
Lelaki bertubuh gendut itu, dibawa paksa masuk ke dalam mobil, untuk segera dijebloskan ke dalam penjara.
"Lepaskan aku bodoh," teriak lelaki bertubuh gendut itu.
Setelah sampai di kantor polisi, Delia menunjukan semua barang bukti kepada polisi.
Polisi menerima barang bukti itu semua, mereka berkata akan memeriksa rumah pelaku segera.
Luky yang mendengarnya, hanya tertawa terbahak-bahak seraya berkata." Kalian akan menyesal."
Ami yang mendengarnya bergidig ngeri.
Saat itu lah polisi akan mengamankan barang bukti dan menjebloskan ke penjara lelaki bertubuh gendut itu sementara. Karna mereka butuh penyelidikan lebih lanjut.
Delia yang mendengar itu langsung berucap," ini kan sudah jelas, barang buktinya kenapa kalian harus menyelidiki lagi."
Wanita berwajah sipit itu geram dengan polisi yang ribet dan terlalu bertele-tele.
Bagi Delia semua sudah jelas tak harus menyelidiki lebih lanjut.
Alan mengusap rambut Delia berkata dengan lembut," sabar."
Seyuman Alan tak mampu membuat Delia tenang ia malah semakin kesal, menahan kekasalan di dalam dada.
Pergi bergitu saja, Ami menyuruh Alan untuk mengejar Delia saat itu juga.
"Cepat kejar dia Alan, sekarang dia butuh kamu."
Alan berlari menghampiri istrinya itu, yang tengah terduduk melamun di kursi taman.
"Delia," panggilan Alan membuyarkan lamuna Delia. Ia terduduk di taman. Dimana tempat itu di liputi ketenangan.
"Kamu menangis," Tutur kata Alan. Membuat Delia menundukan pandangan. Rasanya ia malu menampakan kesediha dan kekesalan yang sekarang ia rasakan.
"Ayolah jangan menangis. Semua pasti akan selesai, Luky akan di jebloskan lama di penjara," ucap Alan. Mengusap perlahan rambut pendek Delia. Yang hampir menutup wajahnya. Tetap tenang menghadapi sang istri.
Delia masih saja diam bibirnya keluh tak dapat berbicara apa-apa. Ia seakan kecewa dengan penyelidikanya ya sendiri.
"Hey, bicara lah. Hidung pesek," goda Alan. membuat Delia memalingkan wajahnya. Sembari menghempaskan tangan Alan.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu pergi dulu dari sini! Aku butuh ketenangan sendiri, tidak ingin di ganggu!" jawaban Delia. Membuat Alan berhenti berbicara, ia berlalu pergi begitu saja.
Delia yang hanya bisa menatap punggung Alan pergi, dan semakin pergi menjauh dari tatapan matanya.
Pelipih matanya mengeluarkan air mata, rasanya ingin membunuh sekalian lelaki bertubuh gendut itu, ucapan yang ia lontarkan membuat dirinya semakin stres.
Bagaimana kalau polisi menyelidiki lagi, dan semua bukti Delia salah. Bisa-bisa Luky akan berbuat semena-mena. Dia lelaki bajigan yang tak tahu malu. Membalaskan dendam dengan semaunya, sampai dia berani membunuh Fairus. Benar-benar iblis Luky itu.
************************
"Hay, apa kabar," sapa seorang wanita berwajah bulat. Yang sudah berada di hadapan Delia saat itu.
Delia manatap wanita yang ada di hadapanya itu.
"Kamu, mau apa kamu ke sini. Wanita gila," hardik Delia.
"Sabar sebentar sayang. Aku hanya ingin memberitahu, bahwa Luky lebih pintar dari pada kamu. Detektif murahan," tawa itu membuat amarah Delia semakin memucak. Wanita berwajah bulat itu. Seakan membuat Delia ingin sekali memukul wajahnya.
"Kamu, awas saja. Kamu juga akan aku jebloskan ke kantor polisi, tentang kasus pembunuhan Andi suami mu sendiri. Sekarang memang aku tidak punya bukti kuat. Suatu saat kamu akan menyesal," ucap Delia berlalu pergi meninggalkan Sisi yang tertohok kaget.
