
"Halo, Lan. Gimana keadaan Delia dan anaknya."
Rudi memberanikan diri menelepon Alan, yang di mana keadaan Alan dan Delia kini baik baik saja. Setelah kejadian berasama Ane.
Alan berharap Ane bisa berubah dengan kesalahannya yang sudah banyak ia lakukan, Dan tidak selalu bertindak gegabah atau pun egois.
"Alhamdulilah Rud, Delia baik-baik saja. Begitu juga dengan anakku," ucap Alan dalam sambungan telepon. Tumben telepon ada ap?"
Alan yang bertanya begitu saja, membuat Rudi sedikit bingung. Untuk meminta bantuan.
"Halo Rud, ada apa. Kenapa kamu diam?"
"Sebenarnya aku, ingin meminta bantuan pada kamu Lan. Kalau kamu tidak keberatan."
"Bantuan apa?"
"Aku butuh bantuan kamu untuk menyelamatkan Tama dan Sarah!"
"Memangnya kenapa dengan mereka bedua."
Saat itulah Rudi menjelaskan semuanya, yang di mana Alan mengrti dan ikuy prihatin tentang masalah yang di hadapi Rudi.
"Tiga hari lagi aku dan Delia akan ke sana. Kamu jangan kuatir. Rud."
"Terima kasih, Alan."
Rudi kini bernafas lega, Alan dan Delia memang saudara yang selalu menolong dalam kesusaha, saat Rudi di timpa masalah.
@@@@
Sampai 3 hari menjelang, di mana kini Alan bersiap siap menemui Rudi.
Rudi yang masih dengan rasa tegannya hanya menunggu, di bandara. Menunggu ke datangan Alan.
"Mudah-mudahan Alan datang."
Di tengah ke tegangan yang di rasakan Rudi, kini Alan datang mengejutkan Rudi. Dengan memegang bahu Rudi tiba tiba.
"Hah."
Rudi terkejut, " akhirnya kamu datang juga."
Rudi senang dengan ke datangan Alan, yang mengejutkan. Mereka bergegas bersiap siap untuk pulang ke rumah Rudi.
Di dalam mobil.
"Jadi apa rencana kita?" tanya Rudi
Dari jauh hari Alan sudah memikirkan cara untuk bisa membebaskan Tama dan Sarah dari gengaman Pak Andre. Yang di mana Rudi langsung tersenyum senang.
Rudi menyetujui rencana Alan dan sudah bersiap siap untuk rencana itu.
Ami yang berada di dalam rumah menghuatirkan ke adaan sang suami, yang tak kunjung pulang. Sampai di mana suara klakson mobil terdengar di depan rumah.
Ami langsung menyambut ke datangan Rudi dan Alan, yang di mana Delia tak ikut karna kondisi tubuh yang tak memungkinkan.
Rudi menyuruh Alan untuk beristirahat bersiap siap untuk rencana besok pagi.
@@@@
Hingga esok pagi, rencana di mulai. Yang di mana Rudi dan Alan sudah mempersiapkan semuanya.
"Kamu sudah siap, Rud. "
"Iya."
Kini Alan mulai menghampiri rumah Pak Andre, yang begitu terlihat ketat dengan para penjaga. Alan bersiap dengan seragamnya.
"Anda siapa?" tanya para penjaga yang melihat kedatangan Alan dengan seragam dokter.
"Saya di printahkan datang ke sini oleh Pak Andre!" jawab Alan
__ADS_1
Para penjaga di rumah Pak Andre saling menatap satu sama lain, mereka sedikit ragu dengan ke datangan Alan. Hingga di mana Pak Andre datang.
"Kenapa kalian menghentikan Dokter yang aku panggil."
Para penjaga yang menahan Alan, kini mulai melepaskan Alan. Agar menghadap pada
Pak Andre.
"Kamu ini dokter, yang di printahkan asistenku kan."
"Iya pak Andre."
"Ya sudah cepat ikut denganku."
Pak Andre langsung menyuruh Alan masuk ke dalam ruangan yang di mana ruangan itu ada Sarah dan juga Syakira. Alan yang melihat ruangan yang ditunjukkan Pak Andre, membuat dirinya tiba-tiba shock berat..
Alan melihat Sarah tegah tertidur di ranjang yang sudah terlihat kumuh, membuat rasa kasihan menyelimuti hati Alan.
"Pantas saja Rudi ingin menyelamatkan Sarah. Ternyata Pak Andre memperlakukan Sarah dengan begitu keji." Gumam hati Alan.
"Bagaimana, apa kamu bisa membuat dia sehat kembali?" tanya Pak Andre pada Alan, yang tengah memeriksa Sarah.
Sarah terlihat lesu, badanya begitu penuh luka cambukan. Tak ada kain yang menutupi tubuhnya sendiri.
"Ya saya. Bisa."
Ucapan Alan membuat Pak Andre yakin.
" Ya sudah saya percayakan semuanya pada kamu."
Pak Andre langsung kembali ke luar ruangan.
Sedangkan Alan dengan sigap, menghampiri Sarah.
"Alan, apakah itu kamu?" tanya Sarah, dengan wajah lesu. Alan dengan sigap memberikan kain kepada Sarah yang seakan kedinginan.
