Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 73 Pak Hendra Berulah


__ADS_3

Isi surat dari Dipa.


Jika suatu saat ajal Dipa datang, Dipa ingin memberikan kedua bola mata Dipa pada kakak Sisi. Wanita yang selalu di ceritakan oleh Ka Arpan. Dipa harap Ka Arpan bisa bersatu dengan Ka Sisi, karna Ka Arpan sangat berharap pada wanita bernama Sisi itu.


Entah kenapa Dipa merasakan bahwa Ka Arpan bisa bahagia bersama Ka Sisi.


"Mulia sekali hati Dipa," ucap Alan. Menghapus bulir bening yang kian berjatuhan.


Delia dan Alan menghampiri Sisi, bertanya pada wanita yang terbaring di atas rajang rumah sakit.


"Sisi, apa kamu mau ikut kami untuk pulang ke rumah kami," ajak Delia.


Sisi mengeleng-gelengkan kepala, ia menolak. Karna sekarang Sisi bukan keluarga mereka.


"Biar aku di sini saja!" jawab Sisi terseyum. Penuh keyakinan.


Delia dan Alan hanya bisa menerima keputusan Sisi saat itu, karna tidak ada kekhuatiran saat ini. Alan memberikan satu pembantu pada Sisi agar meringankan dan mempermudah Sisi selama di vila.


"Terimakasih Alan, aku hanya minta pada kalian aku ingin bertemu dengan Ami," ucap Sisi. Matanya sayu, ia memperlihatkan penyesalananya.


"Baik setelah pulang dari sini, kami akan memberitahu Ami saat itu juga!" jawab Delia.


************


Satu minggu Sisi pulang dari rumah sakit, dimana Alan dan Delia akan segera pulang ke rumah.


"Alan Terimakasih untuk semuanya."


Rasa senang menyelimuti Delia dan Alan, tak menyangka Sisi berubah secepat itu.


"Papah, kemana?"


"Loh, bukanya papah sudah berangkat duluan!"


"Tapi, aku enggak liat papah pamit?"


"Ya, ya!


Pak Hendra ternyata masih berada di vila ia berusaha membohongi Delia dan Alan. Entah apa niatnya itu.


Saat Sisi tengah menikmati suasana tenang, ia berusaha menutup mata untuk menenangkan hatinya sendiri.


Aku tidak menyangka, kalau aku juga bisa berubah seperti ini, padahal sudah berapa banyak kesalahan yang telah aku perbuat pada mereka. gumam hati Sisi sedikit meneteskan air matanya.


"Hai Sisi," sapa sosok lelaki tua menghampirinya.


"Siapa itu?" tanya Sisi. Rasa takut mulai menghantui pikirannya.


Tawa itu terdengar begitu nyaring. "Aku mantan suamimu."

__ADS_1


"Pak Hendra, untuk apa lagi kamu datang ke sini. Kita tidak ada hubungan lagi," ucap Sisi. Berdiri melangkah mundur menjauhi. Suara tawa lelaki tua itu.


Pak Hendra mulai menghampiri Sisi, yang semakin menjauh, meraih rambut panjang wanita berwajah bulat itu dan menciumnya. Penuh dengan nafsu.


"Wah, ternyata kamu baru menyadarinya."


"Untuk apa kamu datang lagi ke sini?" melepaskan tangan Pak Hendra yang mulai menyentuh tubuh Sisi, segera mungkin ia menyingkir dengan bibir bergetar ketakutan.


Pak Hendra menjawab, memegang lengan tangan Sisi saat itu. "Jangan takut, mari nikmati. Yang sudah tertunda saat itu."


Pak Hendra semakin kurang ajar, dia meraba pipi putih Sisi, mencium lembut, Sisi mencoba menyingkir. Namun pegangan tangan Pak Hendra begitu erat.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini," hardik Sisi mengusir Pak lelaki tua itu.


"Keluar dari sini, atau aku akan berteriak," hardik Sisi. Rasa takutnya semakin menggebu.


"Jangan terlalu munafik Sisi, aku tahu kamu hanya berpura-pura saja!"


"Maksud bapak apa?"


"Jangan terlalu baik, kamu itu pura-pura berubah hanya untuk mendapatkan simpati dan belas kasihan dari anakku."


