
Sisi masih panik dengan keadaan Riri dan Dina yang melemah, saat itulah Riri dan Dina di larikan ke rumah sakit.
Dengan harapan Sisi mereka segera pulih.
Menunggu beberapa menit kemudian, dokter datang. Membuat Sisi langsung bertanya pada sang dokter,” bagaimana keadaan mereka, dok?” tanya Sisi.
“Ibu tenang saja ya, mereka hanya kekurangan nutrisi saja!” jawab sang dokter. Membuat Sisi bernafas lega, ia takut saat Dina dan Riri tiba-tiba pingsan saat menuju perjalanan rumah sakit.
Dreet ....
Ponsel Sisi bergetar, ia melihat pada layar ponselnya. Rudi menelepon. Membuat Sisi dengan sigap mengangkat panggilan dari Rudi.
“Halo, Rud?” tanya Sisi.
“Bagaimana keadaan Dina dan Riri, apa mereka baik-baik saja!” jawab Rudi.
“Untung saja, mereka tidak kenapa- kenapa. Mereka hanya butuh istirahat. Karna kekurangan nutrisi,” ucap Sisi.
“Syukurlah kalau begitu,” balas Rudi.
“Ya.”
“Oh ya, apa kamu sudah memberitahu Alan. Jika Dina dan Riri sudah selamat?” tanya Rudi.
“Sudah, aku sudah memberitahu Alan!” jawab Sisi.
“Ya sudah, setelah kamu menjaga mereka berdua. Kamu segera ke kantor polisi,” ucap Rudi.
“Baiklah Rud.”
Panggilan telepon pun di matikan sebelah pihak, di mana Sisi terdiam sejenak saat Rudi menyuruh dirinya ke kantor polisi.
Karna saat itulah, Sisi harus menjelaskan semuanya pada Sarah. Di mana dirinya yang bersalah akan munculnya dendam pada hati Sarah.
Menarik nafas secara perlahan,” aku harus bisa menyelesaikan masalah ini.”
@@@@
Di dalam penjara, Tama begitu kaget. Melihat Sarah di bawa polisi untuk dimintai keterangan, kedua tangan Tama memegang jeruji besi, ia berucap dalam hati,” Sarah tertangkap, kenapa bisa?”
Namun betapa kagetnya Tama pada saat itu, sosok Rudi tiba- tiba ada di hadapnya.
“Hai, Tama apa kabar?” tanya Rudi. Membuat Tama kaget, ia langsung mengeramkan giginya.
“Rudi, kamu!” jawab Tama. Menggoyangkan jeruji besi.
__ADS_1
“ Santai saja Tama, aku tidak akan menyakitimu,” ucap Rudi tersenyum lebar.
“Apa yang sudah lakukan pada Sarah, Kenapa dia bisa masuk ke dalam penjara?” tanya Tama masih memegang jeruji besi dengan kedua tangannya.
“ kenapa kamu tanya kepadaku? Harusnya kamu tanya kepada Sarah!” jawab Rudi membuat emosi Tama menggebu-gebu.
“Aku bertanya kepadamu, Kenapa kamu memalingkan pertanyaan menyuruh aku untuk bertanya kepada Sarah,” ucap Tama begitu kesal.
“ Sudahlah Tama jangan berpura-pura bodoh, Akuilah dirimu bahwa kamu sudah sekongkol dengan Sarah. Jika kamu tidak mengakui semuanya, Sarah yang akan menanggung semua yang sudah kamu lakukan,” balas Rudi. Begitu santainya.
Tama benar-benar marah dengan ucapan Rudi, tangannya keluar dari jeruji besi. Mencengkram kerah baju Rudi, hingga wajah Rudi menempel pada jeruji besi.
Pada saat itulah Tama berucap,” aku tidak akan membuat hidupmu bahagia.”
Ancaman yang dilayangkan Tama untuk Rudi, membuat Rudi tersenyum dan membalas ucapannya,” terus. Apa kamu bisa sekarang melakukan semua yang kamu ucapkan, sedangkan dirimu sekarang masih di dalam penjara.”
Tama dengan beraninya mencekik leher Rudi, membuat Rudi sedikit meringis kesakitan. Untung saja polisi Tengah berjaga di sana, saat itulah Rudi masih bisa diselamatkan.
Rudi membereskan kerah bajunya, ya berjalan pergi meninggalkan Tama yang tak kuat menahan amarah. Kedua tangannya mengepal erat, Iya ingin sekali memukul Rudi.
