
@@@@@@
Pecahan laptop membuat dirinya sangat kesal, bagaimana ia bisa menyelidiki Sarah jika barang bukti malah hancur.
Mengusap kasar wajahnya, percuma marah semua sudah hancur.
Rudi terus menggerutu dirinya sendiri di dalam ruang kerja, air matanya kini tak ke luar lagi.
Hatinya rapuh, saat mendengar kata-kata sang istri menyuruhnya untuk menceraikannya.
“Ami apa sebegitu marahnya dirimu kepadaku, kurang apa aku selama ini.” Ucap Rudi. Kini ia duduk menyenderkan punggung pada tembok, menutup kedua mata untuk menenangkan diri sejenak.
Ami yang sudah berada di dalam kamar, menemani Dodi hingga anak satu- satunya terlelap tidur.
Jam sudah menujukan pukul 11 malam, di mana Ami meninggalkan Dodi di dalam kamar. Ia bergegas pergi ke kamarnya sendiri. Melihat apakah Rudi sudah tertidur di dalam kamar.
Saat melihat ke dalam kamar, Rudi tidak ada di ranjang tempat tidur. Membuat Ami mencari keberadaannya.
Saat itulah Ami berjalan perlahan untuk mencari keberadaan suaminya, yang ternyata Rudi tengah tertidur di atas lantai. Tidak ada bantal atau pun selimut yang berada di samping kiri Rudi. Hanya beralaskan pecahan laptop.
Hati Ami merasa tak tega, tapi dirinya juga masih kesal dan marah akan apa yang di lakukan Rudi pada Sarah. Sampai di mana Sarah hamil anak Rudi.
Ami perlahan mendekat ke arah Rudi, memegang pipinya. Mengusap perlahan, membuat air matanya jatuh.
“Aku sangat mencintaimu, Rudi. Tapi kenapa kamu malah menghianati pernikahan kita.” Gumam hati Ami.
Suara ponsel bergetar, di mana satu pesan dari Sarah.
(Tolong tanggung jawab.)
Pesan itu membuat Ami semakin kesal, ingin sekali ia membantingkan ponsel suaminya. Namun hatinya tak kuasa, ia harus mendengar dulu pengakuan dari Rudi sebelum semuanya menjadi penyesalan.
@@@@@@
Sarah yang berada di dalam kamar hanya tersenyum dan berkata,” fantastis semua sudah aku atur, tinggal menunggu kehancuran rumah tangga Ami dan Rudi.”
Merebahkan tubuhnya di atas kasur, Sarah tersenyum penuh ke menangan. “Ahhk, rasanya aku puas. Benar- benar puas sekali.”
Menggenggam erat, merasakan yang kebahagiaan kini Sarah mulai terlelap tidur. Di mana laptopnya masih menyala, begitu pun dengan ponselnya yang tak terkunci.
Lelaki tua yang tak lain suami Si Mbok, mencoba menyusun rencana untuk bisa menikmati tubuh Sarah yang begitu aduhai.
Ia tertidur di samping sang istri, membayangkan setiap lekuk tubuh Sarah.
Hasratnya seakan tak terpendam lagi, besok saat Si Mbok bekerja, ia sudah berniat akan melakukan aksinya.
“Tunggu, aku gadis manis.”
Si Mbok yang tertidur lelap, membuat suara dengkuran begitu nyaring. Membuat sang suami kesal, dan meninggalkan dirinya tidur sendirian, saat itulah ia pergi ke dapur untuk sekedar minum melegakan tenggorokannya yang terasa kering. Karna hawa panas membayangkan tubuh Sarah.
Dirinya yang benar-benar penasaran, membuat lelaki tua itu melihat ke kamar Sarah.
Yang ternyata Sarah tengah tertidur pulas dengan busana yang ketak dan seksi.
__ADS_1
“Alama, tubuhnya. Membuat diriku tak kuat saja.”
Tiba-tiba suara pintu di buka, di mana Si Mbok ke luar dari kamarnya. Membuat sang suami tentulah kaget.
Dengan terburu-buru lelaki tua itu berlari, ke arah kamar mandi, agar istrinya tidak mencurigai dirinya.
Saat itulah Si mbok melihat pintu kamar Sarah terbuka, membuat dia langsung menutup rapat-rapat pintu kamar Sarah.
Ia kembali ke kamarnya dan tertidur lagi, rasa lelah membuat dirinya nyenyak saat tidur.
“Ha, untung saja tak ketahuan. Kalau ketahuan bisa gawat nanti.” Gerutu lelaki tua itu.
Hingga esok pagi menjelang, lelaki itu tertidur lelap di kursi ruang tamu, membuat si mbok yang baru saja bangun heran. Tidak biasanya suaminya tertidur pada kursi.
“Pak, bapak. Bangun.”
Si Mbok menggoyang-goyangkan tubuh suaminya agar terbangun di pagi hari.
“Apa sih ganggu saja,” gerutu lelaki tua itu kepada sang istri.
“Bapak ini sudah pagi, waktunya ke ladang,” balas Si Mbok.
“Ahhk, malas. Masih ngantuk pengen tidur,” bentak lelaki tua itu. Ia berjalan menuju kamar tidurnya, merebahkan kembali tubuhnya.
