
Saat Pak Tio melangkah mundur menjauh dari hadapan polisi untuk segera kabur, dan saat membalikkan badan ke arah belakang. Rudi sudah berdiri di hadapan lelaki tua itu sembari melipatkan kedua tangannya dan tersenyum lebar.
“Anda mau ke mana?” tanya Rudi.
Lelaki tua itu langsung tersungkur jatuh di atas lantai, dia menatap ketakutan pada Rudi. Yang berdiri di hadapannya secara tiba-tiba.
Saat dirinya mulai bangun, Rudi semakin dekat melangkahkan kakinya ke arah lelaki tua itu.
“Bapak kenapa takut?”
Pak Tio hanya terdiam, keringat dingin bercucuran.
“Jangan mendekat,” teriak Pak Tio.
“Sudahlah pak, aku hanya manusia biasa jangan takut!” jawab Rudi dengan begitu lembut.
“Kamu.”
Pada saat itulah para polisi mulai membangunkan lelaki tua itu untuk cepat berdiri, “ lepaskan aku.” Berontak pak Tio.
Si Mbok sudah di bawa masuk ke dalam mobil, tinggal Pak Tio yang di seret paksa.
“Lepaskan aku.”
Teriakan lelaki tua itu terus saja bergumam membuat semua orang di rumah sakit saling menatap kearah pak Tio.
Rudi mulai bernafas lega, iya bisa membuktikan kepada istrinya bahwa dirinya tidak bersalah.
Para polisi mulai berpamitan ke pada Rudi dan berterima kasih. Tinggal menunggu kesembuhan Sarah untuk di bawa kembali ke rumah sakit.
@@@@
Beberapa jam kemudian, di mana Rudi menunggu kesembuhan Sarah saat itu.
Ia dengan sabar menunggu kedatangan dokter untuk mengetahui kondisi Sarah saat ini.
Sedangkan di dalam rumah, Ami nampak lah gelisah menunggu kedatangan suaminya. Ya bolak-balik kesana kemari, tak ada tanda-tanda Rudi pulang ke rumah.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul Jam 9 malam, kedua mata Ami belum juga mengantuk. Semarah marahnya istri kepada seorang suami, tapi dalam hati kecilnya dia tetap peduli.
Ada rasa bersalah pada diri Ami yang sudah membiarkan Rudi menderita akan dirinya yang mengabaikan Rudi, ini cara Ami agar Rudi mengakui kesalahannya.
Hanya itu yang Ami inginkan, Ami ingin Rudi jujur dengan apa yang ia perbuat.
Dodi datang menghampiri, sang ibunda dan bertanya.
“Mamah kenapa?” tanya Dodi yang melihat kegelisahan ibunya sendiri.
“Dodi, kamu belum tidur. Nak!” jawab Ami. Menatap ke arah jendela.
“Dodi belum mengantuk, mah,” ucap Dodi.
__ADS_1
“Ayo kamu cepat tidur. Besok kan sekolah,” balas Ami. Menyuruh anaknya untuk segera tidur. Sembari hatinya yang kuatir akan Rudi tak pulang- pulang seharian.
Sebenarnya hati Ami terus saja berucap, tangannya begitu gatal ingin segera menelepon Rudi. Tapi apa daya ia terlalu mengandalkan amarahnya.
Sampai dimana dirinya hanya bisa menunggu dan memendam semua kegelisahan. Yang ia rasakan pada hatinya sendiri.
Setelah sampai di kamar Dodi, pada saat itulah anak laki-laki satu-satunya mulai berucap kepada sang ibunda,” Mamah kenapa enggak telepon papah?”
Ami terdiam dan menjawab,” Takut papah kamu sibuk. Dodi.”
“Biasanya kalau papah sibuk enggak sibuk juga pasti ada waktu buat teleponan sama mamah dan Dodi.” Ucap Dodi.
Ami hanya bisa diam dan tak menjawab pertanyaan anaknya, ia langsung berucap,” sudah tak apa. Ayo cepat tidur, nanti bangunnya kesiangan loh.”
“Oke mamah.”
Saat itulah Ami mulai keluar dari kamar anaknya, dia mulai meraih ponsel yang tergeletak di atas meja ruang tamu. Untuk segera menghubungi Rudi sang suami dengan penuh keraguan.
