Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 211 penyesalan


__ADS_3

Ikatan yang melekat kuat pada tangan kaki Delia, kini terlepas sudah, membuat Delia menangis histeris. Delia menyadari akan kelakuan Deni yang tak senonoh padanya.


Ia menyadari semuanya, hatinya hancur berkeping-keping. Dirinya seakan tak mampu untuk hidup kembali, sakit rasanya.


“Delia, kamu tenang dulu,” ucap Ane menenangkan Delia. Ia mencoba mengusap pelan rambut pendek Delia, kini Delia mulai berucap dengan nada kesal,”


“ Bagaimana aku bisa tenang, sekarang hidupku benar-benar hancur. Suamiku tak ada di sampingku saat ini,”balas Delia. Tatapan matanya seakan kosong.


“Suamimu Alan akan kembali pulang menemuimu Delia, Kamu jangan kuatir. Kamu harus sembuh saat ini juga,” ucap Ane. Berusaha membangkitkan semangat di dalam hati Delia.


“ Dari mana kamu tahu, bukannya suamiku sudah mati karna pesawat yang ia tumpangi,” balas Delia meneteskan air mata.


“Alan masih hidup Jadi kamu jangan kuatir ya, Aku sudah mendengar kabar dari Alan kemarin,” balas Ane.


Ane tahu Delia tidak akan marah jika di dibujuk pelan oleh dirinya, karena akan ada peluang untuk Ane membuat Delia sembuh. Walau mungkin itu tak akan sebentar.


Para suster masih terdiam, mereka tak ada yang berani berbicara. Kepala mereka saling menunduk merasakan rasa sesal yang mendera.


Ane kini memberikan sebuah cairan vitamin, pada tangan Delia. Agar tubuhnya kembali bugar seperti semula.


“Delia, kamu harus banyak istirahat. Kamu jaga bayi dalam kandunganmu.”


Ane lupa seharusnya dia tak mengatakan bahwa sebenarnya Delia Tengah hamil, seharusnya anda lebih menjaga perkataannya saat itu.


“Hamil, maksud kamu?”


Ane menggigit Bibir bawahnya sedikit, mau tidak mau ia harus berbohong akan kenyataan pahit yang dialami Delia, bahwa anak yang dikandung Delia Bukankah anak Alan, melainkan anak dari Deni.


“Kamu bercanda Ane?”


“Aku tidak bercanda Delia.”


“Anak Alan kah Ane.”


“Anak siapa lagi, jelas itu anak Alan.”


“Tapi bukannya, bajingan itu sudah berbuat tak senonoh padaku.”


Ane tahu, jika pikiran Delia belum stabil, maka dengan cara ini dia bisa membuat Delia sedikit tenang.


Maafkan aku telah menutupi semuanya, aku takut jika kamu tahu kenyataan semuanya. Aku takut jika nanti kamu menyakiti dirimu sendiri,” gumam hati Ane.


Saat itulah Ane, mulai menyuruh Delia untuk tidur.


Sedangkan dirinya bergegas untuk pergi ke ruangan, memberi hukuman kepada para suster dan juga pengawas di rumah sakit.


“Kalian ikut saya.”


Para pengawas yang seharusnya pulang, malah ah disuruh anu untuk ikut ke dalam ruangannya.

__ADS_1


Mereka seakan pasrah dengan apa yang akan di lakukan Ane pada mereka.


Rasa tegang kini terasa pada diri mereka, Ane terlihat sangat marah besar. Sepertinya sang dokter tidak main-main dengan ancaman yang diberikan.


Ane kini duduk di atas kursi menatap para pengawas, dengan tatapan mata yang sedikit menakutkan. Bagi para perawat dan juga pengawas di rumah sakit.


Menghela napas yang mungkin terasa berat bagi Ane, ia kini menyebut satu persatu nama mereka.


Ane menyiapkan beberapa lembar kertas, untuk di tanda-tangani para suster yang sudah lalai akan tugasnya.


“Kalian tanda tangan di sini.”


Para suster saling menatap satu sama lain, mereka kini bertanya pada dokter Ane.


“Untuk apa kami mendata tangani lembaran kosong ini dokter?”


“Tanda tangani saja!”


