
"Apa benar itu Alan?" tanya sang ibu. Terus mendesak sang anak, membuat Alan bingung harus berkata apa.
Karna kebohongan sang ayah terlalu banyak, hingga Alan takut menyakiti hati sang ibu
"Mah, ngapain coba Alan bohong!" jawab Alan sedikit mengaruk belakang kepalanya. Berharap sang ibu tidak mempertanyakan lagi.
Bu Sarah, seakan tak puas dengan jawaban sang anak. Ia menujukan poto Pak Hendra bersama wanita lain.
Alan dan Delia tertohok kaget, melihat poto Pak Hendra dan Sisi yang berbalut gaun pengantin.
Keringat dingin mulai membasahi Alan, ia mengkerutkan dahi. Tak percanya ibunya sudah tahu semua kebusukan sang ayah.
Mengambil ponsel sang ibu, Alan bingung harus berkata apa lagi. Dengan menarik nafas pelan lalu mengeluarkan secara perlahan, Alan menceritakan semuanya. Dengan jelas, agar tidak ada kesalah pahaman. Walau rasanya sedikit sulit, karna sang ibu orang yang sangat permarah.
"Kenapa kalian menutupi semua ini sama mama, kalian anggap mama apa?" hardik Bu Sarah. Nafas wanita tua itu seakan tak beraturan, membulatkan kedua bola matanya menatap pada Alan dan Delia, Bu sarah marah seperti harimau yang bersiap-siap menekram santapannya.
"Bagaimana ini, mama marah besar, habis kita di sini," ucap Alan pelan.
Bu Sarah terkenal sebagai wanita galak, ia tidak suka jika seseorang membuat pengkhianatan pada dirinya apalagi menutupi pembohong seperti Pak Hendra.
"Mama sabar dulu ya," ucap Alan menenangkan sang Ibu.
Mengusap pelan bahu ibunya.
Namun, raut wajah Bu Sarah memerah, ia menepis tangan anakanya dengan kasar. Bu sarah sudah tidak bisa menahan amarahnya. Rasanya ia Ingin mencabik-cabik Pak Hendra saat ini juga.
"Mama tanya dimana sekarang papah kamu berada?" tanya Bu Sarah. Alan sudah tidak sanggup menenangkan hati ibunya yang sudah di rendung emosi.
"Kenapa kalian diam?" hardik sang ibu. Delia wanita yang bisa menyelesaikan masalah, kini nyalinya seakan menciut. Ia tidak bisa menjawab sang Ibu, yang tengah marah layaknya macam yang mengamuk.
Bibir Delia keluh, Alan terus menyenggol-nyenggol lengan Delia, berharap mau menenangkan sang ibu yang tengah marah di hadapan mereka.
Delia mengeleng-geleng kepalanya pelan, bibirnya keluh tak sanggup menenangkan macan yang tengah marah mengebu-gebu. Seperti itu.
Ami menghampiri sang tante berharap tantenya tenang jika di bujuk ke dalam rumahnya.
"Sebaiknya kita bicarakan baik- baik di dalam rumah yu, tan," ucap Ami. Meraih tangan Bu Sarah dengan kelembutan. Mendudukan Bu Sarah di sofa rumahnya.
Ami bergegas ke dapur mengambil, segelas air minum. Untuk tantenya. Berharap dang tante tidak marah lagi.
__ADS_1
Alan dan Delia, masih berada di luar rumah Ami. Mereka masih ragu menghampiri Bu Sarah yang tengah mengamuk. Melirik ke dalam rumah, Bu Sarah menatap tajam pada Alan.
"Kalian berdua kenapa masih ada di luar," teriak Bu Sarah. Membuat mereka berdua kuncar-kancir ketakutan, berlari menghampiri sang ibu yang terduduk di sofa dalam rumah.
Menundukan kepala, mereka bergegas duduk si sofa.
"Siapa suruh kalian duduk di sofa?" hardik Bu Sarah. Membuat Delia dan Alan buru-buru berdiri lagi. Rasa di hati mereka seakan tak karuan, beberapa kali mendengar teriaka Bu Sarah yang marah-marah.
"Ya, ma. Tadi kan nyuruh Alan masuk ke dalam rumah?" timpal Alan.
