Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 60 Apa yang di lakukan Pak Hendra


__ADS_3

Mata wanita berwajah bulat itu terbuka lebar. Melihat lelaki di sampingnya adalah Pak Hendra yang tengah terseyum. Tubuhnya terasa lemas, dengan sekuat tenanga membangunkan tubuhnya, terasa berat, seakan susah untuk di gerakan, ternyata tubuh wanita berwajah bulat itu di ikat.


"Lepaskan aku, dasar tua bangka tak tahu diri," teriak wanita yang terbaring lemah di atas ranjang. Tubuhnya di ikat bagaikan tawanan. Seketika Rahangnya mengeras, mengepalkan kedua tanganya, ia seakan ingin membunuh lelaki yang tega mepelakukannya seperti tawanan.


Tua bangka yang tak lain adalah Pak Hendra, ia terduduk di sisi ranjang, menatap kearah wanita yang terikat tubuhnya. Oleh dirinya.


Terseyum penuh kepuasan, menatap, mendekat ke arah wajah wanita yang terbaring itu, seraya berkata." tenang saja sebentar lagi kita akan menikah."


Perkataan lelaki tua itu, membuat wanita yang terbaring dengan ikatan tali. Meronta-ronta seakan tak suka dengan apa yang di katakan Pak Hendra.


"Lepaskan aku, atau ku bunuh kamu?" ancaman kian di lontarkan oleh mulut Sisi. Tubuhnya kian lama kian tak berdaya karna ikatan tali itu sungguh kuat mengikat tubuhnya, membuat tenaganya terkuras habis.


"Sudahlah sayang, terima saja. Apa yang akan terjadi," ucapan Pak Hendra terus terlontar. Tawanya menggema di setiap sudut ruangan, membuat wanita berwajah bulat itu semakin kesal.


"Mana mungkin, aku tak sudi kalau harus menikah dengan lelaki tua bangka seperti kamu," hardik Sisi. Membuat lelaki di sebelahnya melayangkan satu tamparan.


"Diam kamu," teriak Pak Hendra. Wanita yang terbaring di sisi kanannya. mendengar teriakan dari mulut lelaki tua itu, membuat dia membuang ludah.


"Berani kamu," tangan lelaki tua itu mencengkram pipi wanita berwajah bulat yang terbaring di atas ranjang.


"Kamu harus turuti apa kemauanku atau aku akan menyered kamu pada Rudi dan Ami," acaman Pak Hendra. Membuat Sisi seakan tidak ada rasa takut sedikit pun.


"Aku tidak mau!" jawab Sisi, membuat Pak Hendra semakin mencengkram pipinya. Rasa sakit kian di rasakan oleh Sisi.


"Lepaskan aku!"


Pak Hendra seketika sadar apa yang ia tengah lakukan. Lelaki tua itu langsung melepaskan tangan yang telah mencengkram pipi wanita berwajah bulat itu.


Berlalu meninggalkan dia sendirian, dengan ikatan di seluruh tubuhnya.


"Sial, kenapa aku bisa terikat seperti ini. Sebenarnya siapa lelaki tua itu. Kenapa aku tidak bisa mengigat semuanya," ucap Sisi. Sendiri terbaring tanpa ada seorang pun di ruangan itu.


"Akh, aku benar-benar gila. Kenapa hidupku sekarang seperti ini," berteriak sekeras sebisa mungkin. Tak ada satu orang pun yang mendengarnya.

__ADS_1


"Tempat macam apa ini!"


*****************


Berbeda dengan Luky, lelaki bertubuh gendut itu menagis sepanjang hari. Seakan semuanya telah sirna. Aurora begitu tega membuat dia harus membekam di penjara, Rasa kesal kian merasuk kedalam jiwa, membuat semua tubuh menjadi tak berdaya.


"Kemana Sisi? kenapa dia tak ada, harusnya dia datang ke sini. Untuk menemuiku," ucap pelan Luky. Ia begitu emosi hingga jeruji besi ia goyang-goyangkan membuat polisi yang menjaga. Menjadi marah.


"Bisa diam tidak," hardik pak polisi.


Luky terduduk lemas, badanya sudah tak karuan lagi. Serasa dunia tak bersahabat dengan dirinya. Untuk makan pun dia tak bernafsu.


