
Flasblack Ami dan Sarah.
Persahabatan adalah hubungan yang begitu menyenangkan, tidak ada kata sepi atau pun sendiri. Ami memiliki sahabat bernama Sarah dan Sisi. Bagi Ami mereka adalah sahabat terbaik.
Tidak ada rasa curiga pada kedua sahabatnya itu, Ami tetap menjadi wanita yang selalu menyayangi sosok seorang sahabat.
Sarah adalah wanita yang selalu dekat dengan Ami, begitu pun dengan Sisi. Ia bekerja dengan sangat giat, tidak ada kata malas bagi dirinya, berbeda dengan Sisi wanita bertubuh seksi yang selalu bermalas-malasan dan mengandalkan kecantikannya.
Sisi menyukai uang, berbeda dengan Sarah ia lebih terkena lugu dan diam. Tak banyak bercerita, penampilannya pun sederhana, memakai kaca mata dan berkulit hitam.
Kedua matanya tak jauh berbeda dengan Sisi, mempunyai kemiripan. Wanita bermata bulat, Sarah sedikit minder, karna penampilannya yang terkesan cupu.
Terkadang jika Sarah mengobrol dengan Ami, Sisi selalu datang mengacau merusak obrolan yang mungkin terasa menyenangkan. Bagi Sarah
Terkadang ada rasa kesal menyelimuti hati Sarah, ia lebih baik menghindar dari pada melayani Sisi.
“Ami, nanti pulang bareng sama aku, ya,” ucap Sarah. Merangkul bahu Ami, ia berusaha mendekat pada Ami, karna rasa senangnya bisa berteman dengan wanita baik seperti Ami.
“Oke,” balas Ami.
Mereka mulai melangkah, untuk segera bergegas pulang dari urusan kantor yang membuat kepala sedikit pening.
Namun, saat langkah kaki mereka mulai melangkah bersamaan. Sisi datang menyapa Ami dengan wajah sok baiknya.
“Ami, gimana kalau kita jalan-jalan dulu,”ucap Sisi. Sarah sedikit tak senang dengan Sisi yang tiba-tiba sok akrab dengan Ami.
“Boleh juga,” balas Ami.
Ami mulai menatap ke arah Sarah, bertanya,” bagaimana Sarah. Kamu ikut juga kan?”
Sarah hanya tersenyum kecut dan menganggukkan kepala, walau sebenarnya dirinya tak suka.
Sisi yang tak menyukai Sarah, mulia mencari cara agar menjauhi Ami dengan Sarah. Dan dirinya bisa bersama-sama dengan Ami.
Rasa tak sukanya pada Sarah semakin besar, Sisi tak mau jika Ami mempunyai sahabat selain dirinya saja.
Mereka langsung menaiki taksi, dengan wajah senang Sisi. Mulai menyusun rencana, mempermalukan Sarah di dalam mall.
Sisi tersenyum dalam kelicikan yang ia miliki.
__ADS_1
Sesaat setelah sampai di dalam mall, tiba-tiba saja Sisi meminta izin untuk pergi ke toilet. Ia meminta untuk Ami mengantarkannya ke toilet, sedangkan Sarah menunggu di dalam mall.
“Awas saja Sarah, akan aku kerjai kamu.” Gumam hati Sisi.
Setelah di dalam toilet, Sisi berpura-pura pada Ami. Jika Sarah menelepon.
“Eh, Am. Sarah telepon tadi ke nomorku, katanya dia balik duluan, ya gimana donk. Enggak seru si Sarah ini,” ucap Sisi. Membuat satu kebohongan yang Ami percaya.
“Emh, kok mendadak begitu ya. Sarah, ya sudah aku mau semperin dia sebelum pergi jauh,” balas Ami. Bergegas untuk menghampiri Sarah.
Namun, Sisi malah menahan tangan Ami agar tidak pergi menemui Sarah.
“Eh, Am. Sudah, Sarah sudah jauh. Gimana kalau kita ke restoran saja. Aku teraktir.” Ucap Sisi.
“Tapi, Sarah. Kasian,” balas Ami dengan raut wajah tak tega. Karna sahabat baiknya tak ikut.
“Ayo.” Ajak Sisi.
Mau tidak mau Ami langsung pergi begitu saja, mengikuti langkah Sisi. Mereka segera berangkat menuju restoran.
Sedangkan Sarah, masih menunggu di dalam mall. Sudah setengah jam menunggu, Sarah tak melihat Ami dan Sisi menghampirinya.
