
#Istriku kumel
Bab 8
"Keluar dari mobilku, atau?" Teriakku membukakan pintu mobil.
Dia menunduk kesal, lalu berpamitan dan mencium bibirku.
Mimpi apa aku semalam, di cium ondel-ondel.
Untung saja aku langsung ingat raut wajah Ami, bagaimana pun hati ini tak bisa berpaling pada sosok wanita lain selain Ami. Istriku.
Benar-benar keterlaluan tingkah Sisi. Ku usap raut wajahku.
Akhirnya sudah sampai rumah, ku gedor-gedor pintu depan, tapi belum ada tanda-tanda istriku membuka pintu.
"Ami ... Buka ...," teriaku.
Benar saja Ami langsung membuka pintu.
"Lama sekali kamu." ucapku kesal, sembari berjalan lunglay.
"Pah, kamu habis minum?" Tanya istriku sembari menahan tubuhku yang mulai terjatuh.
"Peduli apa kamu, selama ini kamu tidak menghargai aku sebagai suami, dimana? Ke taat istri kepada suaminya, apa sudah bosankah kamu terhadapku, hingga kamu berjalan dengan lelaki lain tanpa sepengetahuanku, aku lelah, aku punya hati, apa kamu pernah berpikir gimana sakitnya hatiku, ketika kamu seperti ini, Ami." ucapku tanpa sadar dan tejatuh.
Aku tidak tau, apa yang sudah terjadi semalam kepada diri ini, setelah pagi pun, kepala ini pusing, untung saja Ami membuatkan sup untuk membuat kepala ku mereda.
Ku lihat Ami semakin hari wajahnya, semakin pucat, badannya begitu kurus kering, dia hanya diam tanpa berkata-kata.
Tentu saja dengan diriku tidak menayakan lagi kenapa dengan dia, aku sudah tidak peduli.
Sebelum berangkat kerja , tak lupa memasang kamera kecil di ruang tengah, agar aku tau apa yang di lakukan istriku.
Saat di Kantor.
"Rud, gimana semalam?" Tanya luky menghampiriku. Ia begitu segar pagi ini.
"Biasa ajah!" jawabku dengan wajah datar.
"Ah elo."
"Sudah gue mau kerja, sono lo pergi."
Ku usir pria bertubuh gendut itu.
"Hay pak Rudi," Sapa Sisi saat aku hendak pergi ke kantor.
Apa dia tak punya urat malu, apa yang semalam ingin dia lakukan terhadapku. Sudah tau dia hampir saja membuat hasratku memuncak.
"Kenapa bapak, ko kesal gitu. Sayang sekali semalam gak nginep padahal bisa bobo bareng sama aku," ucapnya berlalu pergi bergitu saja.
Benar-benar dia sudah gila, kalau suaminya bisa tau kelakuan dia seperti itu. Bagaimana yah. Ah bodo amet, gak pedulu.
Yang sekarang aku perdulikan adalah istriku Ami.
Jam sudah menujukan pukul 11:45 siang waktunya istirahat, akhirnya, aku bisa melihat rekaman cctv yang aku pasang di ruang tengah.
Sembari menikmati baso yang ku santap, terlihat Ami sedang mengajak main Dodi, berlari-lari, menari-nari, aku terseyum bahagia melihat tingkah mereka.
Namun, ku lihat ibu datang lagi, entah apa yang mereka bicarakan, Ami pergi sejenak dan kembali lagi beberapa detik, seperti menyodorkan beberapa uang.
__ADS_1
Terlihat di vidio itu, ibu menujuk-nujuk Ami dan menampar pipinya, wanita tua itu memarahi istriku.
Kenapa tega ibu berbuat seperti itu, aku harus cari tau.
Segera ku matikan tontonanku, dan menelpon Ami di rumah.
"Halo, mamah, lagi apa?" Tanyaku ketika Ami menganggakat teleponnya.
"Sedang main sama Dodi pah!" Jawabnya terdengar ragu.
"Apa ibu main ke rumah?" Tanyaku.
"Tidak ada ko, pah! Emang kenapa?" ucap istriku didalam obrolan telepon.
"Oh, ya sudah, hati-hati ya, papah kira ibu main ke rumah." ucapku menekan Ami agar berkata jujur.
Benar saja Ami berbohong lagi, kenapa Kamu tidak jujur Ami.