"Maksud kamu Andi?" tanya wanita berwajah bulat itu. Delia baru ingat karna Sisi itu hilang ingatan. Wanita berwajah bulat itu lupa tentang masa lalu nya.
"Harusnya kamu cari tahu dulu diri kamu. Sebelum kamu, membalaskan dendam orang lain! Bukanya kamu juga mempunyai kehidupan yang malang," ucap Delia. Sisi yang mendengarnya seakan bingung. Ia terus mengigat masa lalunya, membuat kepalanya seakan pusing.
Yang dia ingat adalah penyiksaan dimana dia disiksa di penjara.
Delia langsung pergi begitu saja, menghiraukan wanita berwajah bulat itu yang tengah kesakitan memengang kepalanya sendiri.
Delia sudah menyelidiki semuanya, banyak kasus tentang Sisi yang belum terpecahkan.
***********
"Delia," panggil Ami menghampiri dirinya.
Alan yang hanya duduk dan tak berkata sedikit pun, membuat Delia seakan merasa bersalah. Karna dia telah mengusir Alan begitu saja, padahal Alan begitu baik. Dia lelaki sabar dan lembut. Tapi entah kenapa Delia seakan susah menumbuhkan rasa cintanya.
Maafkan aku Alan, mungkin aku belum bisa mencintai kamu sekarang. Rasanya seakan susah, aku terlalu egois, gumam Delia menatap Alan yang menyender pada dingding.
Pak Hendra langsung menyuruh semua untuk pulang, dan beristirahat di rumah. Karna polisi telah mengamankan semuanya. Barang bukti dan juga Luky.
__ADS_1
Rudi dan Ami menghelap nafas. Sedikit terasa lega. Walau belum sepenuhnya.
Sesaat di dalam mobil hening tak ada topik pembicaraan. Melihat Delia dan Alan hanya terdiam, wajah mereka saling membuang muka menatap ke arah jendala masing-masing.
Ami hanya heran melihat tingkah mereka, bukankah tadi mereka saling bercanda, kenapa? berubah menjadi saling diam. Ada apa dengan mereka?
Rudi memengang erat tangan istrinya seraya berbisik," anak ayam lagi berantem."
Sontak Ami tertawa mendengar Rudi berkata seperti itu, membuat Alan dan Delia menatap ke arah belakang.
"Mba Ami ini aneh, tiba-tiba ketawa sendri?" tanya Alan.
Ami langsung menutup mulutnya sendiri. Rudi berbisik dalam hati. Mereka masih berada pase di mana, cinta belum tumbuh seutuhnya.
************
Setelah sampai di rumah.
Apa yang mereka rasakan benar-benar menguras tenaga, Delia langsung mandi. Begitu pun Alan yang menunggu. Bergantian untuk mandi.
Tanpa sengaja, Delia lupa membawa handuknya, dengan terpaksa ia menyuruh suaminya itu untuk mengambilkan handuk untuknya.
"Al, bisa ambilkan haduk tidak," panggil Delia membuat Alan terseyum tipis. Ada rasa usil menghantui pikiranya.
"Ya." tawa kecil Alan saat itu.
Alan menyodorkan handuk itu ke Delia hanya tanganya yang meraba-raba. Mengambil handuk itu, Alan yang sengaja menjauhi handuk itu membuat Delia harus merainya sampai jauh.
Dan Brug, Aw.
Delia terjatuh tanpa kain sehelai pun yang melekat pada tubuhnya. Alan menghampiri Delia dan ...,
Plak ... satu pukulan menghantam pipi kiri Alan hingga memarah. Delia menarik handuk yang berada di tangan Alan saat itu, menutupi pada tubuhnya sendiri.
"Kita ini suami istri Delia apa salahnya?" tanya Alan."
"Pergi kamu dari sini aku mau pake baju," teriak Delia memarahi Alan.
Alan mengusap kasar wajahnya. Entah begitu susahnya merasakan malam pertama bersama istri sahnya Delia. gumam hati Alan
__ADS_1
Delia yang melihat pada punggung Alan dia berbisik dalam hati." Aku belum siap."