Para pengawas semua mendata tangani lembaran kosong yang di berikan Ane. Saat itulah Ane menyuruh mereka untuk segera bergegas pulang, ketentuan besok akan Ane berikan pada mereka.


@@@@


Ane mulai mendekat ke ruangan Delia, di mana Delia tengah tertidur pulas. Meneteskan air mata, harusnya Ane menjadi penyembuh untuk Delia. Tapi kenyataannya Ane menjadi dalang menderitanya Delia.


Suara seseorang kini mengagetkan Ane, ia mencoba menatap ke belakang, ternyata itu adalah Afdal.


"Ane, maafkan aku karna menyuruh Deni datang ke sini. Aku kira Deni akan bekerja dengan baik."


Ane terdiam, bukan Deni saja yang bersalah. Tapi dirinya merasa bersalah.


"Semua sudah terjadi, tinggal bagaimana kita menyembuhkan Delia."


"Akan aku usahakan, Ane."


Ane tak menyangka jika Afdal datang tiba- tiba.


"Bagaimana dengan keadaanmu yang sekarang Afdal."


Terlihat bekas luka masih membekas pada jidat Afdal, begitu pin pada lengannya.


"Cukup baik Ane, sekarang aku tengah melaporkan orang yang sudah membuatku begini."


"Maksud kamu? Jadi kecelakaan itu karna sengaja."


"Menurut kepolisian begitu, Ane."


"Jadi siapa yang sudah melakukan semua itu."


"Semua pelaku bertuju pada Deni."

__ADS_1


Deg ....


Ane tak menyangka dengan apa yang di katakan Afdal, selama ini Deni sudah banyak melakukan kesalahan yang begitu fatal.


Menghancurkan hidup Delia, membuat Afdal kecelakaan.


Tindakan Deni tak bisa di ampuni, dia harus segera di tangani. Jika sudah sembuh dari masa kritisnya.


"Sekarang aku ingin melihat Deni berada di mana?" tanya Afdal.


Pada saat itu Ane mulai menceritakan semua kejadian yang di alami dirinya dengan Deni dan juga Delia. Membuat Afdal seketika syok, ia merasa bersalah. Ternyata korbannya bukan dirinya saja. Tapi pasien di rumah sakit Ane.


"Aku tak menyangka akan jadi seperti ini. Jika tahu, aku tak mau mepekerjakan Deni di rumah sakit ini."


Afdal memegang bahu Ane menenangkan semua keresahan yang di rasakan Ane pada saat itu.


Obrolan Ane kini terhenti oleh teriakan Delia. Yang memanggil-manggil, nama sang suami.


"Alan .... Alan ...."


"Delia, bangun."


Ane mulai membangunkan Delia, pada saat itulah Delia mulai bangun dari tidurnya.


"Alan di mana Alan."


wajah gelisahnya terlihat sekarang, membuat Ane menyuruh Delia untuk menarik nafasnya secara perlahan.


"Kamu harus tenang, ya."


Nafas Delia terlihat terengah-engah, Ane mulai menenangkannya dengan memberi air minum.


"Kamu minum ini dulu, Del."


"Aku ingin bertemu dengan Alan."


"Kamu tenang dulu. Alan pasti akan datang menemui kamu."


Ane mulai menenangkan Delia dengan memeluk tubuhnya, Afdal yang berada di sana, kini melangkah mundur menjauh.


Afdal tidak mau mengganggu mereka berdua.


Saat itulah Afdal mulai datang ke ruangan di mana Deni tengah di rawat. dirinya sungguh benci dengan sahabat yang dulu ya percaya sekarang membuatnya berkhianat.


Deni yang terlihat begitu baik di mata Afdal, kini tak jauh menjadi seorang bajingan berdarah dingin. begitu banyak kejahatan yang dilakukan Deni, saat Afdal tengah kritis olehnya.


"Deni, dasar bajingan. jika di negara ini tidak ada hukuman untuk orang yang sengaja membunuh hingga orang itu mati, mungkin aku sudah membunuhmu saat ini juga, tidak akan aku biarkan manusia seperti kamu hidup di muka bumi ini Deni."


Afdal memukul tembok beberapa kali, menahan rasa kesal ketika melihat Dini terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Iya ingin sekali melihat Deni bangun, dan saat itulah ia ingin memukulnya.

__ADS_1


__ADS_2