Dia menjadi lelaki yang seakan gila dengan keadaannya. Tubuhnya kian hari kian melemas. Kering seakan terlihat tulang belulang yang menonjol pada tubuhnya.


Polisi seakan khuatir dengan keadaanya, beberapa kali polisi memaksa untuk Luky agar makan. Tapi dia selalu menolak dengan perkataan," aku tak sudi memakan makanan penjara ini."


Lima hari dimana bibirnya kian nampak memutih, pucat. Dia hanya terbaring di dalam penjara, tak mau di suruh apa pun yang polisi suruh.


Hingga akhirnya, terdengar lembut suara yang menyapa. Mambuat hatinya bergetar hebat.


"Untuk apa kamu datang ke penjara?" tanya Luky. Ia memalingkan muka, seakan enggan bila menatap sang mantan istri.


"Aku datang hanya untuk mengirim makanan ini!" jawab Aurora. Menyodorkan bingkisan pelastik.


Luky seakan tak ingin bertatap muka dengan Aurora ia berkata." Pergi dari sini, aku tak ingin melihat kamu ada di sini."


Aurora menyimpan bingkisan itu di depan sel tahanan.


"Maafkan aku Mas, semoga kamu berubah."


Air mata tiba-tiba mengalir di pelipih mata Luky, dengan sigap ia mengusap air mata itu.


"Aku tahu, Mas kamu adalah lelaki baik."

__ADS_1


Perkataan Aurora menusuk ke relung jiwa lelaki bertubuh gendut itu, membuat hati kian merasakan rasa bersalah.


"Aurora mohon berubahlah demi kebaikan Mas sendiri."


Perkataan demi perkataan Aurora lontarkan. Luky hanya membelakangi tubuh mantan istrinya itu, dia benar-benar tak mau melihat raut wajah Aurora.


"Pergi kamu dari sini," teriak Luky. Mengusir wanita yang pernah menjadi istrinya.


Dengan langkah kaki gontai, Aurora pergi begitu saja.


Luky terduduk menjambak-jambak rambutnya, seakan kesal dengan kedatangan mantan istrinya.


Bagaimana tidak, wanita bernama Aurora itu datang lagi hanya berkata seperti itu. Membuat hati lelaki bertubuh gendut itu semakin kesal.


Melirik ke arah depan, melihat bingkisan itu. Teringat pada dirinya, di masa lalu dimana sang istri selalu membuatkan bingkisan kueh untuk Luky sebelum berangkat bekerja.


Ia meraih bingkisan itu, membuka perlahan. Terlihat gambar kue-kue yang di gambar seperti boneka dengan mulut terseyum. Ada gambar yang lucu dan belum sempurna. Terdapat tulisan dari kueh itu.


Papah Nina kangen. kita semua sayang papah.


Begitu hancur remuk, redam. Bagaikan di sambar petir di siang hari, hati Luky saat ini. Dalam kue yang di buat dengan kasih sayang tersusun kata-kata manis di dalamnya. Dari seorang anak yang sudah lama tak Luky jumpai. Dengan tangan bergetar.


Lelaki bertubuh gendut itu, mencoba memakan satu kue yang ada di hadapanya. Tak sadar ia menagis sampai terisak-isak. Terbayang sang anak tercinta yaitu Nina anak pertamanya, yang selalu bermain bersama, dan selalu menyebut ayahnya sebagai. Lelaki hebat.


Perlahan merasakan kue itu, terasa sekali kehangatan dan kerinduan dalam hati Luky. Beberapa kueh telah ia makan, terdapat lembar surat yang bertuliskan.


Papah cepat pulang, biar kita bisa ngumpul lagi. Kami semua rindu papah.


Membanting surat itu, seakan Luky tak sanggup dengan semua ini. Rasa sesal kian menghantui dirinya. Kecewa dengan semua ini.


"Apa masih ada harap untuk bersama mereka!" teriak Luky. Ia meremas kuat rambutnya.


"Apa aku bisa keluar dari sini," ucap pelan lelaki bertubuh gendut itu.

__ADS_1


Satu ketukan pada jeruji besi membuat Luky tehentak kaget, melihat siapa yang berada di hadapanya.


Seakan tengah marah dan kesal menatap raut wajah Luky saat itu?


__ADS_2