Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 172 season 3 Ketakutan Ane


__ADS_3

Perkerjaan Ane sudah selesai di rumah sakit, saatnya ia untuk pulang ke rumah mengistirahatkan badan dan juga menenangkan pikiran atas kejadian tadi pagi.


 


Hatinya terasa kesal dengan perlakuan Deni yang tak sopan, lelaki yang dulu mengejarnya kini datang kembali.


 


"Kenapa bisa Deni menjadi psikolog, Hah, ini tak bisa di biarkan jika yang mengurus Delia Deni. Bisa-bisa Deni berbuat tak senonoh pada Delia.”


 


Menggigit kuku jari membuat Ane tak sadar kukunyah tiba-tiba patah.


“Aw, kenapa bisa patah begini. Aku kan menggigitnya pelan. Hah ada-ada saja.”


 


Saat itu ia langsung membereskan kukunyah yang patah tak sengaja. Membuangnya pada tong sampah.


 


Ane menatap pada kamarnya sendiri, kedua anaknya sudah tertidur pulas. Ditemani sang suami.


 


Ia seakan beruntung dalam hidup, jika ia bersyukur memiliki lelaki yang setia dan menerima kekurangannya.


 


Rasa lelah mulai membuat kedua matanya berat, ia tiba-tiba tertidur di atas sofa ruang tamu.


 


Ane  bangun di ruangan putih, ia melihat sekelilingnya hanya bata putih tak ada warna-warna yang menghiasi bata itu.


 


“Ya tuhan, dimana aku. Kenapa aku ada di sini?”


 


Ane benar-benar bingung. Hatinya resah, ia yang tadinya berada dalam rumah, sudah berada di ruangan yang entah itu ruangan apa.


 


Ane mulai berjalan, hanya gambaran putih yang terlihat, ia mencari-cari seseorang yang bisa membantunya untuk segera ke luar dari ruangan itu.


 


Namun, ternyata tak ada satu pun.


 


Dwarrrr.


Suara ledakan yang membuat gendang telinganya sakit membuat ia tak tahu suara apa itu, begitu jelas.


 


Tawa terdengar nyaring, membuat Ane. Mencari sumber suara itu.


 


“Siapa itu?”


 


Tak ada yang menjawab, suara itu hilang dan timbul kembali.


 


“Ane.”


 


Deg ....


 


Ane seakan mengenal suara sahutan itu, suara itu tak asing di dengar oleh telinganya.


 


“Kenapa suara itu mengingatkan aku pada Alan.”


 


“Alan, apa itu kamu.”


 


Teriakan demi teriakan dilayangkan oleh Ane, namun tak ada jawaban sedikit pun.


 


Ane benar-benar bingung, dirinya tengah ada dimana.


“Siapa pun itu tolong saya.”


 


Ane baru kali ini mengalami situasi yang aneh di dalam hidupnya.


 


“Ane.”


 


Langkah kaki terdengar, itu suara Alan dan Dodi menghampiri dirinya.


“Kalian kembali lagi?”


Tanya Ane dengan wajah senang, senyuman yang tak lepas dari bibirnya.

__ADS_1


 


“Kami kembali, karna kami ingin meminta tolong padamu!” jawaban Alan membuat Ane menelan ludah.


“Maksud kalian apa? Aku tak mengerti!”


Ane masih menatap lekat pada kedua lelaki yang berada di hadapannya.


 


“Setelah bangun kamu akan mengerti.” Balasan Alan membuat Ane. Semakin bingung.


 


“Tunggu, maksud kamu Alan. Aku sekarang tengah bermimpi begitu?” tanya Ane dengan maksud perkataan Alan.


 


“Tolong Ane, jaga istriku!” jawab Alan.


Tiba-tiba sosok itu hilang ditelan kabut putih, penglihatan Ane kini menghilang seketika.


Bayangan Alan dan Dodi tak terlihat lagi.


“Ke mana mereka?”


 


Ane terus berteriak, memanggil Dodi dan Alan. Ia berusaha menemukan mereka berdua.


 


“Alan. Dodi, di mana kalian?”


 


“Alan.”


 


“Dodi?”


 


“Kenapa mereka tak menjawab teriakanku. Ada apa dengan mereka.”


 


“Alan.”


 


“Dodi.”


 


@@@@


 


“Bunda, bangun. Bun .... Bun ...,”


 


 


Sang suami menghampiri dan bertanya dengan nada lembut,” kamu mimpi, bunda?”


