Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 167 Season 3 Tangisan Dodi untuk Delia


__ADS_3

Alan tak menyangka jika Ane seorang dokter bisa membujuk Dodi, dengan semudah itu.


Hatinya merasa senang kalau sekarang Dodi tak lagi salah paham seperti tadi pagi.


Alan mulai melangkahkan kakinya, mengikuti langkah kaki Ane dan juga Dodi, untuk masuk ke ruangan Delia.


Namun saat Alan mengikuti langkah Ane dan Dodi dari belakangan. Ane langsung membalikkan wajah menatap tajam ke arah Alan.


" Ngapain kamu ikut?" tanya Ane tiba-tiba berkata dengan tegas.


"Loh, kenapa bertanya begitu, bukannya Delia itu istriku, jadi boleh lah aku ikut melihat dia bersama Dodi!" jawab Alan.


Ane tak paham lagi dengan ucapan Alan, saat itu ia sudah memberitahu Alan agar tidak bertemu dengan Delia.


" Apa kamu lupa, tadi pagi aku sudah berkata apa padamu?"


Alan mulai mengingat perkataan Ane tadi pagi, ia sempat lupa jika dirinya tidak boleh dulu bertemu dengan Delia sang istri. Walau dalam keadaan tidur pun.


karena Ane takut Delia akan bangun dan mengamuk dengan beralas memohon untuk lepas dari jeratan tali yang melingkar tangan dan tubuhnya.


"Aku lupa, Ane. Tapi aku ingin sekali melihat istriku, aku ingin sekali berada di sisinya, aku ingin menguatkan dia sebagai seorang suami. Aku tak tega melihatnya selalu sendiri. Apa lagi mengamuk seperti tadi pagi, dengan memohon agar di lepaskan ikata tali yang mengikat tangan dan kakinya."


Ane langsung menghampiri Alan, meraih tangan lelaki berbadan kekar itu, membawa Alan ke ruangannya.


Sedangkan Dodi sudah menuju abang pintu ruangan Delia, ia melangkah kan kaki perlahan mendekat kearah Delia yang tengah terikat tali dan tertidur begitu pulas.


Sedangkan di ruangan Ane.


"Alan mohon mengertilah, semua perkataanku ini juga demi kebaikanmu. Aku ingin melihat Delia sembuh kembali. Jadi kamu jangan dulu melihat Delia, oke." ucap Ane menjelaskan semuanya.


"Asal kamu tahu, jika kamu berada disisi Delia. Delia akan tertekan dia akan meminta untuk dibebaskan di rumah sakit ini. kamu tahu sendiri kan jika Delia tidak dirawat.


Dan apa yang akan terjadi dengan dirinya."

__ADS_1


Alan berucap pelan, " istriku akan menjadi orang gila, bukan."


"Buka hanya itu saja. Alan Delia akan lupa segala hal tentang dirimu tentang keindahan cintamu dan juga keutuhan keluargamu. kamu tidak ingin kan semua itu terjadi?"


"Jadi menurutmu, jika aku rindu terhadap istriku. Aku hanya bisa menatap Delia dari kejauhan, apa itu yang kamu maksud Ane."


"Benar, aku menyuruh kamu menjauh dulu dengan Delia, agar aku dan sahabatku bisa mengurus Delia sampai ia kembali seperti semula, aku harap kamu mengerti Alan, ini demi kebaikan kamu dan juga Delia."


"Jika itu yang terbaik, aku akan berusaha. Tapi apa aku akan kuat."


Ane mulai mendekat kearah Alan, ia menepuk beberapa kali bahu sahabatnya itu, dan berkata." kamu seorang lelaki yang sangat kuat, aku percaya padamu. kamu bisa melewati semuanya."


"Aku akan berusaha Ane, apapun akan kulakukan demi orang yang sangat aku cintai."


"Bagus kalau begitu, aku tahu kamu orang yang bisa melalui semua rintangan ini, aku percaya padamu Alan."


"Yah, terima kasih."


"Ane apa aku boleh melihat Delia."


