
Ane seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan Deni. Bahwa Adly mengalami kecelakan dan kritis, ia dengan segera mengambil ponsel menelpon Adly.
Ane berharap Adly mengangkat panggilan teleponnya.
"Ayo angkat Adly."
Panggilan pun terhubung.
"Halo, ada yang bisa saya bantu."
Ane mendengar suara wanita, yang ia tahu itu suara Saira dimana Saira itu adalah adik Adly.
"Saira, ini Kakak Ane."
"Kak Ane."
Tangisan Saira terdengar, kini Ane mulai bertanya secara perlahan.
"Saira, Kakak ingin bertanya pada kamu. Apa benar Adly kecelakaan?" tanya Ane dengan bibir bergetar. Hatinya masih terasa ragu.
Terdengar suara Saira yang menangis terisak-isak," i-y-a ka, Ka-kak Adly mengalami kecelakaan tunggal. Ketika mau berangkat menuju rumah sakit, Kak Ane."
Deg ....
"Kakak enggak tahu, maafkan Kakak Ane ya, Saira."
"Iya Ka, enggak papa. Mungkin ini sudah menjadi nasib Kak Adly."
"Ya sudah, nanti Kakak akan ke sana?"
"Iya Kak."
Telepon pun di matikan sebelah pihak, Ane tak tahu jika Adly akan mengalami hal teragis seperti ini.
"Adly, kenapa begitu mendadak ada apa?"
Deni yang melihat Ane menangis, hanya bisa tersenyum kecil.
Ia segera pergi, sebelum Ane mengetahui dirinya yang tengah menguping.
"Hah, rasanya menyenangkan sekali jika rencana berjalan mulus sesuai yang di inginkan." gumam hati Deni.
Lelaki berkulit putih itu, berjalan penuh kebahagian. Sesaat ia melihat layar televisi di mana berita tentang jatuhnya pesawat yang belum di temukan, membuat ia terdiam dan menyaksikan siapa saja korban yang berada di pesawat itu.
"Alan?"
Nama itu langsung saja ia lihat, seakan dirinya mengenal jelas nama itu.
"Alan, seperti nama itu tak asing di telingaku."
Saat itu beberapa suster saling bercerita satu sama lain, mereka menceritakan tentang Delia. Sampai hati Deni sedikit penasaran.
Ia berpura-pura berjalan di belakang suster yang tengah berbicang, sembari mendengarkan obrolan mereka.
"Heh, aku enggak nyangka. Ternyata suami pasien Delia yang gila itu, salah satu penumpang pesawat yang kemarin jatuh."
"Iya, aku juga enggak nyangka, Gimana ya. Kalau istrinya tahu kalau suaminya korban kecelakaan."
__ADS_1
"Entahlah."
"Tapi pesawatnya pun hilang jejak dan tak tahu berada dimana."
"Ah, bukan hilang jejak. Pastinya udah habis terbakar."
"Hus. Kalau ngomong jaga."
"Eh, iya."
"Ayo. Waktunya mengecek pasien wanita gila itu."
"Ayo."
Seketika mereka sedikit merasa ada orang yang menguping obrolan mereka dari belakang. Pada saat itu kedua suster itu langsung melirik ke arah belakang.
"Dokter Deni. Kenapa ada di sini?" tanya salah satu suster dengan tingkah gugup.
Deni tersenyum, seraya berkata!" saya hanya ingin berjalan-jalan. Saja. Memang tidak boleh."
"Eh, boleh. Ko."
Kedua suster itu langsung beranjak pergi, berlari. Seakan takut dengan wajah Deni.
Seberengseknya Deni, dia tak pernah merayu wanita lain lagi. Selain orang yang ia suka yaitu Ane.
"Waw, cerita menarik. Sepertinya bisa saja cerita ini aku jadikan umpan untuk Ane."
Ane datang dengan wajah tegasnya, ia menyuruh para suster untuk mematikan semua televisi.
"Mungkin dengan ini, aku bisa menyembunyikan musibah yang menimpa Alan dan Dodi pada Delia." ucap Ane pada hatinya.
Deni semakin ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ane, sampai Ane sebegitunya.
