Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 267 berlarian


__ADS_3

“Maafkan aku, Alan,” ucap Ane menghempaskan tangan Alan. Dokter wanita itu mulai berlari menghampiri suara yang berteriak, di mana teriakan itu berada di ruangan Deni.


Dengan tergesa-gesa Ane langsung masuk ke dalam ruangan Deni. Ane melihat Deni menangis berteriak, menatap ke arah ke kedua kakinya. Kedua tangan kekarnya seakan kaku, Deni berusaha memukul kedua kakinya, Karena rasa tak percaya ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Ane berusaha menahan kedua tangan kekar Deni, agar tidak memukul terus-menerus kedua kakinya.


“Hentikan, Deni.”


Kedua mata Deni begitu merah, bekas tangisan terus ia keluarkan. Kedua mata merah itu mulai menatap kearah sang dokter, dengan tatapan tajam yang menusuk.” Kenapa dengan kedua kakiku?”


Pertanyaan Deni membuat Ane menelan ludah, ya belum menyelidiki kasus tentang terpotongnya kedua kaki Deni.


“Jawab?” tanya Deni dengan berteriak.


Ane merasa bingung harus menjawab apa kepada Deni? Dirinya juga baru tahu jika kaki Deni tiba-tiba saja terpotong.


Ane belum menemukan jawaban tentang kasus Deni, karena Suster Ainun yang sudah bunuh diri dan juga bukti yang sudah hilang.


“Jawab, Ane.” Teriak Deni.


Kedua tangan kekar Deni tak segan-segan memegang bahu Ane, menggoyang-goyangkan nya dengan rasa kesal yang mendera. Menunggu jawaban yang terlontar dari mulut Ane.


“Deni. Aku tengah menyelidiki kasusmu jadi kamu jangan kuatir,” balas Ane.


Deni kesal, iya mulai membantingkan meja yang berada di sisi ranjang tempat tidurnya. Mencabut infusan yang menempel pada tangannya.


“Kamu harus tenang,” ucap Ane di tengah-tengah Deni yang setengah menggamuk.


“Bagaimana aku bisa tenang, sekarang aku cacat,” balas Deni.


Ane mulai menyuruh para suster untuk memegang kedua tangan Deni yang terus memberontak, pada saat itulah Ane mulai mengambil jarum suntik yang berisi obat penenang untuk Deni.


1 Suntikan dilayangkan pada tangan Deni, membuat tubuh Deni seketika melemas. Reaksi obat itu sangatlah cepat, Deni mulai menutup kedua matanya dan tertidur.


Alan melihat pemandangan itu, dia penasaran dengan lelaki itu. Saat itulah Alan mulai masuk ke dalam ruangan, melihat raut wajah lelaki yang berteriak membuat keresahan di rumah sakit.


Ane membalikkan badan syok, saat melihat Alan sudah berdiri di belakang tubuhnya.


“Alan.”


Saat Ane menyebut namanya, pada saat itulah Alan mulai bertanya,” seperti nya, aku mengenal lelaki itu.”

__ADS_1


Alan mulai memberanikan diri mendekati ke arah pasien yang tengah terbaring lemah di atas ranjang, tapi Ane mulai mencegah Alan pada saat itu.


“Jangan.”


Ucapan Ane, membuat langkah kaki Alan terhenti.


Alam yang memang bersikeras ingin melihat Pasien itu tak memperdulikan ucapan Ane, dia terus berjalan hingga dimana ia melihat wajah lelaki itu.


“Bukanya ini lelaki yang menangani istriku, kenapa dengan dia?” tanya Alan kepada Ane.


Bagaimana Ane bisa menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan Alan, sedangkan dirinya masih bingung harus menjelaskan dari mana.


“Kenapa setiap aku bertanya kamu malah diam, Ane. Apa yang Sebenarnya kamu sembunyikan saat aku tak ada Ane?”


Ane megang jidatnya, ia pusing. Saat itulah seorang dokter laki-laki datang.


“Anda salah mengira, saya yang menangani istri anda.” Ucap lelaki itu, ialah Afdal.


Amarah Alan semakin meluap- luap, saat Afdal tiba-tiba muncul di hadapannya. Alan mendekat ke arah Afdal, kedua tangannya memegang kerah baju Afdal.


