Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 83 Tetangga Oh Tetangga


__ADS_3

Dengan rasa kesal di dalam dada baru saja mau menikmati rasanya bercinta dengan sang istri walau siang hari, dengan nafsu mengugah gelora di dalam jiwa.


"Siapa lagi si," ucap Arpan. Berjalan menuju depan pintu rumahnya.


Ingin sekali mulutnya memaki tetangga rese itu.


Membuka pintu, melihat tetangganya itu terseyum membawa satu bingkisan pelastik.


"Nak Arpan. Ini bapak buatkan makanan sama bingkisan mohon di terima ya," ucap sosok lelaki tua yang menjadi tetangga Arpan saat itu.


"Ya ampun, saya kira siapa. Ternyata Pak Ustadz Ilyas, mari masuk pak," ucap Arpan. Mau tidak mau dia harus menunda hasratnya itu semampu dia, walau sebenarnya berat dan tak tertahankan. Rasanya kepala Arpan mulai pecah seketika.


"Oh ya kemana sang istrinya, ko enggak keliatan?" tanya Pak Ustadz seketika Sisi datang membuat. Tamu yang tak di undang melongo beberapa kali mengucap kata istigpar.


Adeuh di lihat dosa, enggak di lihat mubazir, gumam hati Pak Ustadz saat itu.


"Saya pulang ya, Nak Arpan." Berpamitan tanpa bersalaman dengan Sisi. Pak Ustadz berlali begitu saja.


"Loh kenapa pak ustadznya ko lari?" tanya Sisi.


Arpan yang melihat penampilan istrinya membuat dirinya menelan luda, pantas saja pak ustadz lari Sisi berpenampilan seksi.


Arpan berdiri dari tempat tidurnya menarik lengan tangan istrinya itu.


"Sini deh sayang," ucap Arpan mengelus rambut sang istri.


"Emh."


"Besok kita belanja yuk," ucap Arpan membuat jiwa wanita macam Sisi meronta-ronta bahagia. Mendengar ucapan sang suami saat itu.


"Beneran sayang?" tanya Sisi. Arpan langsung menganggukan kepala.


"Yuk kita mulai," ajak Arpan. Ia begitu bahagia karna sekarang tidak akan ada lagi yang menggangu.


"Sekarang belanjanya," ucap Sisi.


"Bukan, kita olah raga." Arpan membawa Sisi ke dalam kamar mengendongnya. Dengan begitu lembut.


Sisi terseyum genit membuat Arpan seakan tak kuat menahan hasratnya yang tertunda-tunda.


Tiba- tiba suara ponsel Arpan berbunyi.


"Ya Tuhan, apa lagi ini," ucap Arpan mendengkus kesal. Meremas rambutnya dengan kedua tanganya.


Panggilan telepon itu ternyata dari Delia, dengan terpaksa Arpan mengangkat telepon itu.


"Hallo."


"Hallo Arpan apa kabar gimana bulan madunya lancar," ucap Delia dalam sambungan telepon.


"Enggak lancar sama sekali karna ganguan dari beberapa orang," ucap Arpan sedikit ketus.

__ADS_1


"Ya, ela ... berarti aku ganggu dong," ucap Delia tertawa keras.


"Ganggu sekali," ucap Arpan.


"Ya, sudah. By selamat menikmati."


Telepon pun terputus.


Saat itulah Arpan seperti singa yang tengah kelaparan, menerkam istrinya.


"Tunggu Arpan," ucap Sisi. Wajahanya memerah.


"Kenapa lagi?" tanya Arpan.


"Pintunya belum tertutup."


Arpan menepuk kening seraya berkata," Aku lupa."


Menutup pintu sesegera mungkin, membuat ia benar-benar tak sabar saat itu.


**********


Saat Delia dan Alan tengah mengobrol menikmati kebahagian yang terpancar dari diri mereka. Alan bertanya?" Gimana Sisi sama Arpan lencar."


"Katanya ke ganggu terus."


"Ko bisa."


"Apa jangan- jangan tetangga Arpan yang rempong itu. Yang pernah nawarin wanita sama dia."


"Ya, bisa jadi sih. Tapi ada ya, tetangga model gitu."


"Ya, pastinya ada aja."


Delia dan Alan berencana untuk mengirim hadia, liburan untuk Sisi dan Arpan saat itu.


"Mereka pasti akan senang," ucap Delia.


