
Tolong aku ya tuhan, jangan sampai. Sesuatu terjadi pada diriku, gumam Sisi dalam hati.
Sisi menjerit meronta, sebisa mungkin ia melawan. Saat itu. Satu tamparan melayang pada pipi pereman yang akan menyentuh tubuh Sisi.
"Kurang ajar kalian," teriak seorang pemuda. Datang tiba-tiba menghajar sekelompok pereman.
Pemuda itu menghajar habis-habisan pereman-pereman itu.
"Sial, jangan ikut campur kamu anak muda," hardik lelaki berotot itu. Mengusap darah yang mengalir dari bibirnya.
"Kalian berani dengan cewek saja. Dasar pereman tidak tahu diri," teriak anak muda itu. Menunjuk pereman yang akan mengepung sang penolong.
Saat tepuk tangan sang pemuda di layangkan, dari setiap arah datang sosok beberapa pemuda.
"Hajar."
Perlawanan dengan banyak orang membuat semua pereman itu kalah. Mereka berlarian.
Pemuda itu datang melangkah menghampiri Sisi, bertanya. Namun Sisi seakan ketakutan. Ia menangis.
"Kamu, aman ko. Tenang ya," ucap pemuda itu. Mengusap bulir bening dari pelipih mata Sisi yang berjatuhan.
Pemuda itu Melambai-lambaikan tangan kearah wajah Sisi, pemuda itu baru sadar wanita yang hampir di perkosa oleh pereman tadi. Di tidak bisa melihat.
"Kamu takut, aku antarkan pulang ya," ucap pemuda itu terseyum manis.
"Oh, ya. Kenalkan namaku Arpan," pemuda itu menyodorkan tangan kekarnya. Mengajak Sisi untuk bersalaman. Memperkenalkan diri. Tapi Sisi tidak berani, dia seakan trauma dengan kejadian yang menimpanya.
Dengan terpaksa pemuda yang bernama Arpan itu, memegang tangan Sisi menempelkan pada tanganya.
Pemuda itu begitu merasakan tangan Sisi bergetar hebat.
"Jangan takut, kamu tidak akan kenapa-napa ko."
Arpan melepaskan jeketnya, memakaikan pada tubuh Sisi. Agar menutupi baju yang sobek. Bekas sobekan pereman-pereman tadi.
Bibir Sisi bergetar nampak hebat, perasaannya takut sekali.
"Apa kamu ingat dimana rumah mu?" tanya Arpan. Lelaki bermata bulat itu. Seakan khuatir dengan wanita yang ia tolong.
Sisi berusaha menarik nafas lalu membuangnya secara perlahan, memulai berbicara pada pemuda yang menolongnya.
__ADS_1
"Kamu sudah ingat?" tanya Arpan.
Sisi menujukan tulisan di ponselnya, Arpan yang melihatnya sungguh senang.
Pemuda itu mengantarkan Sisi sampai rumah.
Arpan mengetuk pintu, saat itu Delia datang membuka pintu itu.
"Ya ampun, Emak," ucap Delia.
"Maaf tadi, wanita ini hampir di perkosa oleh sekawanan pereman," Arpan menjelaskan semuanya. Membuat Delia kaget, untung saja pemuda itu mampu menyelamatkan Sisi.
Delia dan Alan sangat berterimakasih sekali, karna telah menolong Sisi dan mengantarkannya pulang.
Arpan berlalu pergi meninggalkan vila itu. Mengendarai mobil, bertanya pada diri sendiri.
"Maksud wanita tadi apa ya, ko dia manggil nama wanita yang aku tolong tadi Emak," ucap Arpan. Ia tertawa kecil. menggeleng-gelengkan kepala.
"Mana mungkin wanita cantik tadi di sebut Emak, dia kan masi muda. Apa dia nikah dengan ayahnya," ucap Arpan dengan seribu pertanyaan yang merasuki pikirannya.
Pikirannya seakan tengah memikirkan Sisi, wanita yang setengah ketakutan itu.
"Kenapa dia menarik di mataku," ucap Arpan terseyum mengendarai mobil.
Saat di vila. Delia mengantar Sisi ke kamarnya, seraya berkata." Kalau kamu butuh apa-apa bilang padaku, bukan malah mencuri uang dan kabur begitu saja. Sekarang liatkan apa yang terjadi, untuk saja kamu tidak kenapa-napa. Sebagaimana pun kami benci padamu Si, kami tetap peduli," ucap Delia. Memegang tangan Sisi yang bergetar.
