
Di dalam ruangan Arsyla terus tersenyum bahagia, membayangkan jika Rudi dan Ami akan bertengkar hebat," rasanya aku tak sabar sekali, melihat mereka berpisah
Senangnya."
Arsyla, sudah membayangkan dirinya akan menikah dengan lelaki mapan lembut dan baik hati. Entah kenapa Arsyla begitu terobsesi dengan lelaki yang sudah beristri, padahal ada seorang lelaki yang tulus mencintainya, yang tak lain ialah Rafa. Lelaki mapan tampan dan juga bertanggung jawab.
Namun seketika lamunan Arsyila membuyar, ketukan pintu terdengar dari ruangannya. Ia mempersilahkan orang itu untuk masuk ke dalam ruangannya. Orang itu adalah Rudi, Arsyla langsung menampilkan senyuman dari bibir tipisnya. Begitu pun dengan Rudi, lelaki ramah dan baik hati, tapi kebiakan dan keramahannya kadang disalah arti oleh setiap gadis yang baru mengenal dirinya.
"Mas Rudi sendirian aja, ke mana Mbak Ami nya?" tanya Arsyla dengan perasaan bahagia. Dan berpikir bahwa Ami pasti akan marah besar dan Rudi akan menemani dirinya di dalam rumah sakit. Sehingga Arsyla bisa mendekati Rudi dengan gampangnya.
Baru pikiran Arsyla senang, tiba-tiba seseorang datang menyusul dari balik pintu luar. Ternyata pikiran Arsyla tidak sesuai dengan harapannya, Ami muncul dengan menampilkan wajah manisnya.
"Kamu cari aku," ucap Ami Arsyla tanpa sok berat, ia tak menyangka jika Rudi akan membawa istrinya ke dalam ruangannya.
Arsyla hanya bisa bergumam dalam hati dengan rasa kesal," Kenapa wanita itu harus ikut ke dalam ruangan ini, harusnya dia itu pergi begitu saja dan aku bisa dekat dengan mas Rudi. Sial, rencanaku gagal. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Mas Rudi dan Mbak Ami tidak saling bermusuhan?"
Ami mulai mendekat dengan berpura-pura sok manis, perlahan berjalan mendekati Arsyla," pastilah kamu belum makan, ya. Mau aku beliin bubur. Buat makan siang?" Tanya Ami, mengusap lembut pipi Arsyla.
Namun tiba-tiba Arsyla malah berpura-pura batuk, untuk menghindari Ami yang duduk dekat dengan dirinya.
"Ya ampun, Arsyla kamu batuk, ini minum cepat." Baru saja Ami menyodorkan sebuah gelas berisi air penuh, membantu Arsyla untuk minum. Seketika Ami menekan gelas itu, membuat baju Arsyla basah kuyup karena air yang tengah ia minum tumpah pada bajunya.
Rudi begitu panik, ia langsung berucap." Ya ampun Arsyla, baju kamu basah. Ya sudah, mas akan panggilkan dulu suster untuk membawa baju baru padamu. Biar nanti Ami membantu kamu memakaikan baju."
Arsyila seakan merasakan rasa takut, ia mulai memanggil Rudi yang berlari ke arah pintu luar. "Mas, Mas Rudi, tunggu."
Saat itulah Ami tersenyum kecil menekan kedua pipi Arsyla.
"Heh, ngapain kamu panggil-panggil suamiku," hardik Ami. Sedikit menekan keras kedua pipi Arsyla.
"Lepaskan aku, kalau tidak aku akan berteriak," ucap Arsyla. Meringis kesakitan, kedua matanya tampak sayu.
"Silahkan teriak saja. Karna semakin kamu berteriak, semakin kamu akan merasakan rasa sakit yang amat luar biasa," balas Ami. Dengan sebuah acaman kecil.
__ADS_1
Kedua mata Arsyla, mulai mengeluarkan air mata, Ami yang merasa kasian langsung melepaskan cengkraman tangan yang mencekram kedua pipi Arsyla.
"Segitu juga sudah cengeng, eh. Wanita polos sok lugu. Kalau hamil itu jangan ngaku-ngaku bahwa anak dalam kandunganmu itu anak Mas Rudi. Memangnya suamiku mau ngehamilin wanita macam sampah kaya kamu," ucap Ami. Tak segan-segan membuat Arsyla terdiam pilu.
