap wajahku. Perlahan membuka bajunya.
Dret ... Dret ...
Suara Hp-Sisi berbunyi. Sisi mengangkat panggilan telepon itu seketika.
"Halo ada apa?"
Aku mengelus dada. Menahan keringat bercurcuran.
Entahlah apa yang di bicarakan Sisi di telepon aku tak menghiroukanya, serasa hawa di mobil ini begitu panas. Membuat jantung perlahan berdetak kencang.
"Pak Ayo lah, ke rumah. Mungpung suamiku ada engga ada," ucapnya setelah mematikan telepon ia menggodaku. Gila wanita ini sungguh keterlaluan, dimana akal sehatnya.
Aku menatap wajahnya, dia perlahan terseyum tipis padaku, menggambarkan ke inginanya kepadaku.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi pada Rudi, mampukah ia menahan godaan dari Sisi.