Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 114


__ADS_3

Setelah Bu Ira sampai di rumah Rafa, wanita tua itu turun dari mobil taksi dengan raut wajah kesalnya.


Kedua tangannya mengepal, dalam hatinya ia tak sabar sekali ingin menghajar lelaki yang sudah membuat masa depan anaknya hancur.


Sedangkan Rudi masih duduk di mobil, memperhatikan Bu Ira dari kejauhan. Rudi tak berani mendekat karna takut jika Bu Ira akan bertindak ceroboh.


Menarik nafas kasarnya. Rudi mulai turun dari dalam mobil setelah Bu Ira mengetuk pintu rumah Rafa.


Bu Ira sudah beberapa kali mengetuk pintu rumah Rafa, tapi tidak ada orang yang membuka pintu. Pada akhrinya, Bu Ira menunggu beberapa menit, sampai mobil berwarna hitam berhenti di rumah Rafa.


Seseorang keluar dari mobil berwarna hitam dengan mengenakan jas berwarna silver dan sepatu putihnya. Ia mengenakan kaca mata, menatap tajam kaarah Bu Ira dan terseyum lebar.


Bu Ira yang menunggu dari tadi langsung menghampiri lelaki bernama Rafa itu.


"Wah, ternyata ada Ibunya Arsyla. Calon mertuaku."


Rafa mulai meraih tangan Bu Ira, lelaki berparas tampan itu berharap bisa mencium punggung tangan Bu Ira. Tapi ternyata, Bu Ira malah menghepaskan tangan Rafa. Membuat Rafa terseyum kecut.


"Tumben, Ibu datang ke sini?" Dengan melepaskan kaca mata. Rafa bertanya pada Bu Ira, tapi Bu Ira seakan mengabaikan pertayaan Rafa.


"Gimana kalau kita masuk ke dalam rumah."


Lelaki berambut keriting itu mengajak Bu Ira masuk ke dalam rumah. Rafa bertingkah sopan pada Bu Ira.


Namun, dengan nada kesalnya Bu Ira langsung masuk ke dalam rumah Rafa.


Sedangkan Rudi yang masih mengintip dari jauhan. Mulai berani melangkah kan kakinya ke halaman rumah Rafa.


Dengan langkah kaki pelan Rudi mulai menghampiri rumah Rafa saat itu. Ada rasa kuatir pada hati Rudi, karna Bu Ira sudah masuk ke rumah Rafa.


Dalam hati Rudi berharap Bu Ira tidak kenapa-napa.


"Maaf, pak mau cari siapa ya?" tanya satpam yang tiba-tiba datang menghampiri Rudi.


"Saya ingin bertemu dengan, Rafa!" jawab Rudi. Bersikap tenang.


"Ya, sudah silahkan."


Untung saja satpam di rumah Rafa, tidak beringas dengan leluasanya Rudi berjalan menuju abang pintu.


Sedangkan di dalam rumah Rafa.


"Oh, ya. Calon mertuaku, mau minum apa?" tanya Rafa pada Bu Ira. Raut wajah Bu Ira masih terlihat datar.

__ADS_1


"Terserah, asal jangan racun!" jawab ketus Bu Ira.


Rafa yang mendengar perkataan Bu Ira langsung membulatkan kedua matanya. Mendengar Bu ira yang berkata ketus kepadanya.


Rafa tertawa pelan seraya menjawab," mana mungkin. Aku akan memberikan racun pada calon mertuaku."


"Mungkin kamu berkata seperti itu sekarang, tapi nanti bisa saja kamu menaruh racun diminumanku, untuk membunuh dan menyingkirkanku," balas ketus Bu Ira.


Wanita tua itu langsung menatap tajam ke arah Rafa, hatinya benar-benar sudah memendam rasa kesal dan dendam.


"Haduh, Ibu mertuaku ngomong apa? Sudahlah sekarang sebaiknya ibu duduk di sofa. Biar aku panggil pembantu di rumah ini untuk mengambilkan minum," ucap Rafa. Terseyum ramah.


Lelaki berambut keriting itu, mulai memanggil pembantu dan menyuruh pembantu untuk membawakan minuman untuk tamunya. Yang tak lain adalah Bu Ira.


Sedangkan Bu Ira langsung duduk di sofa menatap ke sana kemari, melihat ruangan rumah Rafa yang terlihat begitu mewah.


