
Karna Sisi terus saja mengamuk Alan mencoba memeriksa kedua mata Sisi. Ia tertohok kaget.
kenapa bisa menjadi seperti ini, gumam hati Alan.
Delia menghampiri Alan, seraya bertanya." Apa Sisi buta?"
Lelaki yang menjadi suami Delia itu mengangguk, mengiyakan pertanyaan istrinya. Menutup mulut dengan kedua tangannya seraya tak percaya yang terjadi, Delia melangkah mundur menghampiri Ami. Berbisik memberitahukan keadaan Sisi.
Alan hanya bisa mengusap pelan wajahnya, melihat keadaan yang harus di terima oleh Sisi.
"Semua gara-gara kalian, aku begini karna kalian," teriak Sisi wajahnya memerah. Ia geram dengan keadaannya yang sekarang.
"Semua sudah di takdir kan untuk kamu Si," ucap Pak Hendra. Lelaki tua di samping Sisi menasehati istrinya.
"Diam kamu, aku tak perlu nasehat dari kamu," bentak Sisi.
Ami dan Rudi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, merasa Sisi tak ada berubah-berubahnya.
"Si, apa kamu tidak mau merubah dirimu menjadi pribadi yang lebih baik," ucap pelan Ami. Berharap Sisi mau mendengarkan nasehat baiknya.
Tawa Sisi terdengar nyaring, ia berusaha bangkit, seraya menjawab," Ahk. Mana mungkin bisa. Semua karna kamu gadis bodoh."
Apapun yang di ucapkan semua orang di ruangan itu, tak membuahkan hasil, mereka malah di bentak dan di teriaki.
Tiba-tiba terasa lagi di kepala Sisi satu hantaman seakan mengenai kepalanya entah apa itu, terasa sakit jika Sisi rasakan.
"Sakit ... sakit ...," Pak Hendra berteriak memanggil dokter. Dan menenangkan Sisi saat itu.
"Sakit ... sakit ...." Itulah yang terdengar orang-orang di ruangan itu. Teriakan keluar dari mulut Sisi. Sampai akhirnya beberapa dokter datang dan menyuntikan alat penenang.
Pak Hendra bernafas lega, akhirnya Sisi sedikit tenang, tubuhnya seakan berkeringat hebat. Menahan tangan sang istrinya yang meronta-ronta.
"Apa dokter sudah menjelaskan semuanya pah?" tanya Alan. keingin tahuannya tentang keadaan Sisi terus saja ia tanya pada Pak Hendra.
Pak Hendra seakan lemas ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Seraya menjawab," belum Al."
Menghelap napas berat, itulah yang di rasakan Pak Hendra, Ami menatap Sisi melihat pada cermin. Mungki ini yang terbaik untuk diri Sisi agar tersadar dari kesalahan, yang pernah di lakukan olehnya. gumam hati Ami.
Rudi menghampiri istrinya dan mengelus kedua pundak istrinya seraya berkata." Ayo kita pulang, untuk beristirahat."
Semua orang pamit pada Pak Hendra, dengan terpaksa dan penuh tanggung jawab Pak Hendra harus menunggu istrinya itu pulih. Ada rasa cape dari hati Pak Hendra karna mengurus Sisi yang sudah menjadi wanita sakit ... sakitan.
__ADS_1
Baru beberapa langkah, menuju pulang. Suara ponsel Rudi bergetar. Panggilan telepon dari pihak rumah sakit jiwa, Rudi menganggkat ponsel itu.
"Hallo."
"Hallo pak Rudi. Kami dari pihak rumah sakit jiwa, hanya ingin mengabarkan bahwa, Pasien rumah sakit jiwa yang bernama Bu Nunik di nyatakan meninggal dunia," ucap seorang perawat dari rumah sakit jiwa. Pada sambungan telepon.
Rudi tertohok mendengar kabar duka saat itu.
"Kenapa bisa?" tanya Rudi pada sambungan telepon.
"Maaf sebelumnya, Bu Nunik berencana kabur, melalui jendela dengan mengunakan tali dari kain buatannya. Namun rencana beliau gagal. Tubuh Bu Nunik terhempas karna kain yang ia pakai untuk kabur sobek!" jawab seorang perawat.
Rudi yang mendengar semua ini, langsung berkata." Besok saya kesana untuk melihat ibu saya. Dan mengurus pemakamannya.
"Baik pak, terimakasih."
Panggilan pun terputus.