Si Mbok hanya menggelengkan kepalanya, heran dengan suaminya yang tak pernah berubah selalu malas-malasan dalam hal bekerja.
“Pak, kapan kamu berubah.”
Dengan tergesa-gesa Si mbok keluar dari rumahnya, tanpa pamit.
Sedangkan lelaki tua yang tengah bermalas-malasan di ranjang tempat tidurnya, kini mulai bangun mengambil sesuatu benda. Yang di mana benda itu adalah sebuah obat serbuk, yang sudah ia simpan sejak lama.
Menatap kearah sabuk putih itu tersenyum, Ya sudah memikirkan suatu cara. Agar bisa menikmati keinginannya, mengeluarkan semua hasrat yang terpendam pada dirinya.
Lelaki tua itu mulai berjalan ke arah dapur, melihat semua sarapan sudah tersedia. Mengambil satu gelas air putih, menuangkan serbuk putih itu ke dalam gelas yang berisi air.
Mengaduk-ngaduk nya secara perlahan, lelaki tua itu langsung berjalan kearah kamar Sarah.
Mengetuk pintu kamar Sarah beberapa kali, Tak Ada Jawaban sedikitpun. Membuat Ia membuka pintu kamar Sarah, ternyata Sarah masih terlelap tidur.
Suami Si mbok mendekat ke arah Sarah, dia duduk di pinggir Sarah. Melihat paha Sarah yang begitu putih mulus, membuat tangannya mulai mengusap secara perlahan.
Sarah merasakan apa yang dilakukan lelaki tua, membuat ia terkejut dan terbangun.
“Pak, loh koh. Udah ada di sini?” tanya Sarah pada saat itu.
Lelaki tua itu menampilkan senyumannya, dia langsung menyodorkan air minum kepada Sarah.
“Maaf, non. Tadi bapak ketuk, tak ada panggilan. Eh pintunya langsung terbuka, jadi bapak masuk aja. Non, pasti hauskan.”
Sarah mulai berpikir positif, ia tak mau memperpanjang masalah, karena Ia berpikir bahwa suami Si Mbok hanya lah lelaki tua rentan. Mana mungkin lelaki tua itu mau bersikap tak senonoh pada Sarah.
.
__ADS_1
“Ayo non, di minum.” Tawaran Lelaki tua itu.
Sarah yang tak berpikir macam-macam, Iya langsung mengambil air minum yang disodorkan lelaki tua itu. Tenggorokannya yang kering membuat ya langsung meneguk habis air minum itu.
“Terima kasih pak.”
“Sama-sama, sarapan sudah bapak siapkan. Jadi non tinggal makan saja. Ya.”
“Terima kasih. Pak.”
Saat itulah lelaki tua itu mulai pergi keluar kamar Sarah, rencananya berhasil. Iya tinggal menunggu reaksi obat yang diberikan pada minuman Sarah saat itu.
Sarah langsung menggeliatkan badannya, dia mulai berjalan ke arah dapur untuk menyantap sarapan pagi ini.
Saat itulah Sarah mulai duduk, tapi perasaannya merasa aneh. Tubuhnya tiba-tiba merasakan hawa panas, yang terbiasa ia rasakan.
“Ada apa ini?” Tanya Sarah dalam hatinya.
Inilah kesempatan lelaki tua itu,” Kenapa, non?”
“Entah lah pak, pagi gini kok rasanya panas ya,” ucap Sarah mengipas-ngipas tubuhnya.
“Ya mungkin non, kegerahan. Mau saya bantu kipasin,” balas lelaki tua itu.
Saat itu Sarah hanya menganggukkan kepala, saat Salat kita itu menawarkan diri untuk mengipas-ngipas tubuhnya.
Saat kipasan dilayangkan, Sarah merasa adem. Saat itulah tangan jail lelaki tua itu mulai meraba b*ah dad* Sarah.
Bukanya memberontak Sarah malah merasa ke enakan.
“Non, gimana enak?” tanya lelaki itu.
“Iya, pak!” jawab Sarah. Antara sadar dan tak sadar.
“Bagaimana kalau di dalam kamar, biar bapak bantu kipasin badan non semuanya,” ucap lelaki tua itu.
“Boleh juga tuh,” balas Sarah.
Ini lelaki tua itu mulai membantu Sarah untuk berdiri, membawa Sarah masuk ke dalam kamarnya, lelaki tua itu menyuruh Sarah untuk memberikan tubuhnya.
“Bapak mau apa?” tanya Sarah.
“Biar enak di kipasinnya. Bajunya lepas dulu!” jawab lelaki tua itu.
Sarah yang sudah berada di puncaknya hanya bisa mengangguk dan menurut, sedangkan lelaki tua itu. Mulai perlahan menuangkan aksinya.
“ Pak, kenapa panas sekali.” Ucap Sarah.
“Tenang, non. Panasnya nanti juga ilang, non diam saja,” balas lelaki tua itu.
Semua Sudah terlepas dari badan Sarah, kini lelaki tua itu menikmati apa yang ia inginkan.
Apakah Si Mbok akan tahu kelakuan bej*d sang suami?
__ADS_1