
"Lepaskan, ibuku. Aku mohon Rafa, dia tidak bersalah," ucap Arsyla. Tubuhnya merosot ke atas lantai, memohon agar Rafa menyingkirkan pistol yang sengaja ia tempelkan pada jidat Bu Ira.
Rudi dan Arpan, masuk ke dalam rumah, hingga Rafa terseyum seraya berkata." Waw, kamu membawa balai bantuan, ya. Arsyla."
"Rafa, Apa yang kamu lakukan?" tanya Arpan.
"Husssttt, jangan berisik. Aku hanya ingin melihat Arsyla menangis, agar dia tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang ibu yang selalu ia campakan!" jawab Rafa. Membuat Arsyla menangis memohon dan bersujud.
"Tolong lepaskan ibuku Rafa, jangan bunuh ibuku. Aku mohon. Aku akan lakukan apa yang kamu minta, asal kamu lepaskan ibuku," pinta Arsyla. Memohon dan menangis terisak-isak.
Rafa tertawa terbahak-bahak. seraya berkata," apa kamu yakin, Arsyla. Bukannya kamu senang dengan ibunya yang telah pergi. Apalagi dengan kebangkrutan Arpan saudarmu sendiri," ucap Arpan.
Bu Ira langsung angkat bicara setelah mendengar perkataan Rafa saat itu," apa maksud kamu Rafa?"
Rafa terseyum kecil seraya menjawab," oh, ya. Aku lupa Bu Ira belum tahunya, rencana licik Arsyla."
"Diam kamu, Rafa. Ini sudah aku sesali jangan kamu ungkit lagi," teriak Arsyla. Berharap Rafa tidak mengatakan semuanya.
"Cepat katakan," tegas Bu Ira.
"Sudah cukup, aku akan mengatakan semuanya. Sebenarnya kenapa aku meminjam uang kepada Rafa, karna aku membutuhka uang itu untuk kebutuhanku, dan selebihnya untuk menyewa orang untuk manghancurkan perusahaan Arpan agar jatuh ke tanganku. Aku ingin rumah tangga Arpan hacur, dan membuat Arpan menderita," ucap Arsyla. Mengakui semuanya.
"Arsyla, Arsyla, akhirnya kamu mengaku juga. Rencana jahatmu itu kini berbalik arah padamu sendiri," sindir Rafa.
"Arsyla kenapa kamu melakukan semua itu, Nak?" tanya Bu Ira.
"Semua kulakukan karna, aku kesal dengan Arpan dan Ayahnya yang telah membunuh papah, bu!" jawab Arsyla. Pada sang ibu.
Arpan terdiam pilu, sedangkan Rudi mulai menghampiri Arsyla agar berdiri."
"Sudahlah jangan menangis lagi Arsyla. Semua sudah terungkap, kamu juga sudah mengakui kesalahanmu. Dan lagi kamu jangan kuatir, aku pasti akan menikahimu. Jadi tenang saja," ucapan Rafa membuat Arsyla murka.
"Lepaskan ibuku," teriak Arsyla.
Saat itu Rafa mulai melepaskan Bu Ira.
"Oh ya, besok acara pernikahan kita akan di gelar. Tunggu saja permainsuriku, semua sudah aku siapkan!"
Mengedipkan sebelah matanya dan terseyum lebar, itulah yang diucapkan Rafa.
Bu Ira berjalan gontai, hatinya merasa sakit sekali. Setelah mendengar pengakuan dari Arsyla anaknya. Bahwa dia akan menghancurkan perusahaan dan kehidupan Arpan yang tak lain kaka kandungnya sendiri.
Arsyla mulai memanggil Bu Ira dengan lembut.
"Bu." Panggil Arsyla. Tapi Bu Ira mengabaikan panggilan anaknya.
__ADS_1
Langkah kaki Bu Ira semakin jauh, melewati tubuh Arsyla. Membuat Arsyla menangis sejadi-jadinya.
"Antarkan aku pulang, Arpan."
"Baiklah, Bu."
Arsyla langsung berdiri, berharap bisa mengejar ibunya.
"Bu, tunggu. Arsyla."
Rudi mulai menahan tubuh, Arsyla dan memeluk tubuh gadis itu.
"Kamu harus tenang.
"Tapi, bu."
"Sudah, kamu sekarang pulang denganku. Ya."
Rudi mulai membawa Arsyla pulang dari rumah Rafa.
