Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 163 season 3 Dodi.


__ADS_3

Tangan kekar memeluk badan kecil Dodi, kedua mata menutup. Menahan tangis.


Cahaya silau matahari menebus kepala Alan, membuat hawa panas merusak pikirannya.


 


“Mama.”


 


Kata-kata itu, mampu membuat emosi Alan menurun. Ia melepaskan badan Dodi secara perlahan, mengusap kepalanya dan berkata.


“Dodi, ini om. Ayo buka matamu.”


 


Perlahan mata bulat itu kini terbuka, menatap kearah wajah sang lelaki yang tak lain Alan.


“Om.”


 


Pelukan erat tak mampu lagi Dodi tahan, ia menangis sejadi-jadinya. Suara klakson mobil saling bersahutan membuat Alan dan Dodi segera menyingkir dari tengah jalan.


 


“Cari mati.”


Teriakan itu membuat Alan, menundukkan kepala beberapa kali dan meminta maaf atas kesalahan yang ia lakukan.


“Maafkan kami.”


 


Sopir itu kini menyalahkan mesin mobilnya, sedangkan Dodi dan Alan bergeser secara perlahan ke pinggir jalan.


Banyak mata yang menatap mereka saling bergantian, membuat suasana tak karuan.


 


Pelukan Dosi masih menempel pada tubuh Alan, membuat lelaki berbadan kekar itu tak sanggup melepaskan rasa takut sang keponakan.


 


“Jangan takut ada om, di sini.”


 


Satu tangan memegang botol berisi air minum, menyodorkan pada Alan dan Dodi.


Sosok seorang anak kecil berwajah bulat, tersenyum pada Dodi.


“Ini minum. Kamu pasti ketakutan.”


Senyuman anak kecil itu mampu membuat Dodi melepaskan tangan yang memeluk tubuh sang om. Tangan gemetarnya mulai meraih botol minum itu.


 


“Terima Kasih. Ade kecil,” ucap Alan.


 


Anak kecil berwajah bulat itu menjawab rasa terima kasih Alan.” Sama-sama, Om.”


Suara sang ibunda terdengar keras memanggil gadis kecil itu. Membuat anak gadis kecil itu berlari menghampiri sang ibunda.


 


Dodi melihat pemandangan itu langsung menangis sejadi-jadinya, mengingat sang mama yang tengah membutuhkannya.


 


“Ayo kita pulang Dodi.”


Ajakan sang om, kini membuat luluh hati Dodi. Alan mulai berdiri. Walau sebenarnya kakinya terasa sakit, ia memaksakan diri untuk cepat menaiki mobil  membawa Dodi pulang ke rumah.


 


“Kamu bisa jalan, nak?” tanya Dodi. Di tengah ringisan kesakitan karna tak sadar kaki berdarah.


 


Dodi menggelengkan kepala, ia tak kenapa-napa. Hanya saja kedua matanya tertuju pada kaki sang om, yang terlihat mengelupas kulitnya dan darah menetes begitu saja pada batu jalan.


 


“Kaki om terluka,” ucap Dodi.


 


“Sudah lupakan, sebaiknya kita cepat pulang ke rumah. Kaki om nanti juga sembuh sendiri,” balas sang om menahan rasa sakit pada kakinya.


 


Kini Alan mulai menarik tangan Dodi, bergegas membawa ke rumah.


Namun, Dodi malah berdiri mematung seakan hatinya tak ingin pulang lagi ke rumah.


 


Alan mulai membujuk Dodi memegang bahunya seraya berkata lembut,” ayo ikut pulang dengan Om. Om janji tidak akan lagi mempertanyakan. Kenapa kamu berubah.”


 


“Maafkan Dodi, om.”


 

__ADS_1


“Sudah ayo cepat kita pulang.”


 


“Jangan sedih, om sudah memaafkan kamu, nak.”


 


Pada akhirnya Dodi  ikut bersama Alan, ia tak ragu lagi untuk segera pulang.


 


Di dalam mobil menuju pulang ke rumah.


Alan melihat Dodi tampak murung, wajahnya begitu pucat. Ia tak sanggup jika mengajak Dodi untuk pergi menemui Ami.


 


“Apa kutunda keberangkatan hari ini, menyelidiki dulu kenapa Dodi berubah,” gumam hati Alan.


 


Lelaki berbadan kekar itu, terus mengendarai mobil dengan fokus. Walau sebenarnya kakinya begitu terasa sakit.


 


“Om, apa boleh Dodi bertanya?”


