
Sisi mulai memojokkan Sarah, untuk pergi dari kantor. Dengan mengatakan segala hal, sehingga Sarah sudah yakin dengan ke ingin nannya.
“Kalau saranku sih, memang bagus kalau kamu mau mengubah diri dengan tampilan dan wajahmu. Hanya saja kamu akan menyia- menyiakan pekerjaan di sini.”
Sarah menatap ke arah Sisi, ia menjawab perkataan Sisi dengan tekad yang kuat,” tidak ada yang sia-sia. Ini kesempatanku, karna kemarin saat metting aku di tawari bekerja di kantor Pak Anton.”
“Pak Anton itu kan kelian Pak Hendra yang di percaya, kamu mau bersama dia. Hati-hati loh dia itu tua bangka yang sedikit kurang ajar.”
Sisi dengan tenangnya membuat sebuah nasehat, agar Sarah begitu simpati kepada dirinya.
“Sudah aku putuskan Si, aku akan pergi dari kantor ini. Dan bekerja di kantor Pak Anton, di luar kota.”
“Sarah, sebenarnya aku tak mengizinkan kamu seperti ini. Takut jika nanti kamu menjadi istri ke dua lelaki tua bangka itu.”
“Terima kasih atas perhatianmu, Si. Aku ternyata salah menilai dirimu. Kamu itu orang baik, kamu tenang saja. Ini adalah rencanaku untuk membuat Rudi menyesal dan juga Ami. Akanku ubah diriku menjadi lebih baik lagi, begitu pun dengan penampilanku yang sekarang. Setelah itu aku akan datang menghancurkan Ami, seperti dia menghancurkan hati dan hidupku sekarang.”
Sisi tersenyum senang, tak menyangka jika Sarah semarah itu. Ia sangat bangga pada dirinya karna telah membuat kedua sahabat menjadi musuh.
Sisi memegang bahu Sarah dan berkata,” kalau itu ke putusanmu aku hargai.”
Sarah, mengepal kedua tangannya, terus melayangkan sebuah ancaman untuk Ami di dalam hati. Ia sudah bertekad ikut dengan Pak Anton yang menawarkan gaji begitu menggiurkan, membuat dirinya bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan juga kebutuhan pisiknya.
Karna selama bekerja di kantor Pak Hendra, dia tak bisa mengatur uang untuk dirinya sendiri mengurus diri. Semua uang hanya cukup untuk kebutuhan ibu dan adik-adiknya, belum lagi Sarah tidak mempunyai rumah dia mengontrak.
Tapi jika ikut dengan Pak Anton, lelaki tua itu akan memberikan sebuah fasilitas mewah dan juga kebutuhan keluarganya.
Sedangkan Sisi hanya mengumpal dia dalam hati, “ bodoh. Kamu dapat gaji besar dari Pak Anton, pasti lelaki tua itu ada maksud tertentu. Sarah malangnya nasibmu.”
@@@@@
Pagi hari .....
Wajah Sarah terlihat muram, kedua matanya bengkak. Sisi mulai mendekat ke arah Sarah dan bertanya.
“Kamu kenapa, Sar?”
“Enggak kenapa- napa. Hanya perasaan kamu saja!”
Jam sudah menujukan jam kantor untuk bekerja, di mana saatnya Sarah bergegas meminta izin mengundurkan diri pada Pak Hendra.
Gadis sederhana itu mulai mengetuk pintu, ruangan Pak Hendra.
Tok .... Tok .... Tok ...
__ADS_1
Tiga kali ketukan pada akhirnya Pak Hendra menyuruh untuk masuk.
“Silakan masuk.”
Sarah masuk dalam ke adaan yang terlihat berantakan, ia menemui Pak Hendra memberikan lembaran surat pengunduran diri.
“Apa ini, Sarah.”
Pak Hendra langsung membaca surat pengunduran diri dari Sarah, membuat dirinya sedikit syok.
“Kenapa tiba-tiba.”
Sarah hanya berucap pelan,” maafkan saya.”
“Karna saya tak bisa memaksa untuk kamu tetap bekerja di sini. Ya sudah harus bagaimana lagi, padahal pekerjaan kamu di sini sangat di butuhkah, semenjak Ami keluar dari kantor ini.”
Perkataan Pak Hendra membuat dirinya kesal, saat membahas tentang nama Ami. Ia seakan mengepalkan kedua tangannya, tak suka jika mendengar pujian. Dimana pujian itu ada nama Ami segala.
