Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 347 Lelahnya Ane


__ADS_3

"Maksud dari perkataanku," ucap Deni. mengulur waktu membuat amarah Alan semakin menggebu-gebu


" Cepatlah Deni aku tidak banyak waktu mengobrol dengan seorang lelaki b******* seperti kamu," balas Alan.


"Aku akan memberitahu di mana bayi Delia," ucap Deni.


kedua mata Alan membulat menatap tajam ke arah Deni," Apa maksud dari perkataanmu. apa selama ini kamu yang sudah mengambil bayi Delia."


"Menurut kamu?"


Alan mulai membalikan kursi roda Deni menghadap ke arahnya, mencengkram kerah baju Deni dan berkata," ayo katakan sekali lagi. Kamu yang sudah mengambil bayi Delia."


Deni malah tertawa saat pertanyaan Alan terus terlontar.


" Kenapa kamu berkata, aku mengambil bayi Delia, kalau aku mengambil bayi Delia. itu nggak jadi masalah kan. aku juga adalah Papah dari anak Delia."


Deg ....


" aku tak menyangka Deni selicik yang yang aku bayangkan." Gumam hati Alan.


"Sudahlah, tak usah marah. Bayi Delia tenang bersamaku." Ucap Deni.


Alan benar-benar tak bisa menahan rasa kesal terhadap Deni, ia tak sadarkan diri tangannya langsung meninju Deni.


"Kamu ... cepat kembalikan bayi Delia," hardik Alan.


"Aku tidak akan memberikan bayi Delia padamu. Karna aku juga adalah ayah dari anak itu," pekik Deni.


"Jangan egois kamu Deni. Bagaimana pun bayi itu berhak untuk ibunya," ucap Alan.


Delia yang mendengar keributan itu, langsung menghampiri Alan.


"Ada apa ini."


Alan dan Deni langsung menatap ke arah Delia yang tiba tiba datang.


"Deni, Kamu."


Alan yang masih mencekram baju Deni, dengan terpaksa melepaskan tangannya. menghampiri sang istri.


"Waw, Kebetulan sekali ada Bidadariku." Ucap Deni.


Alan semakin kesal dibuat Deni, dengan ucapannya.


"Maksud kamu bidadari? Gila kamu Deni." Hardik Delia.


Deni masih berada pada kursi rodanya.


"Oh, ya sayangku Delia. Apa kamu tidak kangen dengan bayi kita," ucap Deni. Memancing Delia.


"Bayi ...." balas Delia.

__ADS_1


"Iya bayi kita," ucap Deni.


"Jadi. Kamu yang sudah mengambil bayiku," balas Delia.


"Aku tidak mengambil bayi kamu. Kamu harus ingat Delia, bayi yang kamu lahirkan tetap saja bayiku juga," ucap Deni.


"Cukup Deni. Aku tidak mau mendengar omong kosong kamu lagi. cepat kembalikan Bayiku," pekik Delia.


"Kamu mau bayi kamu kembali, itu cukup mudah," ucap Deni.


"Apa maksud kamu cukup mudah?" Timpal Alan bertanya pada Deni.


"Ya, kamu ikut denganku. Tinggalkan suamimu itu, baru kamu bisa bertemu dengan bayimu Delia," Ucap Deni.


"Gila kamu Deni," balas Delia.


Deni tertawa terbahak-bahak, ia begitu kejam. Dengan gampangnya berkata seperti itu.


"Ini kesempatan kamu Delia untuk bertemu dengan bayi kamu sendiri, Apa kamu tidak mau bayi kamu itu tak mengenali ibunya sendiri," ucap Deni. Mengancam Delia.


Alan dan Delia, saling menatap satu sama lain. Mereka kini di beri kesulitan, bagaimana tidak Ancaman Deni membuat Delia, harus memilih.


"Aku tidak sudi jika harus ikut denganmu, Deni," ucap Delia.


"Baik kalau kamu memang tak sudi ikut denganku. Jangan harap bayi kamu akan kembali padamu Delia," balas Deni.


Putra yang ternyata, menguping di pagar rumah Delia. Membuat ia bergegas datang ke pertengkaran itu.


"Siapa kamu, datang tiba tiba?" tanya Deni.


Putra menatap dengan tersenyum kecil, ke arah Deni." Kamu tak perlu tahu siapa aku."


