Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 327 Tamparan ber tubi tubi


__ADS_3

“Papah, Kenapa Papah tampar, Ane. Di mana letak kesalahan Ane.”


Dimana kedua mata Ane berkaca-kaca, sang Papah menunjuk-nunjuk wajah Ane dengan jari tangannya.


“ lancang sekali kamu mengatakan bahwa Deni itu seorang ba*ingan.”


“ memang benar apa yang aku katakan, dia tak jauh berbeda dari lelaki sampah.”


Plak ....


Satu tamparan di layangkan kembali oleh sang papah untuk anaknya.” Hey, kamu  anak pungut yang tidak tahu diri. Harusnya kamu jaga perkataanmu itu.”


 


Ane, tak menyangka jika sang papah lebih membela orang lain ketimbang anaknya sendiri, di mana letak rasa peduli sang ayah pada anak gadisnya. Walau pun Ane anak pungut, tapi Ane juga berhak di perlakukan dengan baik. Bukan semena seperti sekarang.


 


Ane berusaha duduk, menatap raut wajah tua sang papah seraya berkata,” pah. Aku ini ....”


 


Sang papah langsung menghentikan perkataan Ane, yang di mana jari tangan lelaki tua itu, ia tempelkan pada bibir anaknya.


 


Air mata Ane mengalir, hingga turun ke dasar pipi. Tidak ada rasa kasihan atau pun rasa simpati pada hati sang papah. Lelaki tua itu hanya membesarkan rasa egoisnya.


 


“ sekarang pergi dari hadapanku Ane, kamu urus rumah sakit. Kembalikan nama baik Rumah Sakit papah, yang kamu sudah rusak begitu saja. Jika kamu tidak bisa mengembalikan nama baik rumah sakit itu lagi, papah tak akan segan segan menggantikanmu dengan.  Kakak kamu sendiri.”


 


Deg ....


 


Ane memohon, agar sang Papah terus memberi kesempatan lagi untuk Ane.” Pah, Ane mohon. Tolong beri Ane kesempatan.”


 


Ane bersimpuh di kedua kaki sang papah memohon dengan tangisan yang tiada henti.


 


Namun, rasa egois sang papah yang begitu besar, lelaki tua itu  langsung menyingkirkan tangan Ane. Yang masih menempel pada kedua kakinya.


 


Membuat Ane tersungkur jatuh ke atas lantai,  hingga sosok seorang wanita bertubuh ramping dengan penampilan yang begitu glamor. Menghampiri dan  membantu Ane untuk berdiri.


 


Lelaki tua itu tetap dengan pendiriannya, untuk memandang anaknya pun seakan enggan. Ia malah membalikkan badan membelakangi tubuh Ane.


 

__ADS_1


“Ayo Ane kita berdiri.” Ucap wanita berparas cantik itu.


 


“Zakia, jangan bantu dia, biarkan dia seperti itu di atas lantai,” pekik lelaki tua itu pada Zakia.


 


“Jangan gila kamu, dia itu anakmu,” Ucap Zakia membela Ane.


 


Ane masih dengan  tangisannya.


Lelaki tua itu membalikkan badanya ke arah Ane dan berkata,” sudahlah Zakia,  jangan halangi aku untuk memberi pelajaran untuk anak pungut ini.”


 


“Sudah cukup, kamu harusnya merasa kasihan pada Ane. Kamu ini seorang ayah, kenapa kamu tega memperlakukan Ane seperti ini.” Pekik Zakia.


 


Ane yang sudah kesal dengan perkataan sang papah, di mana Zakia membela mati matian Ane. Membuat Ane tak sadarkan diri berucap,” Sudah cukup jangan bela Ane lagi tante. Biar papah memukul Ane sampai mati.”


 


"Ane, kenapa kamu malah berkata seperti itu." tegas Zakia.


"Percuma aku berada di dunia ini, sedangkan papah seakan tak menganggap aku ada. Walau pun aku anak pungut. Tapi ...."


belum perkataan Ane terlontar semuanya, saat itulah sang Papa mulai melempar kan gelas yang berada di meja.


"Sudah cukup kalian buat aku kesal, sekarang pergi dari hadapanku." hardik lelaki tua bangka itu.