Ami melihat Rudi yang panik, setelah menggangkat telepon langsung bertanya." Ada apa pah?"
Keringat dingin bercucuran, membuat Rudi seakan tak enak untuk menjelaskan semuanya.
"Besok kita pulang, biar nanti papah jelasin semuanya."
***********
Rudi dengan gesitnya memesan tiket untuk segera pulang besok.
Pagi sekali Rudi sudah bersiap-siap untuk bergegas pulang besama Ami istrinya.
Berbeda dengan Alan dan Delia pengantin baru, mereka malah malas-malasan di kasur karna tidak tahu bahwa Rudi akan pulang dengan mendadak.
"Gimana udah belum datang bulanya," rayu Alan. Mengelus rambut pendek Delia.
Wanita bermata sipit itu hanya tertawa kecil, mendengar rayuan dari suaminya. Menggangukan kepala bahwa semuanya sudah beres dan aman.
Seyum Alan terpancar bahagia.
Akhirnya, gumam Alan.
Saat Alan mulai mencium pundak Delia, dimana ketukan pintu kamarnya terdengar keras.
__ADS_1
"Ya elah. Baru mau mulai."
Dengan terpaksa Alan dan Delia. Membuka pintu kamarnya, terlihat Ami terseyum seraya berucap," maaf ganggu. Kami mau pamit pulang."
Alan yang mendengar Ami yang berencana pulang mendadak membuat Alan bingung seraya bertanya," loh kenapa mba, ko buru-buru?"
"Ada urusan mendadak tiba-tiba. Mba belum bisa jelasin semuanya, karna suami mba belum kasih tahu alasanya. Maaf ya!" jawab Ami.
Delia dan Alan segera bergegas mandi bersiap-siap untuk mengantar Rudi dan Ami.
Setelah selesai mandi, Delia dan Alan menemui Rudi dan juga Ami. Namun mereka tak melihat Ami dan Rudi di rumah, ternyata mereka sudah pulang ke bandara tanpa menunggu Delia dan Alan terlebih dulu.
"Kebiasaan mereka ini, datang tiba-tiba pulang pun tiba-tiba," gerutu Alan di hadapan Delia.
Delia terseyum melihat tingkah Alan yang kesal dengan Rudi dan Ami, membuat wanita bermata sipit itu menutup mulutnya.
Mengusap kasar wajahanya, Alan menatap kehadapan istrinya. " ih ketawa," ucap Alan mencubit kedua pipi istrinya.
"Sakit."
Alan terpikir dengan urusannya tadi pagi yang belum selesai juga. Dengan segera menggendong istrinya masuk ke dalam kamar tidur.
Delia meronta-ronta saat Alan menggendong tubuhnya, terlihat dalam raut wajahnya rasa malu.
"Kita lanjutin ya," ucap Alan terseyum manis pada istrinya.
Delia hanya mengangguk pasrah, seraya bergumam dalam hati. Mungkin ini saat ya. Memberikan hak batin pada Alan.
*********
Di saat perjalanan baru Rudi menjelaskan semuanya, apa alasnya mengajak Ami pulang dengan mendadak.
Saat mendengar penjelasan sang suami, Ami sedikit tak percaya, kalau Bu Nunik meninggal secepat itu.
Perasaan Ami baru kemarin dia menengok Bu Nunik di rumah sakit jiwa. Wanita berwajah tirus itu seakan bergumam dalam hati. Banyak sekali kejadian yang tak terduga akhir-akhir ini.
Melihat raut wajah Rudi memperlihatkan, kesedihannya atas meninggalnya Bu Nunik. Ami merasa kasian, bagaimana pun Rudi masih sayang terhadap Bu Nunik walau dia orang jahat sekali pun.
Perjalanan yang sangat menguras tenaga bagi Ami dan juga Rudi, mereka langsung pergi ke rumah sakit jiwa melihat Bu Nunik.
Sesaat setelah sampai di rumah sakit jiwa, seorang perawat, mengatakan bahwa pasien sudah di kuburkan. Karna entah kenapa tubuh pasien cepat membusuk, padahal mayat belum beberapa lama.
__ADS_1
Rudi hanya bisa mensetujui apa yang terbaik untuk Bu Nunik dari apa yang di lakukan perawat. Seorang perawat memberikan satu lembar surat yang, entah apa itu isinya. Pada Rudi.
Rudi binggung dengan surat ini, apa isi dari surat yang di tuliskan almarhum Bu Nunik?.