Wanita berhidung mancung itu hanya mengepalkan kedua tangannya, bergumam dalam hati," aku kira sifat yang lemah akan selalu melekat pada diri wanita bernama Ami itu, tapi ternyata aku salah. Saat dia hilang ingatan yang melekat pada dirinya adalah sifat kejamnya."
Ami melipatkan kedua tangannya menatap ke arah Arsyla, dengan tatapan menusuk.
"Anak kecil kaya kamu sudah mau belajar jadi pelakor, tak malu apa kamu ini."
Arsyla hanya bisa menahan amarahnya yang semakin mengebu-gebu, dirinya seakan tak tahan lagi dengan ucapan Ami. Sampai dimana perkataan kesalnya terlontar terang-terangan.
"Aku ini bukan wanita yang kamu ucapakan, aku hanya ingin mendapatkan belaian dari lelaki yang aku sukai," teriak Arsyla.
Ami malah menampar Arsyla yang ke dua kalinya, dan berkata." Sekali lagi kamu berkata seperti itu, aku tidak akan membuat kamu tenang. Ingat itu."
Deg ....
"Arsyla, Ami."
Ami mulai berpura-pura sok manis di depan Rudi, untuk memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik dengan Arsyla.
"Oh ya. Arsyla, ini baju baru untuk kamu pakai," ucap Rudi. Menyodorkan pada Arsyla, dengan sigap Ami mengambil baju yang berada pada tangan suaminya.
"Sini mas, biar aku saja yang memakaikan baju untuk Arsyla," timpal Ami. Arsyla, memperlihatkan wajah kekuatirannya, ia tak ingin jika Ami membantu dirinya untuk memakai baju.
"Sudah, Mbak Ami jangan repot-repot bantu Arsyla. Arsyla bisa sendiri ko," ucap Arsyla. Menampilkan wajah manisnya.
Rudi bernafas lega, tidak ada yang perlu di kuatirkan, karna Arsyla dan Ami tampak akur.
"Tak apa-apa. Mbak sangat senang bisa bantu kamu, apalagi kamu sudah mbak anggap adik sendiri," ucap Ami lembut.
Arsyla semakin menentang, tapi Ami terus memaksa. Hingga akhinya Arsyla mau menuruti perkataan Ami.
__ADS_1
Di dalam toilet, Ami terseyum senang.
"Kamu takut, Arsyla."
Arsyla hanya menatap pada kaca, begitupun Ami dengan seyuman yang tak pernah dibanyangkan Arsyla.
Jika wanita yang di hadapinya bukan wanita yang lemah, " hey, kamu diam terus dari tadi. Kenapa? Enggak senang jika aku yang membantu kamu?"
Pertanyaan Ami membuat Arsyla menelan luda." cup, cup. Kamu harus terbiasa denganku, apalagi Mas Rudi menyuruh kamu untuk tinggal di rumah, setelah ke luargamu datang menjemput."
Arsyla membulatkan kedua mata dan berucap pelan," keluargaku."
"Sudahlah jangan sok polos. Kamu kabur kan?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa urusannya denganmu jika aku kabur."
"Memang tidak ada urusan denganku, tapi kamu bagaikan musibah di keluargaku. Ingat itu!"
"Hahah."
"Kenapa kamu tertawa."
"Kamu tidak akan takut jika aku tinggal di rumahmu sementara."
"Hey, aku tidak akan takut yakin. Cuman saja kamu yang harus bersiap-siap merasakan hal yang tak terduga."
Ami benar-benar santai menanggapi ucapan Arsyla, ia tak akan takut dengan bocah tengil yang akan menggangu kehidupannya.
Ketukan pintu terdengar dari luar, Ami dan Arsyla terlalu lama mengobrol hingga Rudi mengetuk pintu kamar mandi.
Rudi seakan kuatir, jika Ami dan Arsyla akan bertengkar.
Ami telah selesai menganti pakaian Arsyla, walau sebenarnya dia malas. Tapi bagaimana lagi, Arsyla masih tidak sanggup berjalan dan tubuhnya masih lemah. Ia masih butuh bantuan, dan untuk berjalanpun memakai kursi roda.
__ADS_1
Setelah selesai, Ami mulai menampilkan diri di depan Rudi, dengan mendorong kursi roda Arsyla.