
“Gimana Dodi?” tanya Alan.
Dengan menelan ludah, pada akhirnya Dodi menyetujui apa yang diucapkan Alan. Karna ia ingin sekali bertemu dengan Delia.
“Baik, om. Demi bertemu dengan Tante Delia,” ucap Dodi.
Pada akhirnya Alan begitu puas dengan perkataan Dodi sang anak, dimana ia akan mempertemukan Dodi dengan sang tante.
Mobil pun melaju, kini Alan mulai mengendarai mobil menuju rumah sakit dimana Delia di rawat. Hatinya resah, ia berharap saat bertemu dengan sang istri, Delia bisa sembuh dan kembali seperti sedia kala.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, pada akhirnya Dodi dan Alan sampai di tempat tujuan.
“Om, kenapa kita malah ke rumah sakit. Ke mana Tante Delianya?” tanya Dodi. Ia seakan bingung saat Alan membawanya ke rumah sakit.
Alan hanya tersenyum dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit,” ayo. Kita masuk. Nanti Dodi akan tahu sendiri.”
Dodi mulai meraih tangan sang om, mereka masuk dan menanyakan kepada suster yang bekerja di rumah sakit.
Baru saja bertanya, Ane sudah menyapa dulu.
“Alan, kalian ke sini?” tanya Ane dengan senyum ramah yang ia tampilkan. Dodi kini menundukkan pandangan seakan malu dengan senyuman yang ditampilkan Dokter Ane.
“Iya, An. Aku ingin bertemu dengan istriku, gimana keadaannya?” tanya Alan. Kepada Ane.
“Keadaan istrimu belum stabil, aku akan memanggil seorang psikolog untuk membantu penyembuhan istrimu,” ucap Ane. Alan mengusap pelan wajahnya. Tak menyangka sang istri akan depresi.
Delia begitu sulit yang kamu hadapi sampai saat ini, aku baru menyadari saat hadirnya Dodi di sampingmu, gumam hati Alan.
Dodi masih bingung, dengan apa yang terjadi dengan Delia.
“Sebenarnya kenapa dengan tante Delia, om?”
Tanya Dodi dengan tingkah polosnya.
“Kamu ingin melihat tante Delia sekarang?”
Bukan jawaban yang dilontarkan Alan pada Dodi, yang ada pertanyaan yang membuat anak itu penasaran.
“Iya, om.”
“Ya sudah sekarang kamu Ikut om ya.”
Alan kini menuntun Dodi untuk menemui Delia, hatinya terasa tak menentu karna takut jika Delia melihat Dodi dia akan mengamuk. Apalagi Delia sangat terobsesi untuk mendapatkan Dodi.
Beberapa langkah, masuk ke ruangan dimana Delia di rawat. Alan mulai mendekat dan menyapa sang istri tercinta.
__ADS_1
“Apa kabar, sayang?”
Sapaan itu membuat Delia kaget, ia membulatkan kedua matanya dan berkata,” Mas Alan. Kamu datang ke sini juga, ayo lepaskan aku dari ikatan tali ini.” Pinta Delia menujukan ekspresi sedihnya.
Alan yang tak tega mendekat ke arah sang istri, mengusap pelan kepalanya dan berkata,” kamu harus sembuh.”
Delia tiba-tiba mengerakkan tangan dan kakinya meronta seakan mengamuk,” aku ini tidak sedang sakit, kenapa menganggap aku seperti orang sakit saja.”
Delia tak menyadari diri sendiri, ia menganggap dirinya baik-baik saja. Padahal hati dan pikirannya penuh tekanan, membuat kondisinya seperti orang tak normal.
“Mas, ayo lepaskan aku,” ucap Delia.
Permintaan Delia membuat Alan tak tega, ingin melepaskan ikatan sang istri tercinta. Namun apa daya tangan tak sanggup bergerak karna rasa takut jika Delia mengamuk tak terkendali.
“Mas, kamu tega biarkan aku seperti ini,” ringis Delia. Pada Alan.
“Maafkan aku sayang. Ini terbaik untukmu,” balas Alan.
Dodi yang melangkah masuk ternyata mengurungkan niatnya, hanya menatap pada balik jendela. Sang tante yang menangis meringis meminta untuk di lepaskan ikatan talinya membuat Dodi terdiam.