Hatinya terus berucap telepon atau tidak. Telepon atau tidak.
Karena rasa egoisnya yang begitu tinggi, pada saat itulah kami mengurungkan niatnya untuk menelepon sang suami. Jari tangannya mulai mengetik sebuah pesan untuk Rudi.
(Papah kapan pulang.)
Pada saat itulah Ami mulai meletakkan ponselnya kembali di atas meja, iya tak berani mengirim pesan ke pada Rudi.
Hanya mengusap kasar wajahnya dan berkata,” aku harus tahan, sebelum suamiku memberikan bukti bahwa dirinya memang tidak bersalah.”
Ami kini kembali duduk di sofa menunggu kedatangan Rudi, beberapa kali ia membuka gorden depan kaca rumahnya. Hanya sekedar menunggu kedatangan sang suami.
Hatinya benar-benar gelisa.
@@@@
Saat di rumah sakit
Dokter ke luar dari ruangan Sarah, di mana Dokter menghampiri Rudi.
“Pasien butuh donor darah, dan kebetulan darah di rumah sakit kita habis,” ucap sang dokter kepada Rudi.
“Ya, sudah Dok. Saya yang akan mendonorkan darah saya untuk pasien,” balas Rudi.
“Baik pak.” Ucap dokter.
Rudi langsung di arahkan oleh suster. Ke ruangan pendonoran darah.
__ADS_1
Setelah donor darah berhasil, Rudi mulai menunggu keadaan Sarah kembali.
Jam sudah menujukan pukul 12 malam, begitu lama Rudi menunggu sampai dirinya terlelap tidur. Sebenarnya ia ingin sekali meninggalkan Sarah pada saat itu juga.
Dokter datang kembali, di mana Rudi saat itu menanyakan keadaan Sarah.
“Bagaimana keadaan pasien, dok?” tanya Rudi.
“Keadaan pasien sanggatlah kritis!” jawab Dokter.
“Sebenarnya kenapa dengan pasien?” tanya Rudi pada dokter.
“Pasien mengalami ke guguran, saat di cek pasien banyak sekali meminum obat penenang dan perangsang!” jawab dokter.
Rudi terdiam, ia berucap pada hatinya,” kenapa bisa Sarah meminum obat seperti itu.”
@@@@
Sedangkan di penjara. Pak Tio dan Si Mbok di tekan paksa oleh polisi untuk berkata jujur.
Di mana tangan mereka bergetar hebat ketakutan, padahal polisi menekan mereka dengan begitu lembut tak ada paksaan.
Pada saat itulah Pak Tio mulai menangis mengatakan kejujuran yang sudah ia lakukan terhadap Sarah. Walau dalam perkataannya masih dalam kebohongan.
Saat itulah polisi mulai menekan kembali dengan nada sedikit meninggi. Agar mereka mengaku akan kesalahan yang sudah di perbuat mereka berdua.
Pak Tio menatap kearah Istrinya dengan tatapan tajam, ia ingin sekali mencekik istrinya.
"Andai saja aku diam di rumah mungkin aku tidak akan kena masalah." gumam hati Pak Tio.
Pak Tio bersujud sembari menangis ke pada polisi, ia mengatakan bahwa dirinya sudah memberikan obat penenang dan juga obat perangsang untuk sarah agar Sarah bisa memuaskan nafsu dan juga keinginannya.
Pak Tio mengaku bahwa bukan sekali dua kali ia memberikan obat itu, tapi sampai setiap hari. Karna tak tahan dengan bodi seksi Sarah yang begitu aduhai.
Sedangkan Si Mbok hanya menundukkan pandangan, ia terdiam setelah mengakui dirinya telah menyembunyikan Sarah begitu lama.
Karna Si Mbok yang merasa kasihan akan Sarah. Tapi bagaimana pun juga itu sanggatlah Salah, karna menahan buronan sama saja mencelakkan diri sendiri.
Dengan terpaksa para polisi langsung menahan mereka berdua, memasukkan mereka ke dalam penjara karena tindakan mereka yang sangatlah kriminal.
Pak Tio dan Si Mbok memohon-mohon agar mereka tidak dimasukkan penjara. Tapi hukuman tetap berlanjut karena mereka sudah membuat kesalahan yang begitu berat.
__ADS_1