Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 46


__ADS_3

Rudi mengantarkan Bu Nunik ke rumah sakit jiwa bersama ambulan. "Ini yang terbaik untuk Bu Nunik."


Sesaat di dalam sel tahanan, Sisi terus menggedor-gedor jeruji besi itu dengan tangannya.


"Eh, polisi bodoh. Keluarkan aku dari sini," teriak Sisi membuat sang polisi hanya menatapnya sekilas.


"Ah, sial kenapa aku harus terjebak di penjara menjijikan ini sih."


Ketika Sisi berjalan ke sana kemari menenangkan pikiran yang ada dalam dirinya. Sisi seakan kesal dengan apa yang menimpa dirinya.


"Eh, bodoh ngapai kamu ke sana kemari seperti orang bodoh," ucap sosok seorang wanita berjalan menghampiri Sisi. Wanita itu langsung menjabak rambut Sisi yang terurai panjang.


Dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh wanita itu. Hingga terjatuh.


"Kurang ajar kamu." satu pukulan menghantam wajah Sisi dari wanita yang berada satu sel dengan Sisi.


Wanita berwajah bulat itu langsung berteriak kesakitan dan memukul balik. Tapi naas. Tangan Sisi ditarik dan membuat satu pukulan melayang pada perut wanita berwajah bulat itu.


Pak Polisi datang menenangkan keributan yang ada di dalam penjara itu.


Semalaman Sisi tertidur menahan sakit di sekujur tubuhnya.


Wajahnya begitu bengkak begitu pun dengan perutnya yang sangat sakit karna pukulan yang sangat kuat membuat perutnya kesakitan.


Entah kenapa tiba-tiba darah ke luar dari daerah kewanitaan Sisi wanita berwajah bulat itu.


Sang polisi langsung tetohok kaget, dan membawa Sisi ke rumah sakit.


Saat pemeriksaan rumah sakit, Sisi mengalami keguguran karna saat itu dia sedang mengandung janin.


Dia heran bayi siapa yang ada dalam kandunganya. Dari sana wanita berwajah bulat itu tak perduli. Yang sekarang ia inginkan adalah menghancurkan Ami.


"Bagaimana caranya aku bisa keluar dari rumah sakit ini. Sial semua penjagaan begitu ketat," ucap Sisi dengan memegang perutnya yang tengah kesakitan.


Saat kakinya menginjak lantai Sisi seakan tak kuat untuk berdiri. Ia malah, kembali lagi membaringkan tubuhnya.


"Ah, bodoh kamu Sisi sekarang kamu tidak bisa apa-apa. Semua ini gara-gara wanita sialan itu. Dialah Diana Adelia, melihat dari catatan laporan kerjaannya nama yang terpapang. Wanita yang baru melamar kerja hari itu menghancurkan hidupku seketika. Aku jadi seperti ini karna dia, ya dia."


"Sisi apa kamu baik-baik saja," ujar seseorang yang tiba-tiba datang.


"Pak Hendra!" jawab Sisi, bibirnya mencambik kesal. Melihat tua bangka tak lain adalah Pak Hendra untuk apa lagi Pak Hendra menemui Sisi.


Pak Hendra menghampiri Sisi dan mencuil dagu Sisi dengan lembut." Aku kangen kamu sayang."


Sisi membuang ludah berasa jijik dengan perkataan Pak Hendra yang tidak Sisi sukai.

__ADS_1


"Kenapa, kamu harus membuang ludah?" tanya Pak Hendra.


Sisi langsung berteriak dan berkata." Keluar kamu dari sini, dasar tua bangka."


"Menikahlah denganku, kamu akan terbebas dari penjara," tawaran Pak Hendra pada wanita berwajah bulat itu.


Sisi mendengarnya langsung bergidik ngeri. Jijik dengan perkataan Pak Hendra saat itu juga.


"Sisi, ayolah!"


Sisi kadang berpikir, kalau dia menikahi Pak Hendra apa hidupnya akan bahagia karna di sisilain ada istri Pak Hendra yang garang dan juga menakutkan.


"Bagaimana?" tawaran Pak Hendra membuat Sisi bingung.


Hati Pak Hendra berbisik." Menikahlah denganku Sisi, maka aku akan membuat kamu menderita."


Sisi menatap wajah, Pak Hendra saat itu juga. Memikirkan perkataan Pak Hendra.


