
Ami berteriak, menyuruh Rudi untuk berhenti," aku mohon, Mas, berhenti. Jangan pergi."
Rudi tetap mengabaikan teriakan Ami, sedangkan Ami berlari mengejar Rudi yang sudah mulai membuka pintu mobil, saat itulah wanita berbulu mata lentik itu menarik paksa tangan suaminya.
Ami menarik lengan Rudi, berharap suaminya tak pergi.
"Kamu jangan pergi, Mas," teriakan Ami bergeming di telinga. Rudi.
"Kenapa kamu larang aku pergi?" tanya Rudi.
"Sebenarnya bukan urusan kantor kan, ada hal lain!" jawab Ami, kedua matanya begitu terlihat sayu.
Rudi mengusap kasar wajahnya, karna rasa kesal ia langsung berucap," iya. Kamu puas, sekarang lepaskan tanganku."
"Aku ikut," ucap Ami.
"Apa kamu yakin?" tanya Rudi.
Ami menganggukan kepala, pada saat itulah ia naik ke dalam mobil. Rudi yang tak sabar ingin mencegah Dodi mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
"Dodi, papah datang nak." Gumam hati Rudi.
******
Dodi memeluk sang nenek seraya berkata," maafkan Dodi ya, nek. Dodi pergi dulu."
Wanita tua itu mengusap lembut air mata cucuknya seraya menjawab," Dodi. Jangan pergi, tinggallah bersama nenek di sini."
Dodi melepaskan kedua tangan sang nenek dan berkata," maaf nek. Dodi ingin ikut dengan Om Alan dan Tante Diana, nenek jangan kuatir, ya."
Diana mulai memanggil Dodi dengan lembut," ayo, sayang."
Dodi kini berjalan pelan menghampiri Diana dan Alan, tangannya mulai meraih tangan Alan.
Bu Sumyati hanya melihat kepergian sang cucu, semakin melangkah jauh. Wanita tua itu terus menunggu kedatangan Rudi, untuk mencegah Dodi.
"Kemana kamu Rudi."
Saat langkah kaki Dodi melangkah, menaiki mobil, dari sanalah Rudi datang bersama Ami.
"Dodi."
Anak kecil itu membalikan wajah menatap ke arah sang ayah," papah."
Berlari memeluk Rudi," papah datang."
Sedangkan Ami masih berada di dalam mobil, tidak berniat untuk menemui Dodi.
"Nak, kenapa kamu pergi. Kenapa kamu mau tinggalkan papa di sini?" tanya Rudi, ia memeluk erat Dodi. Hatinya tak sanggup kehilangan sang anak.
__ADS_1
"Papah, ini yang tebaik. Agar papa dan mama bahagia!" jawab Dodi dengan begitu polosnya.
"Jangan pergi, nak. Papah enggak sanggup jauh dari, Dodi," ucap Rudi. Air matanya mengalir deras, hatinya benar-benar rapuh.
"Dodi, ayo," timpal Alan.
Dodi mulai melepaskan pelukan sang papah dan berkata," papa, baik-baik sama mama, ya. Dodi pergi dulu."
Ami mulai membuka pintu mobil, ia menatap ke arah Dodi, begitu pun dengan anak tampam itu. Tatapan mereka saling beradu.
"Pergi saja, kenapa harus pake drama," ucap Ami.
Rudi yang tak terima, menghardik Ami," diam."
Ami terdiam, menghampiri Rudi," mas. Gara-gara anak ini kamu sering membentakku."
Rudi bingung saat ini, Dodi langsung meraih tangan sang papa dan berkata," Dodi pergi dulu, ya."
Anak itu menghampiri Ami, memeluk tubuh ibunya seketika. Ami malah terdiam merasakan ke hangatan. Beberapa menit kemudia," apa kamu peluk-peluk aku."
Dodi tersungkur jatuh, Delia dan Alan langsung merangkul Dodi berdiri," ayo. Nak. Sebaiknya kita pergi."
Wajah Dodi memerah, kedua matanya berkaca-kaca. Saat itulah Ami mulai memegang dadanya ada rasa sesak yang terasa, membuat Ami jatuh pingsan.
Bu Sumyati langsung Sok, wanita tua itu menghampiri menantunya. Menyuruh Rudi untuk segera membawa Ami ke rumah sakit.
"Mama."
"Mama, tante."
