
"Sayang, kamu nunggu lama. Ya," ucap Ami menampikan sebuah seyuman manis, pada suaminya.
"Iya. Aku sudah nunggu kalian setengah jam, ayo kita pulang ke rumah," balas Rudi.
"Oke," ucap Ami. Tangan kanannya, menarik rambut panjang Arsyla, membuat Arsyla kesal dan ingin sekali mengadu pada Rudi.
Meraka bertiga, bergegas pergi menuju ke rumah. Arsyla masih dengan rasa tenangnya, karna sejahatnya Ami dia masih bisa menggoda Rudi di dalam rumah.
Setelah, sampai di rumah. Tiba-tiba saja Rudi berpamintan untuk pergi ke luar kota karna ada pekerjaan yang mendadak, sedangkan Arsyla masih dengan rasa tak percayanya.
" Mas Rudi pergi, bagaimana ini. Aku tidak bisa menggodanya." Gumam hati Arsyla.
Rudi mulai mencium kening sang istri dan langsung berpamitan untuk segera pergi.
"Aku pergi dulu ya. Sayang."
"Iya, kamu hati-hati. Ya."
"Aku titip Arsyla dan juga anak dalam kandungan kamu."
"Oke."
Setelah kepergian Rudi, Ami langsung mendorong kursi roda Arsyla. Menujukan kamar untuk di tiduri Arsyla.
"Selamat beristirahat, Arsyla," ucap Ami.
Arsyla terdiam tanpa berucap satu kata pun, Ami pergi dan tak lupa mengunci kamar Arsyla.
Gadis berhidung macung itu baru sadar, akan Ami yang tiba-tiba mengunci kamar tidurnya. Segera mungkin ia membalikan kursi roda menuju pintu kamar.
"Mba Ami kenapa kamu kunci kamarku," teriak Arsyla. Dari dalam kamar.
"Sudah tak usah cengeng begitu, aku kunci kamu di dalam kamar. Itu juga demi kebaikan kamu ko, agar enggak nakal dan juga sering kabur-kaburan," balas Ami.
"Mba, buka. Aku enggak mau terus dikurung di kamar ini," teriaK Arsyla. Mengedor-gedor pintu kamarnya.
"Sudah, jangan cengeng gitu. Ini tuh demi kebaikan kamu," ucap Ami.
"Mba, aku mohon," teriak Arsyla.
Ami menggeleng-gelengkan kepala, mengabaikan teriakan Arsyla berlalu pergi ke dalam kamar merebahkan tubuh untuk beristirahat.
Di dalam kamar, Arsyla begitu kesal. Kedua matanya mengeluarkan air mata terus menerus, ia berucap." Hah, kenapa aku yang kalah. Harus nya aku menang dari wanita gila itu."
Arsyla terdiam sejenak memikirkan cara agar ke luar dari kamarnya, sehingga ia bisa bebas leluasa pergi jauh. Berpura-pura bahwa Ami telah mengusir dirinya pada Rudi.
Saat itulah, Arsyla mulai mencari benda yang bisa membuka pintu kamarnya. Dengan giat ia mencari beda tajam.
"Hah, sial kenapa aku tidak bisa menemukan benda tajam di rumah ini."
__ADS_1
Mengobrak abrik setiap lanci, Arsyla tak pantang menyerah, akhirnya Arsyla menemukan benda kecil yang menurut dia bisa membuka pintu kamarnya.
"Akhirnya, aku menemukan benda tajam."
Dengan berusaha sekeras mungkin, Arsyla langsung mencungkil pintu kamarnya. Dan terbuka.
Arsyla begitu senang, ia bisa kabur ke luar rumah." akhirnya aku bebas."
Namun baru beberapa langkah ke luar rumah dengan menggunakan kursi roda. Seseorang memanggil namanya," mau kemana kamu, Arsyla?"
Wanita berhidung mancung itu, membalikan kursi roda menatap ke arah orang yang memanggil dirinya.
"Mbak Ami, kamu."
Dengan sigap Arsyla, memutar balikan lagi kursi rodanya. Ami kini berlari memegang kursi roda Arsyla, tapi ternyata Arsyla memberontak. Hingga akhirnya Ami terjatuh.
"Aku tidak akan melepaskan kamu, hingga keluargamu datang menjemputmu. Arsyla."
"Lepaskan aku, Mbak Ami. Kamu tidak ada hak untuk semua ini."