"Terserah apa yang di perkatakan bapak, tapi aku tidak sejahat itu. Aku ingin merubah diriku!"


"Merubah diri, untuk apa. Kamu sudah kotor."


"Biarkan aku kotor, tapi aku masih punya hati."


Memberontak berusaha melawan tapi kekuatan Sisi begitu lemah, berteriak sebisa mungkin.


Untung saja pembantu Sisi berusaha menolong dengan memukul punggung Pak Hendra dengan satu kayu besar. Menghantam hingga lelaki tua itu pingsan.


"Nyoya enggak kenapa-napa?" tanya Bi Marni yang menjadi pembantu Sisi saat itu.


"Tidak bi," jawab Sisi tangan wanita berwajah bulat itu bergetar hebat rasa takut masih merasuki dirinya.


"Sudah non, sebaiknya kita keluar dari rumah ini, mencari bantuan kepada orang lain."


Bi Marni membantu Sisi untuk berjalan ke luar rumah, meminta bantuan warga agar mengusir Pak Hendra dari rumah ini.


Tok ... tok ....


Suara pintu di ketuk, Bi Marni langsung membuka pintu vila itu. Ternyata Arpan datang.


"Ada apa ini?" tanya Arpan.


Bi Marni menceritakan semuanya, bahwa seorang lelaki tua hampir memperkosa Sisi.


Arpan langsung melihat lelaki tua itu di dalam kamar yang pingsan tergeletak di bawah lantai.

__ADS_1


Saat sampai di dalam kamar," bukanya itu mantan suami kamu Sisi?" tanya Arpan. Pada Sisi, saat itu Sisi yang setengah ketakutan menggangukan kepala, bahwa benar lelaki itu mantan suami Sisi.


Dari sana lah, Arpan menelpon Delia untuk memberitahukan bahwa Pak Hendra telah melakukan tindakan yang tak menyenangkan pada Sisi.


Tapi no hp Delia tidak aktip.


Apa mungkin Delia masih berada dalam pesawat.


Arpan membawa Sisi kedalam mobil bersama pembantunya. Untuk menjauh dari vila itu.


Membawa Sisi ke rumah Arpan. Kebetulan Arpan adalah anak yatim piatu yang di tinggalkan oleh ke dua orang tuanya.


"Kamu harus tenang Sisi, semua akan baik-baik saja," ucap Arpan memegang tangan Sisi di dalam mobil.


Rasa takut Sisi mulai hilang, lama kelamaan dia. Lebih tenang dari biasanya.


"Terimakasih Arpan. Kamu sudah menolong aku sampai sejauh ini!"


*************


Setelah sampai di bandara, Delia seakan ingin sekali melihat ponselnya saat itu.


Mencoba membuka ponselnya, banyak panggilan tak terjawab dari Arpan.


"Ada apa ya? tumben Arpan menelpon!"


Delia mengabaikan ponselnya saat itu, biar dia telepon Arpan nanti saja. Karna keadaan di bandara yang ramai.


Saat itu Ami sudah menunggu di bandara. Melambai-lambailakan tanganya.


"Ami," panggil Delia. Ia memeluk sang sahabat.


"Wah, akhirnya kamu pulang juga," ucap Ami. Terseyum melihat Delia sudah datang.


Rasa tak sabar Delia mulai menghantui hatinya. Ingin segera pulang menceritakan tentang Sisi yang berubah, dan menemukan sosok lelaki yang menyukainya.


"Tak sabar aku ingin segera pulang," ucap Delia. Beriringan berjalan.


Begitu terasa kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah mereka.


*************


"Kalian tinggal dulu di sini, kalau aku sudah bisa menghubungi Delia dan menceritakan semuanya. Baru kalian bisa pulang," ucap Arpan.


Sisi sangat berterimakasih pada Arpan saat itu.


Saat itu Pak Hendra terbangun dari pingsannya, ia begitu kesakitan. Karna pukulan yang tiba-tiba mendadak mengenai punggungnya.


Mencari seseorang yang berada di rumah itu, namun tak di temui. Pak Hendra sudah berpikir bahwa mereka bakal kabur.

__ADS_1


Kalau mereka kabur, pasti Sisi akan mengadu pada Alan dan Delia.


Dengan sigap Pak Hendra menghubungi Delia memutar balikan pakta. atas apa yang terjadi saat ini.


__ADS_2