“Jadi kamu yang mengurus istriku?” tanya Alan.


“Iya!” jawab Afdal.


“Jadi apa yang terjadi saat saya tak ada di rumah sakit ini, kenapa tiba-tiba saja perut istri saya membesar seperti orang hamil?” tanya Alan dengan begitu detail.


Afdal menatap kearah Ane, yang berusaha memohon agar tidak mengatakan semua kejadian di mana Delia diperkosa oleh Deni.


Afdal tersenyum dan menatap kearah wajah Alan.


“ kenapa kamu harus marah dan syok seperti itu, jelas-jelas Delia memang hamil dan itu anak kamu,” ucap Afdal dalam sebuah kebohongan.


“Kamu jangan berbohong, aku sudah lama tidak berhubungan dengan istriku berbulan-bulan. Itu tidak mungkin,” balas Alan masih tak percaya dengan ucapan yang dilontarkan oleh Afdal kepada dirinya.


“Kenapa tak bisa, tentu saja bisa,” ucap Afdal tetap bersikap tenang tidak menampilkan wajah gelisahnya.


“ jangan menipu ku lagi, karena aku juga bukan seorang lelaki biasa, Melainkan aku juga seorang dokter yang sama sepertimu,” pekik Alan.


Deg ....


Jantung Ane benar-benar merasa tak karuan, melihat perdebatan Alan dan juga Afdal yang tak kunjung usai.

__ADS_1


Di dalam perdebatan Afdal dan juga Alan, tiba-tiba saja suster Ita berlari menghampiri ruangan Pak Deni. Dengan wajah gelisah.


“Dokter, tolong. Pasien Delia.”


Teriakan Suster Ita, membuat mata mereka langsung menatap ke arah sang suster.


Apalagi dengan Alan, Iya langsung melepaskan kedua tangannya yang memegang kerah baju Dokter Afdal.


“Delia kenapa dengan istriku?” tanya Alan. Mulai melangkah ke arah suster Ita.


“Ayo, cepat. Ini gawat sekali!” jawab suster Ita.


Alan dan yang lainnya, kini mulai berlarian ke arah ruangan Delia. Dengan wajah gelisa, dan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Delia membuat mereka semua panik.


Betapa kagetnya Alan dan yang lainnya saat sampai di dalam ruangan Delia, Delia Tengah duduk dengan bersimpuh darah pada dua kakinya.


Alan dengan Sigap menghampiri sang istri, berteriak kepada suster dan dokter yang tengah menatap kearah Delia.


“ Kenapa kalian diam saja, Ayo cepat tangani istriku segera.” Teriak Alan.


Mereka Langsung menghampiri Delia mengangkat tubuh Delia ke atas ranjang rumah sakit, dengan perlahan. Menangani Delia secepat mungkin,” kamu tenang ya sayang.” Ucap Alan dengan air mata yang berderai.


Saat itu, dokter Ane menyuruh suster Ita membawakan obat untuk Delia.


“Sepertinya Delia mengalami pendarahan.” Ucap Ane.


Delia memegang tangan kanan Alan dan berkata,” sakit mas.”


“Kamu yang kuat ya.”


Ane mulai menyuruh Alan untuk pergi dari ruangan Delia, agar Ane segera mungkin menangani Delia


Dengan terpaksa Alan langsung melepaskan tangannya yang memegang erat tangan Delia, Iya keluar dengan air mata yang terus mengalir.


Saat itulah Ane mulai menyuruh Delia untuk mengatur posisi tidurnya dalam keadaan berbaring.


Sedangkan Alan bulak balik ke sana ke mari menunggu keadaan Delia. Dirinya berharap Delia baik-baik saja dan juga anak dalam kandungannya.


Sesekali matanya melirik ke arah Afdal ada rasa benci menyelimuti hati Alan terhadap Dokter Afdal. yang ia Alan pikir dia dalang dari semuanya.


Hingga di mana Dokter Ane ke luar dari ruangan Delia dan berkata .....

__ADS_1


Apa yang terjadi dengan Delia?


Apa anak dalam kandungan yang masih bertahan?


__ADS_2