"Pastinya."


*************


Saat tiba dimana janji Arpan akan membelikan baju untuk Sisi terkabul juga.


Berjalan bersama seorang istri tentulah membuat Arpan bahagia. Namun di sisi lain Arpan sedikit risih karna orang-orang melihat Sisi yang berpenampilan seksi. Membuat Arpan sedikit kesal, sampai akhinya ia berusaha membujuk sang istri memakai pakaian tertutup.


"Kita beli baju ke tempat sana yuk," ajak Arpan memegang erat tangan istrinya.


"Kemana?" tanya Sisi. Ia nampak binggung karna, melihat baju di depan matanya tidak sesuai dengan kesukaannya sama sekali.


"Loh ini ko, aku di bawa ke sini. Aku pengen ke tempat yang di sana," ucap Sisi menujuk pakaian minim yang memang terlihat cantik dan sexsi.

__ADS_1


"Gimana kalau coba yang ini dulu," bujuk rayu Arpan pada istrinya, Sisi masih tetap saja tidak mau, ia menolak seakan tak suka dengan tawaran suaminya.


"Aku kurang suka sama baju kaya gini," ucap Sisi sedikit memoyongkan bibirnya.


"Tapi di coba dulu kan bisa," rayu Arpan. Membuat Siai harus berpikir terus menerus.


"Enggak suka."


Dengan berbagai bujukan rayu pada sang istri, Arpan tidak lelah ia terus membujuk sang istri saat itu.


"Enggak suka sama baju itu, pengen yang sexsi itu." Telunjuk tangan Sisi masih saja menunjuk pada baju yang dia inginkan.


Arpan terus memohon agar Sisi memakai baju yang tertutup dan berhijab. Hingga akhirnya Sisi mulai luluh walau setengah-setengah tapi membuat hati Arpan sedikit lega.


Setelah keluar mencoba baju itu, Sisi menunjukan penampilannya yang sekarang. Arpan sungguh kaget bukan main melihat penampilan Sisi yang begitu tertutup membuat hati Arpan bahagia sekali.


"Aku kelihatan kaya emak-emak sayang," ucap Sisi mendengkus kesal.


"Kamu benar-benar cantik sayang," puji Arpan kepada istrinya.


Pipi Sisi mulai memerah rasanya seperti mimpi di puji oleh sang suami.


"Ya, sudah aku pengen ini."


Arpan yang mendengar perkataan Sisi sungguh bahagia walau dengan cara memaksa tapi tetap membuat Arpan bahagia.


Saat itu, entah kenapa Arpan malah menabrak tetangganya yang pernah menawarkan anaknya kepada Arpan saat itu.


"Ibu, ko ada di sini?" tanya Arpan.


"Oh ibu lagi pengen beli baju, Nak Arpan tumben ada di sini?"


"Ya bu kebetulan lagi belanja baju buat istri!"


Tatapan mata ibu tua itu mendelik kesal pada Sisi.


"Oh, ya ko beli baju di sini. Biasanya kan bajunya beli yang seksi-seksi," ucap wanita tua itu. Membuat Sisi sedikit geram.


"Ya, pengen aja!" jawab Arpan membela sang istri.


"Padahal enggak ada cocok- cocoknya istri nak Arpan pake hijab," sindir wanita tua itu. Sembari melipatkan kedua tangannya.


"Biarin, kan mampu dari pada situ, enggak mampu!" timpal Sisi membuat wanita tua itu membulatkan kedua matanya.


"Kata siapa gak mampu saya mampu ko," ucap wanita tua itu. Memperlihatkan perhiasannya yang terpapang di depan mata.


"Loh kenapa diam aja, ayo beli," ucap Sisi.


Arpan langsung menghentikan perdebatan itu, ia takut jika perdebataan itu menjadi panjang lembar. Karna wanita tua yang menjadi tetangga Arpan itu benar-benar rese.


"Benar- benar tetangga gak ada ahlak," hardik Arpan.

__ADS_1


Sisi begitu beruntung mendapatkan Arpan yang selalu membela dirinya. Bagaimana pun keadaan Sisi, dia lelaki yang menerima kekurang Sisi. Walau sebenarnya Sisi adalah orang jahat, namun Arpan tidak memperdulikan masalah itu. Karna bagi dirinya masa lalu tetaplah masa lalu tidak akan terlulang kembali.


__ADS_2