"Aku tak menyangka jika Pak Andre begitu tega. Pada kamu Sarah. Ke mana Tama?" tanya Alan.
"Tolong selamatkan kami Alan, Tama sekarang di siksa oleh Pak Andre di ruangan yang lain."
Alan mulai memakai rencananya, ia mepoto semua ruangan itu. Untuk dilaporkan pada polisi, yang di mana dirinya mempunyai teman polisi yang di percaya.
Rudi yang menunggu di luar, kini menatap layar ponselnya.
"Bagus rencana sudah di mulai."
Di dalam mobil, Rudi menahan dokter yang seharusnya masuk ke dalam rumah Pak Andre. Yang di mana Dokter itu di ikat.
@@@@@
Rudi mengirimkan poto tanda bukti pada polisi, begitu pun dengan Alan.
Dengan sigap polisi mulai datang ke tempat di mana Pak Andre berada.
Pak Andre yang tengah santai di kagetkan dengan kedatangan para polisi,
"Para polisi, kenapa ada polisi?"
Pak Andre bersiap- siap menelepon para suruhannya, untuk berjaga ketat.
Tapi sayang polisi sudah datang.
"Pak Andre anda jangan bergerak. Kami tahan."
Tiba tiba, membuat tubuh Pak Andre kaku dan mengancungkan kedua tangannya.
"Pantas saja kemarin anda menyogok pihak polisi dengan sangat besar. Agar kasus anda saat ini di hilangkan." Ucap Pak Polisi. Yang tak lain ialah sahabat Alan.
Pak Andre terdiam menahan amarah, di satu sisi lain Rudi juga datang. Membawa dokter yang di printahkan Asisten Pak Andre.
"Halo, Pak Andre apa kabar. Oh ya ini dokter yang seharunya menanganimu kan," ucap Rudi.
__ADS_1
"Jadi?"
Alan datang, di mana wajah Pak Andre begitu syok berat.
"Jadi kamu sekongkol dengan dokter ini."
Alan tersenyum, dan berkata," sudahlah Pak Andre menyerah saja. Sekarang kamu akan membekam di dalam penjara. Jadi nikmatilah."
Pak Andre, membuang ludah menatap tajam ke arah Rudi.
Kini Tama dan Sarah langsung di larikan ke rumah sakit, karna kondisi mereka yang tak memungkinkan.
Alan dan Rudi menyusul ke rumah sakit, untuk melihat keadaan Tama dan Sarah.
"Ayo kita ke rumah sakit."
@@@@@
Di dalam rumah sakit, Rudi melihat Tama tengah terbaring lemah. Tak tega, ia mulai menghampiri Tama.
Alan mendekat ke arah Rudi dan berkata," Sory Rud, Tama tidak selamat."
Deg ....
Ada rasa bersalah pada hati Rudi, niat menyelamatkan Tama dengan keadaan hidup ternyata sia-sia.
"Kamu jangan menyesali semuanya, Rudi."
Tiba tiba saja, Sarah datang dengan duduk di kursi roda. Di dorong oleh Syakira.
"Rudi, terima kasih."
"Sarah, keadaan kamu?"
"Kamu jangan menghuatirkan aku, aku baik baik saja. Berkat kamu aku masih hidup. Walau pun Tama!"
"Maafkan aku."
"Tidak kamu tidak bersalah, Rudi. Semua sudah menjadi takdir. Aku juga beruntung. Ada Syakira di sampingku sekarang."
Alan menepuk bahu Rudi." Kamu jangan menyesali semuanya. Semua sudah menjadi takdir. Kita sudah berusaha menolong dengan apa yang kita bisa."
"Iya Alan. Terima kasih, semua juga berkat pertolongan kamu."
Ami kini menunggu ke datangan sang suami, hanya ingin mendengar kabar. Bagaimana rencana menolong Tama dan juga Sarah.
Hingga pagi menjelang, Rudi dan Alan terlihat pulang.
"Akhirnya kalian pulang juga, bagaimana dengan Tama dan Sarah."
Rudi dan Alan mulai menjelaskan semuanya, Ami tak menyangka jika Tama akan mati di tangan Pak Andre.
"Jadi bagaimana keadaan Pak Andre sekarang."
Setelah kejadian penangkapan itu. Pak Andre, terpaksa di bawa ke dalam rumah sakit jiwa. Karna tak mungkin Pak Andre harus di bawa ke penjara karna keadaanya yang sudah tak memungkinkan.
@@@@@@
Kita berlajar dari cerita ini, bahwa kehidupan tidak selalu indah, sepanjang apapun perjalanan pasti selalu ada rintangan.
terkadang keegoisan dan kebencian selalu ada pada semua orang.
Tamat.
Asslamuaaliakum wr wb.
Autor mau memberitahu cerita baru yang kini di liris di Noveltoon. Yang berjudul.
_Wanita Yang Tercampakan._
jangan lupa mampir ya. Untuk para setia pembaca istriku Kumel.
__ADS_1
Jangan lupa sisipkan komen.
Karna akan ada evet pembagian pulsa untuk para pembaca. Jangan lupa ikuti buku buku autor di noveltoon.