Rafa langsung duduk berhadapan dengan Bu Ira.


"Rafa, apa maksud kamu membuat masa depan anakku hancur?"


Pertanyaan Bu Ira, membuat Rafa terseyum kecil. Ia menjawab dengan sopannya." Tidak ada yang membuat masa depan anak ibu hancur? Aku hanya ingin membuat anak ibu bahagia!"


Bu Ira yang mendengar perkataan Rafa langsung membuang muka seraya menjawab," jika kamu mau membahagiakan anakku, bukan dengan cara memaksa."


"Tapi, tidak dengan cara seperti itu, Rafa." Hardik Bu Ira.


Bu Ira yang tidak suka dengan perkataan Rafa, ia berdiri sembari menujuk-nujuk wajah Rafa dengan jari tangannya seraya membentak Rafa." Kamu lelaki tidak tahu diri, beraninya kamu membuat masa depan anakku hancur.


Rafa mulai berani membentak Bu Ira," oke. Semua kesalahanku, karna aku telah menghancurkan masa depan Arsyla anak , ibu. Tapi aku akan tanggung jawab dan menikahi Arsyla hari ini juga."


Plakkk ....


Tamparan melayang pada pipi kiri Rafa, membuat lelaki berambut keriting itu membuang ludah.


"Segampang itu mulut kamu berkata, Rafa?" Cecar Bu Ira.


Rafa menahan kekesalannya, karna ia tahu bahwa Bu Ira adalah wanita tua yang harus dia hargai.


"Dulu, kamu ini anak baik, tak pernah jahat apalagi membuat Arsyla terluka," hardik Bu Ira.


Tak kuat dengan perkataan Bu Ira, Rafa langsung menempelkan satu pistol pada jidat Bu Ira.


"Bisakah mulut ibu, untuk diam sejenak. Aku tahu ibu kesal. Tapi tidak harus menamparku segala."

__ADS_1


Pistol itu sudah menempel pada jidat Bu Ira. Dimana sekali Rafa menekan pistol itu. Nyawa Bu Ira melayang pada tangannya.


"Tembak Ibu, Rafa." Ucap Bu Ira.


Amarah pada diri Rafa begitu menggebu ia berteriak pada Bu Ira," aku seperti ini karna anak ibu. Dia dari dulu hanya memanfaakanku untuk meminjam uang, dengan selalu memberi harapan. Tapi nyatanya saat aku mengatakan kata tulus, dia seakan mengabaikan semua ketulusanku."


Deg ....


Hati Bu Ira seketika ragu, saat pisau mulai ia ambil dari dalam tasnya.


Lelaki berambut keriting itu menangis, seraya berkata,"


Apa ibu akan terluka, jika cinta ibu tidak di hargai. Jika ketulusan ibu dijadikan sampah."


Bu Ira menundukan pandangan, wanita tua itu seakan merasa bersalah karna gagal mendidik anaknya.


"Tapi tidak dengan cara kamu harus menghancurkan masa depan Arsyla, Rafa."


" Harus dengan cara seperti apa lagi, Bu? Rafa tanya sama ibu, Arsyla tidak akan pernah berubah selama keinginannya terpenuhi. Tapi ketika kehidupannya hancur baru setelah ini Arsyla berubah?"


Bu Ira terdiam pilu tak mampu melawan perkataan Rafa saat itu, tangannya yang sudah berencana membunuh lelaki yang telah merusak masa depan anaknya. Kini hilang seketika karna perkataan Rafa.


"Kenapa ibu diam?"


Sedangkan di luar Rudi masih berdiri, ia tak tahu apa yang terjadi dengan Bu Ira di dalam rumah.


Tiba-tiba Arpan dan Arsyla datang.


"Ibu, dimana?" tanya Arsyla.


"Ibu ada di dalam, Arsyla!" jawab Rudi.


Arsyla yang takut dengan ibunya kenapa-napa, ia langsung membuka pintu rumah Rafa.


Sedangkan Arpan menahan Arsyla.


"Tunggu Arsyla."


Dan Brug ....


Arsyla melihat pemandangan dimana pistol menempel pada jidat ibunya.


"Apa yang kamu lakukan, Rafa?"

__ADS_1


Rafa terseyum, seraya berkata." Waw, ada kekasihku datang?"


__ADS_2