
@
Simbok yang baru saja menyadari jika suaminya berada di dalam dapur, membuat dia langsung menghampiri sang suami dan menepuk pundaknya.
“Bapak, kenapa ada di sini?”
Tanya Simbok, namun suaminya itu mengabaikan ucapan sang istri. Kedua matanya begitu fokus melirik tubuh Sarah yang tengah duduk.
“Bapak?”
“Bapak?”
Berulang kali simbok memanggil suaminya yang, terdiam. Membuat lelaki itu seketika mengamuk,” Ada apa sih.”
Sarah yang begitu menikmati hidangan yang dibuatkan oleh si mbok, saat itulah menatap kearah suami istri yang tengah bertengkar. Membuat Sarah mengurutkan dahinya,” kenapa dengan mereka?”
Sarah langsung mendekat menghampiri mereka berdua, di mana pertengkaran itu terus berlanjut, membuat Sarah berteriak.
” Stop.”
Pertengkaran kedua suami istri itu, seketika terhenti karna teriakan yang Sarah lontarkan begitu terdengar keras. Membuat mereka terdiam seketika.
Apalagi dengan suami si mbok, kedua mata suaminya memerah. Menahan setiap amarah yang terus menggebu-gebu pada hatinya, tangannya seakan gatal ingin menampar pipi istrinya sendiri.
“Jika tidak ada wanita cantik itu, mungkin aku sudah menampar istri peotku ini.” Gerutu suami si mbok, mengepalkan kedua tangannya. Beranjak pergi dari hadapan Sarah dan istrinya.
Si mbok terlihat kesal dengan tatapan suaminya, dadanya naik turun, naik turun emosinya benar-benar tak terkendali.
Kini Sarah, memegang kedua bahu Si mbok dan berkata,” si mbok baik-baik saja kan?”
Saat pertanyaan terlontar dari mulut sarah, pada saat itulah hati simbok sedikit tenang. Wanita tua itu mengusap pelan dadanya, menghembuskan napas. Menatap kearah sarah, tersenyum kecil.
“ si mbok baik-baik saja kok, Non!” jawab Si mbok, mulai berpamitan untuk membereskan dapur yang begitu berantakan.
Saat itulah Sarah mulai, bergegas kembali ke meja makan. Untuk menghabiskan makanannya yang masih tersisa di atas piring, kini perut Sarah terasa sanggatlah lega. Ia tak kelaparan seperti tadi.
Sarah masih melihat simbok yang sibuk dengan pekerjaannya di dapur, membuat ia ingin sekali merebahkan tubuhnya.
Namun, dirinya sanggatlah bingung, kamar mana yang harus ia tempati. Karna semua tampaklah kumuh dan tak terlihat nyaman.
“Di mana kamarku.” Ucap Sarah pelan, saat itulah ia kembali menemui si mbok yang berada di dapur.
__ADS_1
Baru saja melangkahkan kaki untuk menemui si mbok, tangan tua suami si mbok tiba-tiba meraih tangan Sarah. Membuat Sarah berhenti melangkah dan menatap ke arah lelaki tua itu.
“Mau ke mana, nak?” tanya lelaki tua itu.
“Saya mau menemui si mbok!” Jawab Sarah, yang tak mencurigai gerak gerik lelaki tua itu yang sedikit terlihat genit kepadanya.
“Untuk?” tanya lelaki tua yang menjadi suami si mbok.
“Menanyakan tempat tidurku, pak!” jawab Sarah.
Lelaki tua itu, tersenyum kecil. Hatinya sudah berpikir yang tidak-tidak, ia menjawab dengan ramah kepada Sarah.
“Tadi si mbok bilang. Kamar kamu di belah sini,” ucap lelaki tua itu. Menunjuk kamar yang ia khususkan untuk Sarah.
“Oh, ya sudah. Terima kasih, Pak,” balas Sarah. Memasuki kamar itu.
Lelaki tua itu hanya tersenyum senang, dengan apa yang ia lakukan dan berucap dalam hati,” kesempatan emas.”
