Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 76 Nasib Alan dan Delia.


__ADS_3

Bu Sarah berdiri, melihat mereka berdua yang menundukan pandangan.


"Mama harap kalian bisa belajar dari kesalahan kalian saat ini, harusnya kalian berkata kejujuran pada mama. Sesakit apa pun itu, yang mama pinta dari mulut kalian berdua bukan kebohongan melainkan kejujuran," nasehat Bu Sarah terlontar pada Alan dan Delia. Meraka berdua hanya mendengarkan tanpa menjawab satu kata pun


"Mama tahu. Papah kalian sudah lama berkhianat, mama berusaha untuk sabar. Tapi ternyata mama salah papah kamu malah menikah dengan wanita masih muda yang baru mama tahu tiga minggu lalu," ucap Bu Sarah. Alan ingin sekali menjawab pembicraan ibunya, tapi Bu Sarah terus saja mengomel.


"Alan, Delia. Apa kalian tidak bisa mengerti perasaan mama?" tanya Bu Sarah menatap tajam pada kedua wajah Alan dan Delia.


"Untuk apa kalian menyembunyikan semua kebohongan papah kalian dari mama. Dan itu hanya akan merugikan mama dan kalian."


"Mama, berharap kalian lebih dewasa lagi dalam menghadapi semuanya. Apa lagi membohongi mama, sampai sekarang."


Tidak ada kesempatan untuk Alan dan Delia menjawab. Sang ibu terus mengoceh mengeluarkan semua keresaha dalam hati dan pikirannya.


"Ma, Alan sudah berusaha mengambil jalan terbaik. Dan sekarang papah sudah resmi cerai dengan wanita muda itu," jawab Alan.


"Cerai, papa mu memang cerai. Tapi papahmu tidak bisa menjauhi wanita itu sampai sekarang," hardik sang ibu. Alan melihat Bu Sarah mengeluarkan air matanya.


Alan bingung dengan semuanya, apa yang harus Alan ucapkan lagi pada ibunya sendiri. Kalau ayahnya menjadi lelaki berengsek karna nafsu.


"Mama, tolong mengerti Alan. Alan yakin papa akan berubah," ucap Alan.


"Berubah, apa segampang itu. Mana mungkin Alan, papahmu sudah menjadi lelaki yang tak tahu diri," jawab sang Ibu.


Alan bersujud di pada kaki Bu Sarah, berharap memaafkan kelakuan sang ayah. Alan tidak mau melihat Bu Sarah dan Pak Hendra bercerai.


Bu Sarah hanya diam, sesekali pelipih matanya mengeluarkan air mata. Betapa tidak di bohongi oleh suaminya selama bertahun-tahun. Hanya untuk menikahi gadis muda.


"Mamah pergi dulu Alan," pamit Bu Sarah pada anaknya. Membuat Alan seakan ingin mengejar ibunya saat itu.


Namun Delia menahan lengan Alan, seraya berkata." Berikan mama mu waktu untuk berpikir."


Rasa sakit, mulai terasa pada hati Alan. Apa sikap nya keterlaluan? Menyuruh mama nya agar tidak bercerai?


Delia mengajak Alan untuk segera pulang ke rumah, menenangkan pikiran sang suaminya.


"Am, kami pamit pulang dulu ya," ucap Delia pada Ami.


"Ya, sudah kalian hati-hati," jawab Ami.

__ADS_1


Delia membawa Alan berjalan pelan, Dia tahu perasaan suaminya yang sekarang mungkin tengah rapuh, karna mendengar sang ibu, seakan tak kuat bersama ayah nya.


Setelah sampai di rumah, Alan bertanya pada sang istri.


"Apa aku terlalu egois menyuruh mama untuk tidak pisah dengan papa," ucap Alan pada istrinya. Matanya begitu sayu. Raut wajah Alan begitu murung, banyak sekali kebingungan yang di hadapi oleh Alan saat ini.


Delia menghampiri Alan, mengusap pelan rambutnya.


"Kamu tidak salah sayang. Tapi alangkah baiknya jangan memaksakan orang lain, biarkan ibu kamu yang menentukanya. Karna ibu kamu yang merasakan semuanya," ucap Delia.


