
"Tak sudi aku digandeng lelaki macam kamu," hardik wanita berhidung mancung Itu menaiki mobil.
Sedangkan Rudi masih tertawa dengan tingkah Arsyla yang kekanak-kanakan, hanya dengan cara seperti ini Arsyla bisa menyadari bahwa Rafa lelaki adalah lelaki bertanggung jawab.
Rafa mulai menutup pintu mobil yang sudah ditumpangi Arsyla. Sedangkan Rudi masih berdiri di luar, dengan melabaikan tangan.
Sepontan Arysla kesal dengan Rudi yang tidak ikut serta naik ke dalam mobil, Arysla yang panik terus menggedor-gedor pintu mobil Rafa.
" Turunkan aku Rafa. Aku tidak mau ikut dengan kamu, cepat turunkan aku di sini."
Rafa begitu cuek, dia tak mendengarkan teriakan Arysla di dalam mobilnya, dengan fokus Rafa Terus mengendarai mobil.
" Kalau kamu tidak mau menurunkan aku, segera mungkin aku akan lompat dari mobil ini."
" Silakan saja jika kamu memang ingin mati."
" keterlaluan kamu Rafa."
Rafa tersenyum penuh kemenangan, dia mendapatkan calon istrinya di tangan Rudi dengan begitu mudah.
Sedangkan Arysla masih meraung-raung kesal terhadap Rudi, yang membiarkan Arysla dibawa oleh Rafa.
" Sudahlah, kamu tak usah kesel begitu. Sebentar lagi kita kan akan menikah."
Ucapan Rafa membuat arsyila mendengus kesal, nafasnya seakan tak beraturan, ia menyandarkan punggung pada kursi di dalam mobil dengan mengangkat sebelah kakinya.
Bagaimana bisa, aku harus ikut dengan Rafa, sedangkan lelaki kejam itu selalu membuat aku tersiksa.
Melipatkan kedua tangan Arsyila mulai mencari ide, agar dia bisa kabur dari Rafa. Tapi sesaat melihat jalanan, ia tak menyangka ternyata Rafa mengantarkannya untuk segera pulang ke rumah.
Wanita berhidung mancung Itu, mengira jika Rafa akan membawanya pergi jauh dari rumah, tapi ternyata Rafa malah mengantarkan Arsyla ke rumah.
Apa aku tidak salah melihat. Jika ternyata Rafa mengantarkanku, ke rumah Sisi dan Kak Arpan, gumam hati Arsyla.
Rafa mulai membantu Arsyla, membukakan pintu mobilnya agar Arsyla bisa keluar dari dalam mobil. Untuk segera bertemu dengan Sisi.
Dengan membukakan pintu mobil secara perlahan, ternyata Arsyla masih duduk tanpa bergerak sedikitpun.
Rafa menyodorkan tangan kanannya agar bisa diraih oleh wanita yang akan menjadi calon istrinya. senyuman terlontar dari mulut manis Rafa.
" Hei kenapa kamu diam saja, ayo cepat turun ke sini," ucap Rafa sedangkan arsyila tak menggubris perkataan Rafa saat itu, ia masih melipatkan kedua tangannya menatap ke arah depan kaca mobil.
Rafa terus membujuk calon istrinya, agar segera keluar dan menemui Sisi.
" Ayo turun Lah kenapa kamu tidak mau turun, Sayang." Arsyla malah memalingkan wajahnya saat Rafa membujuk dia terus-menerus.
" Apa kamu tidak mau pulang?" tanya Rafa kepada Arsyla, wanita berhidung mancung berbulu mata lentik itu menggaruk ujung hidungnya. ia berkata kepada Rafa." Aku tidak mau pergi ke dalam rumah saat keadaanku seperti ini."
__ADS_1
Rafa dengan senangnya meminjamkan jaket untuk Arsyla pada saat itu.
"Apa sudah yaman."
Deg .... Hati Arsyla kian bergumam, kenpa bisa Rafa seperhatian ini.
"Kenapa melamun?" tanya Rafa. Membuat lamunan wanita berhidung mancung Itu seketika buyar.
Arsyla mulai keluar dari dalam mobilnya bersama Rafa saat itu.
Rafa mulai menggandeng bahu Arsyla tiba-tiba, tapi karena rasa gengsinya Arsyla malah mendorong tubuh Rafa ke samping.
" Jangan berdekatan denganku, aku tidak suka jika kamu terus menempel pada tanganku," hardik Arsyla menatap kesal kepada Rafa saat itu.
