Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 35


__ADS_3

Ami dan Rudi membawa wanita tua itu ke sebuah tempat makan. Di saat mereka memesan makanan, Ami yang berpura-pura buta menanyakan nama wanita tua itu.


"Kalau saya boleh tahu, siapa nama ibu?" tanya Ami sembari terseyum tipis.


"Panggil saja Ibu Sumyati!" jawab wanita tua itu sedikit melirik kearah wajah Ami.


Pesanan makanan pun datang, wanita tua itu begitu lahap menyantap makanan yang sudah terhidang di atas meja.


Ada rasa kasian dalam diri Ami melihat wanita paruh baya itu luntang lantung sendirian mencari anaknya.


Seketika wanita tua yang bernama Bu Sumyati itu, dengan baik hati menyuapi Ami. Rudi yang melihat pemandangan yang ada di depan mata, berdecak kagum.


Rudi berucap dalam hati." Andai saja ibu seperti itu pada Ami, lengkap sudah kebahagian ini tanpa ada luka dan saling menyakiti.


"Kamu cantik, nak. Siapa namamu?" tanya wanita yang berada di hadapan Ami.


"Namaku Ami, bu." Ami menunduk pandangan, menahan bulir bening yang mulai berjatuhan pada pelipih matanya. Pertama kali di suapi oleh wanita paruh baya ini. Mengigatkan Ami pada sosok seorang ibu yang telah lama tiada.


"Nama yang cantik, kalau saja anakku ada. Mungkin, dia sudah menikah dengan wanita pilihannya."


Tangan Ami langsung mengusap air mata yang jatuh dari pelipih mata Ibu Sumyati.


"Ibu jangan sedih, anggap saja kita itu keluarga."


Seyuman terpancar pada Ibu Sumyati, ia begitu bahagia, dan menikmati makanan malam ini.


Saat Rudi mengambil air minum. Bu Sumyati melihat jari tangan Rudi terdapat tanda hitam.


Ada sedikit rasa curiga, apa Rudi anak Ibu


Sumyati?


"Apa sejak kecil kamu sudah mempunyai tanda di jari manismu, nak?" tanya Ibu Sumyati, Rudi mendengar pertanyaanya langsung menjawab.


"Iya bu, kata ibu ini tanda lahir. Cuman saya heran tanda lahir ko di jari."


Ami dan Bu Sumyati tertawa mendengar tutur kata Rudi.


"Kalau boleh ibu tahu, siapa nama ibumu?"


"Nama ibu saya, Ibu Nunik. Apa ibu kenal dengan ibu saya?"


Hati Ibu sumyati berbisik." Nunik apa benar dia."


"Ibu kenapa? ko ngalamun?!" tanya Rudi membuat Ibu Sumyati kaget.


"kalau boleh tahu, siapa nama kamu. Nak?"


"Rudi, bu!"

__ADS_1


Setelah selesai makan, Ami dan Rudi berniat membawa Ibu Sumyati tinggal sementara di rumah.


Saat tiba di rumah.


"Ibu ... ibu ...." teriak Rudi, membuat ibunya berlari tergopoh-gopoh menghampiri Rudi anaknya.


Saat ibu mertua Ami datang, ia nampak kaget melihat wanita tua di sebelah Rudi.


"Kamu." telunjuk tangan ibu mertua menunjuk pada wajah Bu Sumyati.


"Ibu kenal dengan Bu Sumyati? tanya Rudi.


Mata ibu mertua mendelik kesal, saat anaknya bertanya. Tentang kenal tidaknya dengan wanita tua yang berada di samping Rudi.


Bu Nunik langsung memutar otak seraya berkata." Bukanya ini gembel yang waktu itu, ibu liat dia. Saat di pasar ikan," ucap ibu mertua Ami dengan perasaan kesal.


Rudi mendengar perkataan ibunya yang tidak sopat, Rudi langsung angkat bicara." Jaga bicara ibu, bagaimana pun kita harus menghargai orang lain.


"Tapi ... Rud," belum sempat berkata, Rudi membentak ibunya.


"Sudah bawa Ibu Sumyati untuk membersihkan diri, dia akan tinggal di sini. Sementara waktu."


Mulut Bu Nunik melogo mendengar tutur kata anaknya.