Si mbok yang berkeringat, mengusap keningnya. Bajunya basah bekas mencuci piring yang menumpuk. Belum lagi membereskan dapur yang begitu berantakan. Si mbok kini bekerja di rumah tetangganya yang kaya raya, semenjak ke luar dari pekerjaan rumah Sarah.
Si Mbok jarang sekali ada di rumah, karna waktunya bekerja sanggatlah padat. Dari jam 6 pagi hingga 9 malam, dan waktunya di rumah hanya hari minggu saja.
Kedua anak- anak nya yang sudah besar, seakan tak mempedulikan nasib si mbok ibunya sendiri. Mereka sibuk dengan kehidupan masing-masing.
Saat mencari keberadaan Sarah, membuat si mbok kaget. Karna Sarah sudah tidak ada, hanya ada bekas piring makannya saja.
“Nona, loh. Ke mana dia, tadi masih ada di sini?”
Si mbok yang sedikit panik, mulai mencari keberadaan Sarah. Ia takut Sarah ke luar dari rumah dan di ketahui banyak orang, karna sekarang Sarah adalah buronan polisi.
“Nona.”
“Nona.”
Panggil Si mbok beberapa kali, ke ruang tengah. Tiba- tiba sang suami menarik tangan istrinya. Masuk ke dalam kamar dengan membekam mulutnya.
“Bapak.” Tangan sang suami di hempaskan begitu saja.
Lelaki tua itu hanya menempelkan telunjuk jari tangannya pada bibir,” hus. Kamu bisa diam tidak.” Cetus sang suami.
“Bapak ini apa-apaan sih,” ucap Si mbok.
__ADS_1
“Wanita cantik itu sekarang lagi tidur, kasihan dia,” gerutu sang suami.
Si mbok memukul kepala suaminya dengan berkata,” Wanita cantik, dia itu Nona Sarah. Bekas majikanku dulu, bapak jangan coba-coba berani membuat dia ketakutan.”
Lelaki tua itu hanya mengusap pelan dagunya dan menjawab,” ketakutan apa ya. Aku hanya tak tega saja melihat dia.”
Si mbok hanya mendelik kesal, sejak kapan suaminya itu begitu perhatian pada Sarah. Membuat ia sedikit curiga.
“Bapak jangan coba- coba sentuh dia sedikit pun.” Balas si mbok. Menunjuk jari tangannya ke arah wajah suaminya.
Lelaki tua yang menjadi suaminya itu hanya, mengerutkan dahi dan pergi begitu saja.
Si mbok berharap jika Sarah berada di rumahnya aman, karna yang ia kuatirkan bukanlah polisi saja, tapi suaminya yang terlihat mencurigakan.
“Mudah-mudahan hanya pikiran jelekku saja.” Gumam hati Si mbok.
Si mbok berjalan ke kamar sebelah, untuk menemui keberadaan Sarah, saat sampai di kamar sebelah yang sedikit terbuka pintunya.
Kini Si mbok, melihat Sarah tengah fokus melihat laptopnya.
Wanita tua itu masuk dan berucap,” apa nona membutuhkan sesuatu.”
Sarah duduk menjawab pertanyaan wanita tua itu dengan senyuman,” sudahlah mbok, jangan memperlakukan aku seperti tuan ratu. Aku di sini hanya numpang.”
“Tapi non ....”
“Panggil saja aku Sarah, jangan non.”
“Baiklah.”
Saat itulah si mbok berpamitan kembali, untuk pergi ke luar sekedar berbelanja kebutuhan dapur.
Sarah hanya menganggukkan kepala.
Di dalam kamar, Sarah dengan fokusnya mengedit video yang rencananya ia akan kirimkan segera mungkin.
Tak lupa dengan senyuman kecil di bibirnya, ia berucap,” rencana akan terus berlanjut.”
Namun, suami Si mbok terus memperhatikan Sarah di dalam lubang yang terhubung dengan kamarnya. Yang sengaja lelaki tua itu buat, kedua matanya tak henti menatap ke elokan tubuh Sarah yang aduhai. Membuat air liur lelaki tua itu menetes.
"Aku harus mencicipi dia," ucap Lelaki tua itu. Menutup kembali lubang kecil dengan tempelan poto.
__ADS_1