Megusap hidung macung Arsyla, Rafa terseyum senang seraya menjawab kekesalan Arsyla. "Tenang saja Arsyla. Kenapa kamu malu malu begitu, kita kan sebentar lagi, akan menjadi suami istri. Jadi, tak usah lah kamu terlalu garang."
" Jaga ucapan kamu, siapa yang mau menikah dengan kamu. Tak sudi aku," cecar Arsyla.
Kedua pipi Arsyla tampak memerah, ketika satu ciuman dilayangkan oleh bibir apa saat itu.
Arsyla mengusap-ngusap pipi merahnya dengan tangan kanan dan menamparkan pada Rafa begitu saja.
" Kenapa kamu tampar aku, Arsyla."
" karena itu pantas buat lelaki, yang suka main nyosor tanpa meminta izin terlebih dahulu seperti kamu."
Arsyla membulatkan kedua matanya, ia tertenguh dengan perkataan Rafa.
"Apa sih, kamu enggak jelas banget, Rafa. Aku mau masuk ke dalam rumah."
Rafa tertawa terbahak-bahak. Ada rasa senang sesaat tingkah Arsyla menjadi gugup.
Arsyla masuk ke dalam rumah tampa mengedor pintu kamarnya, dengan memajukan bibir atas bawahnya. Sisi yang berdiripun tidak ia tanya.
"Aneh, Arsyla kenapa?"
Wanita berbulu mata lentik berhidung mancung itu kini mulai merebahkan tubuhnya, membuat otot-otot kian terasa rileks.
Tok ... tok ...
Gedoran pintu terdengar, membuat Arsyla malas untuk bangun dari tempat tidurnya.
"Arsyla buka."
Ketukan pintu terdengar terus menerus. Membuat Arsyla dengan terpaksa bangun dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamar.
"Arsyla, kamu sudah pulang."
__ADS_1
"Iya."
Arsyla langsung menutup pintu kamarnya begitu saja, sedangkan Sisi tampak bingung membuat dia terus menerus mengedor pintu kamar Arsyla.
Namun, sesaat suara kelakson mobil terdengar dari luar. Membuat Sisi bergegas pergi melihat apakah itu Arpan dan Bu Ira.
Sesaat membuka pintu depan rumah.
Ternyata itu adalah Rudi.
"Arsyla, sudah pulang?" tanya Rudi. Yang berdiri dibalik pintu.
"Iya, tapi Arpan dan Bu Ira kemana?" tanya Sisi dengan rasa kuatirnya. Hatinya begitu terasa cemas sekali sampai dia tidak bisa tenang.
"Aku kira mereka sudah pulang!' jawab Rudi. Lelaki berbadan kekat itu mulai masuk ke dalam rumah.
Isi hati Sisi tampak cemas sekali. Ketika mendengar Rudi tidak tahu jika Bu Ira dan Arpan belum juga pulang ke rumah, sedangkan Arsyla sudah berada di dalam kamar tidurnya. Sisi sangat cemas karena Arpan pergi bersama Arsyla tapi Arsyla pulang dengan sendirinya.
"Kamu jangan kuatir, sebentar lagi pasti mereka pulang," ucap Rudi. Mengusap pelan bahu Sisi.
Rudi terus menenangkan Sisi. Agar tidak terlalu cemas.
Baru saja mereka duduk. Suara benturan kaca terdengar di kamar Arumi.
"Apa itu?"
Sisi berdiri dari tempat duduknya. Begitu pun dengan Rudi mereka begitu kaget, setelah mendengar suara kaca yang seakan dipukul di dalam kamar.
"Arsyla."
Dengan berlari menuju kamar Arsyla, Rudi dan Sisi. Nampak cemas.
"Arsyla, kamu sedang apa di dalam kamar."
Teriakan Sisi terdengar oleh Arsyla, tapi Arsyla mengabaikan teriakan Sisi saat itu.
Hingga pada akhirnya Rudi mulai mendobrak pintu kamar Arsyla.
Satu dobrakan tidak berhasil, Rudi begitu lemah, ia tak sanggup mendobrak pintu kamar Arsyla. Hingga satpam datang dan membantu untuk mendobrak pintu Arsyla secara bersamaan.
"Ayo Rudi dan Pak Satpam, dobrak pintu Arsyla lebih keras lagi."
Mereka begitu berusaha, entah kenapa pintu kamar Arsyla begitu susah di buka.
Sampai Rudi memberi hitungan sampai tiga.
Satu, dua, tiga.
__ADS_1