Deni berusaha mengingat wajah Putra dengan begitu teliti," wajah lelaki ini, seakan tak asing." gerutu Deni.


"Putra, kenapa kamu tiba tiba datang ke sini?" tanya Delia.


Putra menatap ke arah Delia, dan menjawab!" Aku datang ke sini. Untuk menghentikan lelaki b****an ini."


Saat Putra berkata seperti itu, saat itulah Deni mulai ingat dengan lelaki yang bernama Putra itu.


"Lelaki itu, aku baru ingat. Dia suami Ane, untuk apa dia datang ke sini," Gumam hati Deni.


Deni mengusap pelan dagunya dan berkata," jadi kamu ke sini mau jadi pahlawan untuk kedua orang ini." Telunjuk tangan Deni, menunjuk ke arah Delia dan Alan.


"Aku bukan sok menjadi pahlawan, hanya saja aku ingin menghentikan kejahatan yang kamu buat selama ini, Deni," tegas Putra.


"Kejahatan apa. Aku ke sini hanya ingin menjemput ibu dari anakku," ucap Deni.


"Anakmu? Apa kamu yakin jika yang berada di rumahmu itu anakmu?" tanya Putra. Membuat Deni. Mengerutkan dahinya.


"Kenapa kamu berkata seperti itu Putra. Apa kamu juga ada kaitannya dengan bayi Delia!?" jawab Deni.

__ADS_1


"Iya, aku ada kaitannya dengan bayi Delia." Ucap Putra. Dengan lantangnya berkata jujur di hadapan Delia dan Alan.


Alan mendekat ke arah Putra." Apa maksud kamu Putra."


"Aku akan jelaskan semuanya, Alan." Ucap Putra.


@@@@@


Ane terbangun, ia terlalu kelelahan menjaga bayi Delia semalaman yang terus menangis, dan juga Putra yang berusaha mengagalkan rencana Ane.


Membuka pintu kamar, Ane mulai mencari keberadaan suaminya. Ia mau memberikan kembali ponsel Putra dan memberitahu agar Putra tak ikut campur dengan urusannya.


Saat itu langkah kaki Ane terhenti di ruang tamu, Ia tak melihat sang suami berada di sofa. "Ke mana Putra?"


Melihat jam di dinding sudah menujukkan pukul 09 pagi. Ane mulai berteriak mencari keberadaan Putra.


Ane yang tak menemukan keberadaan Putra, kini berjalan kearah dapur bertanya kepada pembantunya yang tengah memasak.


"Mbok, ke mana tuan?" tanya Ane.


"Tuan, loh non. Si Mbok datang ke sini, Tuan Putra sudah tidak ada di rumah!" jawab pembantu itu.


Ane memegang kepalanya yang terasa berdenyut, karna kurangnya istrirahat di malam hari. Membuat ia sedikit tak enak badan.


"Ke mana Putra. Pagi pagi begini dia pergi."


"Mbok, tolong bikinin saya teh manis hangat ya," pinta Ane.


Ia mulai berjalan, duduk di atas sofa.


Baru saja duduk, suara bayi Delia terdengar kembali. Dengan tergesa gesa Ane, mengambil bayi itu.


"Sayang, kamu kenapa nak. Menangis terus." Ucap Ane mengayun bayi itu.


Ane benar benar kelelahan mengurus bayi, dan juga mengurus rumah sakit. Ia tak ada waktu mengurus diri sendiri apalagi kedua anaknya.


Ane mulai membopong bayi Delia, membawanya ke sofa. Agar bayi itu tenang..


Kedua anak Ane menghampiri Ane.


"Bu, kita ke supermarket yuk. Ade sama kakak mau belanja."


"Nanti ya, sayang. Mamah lagi ngurus Dede bayi dulu."


"Tapi, mah. Ade sama kakak mau belanja sekarang."


Rengekan kedua anak Ane. Membuat Ane kesal, saat itulah ia tak sadarkan diri membentak kedua anaknya.


"Dede, kakak. Bisa tidak kalian tidak merengek terus menerus, mamah pusing."


Bayi yang berada di pangkuan Ane, menangis. Membuat Ane kesal dan lelah.

__ADS_1


"Kenapa sih kamu menangis terus." Bentak Ane pada bayi Delia.


__ADS_2