 


Tubuh Ane penuh dengan keringat dingin, hatinya berdetak tak karuan. Rasa kuatir menyelimuti hati Ane terhadap Alan dan Dodi.


 


“Bunda, kenapa?” tangan sang suami mulai membelai, jidat Ane. Mengelap keringat dingin yang tak henti ke luar.


 


“Bunda, coba bicara sama Ayah.” Ucap Sang suami. Pelukan hangat menyelimuti tubuh Ane, rasa tak tenang masih terasa pada hati Ane.


 


“Apa yang terjadi dengan Alan dan Dodi, apa mereka baik-baik saja.” Gumam hati Ane.


“Bunda kenapa?”


 


Lamunan Ane membuyar, saat sang suami bertanya beberapa kali. Ane menatap sang suami, melepaskan pelukannya. Seraya memegang kepalanya sendiri.


“Entahlah, Bunda sedikit pusing.”


 


“Ya sudah ayo kita tidur di kamar.”


 


“Iyah, yah.”


 


 Ane mulai kembali lagi untuk tertidur, melupakan semua mimpi tentang Alan dan Dodi.


Ia mencoba menutup kedua matanya, namun bayangan Dodi dan Alan terus terbayang.


 


Menyampingkan badan, tetap saja Ane tak bisa tertidur. Kini pelukan sang suami datang kembali.


“Kamu belum juga tidur, Bunda.”


 


Sang suami mengetahui jika istrinya belum juga tidur.

__ADS_1


“Apa yang kamu pikirkan, sayang.”


 


Deg ....


 


Ane tak biasa bercerita dengan sang suami, ia hanya bisa menjawab.


“Tidak ada yang bunda pikirkan, saat ini. Bunda hanya cape saja.”


 


Tangan sang suami mulai memijit-mijit bahu istrinya.


“Nah, ayah pijat biar enggak cape.”


 


“Geli ah.”


“Masa sih.”


 


Ane mulai tertawa.


Tapi perasaannya tetap tak tenang.


"Ayo cerita sama ayah, ada apa?"


"Kepo."


Ane mulai menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya, tapi sang suami malah mengelitik Ane. Hingga Ane merasakan rasa geli.


@@@@


Pagi hari.


Ane sudah bersiap dengan seragam dokternya. Ia menyeduh kopi kesukaannya. Melihat acara tv sebentar.


Anak-anak yang bersiap ke sekolah, langsung memeluk sang bunda. Yang duduk menikmati kopi hangat di depan tv.


"Bunda kami berangkat sekolah dulu, ya."


"Iya sayang."


Tak lupa dengan ciuman sang suami. Membuat Ane tersenyum senang.


Walau Ane tak mencintai sang suami, ia tetap menghargai layaknya sebagai seorang istri.


Hatinya tetap berusaha menerima sang suami, walau bagaimana pun.


"Ayah, berangkat dulu ya. Bunda."


"Iya, hati-hati, ya."


Hening tak ada orang satu pun di rumah, kini hanya ada Ane. yang duduk menikmati kopi di depan Tv.


Si mbo yang bekerja di rumah Ane, tengah pergi ke pasar.


"Hah, sepi."


Ucap Ane. Ia mulai memindahkan acara tv pada berita terkini. Memencet dengan hati sedikit ragu, karna acar tv bagi Ane sedikit membosankan.


Sampai dimana acara berita yang membuat tangan Ane bergetar dan menjatuhkan remot tv yang ia pegang.


Kedua mata Ane membulat, seperti mimpi.


mulut Ane terbuka lebar, ia dengan sigap menutup bibirnya tak percaya dengan apa yang sudah ia lihat.


"Ini, tidak mungkin."


Ane mulai berlari, mencari sebuah ponsel yang biasa ia gemgam. Menelpon salah satu nomor kontak yang membuat hatinya resah dari selamalam.


"Ayo angkat."


Air mata mulai berkaca-kaca. Ane masih tak percaya dengan berita di tv, baginya semua itu bohong.


Memencet nomor kontak tujuan, tak ada jawaban, nomor malah tak aktip.


"Ayo angkat."


Berita terus terdengar dari televisi membuat kuping Ane merasa sakit. Ia dengan emosi melempar ponsel yang ia pegang ke atas lantai.


"Ini tidak mungkin."


Ane menangis sekeras mungkin, merasa bersalah hatinya rapuh.


"Ini semua tak benar. Apa yang harus aku katakan nanti."


 


 


 


 


 


 


 


 


.


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2