“ Ahhk, sial.” Teriak Tama.
Iya layangkan amarahnya pada tembok penjara, pukulan demi pukulan ia hantamkan pada tembok membuat punggung tangannya berdarah.
“Rudi, kamu.”
Sedangkan dengan Sarah, Iya diam saat polisi terus bertanya tentang mayat-mayat yang ia sembunyikan di ruangannya.
Kedua matanya mengeluarkan air mata, bibirnya seakan keluh.
Dengan terpaksa Sarah mengatakan apa yang sudah dia lakukan, membuat polisi gram dengan tingkahnya.
Mau tidak mau Sarah di hukum karna tidak pidana, dirinya yang membunuh ke tiga istrinya Pak Anton dan juga ibunya. Tak lupa dengan Pak Anton mayat yang diawetkan Sarah.
@@@@
Sisi mulai bergegas pergi untuk menemui Sarah yang berada di dalam penjara. Ia meninggalkan Riri dan Gina untuk dirawat di rumah sakit sementara waktu, saat itulah Sisi mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Hatinya merasa tak tenang, karena ia bingung harus mulai dari mana berbicara kepada Sarah. Wanita yang iya cuci pikirannya agar membenci Ami.
“Aku harus menghadapi Sarah bagaimana pun resikonya.” Gumam hati Sisi saat mengendarai mobil.
Setengah jam di lalui Sisi untuk menempuh perjalanan menuju kantor polisi, ia turun dari dalam mobil. Menghela nafasnya agar siap menghadapi Sarah walau apa pun yang akan terjadi.
Rudi tengah menunggu kedatangan Sisi, untuk menepati janjinya agar bertanggung jawab dari perbuatan yang sudah ia lakukan.
__ADS_1
“Rudi.” Panggil Sisi. Rudi tengah menatap jam yang melingkar pada tangannya.
“Sisi,” ucap Rudi.
“Maaf aku terlambat, aku mau menemui Sarah dan menjelaskan semuanya,” balas Sisi.
“Baguslah, jika memang kamu menyadari semuanya,” ucap Rudi.
Rudi mulai membawa Sisi ke pada Sarah yang sudah membekam di penjara.
Melangkah, di mana Sarah tengah duduk dengan posisi badan yang menyender pada tembok. Sisi mendekat pada jeruji besi itu dan memanggil Sarah.
“Sarah.”
Panggilan Sisi, membuat Sarah menatap ke arah Sisi. Ia kini berdiri melangkah mendekat ke arah Sisi.
“Kamu.”
Sisi mulai melayangkan sebuah senyuman pada Sarah, tapi Sarah seakan benci dengan senyuman itu. Ia memalingkan wajah tak ingin menatap wajah wanita yang menengok dirinya.
“Untuk apa kamu datang ke sini?” tanya Sarah. Memegang jeruji besi dengan wajah yang menghadap ke samping.
Sisi yang ingin menjelaskan semuanya, kini mulai memegang punggung tangan Sarah dan berkata,” aku datang ke sini. Ingin meminta maaf kepadamu.”
“Meminta maaf,” balas Sarah. Tak mengerti dengan ucapan yang terlontar dari mulut Sisi.
Saat itulah Sisi mulai menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi di masa lalu, membuat Sarah terus mendengarkan cerita dan kejelasan Sisi saat itu.
“Jadi, setelah aku seperti ini. Baru kamu menjelaskan semuanya.” Ucap Sarah.
“Maafkan aku Sarah, aku ....”
Belum perkataan Sisi terlontar semuanya, Sarah malah berteriak dan mengusir Sisi begitu saja.
“Pergi kamu dari sini, aku tidak mau melihat wajah kamu lagi.”
Deg ....
Sisi masih saja berdiri di depan jeruji besi, melihat kekesalan Sarah.
“Sarah.”
Ucapan Sisi membuat Sarah semakin kesal, dan berteriak kembali.” Cepat kamu pergi dari hadapanku.”
“Sarah dengarkan aku dulu.” Ucap lembut Sisi, air mata tak terasa mengalir pada kedua mata Sisi. Melihat Sarah yang berteriak mengusir Sisi.
__ADS_1
“Sudah cukup aku tak mau lagi mendengar penjelasan kamu lagi Sisi, apalagi jika membahas masa lalu.” Tegas Sarah. wanita itu seakan enggan menatap wajah Sisi. Ia malah memalingkan wajah sampai di mana Sisi pergi dari hadapannya.