Di dalam perjalanan menuju pulang Bu Ira menangis di dalam mobil, sedangkan Arpan yang tengah mengendarai mobil terus menenangkan hati Ibu Ira saat itu.
"Bu, Ibu harus tenang, ya." ucap Arpan.
Arpan tersenyum lebar memaklumi semua kesalahan Arsyla. Iya berkata," sudah lah, bu. nasi sudah menjadi bubur, apa yang harus disesalkan lagi, semua sudah terlambat Arpan sudah memaklumi semua kesalahan Arsyla saat ini."
"Arpan kamu memang anak baik, nak!" Ucap Bu Ira. Mengusap pelan bahunya saat itu.
"Arsyla memang pantas marah kepada Arpan, karena memang sejatinya Arpan adalah anak dari seoang pembunuh. Ayah Arpan sudah membunuh ayah Arsyla."
Perkataan Arpan membuat relung hati Bu Ira merasa sakit, rasanya Bu Ira ingin mengatakan semua kejujuran pada Arpan saat ini. Tentang semua pembunuhan yang terjadi pada suaminya.
Tapi Bu Ira sungguh takut, jika Arpan mengetahui semuanya, Jika Arpan tahu, Bu Ira takut Arpan akan membenci dirinya saat ini juga. Maka dari itu Bu Ira hanya bisa memendam semua rahasia yang dialami dirinya di masa lalu.
"Jadi maklum saja jika Arsyla dendam terhadap Arpan dan ingin menghancurkan kehidupan Arpan saat ini."
"Tapi kamu tidak salah, Nak Arpan."
"Sudah bu, dari pada kita membahas masalah masa lalu. Lebih baik kita pikirkan Arsyla. Apa Rafa akan menjadi suami yang baik untuk Arysla."
Perkataan Arpan membuat Bu Ira berpikir tentang masa depan Arsyla yang akan menikah dangan Rafa. Lelaki yang tidak dicintai Arsyla.
Apa ini akan berjalan lancar atau akan menjadi kehancuran baru untuk Arsyla, rasanya Bu Ira tega menikahkan gadis semata wayangnya dengan Rafa.
Bu Ira takut jika Rafa malah menyakiti menyakiti hati Arsyla setelah menikah.
__ADS_1
Tapi jika Bu Ira menolak pernikahan Rafa dengan Arsyla, Bu Ira takut jika nanti Arsyla menderita dan dicampakkan oleh setiap lelaki lain yang menikahinya. Karena dia sudah tak Suci lagi.
Bu Ira seakan stres hari ini, niat untuk membunuh Rafa kini gagal karna ia berpikir dengan jerni.
Jika Rafa mati, bagaimana dengan Arsyla yang sudah tak suci lagi.
"Ibu, tenang ya. Jangan terlalu berpikir keras."
"Ibu bingung saat ini, Arpan. Bagaimana jika Arsyla menikah dengan Rafa. Hidup Arsyla malah menderita?"
**********
Di tengah masalah yang dihadapi Bu Ira. Arsyla yang berada di mobil Rudi mengadu nasib menangis seraya menyalakan dirinya sendiri.
"Aku tidak mau menikah dengan, Rafa."
Rudi merasa tak tega melihat Arsyla menangis terisak-isak. Ia menghentikan mobilnya.
Rudi keluar dari mobil, membeli satu minuman yang bisa menenangkan rasa kesal pada hati Arsyla.
Lelaki berbadan kekar itu langsung menyodorkan minuman yang sudah iya beli.
"Coba minumlah dulu. Kamu harus tenang. Semua masalah bisa teratasi, asal kamu bisa tenang."
"Gimana sudah tenang?" tanya Rudi.
Arsyla mulai tidak menangis lagi, ia menatap raut wajah Rudi. Ada rasa getaran pada hatinya.
Tiba-tiba.
Drettt ....
Ami menelpon.
Rudi pamit sebentar untuk mengangkat panggilan telepon dari istrinya, yang tak lain Ami.
Ada rasa kesal pada Arsyla, saat Rudi menganggkat panggilan telepon istrinya.
Arsyla bergumam dalam hati, kenapa coba, di saat romantis seperti ini, istrinya menelpon. Bikin bad mood saja."
Arsyla iri dengan Ami karna memiliki lelaki tampan seperti Rudi dan baik hati.
Dunia seakan tak adil pada diri Arsyla.
Gadis berhijab itu terus melihat ke arah luar dari kaca mobil, melihat Rudi yang begitu asik mengobrol dengan istrinya lewat telepon.
__ADS_1