Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 112 Membaca Buku Usang


__ADS_3

Sisi yang masih berada di rumah, kini mengecek semua barang yang ia temukan di kamar Bu Ira. Barang yang menurut Sisi sebagai bukti untuk mengungkap semua masa lalu Bu Ira saat ini.


"Kenapa Bu Ira masih menyimpan buku usang ini, sebenarnya buku apa sih ini?"


Sisi bertanya pada dirinya sendiri, saat melihat buku usang yang ia temukan di kamar Bu Ira. Wanita bermata bulat itu, mulai membuka perlahan buku usang Bu Ira dengan jari jemari tangannya.


Begitu banyak debu yang menempel pada buku usang milik Bu Ira, membuat Sisi batuk.


"Ini buku abad dari keberapa, ya?"


Dengan pelan buku usang itu sudah terbuka, Sisi mulai membaca setiap baris kata yang tertulis di buku usang itu. Di mana tulisan itu menceritakan kisah cinta Bu Ira saat di sekolah.


Dimana kisah cinta antara Ardan dan Bu ira.


"Kisah cinta yang begitu rumit."


Sisi mulai membuka lagi lembaran buku itu, dengan perlahan, hingga saatnya ia menemukan sebuah tulisan nama, dimana tulisan itu terdapat nama Ardan.


"Ardan, Arpan. Apa Ardan itu ayah Arpan?"


Sebuah pertanyaan mulai merasuki pikiran Sisi saat itu, wanita bermata Bulat itu mulai terdiam terpaku memikirkan nama dari ayah Arpan.


Dengan segera Sisi mencari kartu keluarga dirinya bersama Arpan, di mana. Di dalam kartu keluarga itu terdapat nama ayah Arpan.


Membuka laci, mencari apa yang ia cari, dan pada akhirnya ia mendapatkan satu lembar kartu keluarga dirinya bersama Arpan. Sisi mulai melihat nama ayah kandung Arpan saat itu.


Dan benar saja, Ardan adalah ayah kandung Arpan. Sisi mulai membaca lagi buku usang Bu Ira.


Di dalam tulisannya terdapat kata cinta Bu Ira untuk Ardan yang tak lain ayah Arpan. Cinta pertama Bu Ira adalah Ardan bukanlah suaminya.


"Jadi Bu Ira mencintai ayah Arpan."


Sisi begitu menghayati setiap tulisan Bu Ira, ia semakin penasaran dengan masa lalu Bu Ira. Bagi Sisi cerita masa lalu Bu Ira begitu rumit dan membuat Sisi seakan bingung.


Apalagi dimana tulisan itu terdapat tulisan Bu Ira yang mengatakan. Aku tidak menyangka jika Ardan mencintaiku begitupun dengan aku tapi bagaimana dengan suamiku?

__ADS_1


Hanya kata-kata itu saja yang membuat Sisi terus berpikir untuk mencari jawaban.


"Cinta segitiga kah," Sisi terus mengoceh saat membaca setiap tulisan dari buku usang itu. Karna dalam diary Bu Ira tulisannya seakan penuh dengan tebakan.


Saat buku, terbuka lagi. Sisi melihat satu lembar poto jatuh dari buku itu.


"Poto Ardan, ayahnya Arpan. Ternyata Arpan tak jauh berbeda dengan ayahnya, dia begitu tampan. Apa begitu besar cinta Bu Ira pada ayah Arpan, sampai ia menyimpan potonya segala."


Sisi mulai fokus lagi membaca tulisan yang menceritakan Bu Ira yang selalu disiksa oleh sang suami, membuat air mata Sisi keluar dari pelipis mata nya hingga jatuh ke dasar pipi.


" Dalam Diary ini, tulisan Bu Ira saat disiksa oleh suaminya mengingatkan aku pada mantan suamiku dulu yang selalu menyiksa dan menghinaku."


Perlahan jari jemari tangan Sisi mulai mengusap pelan air mata yang jatuh mengenai pipinya.