“Baik pak, terima kasih atas pujian nya.”
Saat itulah Pak Hendra menandatangani surat pengunduran diri Sarah, walau dengan perasaan sedikit terpaksa.
Setelah mendapatkan surat pengunduran diri, Sarah bergegas kembali ke meja kerjanya. Ia membereskan semua barangnya.
Saat Sarah membereskan barangnya, Rudi datang menghampiri Sarah dengan wajah terlihat menyesal.
“Sarah.”
Suara itu membuat Sarah tak berani melirik Rudi, ia sudah sakit hati dengan penghinaan yang Rudi lontarkan pada dirinya.
“Sarah, untuk kejadian kemarin. Saya minta maaf.”
DEG ....
Kata maaf yang terlontar dari hati Rudi sedikit membuat hati Sarah luruh, tapi ....
“Jika kamu tidak memaafkanku, Ami tidak akan mau berbicara padaku.”
Saat sebutan nama Ami itu, terlontar dari mulut Rudi. Seketika Sarah menjadi emosi kembali, dalam hati ia menggerutu kesal. Ami lagi, apa sih sepesial Ami di mata si Rudi.
“Sarah.”
__ADS_1
"Aku sudah maafin kamu Rudi, jadi cepat pergi dari sini. Aku sibuk."
"Terima kasih, Sarah."
Tanpa di sadari Rudi memegang kedua tangan Sarah, tersenyum di hadapan wajahnya, membuat kedua pipi Sarah memerah.
Pada saat itu Sarah mulai merasa takut kehilangan Rudi.
Ia ingin sekali memeliki hati Rudi, tapi Ami.
Kekesalannya masih terasa saat ia mengigat nama Ami.
Rudi pergi dengan wajah terlihat gembira, ia mulai melakukan aktipitas yang harus ia jalani di depan komputer.
Karna keinginan Ami sudah terpenuhi, keinginan sang istri yang tengah hamil. Dengan terpaksa Rudi turuti, walau sebenarnya hatinya tak ingin.
Rudi terlihat tak suka dengan Sarah, karna perlakuannya yang kemarin.
Sisi mendekat berpura-pura menampilkan wajah sedihnya.
"Sarah, aku enggak menyangka kamu akan pergi secepat ini."
"Sisi, ini sudah menjadi keputusanku, sudah kamu jangan sedih."
" tapi hanya kamu temanku, satu-satunya yang selalu mengerti aku di saat sedih."
" Nanti kalau aku sudah berada di kantor Baruku. nanti kita saling ngabarin."
Sisi menganggukan kepala, memeluk tubuh Sarah dengan rasa jijik yang terbayangkan pada kepalanya.
Pak Hendra yang berjalan menyiapkan gaji pokok dan gaji lainnya kepada Sarah.
Rudi yang merasa heran, langsung melihat kenapa orang-orang tengah mengumpul di hadapan Sarah.
"Tuh, liat Rud, si cewek cupu itu mu pergi jauh."
"Maksud lu sarah."
"Ya lah. Masa lu pura-pura buta. Sarah kan terlihat cupu dan tak mengairahkan di depan para lelaki."
"Hus, lu ngomong apa. Bagaimana pun kita harus menghargai dia, dia kan satu kantor dengan kita."
"Alah jangan sok baik lu Rud, lu juga enggak mau kan kalau berdekatan dengan Si Sarah itu."
"Biasa aja."
"Hah lu enggak tahu sih, nih gue punya rekaman Si Sarah itu suka sama lu."
"Ih ajrit mana mungkin, gue kan udah beristri."
"Tunggu. Masksud lu."
Rudi mengusap kasar wajahnya, dia baru sadar orang-orang di kantor belum mengetahui bahwa dirinya sudah menikah dengan Ami.
"Gue bukan bujangan sudah beristri."
Sang sahabat menepuk bahu Rudi dan berkata," jangan bercanda lu."
"Tanya saja sama Pak Hendra bos lu, siapa istri gue."
Saat itu Sarah mendekat ke arah Rudi, memberikan surat pada Rudi secara tiba-tiba. Entah apa isi surat itu.
"Ini untuk kamu, Rudi."
Rudi mengerutkan dahi, ia menerima surat itu dan menaruhnya di atas meja.
__ADS_1