"Memang bukan hakku, mempertemukan kamu dengan keluargamu. Tapi ini demi kebaikan kamu sendiri, Arsyla."
Ami semakin memegang erat kursi roda Arsyla, hingga akhirnya Arsyla terjatuh.
"Jangan pergi. Kamu tidak bisa berjalan tanpa kursi roda, karna kakimu yang masih lemah."
"Kurang ajar."
Setelah dekat dengan Ami yang berusaha berdiri, Arsyla memegang kedua betis Ami hingga terjatuh ke atas lantai. Membuat satu benturan keras mengenai kepala Ami.
Ami meringis kesakitan, Arsyla yang tak menyadari darah yang ke luar dari kepala Ami terus mengesod hingga sampai dimana ia mendapatkan kursi rodanya.
"Arsyla."
Belum duduk pada kursi Roda, seseorang memanggil namanya. Hatinya sangat ketakutan, orang itu ialah Rafa.
"Arsyla kamu mau kemana lagi," ucap Rafa. Menghampiri Arsyla.
"Kenapa kamu datang ke sini," hardik Arsyla. Tak suka dengan kedatangan Rafa.
"Aku yang menyuruh keluargamu datang ke sini," timpal Rudi.
Arsyla menutup mulutnya, tak menyangka dalang semua ini adalah Rudi.
"Mas, kenapa kamu memberitahu bajingan ini," ucap Arsyla.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu, Arsyla. Aku ini suamimu," balas Rafa.
"Aku tidak mau mempunyai suami, seperti kamu," hardik Arsyla.
__ADS_1
Bu Ira dan Sisi datang menjemput Arsyla, mereka menghampiri Arsyla dengan penuh tangis. Sedangkan Rudi baru ingat dengan Ami istrinya.
"Ami istriku."
Rudi mulai mencari keberadaan sang pujaan hati, ia berlari menuju abang pintu. Terlihat Ami tengah tergeletak dengan darah yang ke luar dari kepalanya.
"Ami istriku."
Segera mungkin, Rudi membopong Ami membawa di ke rumah sakit. Sisi sok berat melihat Ami yang bercucuran darah, saat itulah ia menekan Arsyla untuk berbicara.
"Arsyla, apa yang sudah kamu perbuat pada Ami?" tanya Sisi. Menatap tajam pada Arsyla.
"Aku mendorongnya, karna wanita lemah seperti dia pantas mati!" jawab Arsyla membentak.
Plakk .... Satu tamparan melayang pada pipi Arsyla, tamparan dari Sisi.
"Jaga perkataanmu, Arsyla." pekik Sisi
"Kenapa, aku yang selalu di salahkan atas semua ini," ucap Arsyla dengan isak tangisnya.
Bu Ira mulai memeluk anaknya, menenangkan setiap ke resahan yang mendera pada hati Arsyla.
"Lepaskan aku, wanita tua macam kamu tak pantas memelukku," hardik Arsyla.
Tangan Sisi mulai di layangkan lagi pada Arsyla, namun dengan sekuat tenaga Bu Ira menahan tangan Sisi.
"Sudah jangan tampar lagi, Arsyla. Kasian dia, mentalnya terganggu," ucap Bu Ira. Membuat Arsyla membentak sang ibu.
"Memangnya aku ini gila," hardik Arsyla.
Pada saat itu Rafa mulai membopong Arsyla dengan memaksa, sehingga Arsyla terus memeluk tubuh Rafa.
"Lepaskan aku."
Dengan terpaksa, Rafa memberikan obat penenang membekam mulut istrinya.
"Maafkan aku Arsyla. Ini demi kebaikanmu."
Mereka dengan sigap membawa Arsyla ke dalam mobil, untuk segera membawa ke rumah sakit. Mengecek apa Arsyla mempunyai gangguan jiwa.
Sedangkan Sisi bersama Bu Ira berencana pergi menemui Ami, untuk segera meminta maaf akan kesalahan Arsyla yang begitu keterlaluan.
Di dalam perjalanan, Bu Ira tak henti menangis memikirkan Keadaan Ami.
"Gimana ke adaan Ami, Sisi. Ibu begitu kuatir," ucap Bu Ira.
"Sisi berharap Ami tidak kenapa-napa ya, bu. Sisi juga merasa bersalah karna Arsyla yang begitu keterlalu," balas Sisi.
Rudi masih dalam kepanikannya, ia sampai di rumah sakit, berteriak meminta bantuan para perawat dan dokter.
__ADS_1
Apa ada keajaiban setelah ini?
"