"Sudah, biarkan saja. Kita kan mau pergi."
Dengan terpaksa Dodi menuruti perkataan Delia, mereka pergi menuju bandara. Menaiki pesawat.
Sedangkan Ami begitu kritis, ia mulai di bawa ke rumah sakit untuk segera di tangani.
Dengan cepat penanganan Dokter datang, Ami benar-benar gawat.
Rudi tak tahu harus bagaimana lagi, kenapa Dodi pergi dengan keinginannya, kenapa dia tidak mau bertahan. Ucapan dalam hati terus terngiang.
Setelah pengecekan, saat itulah Dokter datang.
"Dok, gimana dengan ke adaan istri saya."
"Istri bapak hanya kelelahan saja."
"Syukurlah."
Rudi sempat panik, ia takut terjadi apa-apa lagi dengan Ami.
__ADS_1
"Yang sabar, ya. Rudi."
"Iya, bu."
**********
Satu bulan berlalu, setelah kepergian Dodi. Rudi begitu banyak diam. Ia jarang sekali mengobrol dengan Ami. Membuat suasa hati Ami sepi.
Rudi lebih banyak berdiam diri dengan ponselnya, menatap poto Dodi. Tidak ada telepon atau pesan dari Alan dan Delia, nomor mereka tidak aktip sama sekali.
"Mas, ayo kita makan," ajak Ami.
"Kamu saja duluan," ucap Rudi. Lelaki berbadan kekar itu berlalu pergi, mencari udara segar.
Ami tampak kesal, ia menghampiri Rudi dan berkata," mas. Kamu kenapa sih, semenjak anak itu tidak ada. Kenapa kamu jadi berubah."
"Ami, aku tidak ingin berdebat. Sebaiknya kamu makan saja sendiri," cetus Rudi.
"Mas," panggil Ami. Kedua matanya tampak sayu, melihat perubahan Rudi yang mendadak berubah, setelah kepergian Dodi.
Baru melangkah menghampiri Rudi. Tiba-tiba saja Ami merasakan rasa sakit pada kepalanya," aw."
"Apalagi, sudah jangan bercanda," gerutu Rudi. Membuat Ami terdiam, ia sesekali meringis kesakitan.
"Kepalaku sakit, mas," ucap Ami.
"Kepalamu sakit, tetap saja. Kamu tidak akan mengigat semuanya, kemarin kamu sudah membohingiku dengan berpura-pura pingsan. Padahal aku ingin sekali menghentikan kepergian Dodi, kenapa dengan ingatanmu Ami. Dodi kandungmu, kenapa tak kamu ingat," balas Rudi. Tanpa sadar ia mengatakan apa yang tak boleh di katakan oleh sang dokter saat di rumah sakit.
"Apa maksud kamu, mas?" tanya Ami. Masih menahan rasa sakit di kepalanya.
"Sudahlah, aku mau pergi," cetus Rudi.
"Mas, tunggu. Memang benar, kemarin aku berpura-pura pingsan. Karna aku tidak suka dengan kamu yang tiba-tiba berubah dan membentakku, sebenarnya apa yang kamu tahu. Kenapa aku tidak bisa mengigat apa yang kamu katakan," ucap Ami masih menahan rasa sakit di kepalanya.
Ia mulai mengigat apa yang di katakan Rudi, bahwa Dodi adalah anaknya
"Mas, kumohon kamu jangan pergi. Mas." Teriakan Ami tak di dengan oleh Rudi. Ia benar-benar emosi, tak bisa mengontrol dengan tenang setiap amarahnya. Karna kehilangan Dodi, ia sampai lupa akan kesehatan Ami.
Ami mulai menahan rasa sakitnya, ia berusaha tetap tenang, berjalan sebisa mungkin untuk pergi ke kamar tidur.
Rudi benar- benar begitu berubah, Ami yang hilang ingatan membuat dirinya tersiksa.
Hilangnya ingatan Ami membuat rasa sakit pada hati Rudi, Dodi harus jadi korban.
Rudi langsung memutuskan pergi menuju rumah sang ibu, dengan sigap ia menyalahkan mesin mobil.
Tidak butuh beberapa lama, Rudi sudah sampai di rumah sang ibu.
Panggilan telepon dari Ami terdengar nyaring Rudi mengabaikannya begitu saja.
__ADS_1
Ada apa dengan Rudi, kenapa dia berubah begitu cepat?