********
Ketika aku hendak pulang, Ami tergeletak pingsan di teras ruang tengah, Dodi menagis membagunkan ibunya.
Tergesa-gesa. Segera ku angkat tubuhnya "Ami bagun ...,"
Ya tuhan ada apa dengan istriku, saat itupun ku letakan Ami di ranjang tempat tidur.
Ketika hendak membuka lemari yang berisikan obat, ada lembaran amplop terjatuh, aku penasaran dengan isi amplop itu.
Seperti surat, surat apa yah?
Baru saja ingin ku buka surat itu, ternyata Ami sudah ada dibelakang
Segera ku kantongi surat yang ada di amplop itu.
"Mamah, sudah bagun." segeraku rangkul tubuhnya, dan membopong tubuh lemasnya untuk di tidurkan lagi.
Saat tengah ingin menidurkannya lagi, tiba-tiba Ami, melepaskan pegangannya dan berlari menuju kamar mandi.
Terlihat istriku muntah-muntah.
"Mamah, baik-baik saja kan." ucapku ketika istriku keluar dari kamar mandi.
Dia tidak menjawab perkataanku, malah berlalu pergi dan tetidur di kasur.
"Mah, kita pergi ke rumah sakit yuk," ajakku kepada sang istri.
Dia hanya terdiam, menutup matanya.
Jujur saja aku dibuat khuatir oleh tingkah istriku hari-hari ini, dia seperti tak bertenaga.
Karna hari sudah mulai gelap, ku tidurkan Dodi di pangkuanku, untungnya Dodi anaknya tidak rewel.
Segera aku bergelut dengan dapur, memasak, menanak nasi, dan mencuci piring.
Sesaat malam hari aku ingin membuang sampah, ku lihat di tempat sampah, ada banyak sekali gumpalan rambut.
Rambut, rambut siapa ini? seperti rambut Ami! kenapa banyak sekali
Kenapa dengan rambut Ami, rontokah.
Akhir-akhir ini aku tidak melihat istriku membuka kerudungnya, saat tidurpun,
__ADS_1
Apa ada yang ia sembunyikan.
Ku tepis semua prasangka buruk dalam otak ini, aku segera menemui sang istri yang sedang tertidur pulas di atas ranjang.
Sudah lama aku tak menatap raut wajah yang cantik ini, membuat aku seakan rindu.
Aku mengelus pipinya. Mencium keningnya.
"Papah," ucapnya seketika terbagun.
Aku terseyum menatap wajahnya.
"Mamah terbangun gara-gara papah yah."
"Engga ko."
Dreet ... Dreet ... Suara Hp Ami berbunyi lagi.
Ku lihat panggilan bernama Alan.
Istriku menghiraukan panggilan itu.
"Siapa itu mah?" tanyaku seketika membuat Ami tersentak kaget.
"Ini."
"Siapa?" mulut Ami seakan kaku ketika kutanya tentang nama panggilan telepon itu.
"Jadi benar mamah selingkuh," ucapku berdiri menujuk wanita yang menjadi istriku.
"Dengerin dulu mamah."
"Jujur saja mah, apa benar dia selingkuhan mamah?" tanyaku lagi dengan sedikit kesal.
"Alan adalah ..."
Tiba-tiba Dodi terbagun.
Ku hampiri anakku, tanpa mendengar penjelasan Ami istriku.
"Dia menunduk seakan tak kuasa berkata-kata lagi."
"Suatu saat papah akan tau siapa Alan itu."
Aku tidak mau mendengarkan perkataan istriku yang selalu berbohong.
Apalagi dengan ibu yang selalu datang ia pun tidak mengaku.
"Mau sampai kapan mamah akan berbohong, hati papah sakit bila mamah terus membohongi papah."
"Sudahlah percuma, mamah bicara sama papah, yang selalu mengandalkan emosi."
Ami berlalu pergi begitu saja, sembari menagis. Aku ingin mengejarnya. Tapi tidak kuasa, karna hati yang di rendungi dengan cemburu.
Prak ...
Suara apa itu, apa istriku menjatuhkan lagi gelas. Ada apa sih sebenarnya dengan Ami.
Untung saja Dodi terlelap tidur.
Jangan lupa Like komen yah ceritaku.
__ADS_1
Ikuti terus ceritanya.