Zakia, mulai membawa Ane keluar dari rumah Papahnya. Sang tante membawa Ane untuk sekedar berjalan jalan melupakan masalah yang terjadi.


"Ayo kamu masuk mobil, tante."


"Kita mau ke mana, tante?"


"Sudah ikut saja dengan tante!"


Ane hanya bisa menurut dengan ajakan sang tante.


Mereka kini pergi menaiki mobil. Membuat lelaki tua itu menatap dari arah jendela rumah. Dengan tatapan kekesalan yang terus meluap luap pada hatinya.


"Dasar anak tidak tahu di untung." Gerutu lelaki tua itu.


Sedangkan di dalam mobil. Ane hanya memandangi jalanan yang di lalui.


Indah dan begitu sejuk. Tapi tidak dengan hatinya yang terasa hampa dan suram.


"Ane ... Ane ..."


Panggilan dari sang tante tak Ane jawab, hingga di mana zakia memegang bahu Ane. membuat Lamunan Ane seketika membuyar.


"Eh, tante kenapa?"

__ADS_1


Ane dengan Sigap membersihkan air mata yang terus mengalir mengenai kedua pipinya, menampilkan senyuman keterpaksaan di hadapan sang tante.


"Kamu masih menangis, Ane?"


pertanyaan sang tante seakan berat untuk Ane jawab," tidak tante."


Zakia mulai tersenyum mengusap rambut panjang Ane," sudah kamu jangan menangisi lagi kelakuan papahmu yang seperti tadi."


Ane menelan ludah, saat itulah ia mulai berucap dengan perasaan pada hatinya. " Tante, sebenarnya aku sangat ingin mengatakan apa yang aku rasakan saat ini."


Zakia mulai memahami hati keponakanya itu," ayo ceritalah pada. Tante. agar hati kamu itu tenang."


" Memangnya anak pungut itu harus diperlakukan tak wajar oleh papahnya sendiri. aku merasa papah itu memungutku hanya untuk pelampiasan amarahnya saja." Ucap Ane.


Zakia menarik nafasnya pelan, menghentikan mobil yang ia laju. Saat itulah pelukan datang dari Zakia untuk Ane." sudah jangan bicara seperti itu, bagaimanapun sifat dan amarah Papah mu itu dalam hatinya dia tetap menyayangimu, Ane."


"Sayang, seperti itukah rasa sayang seorang papah kepada anaknya, setiap kesalah yang ada pada anaknya, hanya dengan cara kekerasan. papah layangkan padaku yang menjadi anaknya."


"Tante mengerti apa yang kamu rasakan sekarang, kamu harus tenang. Suatu saat nanti pasti sifat papah kamu akan berubah. Yang sabar ya. Ane."


Hanya kata kata itu yang terus terdengar oleh kedua telinga Ane. Sabar dan sabar dari kecil Ane terus sabar dan sabar.


tiba-tiba saja suara ponsel Ane berbunyi, yang di mana putra menelpon Ane saat itu juga.


"Halo, sayang kamu ada di mana?" tanya Putra. Terdengar suara keributan dan juga riuh orang orang saat Putra menelpon Ane.


"Iya pah, sebentar lagi aku mau pulang!" jawab Ane. merasa heran dengan suara yang begitu berisik terdengar dari ponsel Putra.


"Kamu cepat pulang ya," ucap Putra.


"Halo .... Halo ...."


tiba-tiba panggilan telepon pun terputus sebelah pihak, yang di mana Ane merasa heran.


Ane langsung menelpon Putra saat itu juga, untuk memastikan rasa penasarannya. Tapi sayangnya ponselnya tiba-tiba tak aktif, membuat rasa kuatir pada diri Ane.


"Kenapa nomor ponsel mas PUTRA langsung tak aktif. Ada apa sebenarnya yang terjadi."


Kini Zakia mulai bertanya pada Ane. yang di mana Ane terdiam setelah mengangkat panggilan telepon dari ponselnya.


"Ane, ada apa?" tanya Zakia.


Ane menunjukkan ponselnya pada Zakia dan berucap," tadi suamiku menelepon. Suruh aku balik ke rumah cepat cepat."


"Ya sudah, tante akan antarkan kamu ke rumah!"


"Tapi, tante."


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2