Bu Sarah berdiri dengan lantangnya, berkacak pinggang layaknya seorang bos. Yang tengah memarahi pegawainya.
Ya ampun ibu ko galak banget hari ini, gumam hati Alan.
"Kenapa? kalian keberatan," teriak Bu Sarah.
Mereka berdua mengeleng-gelengkan kepala.
"Bagus, ini pelajaran untuk kalian. Selama papah kalian tidak pulang ke rumah. Jangan harap kalian bisa duduk," ucap Ibu Sarah. Sedikit bernada tinggi.
"Mah, kita kan bukan anak kecil lagi. Kenapa harus di hukum seperti ini," ucap Delia. Wanita bermata sipit itu memanyunkan kedua bibirnya seraya melipatkan kedua tangannya.
Ami yang datang membawa air putih untuk tantenya. Sedikit ingin tertawa melihat Alan dan Delia di hukum seperti anak kecil.
"Mba, tolongin Alan dan Delia dong," ucap Alan memelas pada Ami.
Ami menatap sekilas sang tante. Rasanya tak mungkin menolong Alan, melihat raut wajah tantenya pun. Membuat nyali Ami menciut. Dengan galaknya Bu Sarah membuat orang-orang tak berani membohongi dirinya.
"Ini tante air minumnya," ucap Ami. Menyodorkan segelas air putih pada tantenya.
"Makasih, Am." Bu Sarah langsung meminum air putih itu, legukan demi legukan. Membuat Alan dan Delia seakan ingin merasakan air putih itu masuk ke dalam tengorokan yang sudah hampir mengering, bagaikan musim kemarau yang berkepanjangan. Karna setelah pulang dari bandara mereka lupa untuk minum. Terlalu sibuk mengurus urusan Sisi dan Pak Hendra.
Saat itu Alan meminta tolong pada Ami," Mba es jeruknya satu ya, Alan haus ni."
"Oh, oke."
"Sekalian Delia, air putih kaya mama!"
"Oke."
__ADS_1
"Tunggu Ami, jangan turuti permintaan mereka, biar mereka kehausan," ucap Bu Sarah. Menghentikan langkah kaki Ami.
"Tapi ... tante."
"Turuti perkataan tante atau kamu bakal seperti mereka."
Ami segera duduk di sofa lagi. Tidak mau di hukum seperti mereka berdua, ada rasa kasian melihat Delia dan Alan. Tapi harus bagaimana lagi, Ami takut menghadapi tantenya sendiri.
"Ya, mba Ami enggak adil," ucap Alan. Sedikit bernada tinggi.
"Diam, atau mama tambah hukumannya lagi," acaman sang ibu untuk anak-anaknya.
Membuat Alan terdiam.
Saat itu Rudi datang, membawa sebuah makanan. Seperti buah-buahan dan juga kueh-kueh kering.
"Papah datang."
Rudi sontak kaget, melihat Delia dan Alan berdiri tegak.
"Loh, ini kenapa ko berdiri begini?" tanya Alan pada istrinya.
Ami mengedipkan mata, memberi kode. Bahwa ada Tante Sarah datang berkunjung.
"Eh, tante," sapa Rudi. Mengecup punggung tangan Bu Sarah.
"Barusan," jawab Bu Sarah. sedikit ketus.
"Kebetulan tadi beli dulu makanan dan juga buah-buahan," ucap Rudi. Menyuruh sang istri untuk menyiapkan buah-buahan dan juga kue yang baru di beli oleh Rudi. Pada Bu sarah.
Alan dan Delia yang mendengar Rudi membawa makanan membuat cacing di perut mereka seakan meronta-ronta meminta jatah makan hari ini, bagaimana tidak, Bu Sarah benar-benar menghukum mereka berdua. Tanpa ampun.
"Ma, kami pegal," rengek Alan dan Delia.
Bu sarah mengabaikan rengekan anak-anaknya. Memakan buah-buahan yang di hidangkan oleh Ami dan Rudi.
"Ma, kami mohon untuk kami bisa duduk dan makan. Kami lapar Ma."
Rengekan itu terus terdengar tidak ada kata ampun dari Bu Sarah pada anak-anaknya yang telah membohongi dirinya.
__ADS_1