Ucapan Alan pada Ane seketika membuat lamunan Ane membuyar, saat Ane bertanya seperti itu. Ane hanya bisa tersenyum kecil seraya menjawab," kamu boleh melihatnya dari kejauhan. Asalkan kamu jangan menampilkan diri kamu di depan Delia."


"Baik kalau begitu, aku akan menuruti apa perkataanmu. kalau semua itu yang terbaik untukku dan Delia."


Semua sudah terkendali. Masalah selesai, Ane sedikit lega, jika Alan langsung mengerti apa perkataannya, pada saat itu Ane mengajak Alan untuk melihat keadaan Dodi di ruangan Delia.


Apa yang terjadi dengan Dodi dan Delia?


Mereka langsung menghampiri ruangan Delia, dengan berjalan beriringan.


Setelah sampai di ruangan Delia.


Ane langsung masuk sendiri ke ruangan itu, sedangkan Alan menatap dari luar ruangan menatap dari kejauhan di balik jendela.

__ADS_1


Alan melihat Dodi di ruangan Delia, Dodi tengah mengusap pelan kepala Delia mengecup beberapa kali seraya menangis meneteskan air mata.


kedua mata Delia masih menutup, ia tertidur pulas karena suntikan obat penenang yang disuntikkan oleh Ane.


" Tante, Dodi kangen sekali sama tante, baru sehari di rumah sakit Dodi begitu kehilangan tante. Dodi kehilangan orang yang selalu menyemangati dodi, yang selalu memperhatikan Dodi, setiap detik dan setiap waktu."


"Tante apa tante tidak mau bangun, tidak mau mengucapkan kata perpisahan untuk dodi, yang besok akan pergi menemui Mamah Ami."


"Tante maafkan Dodi, selama ini Dodi selalu nakal, Dodi jarang menurut sama tante. Tapi tante tenang saja, Dodi akan selalu sayang sama tante. semoga, dengan perpisahan ini tante menjadi sehat, tante kembali seperti semula."


Air mata Dodi menetes, setiap kali Dodi berucap pada Delia yang tengah tertidur pulas.


punggung tangannya penuh dengan air mata yang terus Dodi bilas.


Dari kedua matanya, Dodi benar-benar hancur, bibir Dodi bergetar hebat, setiap tangisan yang menetes mengandung makna arti kasih sayang. kepada Delia.


Satu kecupan mendarat lagi di kening Delia, hanya itulah ucapan perpisahan dari Dodi untuk Delia, yang masih tertidur begitu pula. Harapan Dodi, keinginan Dodi adalah melihat Delia bisa sembuh kembali.


Ane meraih punggung Dodi, mengusap palan seraya berucap." Ayo kita keluar, biarkan tante kamu beristirahat dulu. nanti setelah tante kamu sehat kembali. Kamu bisa menemui Tante Delia lagi."


"Baik, bu dokter."


Alan yang melihat dari kejauhan, tak sadar jika air mata menetes perlahan, melihat Dodi yang seakan tak kuasa jauh dari Delia.


Hati Alan mulai berbisik, Dodi walau kamu bukan Anakku. kamu hanya sekedar keponakanku, tapi aku sangat menyayangimu. Seperti anakku sendiri. Pantas saja Delia takut kehilangan kamu, Dodi. Kamu begitu istimewa.


Dodi keluar dari ruangan Delia, sedangkan Alan dengan Sigap mengusap air matanya yang terus bercucuran mengenai pipi dan bibirnya.


Berusaha untuk tersenyum dalam keadaan keterpaksaan," Gimana Dodi, sudah pamitan dengan Tante Delia."


wajah Dodi begitu basah dengan air mata, membuat Alan mengusap pelan air mata itu. Alan mengira air mata itu akan berhenti.


Namun ternyata Dodi terus mengeluarkan air mata itu ,Alan tahu Dodi tak ingin jauh dari Delia. Ia sangat menyayangi Delia, karena perlakuan Delia yang selalu mengistimewakan Dodi. begitupun dengan Dodi yang selalu menganggap Delia adalah ibunya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2