Dengan keingin tahuannya Sisi mulai melupakan masa lalu di mana mantan suaminya selalu menyiksa dirinya, ia mulai fokus lagi membaca diary Bu Ira.


Ada tulisan yang membuat Sisi terperanjat kaget, dimana dalam tulisan itu menceritakan bahwa suami Bu Ira mandul.


"Kalau suami Bu Ira, mandul. Terus Arsyla anak siapa?"


"Apa mungkin Bu Ira sedang kesal atau marah, sampai ia langsung menyobek setiap lembar buku diary-nya sendiri."


Banyakan pertanyaan dalam benak Sisi saat ini, pertanyaan dimana suami Bu Ira mandul.


Apa mungkin, Bu Ira hamil oleh ayah Arpan. gumam hati Sisi.


Karna Sisi menyangka Bu Ira sudah berselingkuh dengan ayah Arpan.


Sisi mengacak rambut panjangnya, wanita bermata bulat itu pusing dengan pertanyaan yang terus membuat kepalanya harus berpikir keras.


Buku usang yang Sisi temukan belum menjawab semua masa lalu tentang Bu Ira, semua tulisan dalam diary buku Bu Ira belum membuat Sisi yakin 100% bahwa Bu Ira adalah dalang pembunuhan suaminya.


Ada satu barang bukti lagi yaitu kotak kecil yang Sisi temukan di dalam lemari Bu Ira saat itu, di mana kotak kecil itu sepertinya sudah lama tidak pernah dibuka oleh Bu Ira.


Sisi mencoba merusak gembok yang menempel pada kotak kecil milik Bu Ira, berharap gembok yang mengunci kotak kecil itu bisa Sisi terbuka.

__ADS_1


Sisi mulai mencokel lubang gembok itu dengan besi kecil yang ia punya.


Hingga akhirnya kunci dari gembok itu bisa terbuka.


"Akhirnya gemboknya terbuka juga."


Tak sabar rasanya, wanita bermata bulat itu membuka kotak kecil itu.


Saat dilihat ternyata hanya kalung permata dan satu lembar surat.


"Surat apa ini, seperti surat rumah sakit."


Dengan perlahan Sisi mulai membuka satu lembar surat itu, ia mulai membaca perlahan isi dalam Surat yang ia temukan.


Ternyata benar dugaan Sisi saat itu, bahwa surat itu adalah surat dari rumah sakit jiwa.


"Kenapa Bu Ira menyimpan surat dari rumah sakit jiwa, siapa yang sakit sebenarnya."


Karena rasa penasaran yang belum terpecahkan, pada akhirnya Sisi masuk lagi ke kamar Bu Ira, ia mencari tahu tentang surat yang menujukan Rumah Sakit Jiwa.


"Apa ada barang bukti lagi yang menujukan tentang surat rumah sakit jiwa yang aku temukan, dalam kotak kecil."


Sisi hanya bisa mengusap kasar wajahnya, berharap bisa menemukan barang bukti lagi.


Ia melihat tas hitam, dimana tas hitam itu sering dipakai oleh Bu Ira saat pergi pada hari minggu.


Bu Ira tak pernah pamit Jika ia pergi keluar rumah.


saat itulah Sisi mulai mengambil tas berwarna hitam yang menggantung di belakang pintu kamar Bu Ira, ia mulai membuka resleting pada tas Bu Ira. Ternyata banyak surat kunjungan Bu Ira ke rumah sakit jiwa.


" Sebenarnya, untuk apa Bu Ira datang ke rumah sakit sampai surat kunjungan nya pun begitu banyak."


" Siapa yang ia temui di Rumah Sakit jiwa, apakah saudaranya atau keluarganya. Tapi mana mungkin bukan kah, Bu Ira tidak mempunyai saudara ataupun keluarga. Lagi pula yang ia punya hanyalah Arsyla."


Misteri masa lalu tentang Bu Ira benar-benar belum terpecahkan oleh Sisi saat ini, begitu banyak bukti yang Sisi tidak tahu bukti itu menujuk pada rumah sakit.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus ke rumah sakit jiwa, sebelum Arpan pulang ke rumah."


__ADS_2