Dengan sangat terpaksa, Ibu Nunik membawa wanita yang di bawa oleh Rudi.


Saat tengah sampai di kamar tamu.


Bu Nunik terseyum, mendengar perkataan wanita yang berada di hadapanya.


"Bodoh, untuk apa kamu mencari anakmu. Dia sudah mati," ucap Bu Nunik membuat tangan Bu sumyati mengepal.


"Sudah jelas, kamu merebut suamiku dan mencuri anakku. Aku tanya? Dimana anakku sekarang?"


Langkah kaki Bu Nunik mendekat ke arah wajah Bu Sumyati.


Tangan mertua Ami itu langsung memegang erat pipi Bu Sumyati lalu ia tampar tanpa rasa kasihan sedikit pun.


"Siapa yang merebut suamimu? Bukanya kamu sendiri yang tidak bisa menjaganya. Asal kamu tahu aku dan Mas Tono saling mencintai!"


"Berengsek kamu Nunik, harusnya kamu sadar. Sebagai wanita, apa kamu tidak takut. karma datang padamu."


"Karma, buktinya aku baik-baik saja sekarang."


"Dasar perempuan tidak tahu diri."


Amarah Bu Nunik semakin menggebu, ia berlalu pergi begitu saja.


Ada rasa sesak, dalam dirinya.

__ADS_1


Mengepal ke dua tangan pada selimut yang sudah tersusun rapih, hingga ia bantingkan ke depan pintu.


"Kenapa? wanita itu muncul lagi. Harusnya wanita itu mati, di rumah sakit jiwa. Kenapa dia bisa ke luar begitu saja?"


"Sial, kenapa harus ada dia. Rencanaku bisa gagal saat ini. Dan Rudi. Anakku tidak boleh mengetahui semua ini, kalau dia tahu. Aku yang akan menderita saat ini juga.


Bodoh kenapa tidak aku bunuh saja wanita bernama Sumyati itu, kenapa dia malah datang tiba-tiba. Apa dia mencari tahu keberadaan?" ucap pelan Bu Nunik, hatinya nampak gelisah, resah. Nafasnya begitu terasa berat.


Bu Nunik mencari ide, bulak balik kesana kemari. Ia memikirkan jalan ke luar agar Bu Sumyati cepat ke luar dari rumah ini.


Ami yang mengintip dan mendengar keributan itu langsung, menghampiri Rudi.


"Ada apa?" tanya Ami, saat menghampiri sang suami.


"Ibumu dan Bu Sumyati seakan sudah saling kenal. Mereka membicarakan soal anak," ucap Ami.


Rudi yang mendengar tutur kata Ami, merasa ada yang janggal pada ibunya waktu melihat Bu Sumyati.


Ada hubungan apa mereka?


Pagi menjelang, Ami serasa tenang karna Bu Sumyati begitu telaten dalam segala hal. Ia begitu baik mengurus Ami.


Namun, dari Sisilain Bu Nunik yang melihatnya seakan tidak suka. Rudi pamit pada Ami. Rudi melihat ibu akhir-akhir ini sedikit diam, seakan ada yang ia sembunyikan.


"Ibu kenapa?" tanya Rudi.


"Engga papa nak, cepat sana berangkat kerja, nanti telat."


"Rudi pamit ya, bu."


"Iya, hati-hati."


************


"Nak Ami, mertua Nak Ami sedikit nyebelin ya," ucap Bu Sumyati membuat Ami tertawa.


"Nyebelin kenapa emang, bu."


"Matanya bikin pengen ibu ninju."


Ami semakin tertawa mendengar tutur kata Bu Sumyati. karna dalam hati Ami perkataan Bu Sumyati memang sama dengan yang di pikirkan Ami sekarang.


Saat mereka asik mengobrol, sosok seorang wanita datang, ternyata Sisi. Ami yang berpura-pura buta. Melihat Sisi masuk tanpa mengetuk pintu, di sambut oleh ibu mertua.


"Ada cewek datang, Nak Ami."


"Biarin Bi, kita pura-pura cuek saja."


Ami membisikan sesuatu pada telinga Bu Sumyati, untuk mengerjai wanita yang datang tanpa mengetuk pintu.

__ADS_1


Apa yang akan di lakukan Ami pada Sisi?


__ADS_2