Ternyata Sisi dan Ami tengah menikmati, hidangan di dalam restoran itu, mereka bercanda bergurau.
Sisi yang hampir saja melupakan Sarah, kini mengirim pesan ke pada Sarah.
(Sarah, kamu pulang duluan aja ya. Ami malah mengajakku ke restoran. Jadi ia suruh aku kasih tahu ke kamu, kamu lebih baik pulang dari pada menunggu di restoran sendirian.)
Pesan pun terkirim, Sisi seakan puas dengan apa yang ia lakukan. Pada saat itulah ia mulai membalikkan ponselnya, mengobrol dengan Ami kembali.
Deg .... Sarah yang membaca setiap baris kata, pesan dari Sisi yang terasa sangat menyakitkan. Membuat ia sedikit meneteskan air mata, setengah jam ia menunggu kedatangan sahabatnya. Tapi balasan mereka malah seperti itu.
Sarah kesal, ia menggenggam erat ponselnya. Hampir saja membantingkan ponsel, tapi ia tahan. Karna rasa malunya terhadap orang-orang yang saling menatap dia.
Kini Sarah pergi meninggalkan mall yang baru saja ia lihat, penampilannya yang cupu membuat orang saling berbisik satu sama lain. Membuat dirinya sedikit malu.
Sesaat Sarah melangkah keluar pintu, tiba-tiba ia menabrak salah satu lelaki yang membuat hatinya sedikit terpanah.
Sosok itu begitu sederhana, tampan dan juga rendah hati.
Sarah yang tersungkur jatuh, kini merasakan kehangatan uluran tangan dari laki-laki itu.
"Anda tidak kenapa-napa kan?" tanya lelaki itu tersenyum manis, dengan bersikap ramah pada Sarah.
__ADS_1
Sarah menggelengkan kepala, membalas senyuman lelaki itu. Tangannya mulia meraih uluran tangan lelaki itu.
Bau farpun lelaki itu begitu menggoda, membuat Sarah sedikit senang bisa bertemu dengannya.
Lelaki itu melambai-lambaikan tangan ke arah wajah Sarah, yang tak henti menatap tanpa mengedipkan mata.
"Halo nona, Anda tidak kenapa- napa?"
Sarah terkejut, saat suara lelaki itu begitu lembut bertanya padannya.
"Oh, sa-ya. Ti-da, eh anu."
Sarah tampak gerogi ketika menjawab pertanyaan itu, ia menggaruk belakang kepalanya.
"Rudi, ayo masuk."
Ucap salah satu lelaki yang berada di sampingnya.
"Rudi." bisik hati Sarah. "Namanya Rudi."
Sarah terpenung, saat nama lelaki itu di sebuh oleh sahabatnya yang berada di samping kiri. Membuat Sarah senang dan kagum.
"Oh, ya. Saya mau masuk."
"Eh, silahkan."
"Maaf, kamu menghalangi jalanku."
"Hah."
Rudi tersenyum, Sarah malah menjulurkan tangan mengajak berkenalan.
"Rud, ayo. Kita kan mau belanja buat besok."
Rudi yang terkenal ramah, langsung menggengam tangan wanita itu dan menyebut namanya.
"Saya Rudi."
"Saya Sarah."
Salah satu teman yang tak sabar, menarik tangan Rudi. Masuk ke dalam mall.
Sedangkan Sarah masih menatap kagum ke arah lelaki itu, ia merasa senang bisa berkenalan dengan lelaki ramah seperti Rudi.
Sarah mulai berjalan untuk melanjutkan perjalanannya menuju pulang ke rumah. Dengan rasa senang dan hati berdebar, Sarah malah melihat ke akraban dan tawa canda Ami dan Sisi di dalam restoran.
Ia seketika menghentikan langkah kakinya, melihat Ami dan Sisi yang begitu senang. Tanpa ada dirinya.
Menggenggam erat tangan pada tali tas, Sarah sedikit memajukan kedua bibirnya.
Sisi yang menyadari Sarah berada di luar, berpura-pura tak melihatnya.
Ia menikmati hari di mana dirinya bersama Ami.
"Kamu kenapa Si."
Tanya Ami.
"Enggak papa kok, tadi gimana ceritanya?"
Sisi berusaha mengalihkan Ami agar tidak membalikan badan, menatap Sarah yang masih berdiri di luar restoran.
__ADS_1