Hati Dodi bertanya-tanya, seraya menatap tajam ke arah Delia.
“Ada apa dengan tante Delia? Kenapa Tante Delia jadi seperti itu. Apa yang terjadi dengannya?”
Ane menatap dari kejauhan, Dodi seakan merenungi apa yang ia lihat. Pada akhirnya Ane mendekat ke arah Dodi dan bertanya.
Dodi menatap ke arah Ane dan bertanya.
“Kenapa dengan Tante Diana?”
Tanya Dodi yang begitu penasaran.
Ane menundukan punggung, mengusap pelan wajah Dodi dan menjawab," Tante kamu sedang sakit."
"Kenapa tante sakit, harus sampai di ikat begitu. Kan kasian?" tanya Dodi yang semakin tak mengerti.
"Dodi jangan takut, ya. Dodi harus tenang, Tante Diana seperti itu karna dia sudah membuat orang terluka," balas sang dokter.
Perkataan Ane tak mampu di cerna oleh pikiran Dodi yang masih kecil.
.
"siapa yang sudah Tante Diana sakiti?" tanya Dodi.
"Sayang, Tante Diana itu terlalu mengiginkan kamu untuk jadi anaknya sampai kamu tidak di izinkan bertemu ibumu sendiri!" balas Ane.
__ADS_1
"Dokter salah, Tante Diana itu menyayangi Dodi bukan mengiginkan Dodi," bantah Dodi.
Ane mulai mencari cara agar, Dodi mengerti apa yang di katakan Ane.
"Kamu harus lebih mengerti ya, sayang. Dokter akan jelaskan," ucap Ane. Secara perlahan.
Ane sudah terbiasa membuat sang anak sadar akan kesalahannya, karna dia tak pernah lepas memantau anaknya sendiri di rumah.
Maka dari itu Ane, akan mencoba menyadarkan Dodi. Walau dia bukan anaknya sendiri.
.
"Dokter bisa jelaskan sekarang, agar Dodi mengerti?" tanya Dodi menampilkan wajah polosnya.
"Tentu sayang!" jawab Ane.
Dengan menarik nafas pelan, mecoba menatap penuh perhatian anak di hadapannya.
Ane langsung menjelaskan begitu detail.
"Dodi, jika tante kamu tidak bersalah dan melukai hati orang lain. Kenapa tante kamu membiarkan kamu jauh dengan mamahmu sendiri, sampai kamu tak mau bertemu dengan mamah kandungmu sendiri?"
Ucapan dan pertanyaan Ane membuat Dodi terdiam keluh, bibirnya tak berani melawan. Ia malah menatap wajah Ane dengan tatapan kosong.
Belum ucapan Ane terlontar semuanya, tiba-tiba Delia berteriak sekeras mungkin. Entah apa yang terjadi dengan diriya ia malah berteriak seperti orang tengah kesakitan.
"Ahhkk."
"Tante Delia."
Dodi begitu kaget mendengar teriakan Delia membuat ia semakin penasaran ingin melihat keadaan sang tante.
Namun, Ane dengan sigap menghentikan Dodi agar tidak masuk ke dalam ruangan. Menarik tangan Dodi dan berkata," kamu duduk dulu di sini sebentar ya."
Ane masuk ke dalam ruangan Delia, melihat Alan meneteskan air mata seperti orang yang tak tega melihat sang istri menjerit-jerit.
"Delia sayang, kamu harus sadar. Jangan termakan emosi sesaat membuat diri kamu menjadi tak terkendali."
Ucapan Alan seakan tak masuk dalam pikiran Delia, membuat Delia terus berteriak sekeras mungkin.
"Aku ingin pergi dari ruangan ini, mas. Bebaskan aku sekarang."
Ane mulai menyuntikan obat bius pada tangan Delia dengan harapan Delia bisa tenang dan tak mengamuk.
"Alan sebaiknya kamu jangan dulu datang ke rumah sakit ini, aku khuatir keadaan Delia menjadi buruk," ucap Ane.
__ADS_1
Namun Alan membantah dengan bantahan," kenapa? Delia kan istriku kenapa aku tidak boleh bertemu dengannya. Dia pasti akan tertekan tanpa aku."
"Cukup Alan, nanti aku akan jelaskan di ruanganku sekarang," balas tegas Ane.