Sisi menunduk malu, mendengar perkataan Delia.
Ada rasa bersalah merasuk dirinya. Diam tanpa menjawab sepatah kata pun.
Delia memegang pundak Sisi seraya berkata." Cepat mandi, kami nunggu kamu di bawah untuk makan."
Delia berlalu pergi, meninggalkan Sisi.
Wanita berwajah bulat itu menangis, masih ada rasa trauma dalam dirinya. Perkataan peraman-peraman tadi merasuk ke dalam pikiran Sisi, mencoba tenang dan menutup telinga. Masi terdengar tawa pereman yang akan meperkosa dirinya.
Saat di meja makan, Delia tidak melihat Sisi keluar dari kamarnya.
Mereka berdua seakan khuatir dengan keadaan Sisi saat ini, sampai Delia bergegas mengantarkan makanan ke kamarnya.
Delia mengetuk pintu kamar Sisi beberapa kali tapi tidak ada sahutan sama sekali. Rasa khuatir semakin merasuk pada diri Delia.
__ADS_1
"Emak Sisi, ini makannya," ucap Delia. Menempelkan telinga pada pintu kamar Sisi. Namun tak ada suara terdengar.
Tanpa berpikir panjang Delia membuka perlahan pintu kamar wanita berwajah bulat itu perlahan.
Saat membuka kamar Sisi, terlihat darah bercucuran di lantai kamarnya, ternyata Sisi bunuh diri. Delia berteriak, khuatir dengan keadaanya. Memanggil Alan, sampai Alan berlari menghampiri teriakan Delia.
"Ada apa?" tanya Alan. Melihat Sisi tergeletak dengan lumuran darah di tangannya, dengan Sigap Alan mengecek nadi Sisi. Untung saja dia masih hidup.
Mereka panik dan langsung membawa Sisi ke rumah sakit, Delia sangat khuatir. Bulak balik menunggu keadaan Sisi.
Dokter keluar, Delia langsung menayakan keadaan Sisi.
"Bagaimana keadaan pasien dok?" jawab Delia.
"Kalian jangan khuatir, keadaan pasien baik-baik saja. Untung segera cepat di bawa ke rumah sakit!" jawab sang dokter. Membuat perasaan Delia sedikit lega.
"Boleh kami melihat keadaa pasien," ucap Delia.
Sang dokter mempersilahkan Alan dan Delia masuk, asal jangan sampai membuat dirinya stres.
Karna menurut dokter, pasien Sisi mengalami trauma yang sangat berat. Mendengar penuturan sang Dokter, Delia dan Alan seakan merasa bersalah. Terlalu mengerjai Sisi habis-habisan.
Delia membuka pintu ruangan dimana Sisi tengah duduk di ranjang tempat tidur.
"Untuk apa kalian menolongku," ucap Sisi. Wanita berwajah bulat itu menatap kearah jendela rumah sakit. Bulir bening berjatuhan mengenai pipinya.
"Si," Delia mendekat kearah Sisi. Duduk di sampingnya.
Belum kata-kata terlontar dari mulut Delia.
"Harusnya kalian bahagia saat aku tengah sekarat, tapi kenapa kalian malah menolongku untuk tetap hidup. Untuk apa sekarang aku hidup hanya dengan kebutaan yang aku alami. Lebih baik aku mati,"teriak Sisi.
Delia yang mendengar teriak itu, terdiam bibirnya keluh. Membuat air matanya seketika mengalir.
"Pergi kalian dari sini, aku tidak butuh orang-orang seperti kalian," hardik Sisi.
"Sisi, asal kamu tahu. Kenapa kamu seperti ini, harusnya kamu sadar diri, perbaiki diri lebih baik lagi. Bukan malah menyalahkan dirimu sendiri, bunuh diri untuk mati konyol. Liat dirimu, kamu liat kesalahan yang telah kamu perbuat, apa kamu tidak pernah menyadari kesalahanmu sendiri," ucapan Delia terlontar begitu saja. Tanpa sadar, membuat Sisi seakan merasakan kesalahanya selama ini.
"Diam," teriak Sisi. Membuat Alan dan Delia terdiam. Tanpa berkata-kata. Melihat Sisi yang berteriak seperti itu Alan dan Delia berlalu pergi, karna mereka tahu. Bahwa Sisi tidak boleh stres.
"Tunggu," ucap Sisi.
__ADS_1
Delia dan Alan tiba-tiba menghentikan langkah kaki mereka.