 


Deg ....


 


Dodi tiba-tiba berucap seperti itu, Alan takut. Jika jawabannya salah lagi dan membentak Dodi.


 


“Om,” ucap Dodi


 


“Iya kenapa?” tanya Alan membalikkan wajah kearah samping Dodi. Menampilkan senyuman ramah.


 


“Ke mana Tante Diana?” tanya Dodi.


 


Apa yang harus di jawab Alan saat itu, hatinya benar-benar ragu. Mana mungkin bisa Alan menjawab  jika Delia tengah berada di rumah sakit.


 


“Om, kenapa om diam saja?” tanya Dodi, membuat lamunannya seketika membuyar.


 


 


“Tentu om.” Balas Dodi.


 


Dari pada menjelaskan Alan lebih baik membawa Dodi langsung ke rumah sakit, agar semua jelas dan tak ada kesalah pahaman lagi.


 


Alan ingin Dodi tahu apa yang terjadi dengan Delia, dan Alan ingin Dodi mengerti bahwa Ami kini sedang membutuhkannya.


 


“Om akan bawa kamu ke Tante Delia, asalkan kamu janji,” ucap Alan. Membuat kepala Dodi yang menunduk, mengangkat dan berbalik arah kearah Alan.


 


“Janji apa, om?” tanya Dodi.


 


“Janji, jika Dodi akan bercerita pada Om kenapa Dodi tidak mau bertemu dengan mamah Ami!” jawab Alan.


 


Dodi terdiam ia mengingat pesan dari Delia, mana mungkin dia mengatakan kejujuran.


 


“Dodi bagaimana?” tanya Alan.


 


Dodi seakan ragu dan ketakutan, ia tak berani berjanji seperti itu.


“Gimana ayo jawab, sayang.”


Alan terus mendesak Dodi, berharap Dodi berkata kejujuran.


 


Dodi masih terdiam, membuat Alan semakin ingin tahu perubahan keponakannya.


Kini Alan mengingat perkataan Rudi, dimana dirinya ingat akan kata-kata Rudi jika Alan sudah mencuci otak Dodi.


 


“Dodi.”

__ADS_1


 


“Iya, om.”


 


“Coba kamu jujur  pada om.”


 


“Jujur apa, om?”


 


“Apa Tante Delia sudah mengatakan sesuatu?”


Deg ....


Perasaan Dodi tak karuan, bagaimana dia akan berkata jujur?


 


@@@@@


 


Sementara itu Di rumah sakit, Rudi masih mengobrol dengan sang dokter.


“Jadi nama yang disebut istri bapak, adalah anak kandung kalian berdua?”


 


Pertanyaan sang dokter, langsung di jawab oleh Rudi dengan detail.


 


“Ya, dok. Saya tidak tahu jika ujian saya seberat ini, anak saya pergi istri saya koma sekarang,” keluh Rudi.


 


Dokter langsung memahami apa yang di maksud Rudi. Memang berat saat sang istri mengalami sakit pada kepala, apalagi Ami yang sudah mengidap penyakit dari dulu.


 


“Saya berharap anak bapak datang. Karna itu harapan istri bapak, saya tak bisa melakukan apa-apa lagi. Hanya keajaiban yang bisa merubah semuanya,” Ucap sang dokter.


 


“Saya juga berharap jika anak saya bisa datang sekarang ke sini. Tapi kenyataannya anak saya tak mau datang, karna dia sudah terlanjur sakit hati,” balas Rudi.


 


Sang dokter langsung menjawab dengan bijak,” mungkin ini adalah urusan keluarga bapak,  tapi saya hanya bisa meyakini bapak. Semoga ada keajaiban yang datang.”


 


“Terima kasih, dok.”


 


Sang dokter berpamitan untuk ke luar, ia tak mau ikut campur urusan pribadi pasien. Karna dirinya tahu dia bukan siapa-siapa pasien hanya sekedar orang lain yang  berusaha membantu pasien yang kesulitan.


 


Sedangkan Rudi hanya bisa menunggu ke sadatan sang istri, setelah mendapat rasa yakin dari sang dokter.


"Ami, aku ingin kamu membuka mata. karna perjalanan hidup kita masih panjang. Aku ingun melihat anak-anak kitq tumbuh besar."


Harapan begitu besar bagi Rudi untuk melihat sosok wanitanya bangun.


Apa ini akan menjadi sebuah akhir untuk Ami dan apa Rudi akan tetap setia menunggu sang pujaan hati?


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2