"Maaf Pak, sebaiknya anda keluar dari sini atau kamu akan di sered polisi saat ini juga. Karna telah merayuku dan akan memperkosaku," ucap Sisi matanya membulat.


Pak Hendra langsung beranjak pergi.


Ia gagal merayu wanita berwajah bulat itu.


"Sisi susah sekali aku taklukkan, dia begitu pintar." Mengusap kasar wajahnya Pak Hendra bingung dengan rencana selanjutnya.


Ami tengah memilih-milih baju yang ia suka untuk datang ke acara pernikahan Delia.


Saat dimana seorang sahabat menikah dan berbahagia.


Delia begitu cantik, ia tengah duduk di kursi pengantin dengan balutan gaun berwarna putih membuat aura cantiknya terpancar.


Ami dan Rudi begitu pun dengan Bu Sumyati mereka datang ke acara pernikahan Delia.


Dimana hari-hari itu menjadi momen istimewa untuk wanita bermata sipit itu.


Acara begitu meriah semua orang datang di acara sepesial Delia, dan saatnya dimana menunggu calon mempelai lelaki.


Jam sudah menujukan 09:00 tapi mempelai tak kunjung datang. Sebenarnya ada apa dengan mempelai pria kenapa sudah dua jam tak ada tanda kedatangan calon mempelai pria.


Semua pengunjung heran karna mempelai pria tak kunjung datang juga. Delia tampak murung sekali, raut wajahnya di selimuti kesedihan. Ada bulir bening dari pelipih matanya yang napak akan terjatuh.


Ami mendekat kearah Delia menenangkan kesedihan wanita bermata sipit itu.


Bisikan pengujung mulai terdengar, usut punya usut calon pengantin pria kabur.

__ADS_1


Karna kebetulan Delia menikah karna perjodohan. Dari orang tuanya sendiri.


Ami entah dimana akal pikirnya berada dia malah menarik Rudi keatas pelaminan.


Delia langsung menatap raut wajah Rudi.


"Mah, kenapa narik papah ke Sini?" tanya Rudi menampakan raut wajah bingung.


Ami terseyum menarik nafas panjangnya, ia berbisik dalam hati." Mungkin ini yang terbaik menikah kan suamiku dengan sahabatku sendiri."


Ami memegang tangan Delia dan juga Rudi. Delia yang merasakan tangan Rudi seakan tersipu malu. Dadanya bergemuruh hebat, seakan ada detakan yang baru saja ia rasakan.


"Aku jodohkan kalian," ucap Ami.


Seketika Rudi syok, segera melepaskan tangan yang menempel pada Delia.


Di saat itu Rudi merasa marah atas apa yang Ami lakukan.


Pergi dari kursi pengantin dengan keadaan kesal. Ami mengejar Rudi saat itu juga.


Delia memegang tangannya yang tersentuh oleh Rudi. Menenangkan setiap detakan jatung yang terasa seakan mengguncang rasa cinta


Bisikan hati Delia." Ada apa ini? Kenapa hatiku berdetak. Apa yang terjadi pada diriku, tidak mungkin aku menyukai suami Ami."


Delia menepis perasaan itu menghampiri Ami dan Rudi.


*********


Di saat itu Delia melihat Ami dan Rudi sedang bertengkar.


"Mamah, apa-apaan. Apa mamah gila," hardik Rudi. membuat Ami menunduk pandangan, lelaki bertubuh kekar itu mengusap kasar wajahnya.


"Mamah, papah gak suka. Kalau mamah jodoh-jodohkan, papah dengan Delia. Cukup satu wanita yang papah cintai dan menjadi pendamping hidup papah. Yaitu Ami istri pertama dan terakhirku."


Tangisan Ami pecah dikala itu, Ami ingin melihat Rudi bahagia tanpa harus terbebani dengan Ami yang sering sakit.


Pelukan Rudi begitu erat membuat Ami semakin tak berhenti menangis.


"Papah sayang mamah."


Di saat itu Delia mengintip dengan berlinang air mata," Rudi begitu setia. Wanita mana yang mampu menolaknya."


Delia mengusap kasar wajahnya dan memukul bibir yang asal berucap itu.


"Kenapa aku bisa asal bicara seperti ini, sadar Delia. Rudi itu milik Ami. Baru kali ini jantungku berdetak saat berhadapan dengan Rudi."

__ADS_1


******


Jangan lupa like dan komen. ceritanya masih lanjut ya.


__ADS_2