Saat itu Deni mulai mengikuti Ane, masuk ke dalam ruangan. Ia mulai mendengarkan percakapan Ane dan suster di ruanganya.
"Lala, tolong kamu beri tahu semua suster di sini agar tidak menceritakan tentang pesawat yang jatuh kemarin."
"Memangnya kenapa, Dokter."
"Sudah kamu jangan banyak bertanya, ini rahasia saya. kamu tinggal beri tahu pada semua suster dan stap penjaga di rumah sakit ini."
"Baik, dokter."
"Oh, ya. Jika tidak ada yang menurut, dengan terpaksa saya akan pecat orang itu langsung."
"Baik, dokter."
"Ya sudah, cepat beri tahu semua suster."
Sang suster mulai pergi dari ruangan Ane, sedangkan Deni datang tanpa mengetuk pintu.
"Deni."
"Hai, Ane sayangku."
"Kenapa kamu ke sini, Deni. Bukanya aku sudah mengusir kamu dari tadi."
__ADS_1
"Hey, kamu tidak bisa mengusirku seenaknya. Kamu harus menandatangani ini."
"Hah, berikan padaku."
"Oh tidak akan."
Ane mulai kesal, Deni seakan mempermainkannnya. Lelaki berkulit putih itu tak habisnya mempermainkan Ane.
"Belum puas kamu, Deni."
"Hey, puas. Pastinya aku belum puas, asal kamu tahu kenapa aku belum puas karna kamu belum menerima cintaku."
"Kamu gila, Deni."
"Memang aku gila karna kamu."
"Deni, aku ini sudah mempunyai seorang suami. Dan juga dua anak."
"Aku tidak pernah memandang kamu pada fisikmu atau pun setatusmu. Aku sangat mencintaimu, Ane. Kenapa dari dulu kamu tidak mau menerima cintaku."
"Cukup, akal sehatmu benar-benar sudah terganggu Deni. Jadi cepat ke luar dari rumah sakit ini."
"Aku akan keluar dari rumah sakit, ini. Tapi aku akan beritahu dulu wanita bernama Delia itu bahwa suaminya ...."
Belum ucapan Deni terucap semuanya, Ane langsung membekam mulut Deni.
"Jaga mulutmu, Deni."
Deni malah mencium telapak tangan Ane, membuat Ane. Bergidig ngeri, Ane langsung mengelapnya pada baju.
Ane membalikan badan, sedangkan Deni memeluk Ane dari belakang dan berkata," kamu harus menemaniku malam ini. Aku tidak akan mengatakan pada Delia."
Ane benar- benar risih dengan pelakuan Deni, ia kesal. Sudah beberapa kali Ane mengusir Deni secara halus tapi nyatanya Deni malah tidak tahu malu dan kurang ajar.
"Deni, Aku tidak sudi." Tolak Ane tegas.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan mengatakan semuanya." Ucap Deni. Dengan begitu santainya.
Ane benar-benar pusing di buat Deni akhir-akhir ini, saat Deni hadir hidupnya seakan penuh tekanan. Deni seakan menjadi sosok manusia berhujud iblis yang selalu menganggu ketenangan Ane.
"Bagaimana, sayangku Ane?" tanya Deni dengan tawaran yang sangat menjijikan sekali bagi Ane.
Ane masih memikirkan perkataan Deni, bagaimana bisa ia harus melayani seorang lelaki padahal dia sudah bersuami. Apalagi dia sudah mempunyai dua anak. Akankah Ane harus mengorbankan keluarganya demi orang lain yang hanya sebatas sahabat.
Ane mulai memutarkan otaknya," apa ini jebakan, Deni. Sepertinya Deni tak main-main denganku."
"Ane, sayang kenapa kamu malah melamun?" tanya Deni. Mencuil dagu Ane. Rasa senangnya menyentuh Ane, selalu membuat Deni bahagia.
"Aku tidak mau." TolaK Ane.
"Ya sudah."
Deni kini berjalan ke luar ruangan Ane. Berharap Ane akan memanggilnya.
Ane masih bingung dengan tawaran Deni, apa yang harus dia katakan.
"Tunggu." Panggil Ane pada Deni.
__ADS_1