Delia menyuruh Alan, untuk segera tidur. Agar esok pikiran dan badan Alan kembali segar.


"Terimakasih Delia istriku."


****************


Pak Hendra, bergegas memasan tiket. Karna dia sudah pasrah mencari keberadaan Sisi entah dimana.


Membuat dirinya malah bertambaha emosi.


Bersiap-siap untuk segera pulang berharap Bu Sarah istrinya tak mengetahui kebohongannya.


Menunggu di dalam rumah, Bu Sarah berharap sang suami benar-benar pulang. Hari ini.


Wanita tua itu masih memegang ponsel yang berisi poto suaminya dan juga wanita muda yang tak lain ialah Sisi. Bu sarah ingin tahu, siapa wanita itu.


Rasanya ingin sekali Bu Sarah bertemu dengan wanita cantik itu. Entah harus mencari kemana? Karna Alan tidak memberitahu dangan jelan siapa wanita itu.


Entah kenapa di dalam pesawat Pak Hendra merasakan hati yang tak tenang, akhir- akhir ini. Apalagi sekarang dia akan pulang menemui sang istri.


"Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa?" ucap Pak Hendra dalam pesawat.


Setelah sampai di bandara, ia segera mengirim pesan pada sang istri [ tunggu papah di rumah, papah sudah sampai di bandara]


Pesan pun terkirim Pak Hendra menunggu balasan sang istri. Melirik terus menerus, tapi belum ada balasan, ia mencoba mengirim pesan lagi.


[ Mama, mau di bawakan oleh-oleh apa]


Pesan terkirim dengan emojik love, tapi tidak ada balasan.

__ADS_1


Pak Hendra berharap sang istri membalas, karna dia sudah dalam perjalanan menuju pulang. Dengan memakai taksi.


Lima belas menit menunnggu akhirnya pesan Pak Hendra di balas oleh sang istri.


[ Mamah ingin di belikan pisau pa.] Balasan dari sang istri dengan emojik love.


"Tumben istriku ingin pisau. Bukanya pisau yang di dapur banyak, aneh istriku ini," ucap Pak Hendra dalam taksi.


Ia menyuruh seorang supir taksi mengentarkannya sebentar ke toko, hanya untuk membeli sepuluh buah pisau. Dengan hati senang tanpa Pak Hendra memeblikan pisau itu untuk istrinya di rumah.


"Mamah ini ada-ada aja," ucap Pak Hendra setelah membeli sepuluh buah pisau untuk istrinya.


Tidak terasa taksi pun telah sampai menuju rumahnya. Pak Hendra tak sabar ingin menemui sang istri saat itu.


Apa yang akan di lakukan Bu Sarah pada Pak Hendra?


************


Sisi begitu nyaman tinggal di tempat Arpan lelaki itu sungguh perhatian padanya. Apa lagi Dipa adik Arpan dia bagaikan melaikat kecil yang mampu membuat Sisi selalu tertawa, bahagia.


Perubahan Sisi begitu derastis saat dirinya di pertemukan dengan lelaki bernama Arpan.


Walau pun Sisi tidak bisa melihat, dia seakan kagum dengan Arpan lelaki yang sangat lembut dan perhatian.


Membuat hatinya mulai merasakan rasanya kasih sayang yang tulis dari seorang lelaki.


Namun, terkadang Sisi selalu menepis perasaannya itu, ia mencoba tidak mencintai lelaki mana pun. Dia takut hatinya akan terluka.


Karna dia juga bukan orang baik melainkan banyak sekali kejahatan yang ia perbuat.


Rasanya tak adil bagi dirinya jika dia harus bahagia.


"Kaka kenapa melamun?" tanya sosok gadis manis bernama Dipa itu.


"Dede Dipa, engga ko. Engga kenapa-napa!" jawab Sisi. Raut wajahnya menampilkan rasa ragu


"Jangan bohong?"


Sisi, terseyum lebar meperlihatkan wajahnya yang cantik berseri. Mambuat Arpan yang tiba-tiba datang seakan terpesona, bagaimana tidak Sisi begitu terlihat cantik di baluti dengan seyuman yang jarang ia tampilkan pada orang lain.

__ADS_1


Dipa terseyum melihat sang kaka tak berhenti menatap Sisi saat itu.


__ADS_2