
Para dokter dan suster lainnya saling berlarian, setelah mendengar teriakan dari ruangan pasien dokter Deni.
“Ada apa ini?”
Suster Liana bergegas memasang semua peralatan pada tubuh dokter Deni, sebisa mungkin ia menyelamatkan pasien Deni. Walau mungkin sulit.
“ pasien sudah hampir kehabisan darah.”
Suster Ainun membawa beberapa kantong darah, mereka memerban kaki pasien agar darah tak mengalir terus menerus.
“Ayo cepat.”
Kini pasien Dokter Deni selamat, darah sudah berhenti mengalir.
Suster Ainun, menarik napas lega. Ia tak tahu jika keadaan pasien Deni dalam keadaan darurat, jika dia tidak balik lagi. Mungkin Dokter Deni sudah mati.
“Kenapa pasien bisa menjadi seperti ini?” Tanya dokter Ane. Datang dengan wajah yang begitu terlihat kesal.
Ainun bingung harus menjawab apa, dirinya tak tahu jika pasien akan mengalami kecelakaan seperti ini.
Ane mulai mendekat ke arah Deni, melihat bekas tusukan pisau beberapa kali.
“Ada yang sengaja melakukan ini.” Tegas Ane.
Suster Liana menatap ke arah suster Ainun, hatinya berbisik,” apa suster Ainun sengaja.”
Ainun yang bingung hanya menundukkan pandangan, ia pasrah jika dirinya memang menjadi tersangka, karna keteledorannya.
@@@@
Di tengah-tengah kesibukan para staf dan juga dokter, yang berada di ruangan pasien dokter Deni.
Kini Delia bangun perlahan dari tempat tidurnya, ia mencoba berjalan menuju ke ruangan CCTV. Untuk menghapus semua bukti-bukti semalam.
Sebelum ia berjalan ke arah ruangan CCTV, Delia membungkam mulut suster Ita dengan sengaja. Membuat suster Ita pingsan seketika, pada saat itulah Delia menarik tubuh suster Ita membawanya ke dalam kamar mandi.
Aksi nya tak jauh seperti semalam, di mana Delia membuka baju suster Ita, menggantinya dengan baju yang ia pakai. Setelah semua tersusun rapi, Delia kini berusaha mengangkat tubuh suster Ita, menidurkan nya di ranjang rumah sakit.
Delia bergegas memakai baju suster, tak lupa menutup mulutnya dengan masker. Iya segera berjalan ke arah ruangan CCTV, melihat para pengawas begitu kusuk.
Delia sedikit berhati-hati, karena pengawas yang sekarang berbeda tidak seperti pengawasan kemarin.
“Permisi?” tanya Delia, yang berpura-pura menjadi suster.
Para pengawas itu membalikkan badan dan menjawab,” iya sus ada apa?”
__ADS_1
“Saya di perintahkan dokter Ane untuk mengambil rekaman Cctv semalam!” balas Delia.
Para pengawas itu terdiam, mereka tak bisa sembarang memberikan rekaman cctv semalam.
“Kami biasanya di beri tahu langsung, oleh dokter Ane. Jadi tidak bisa sembarangan.”
Delia sangat kesal dengan ucapan para pengawas itu, mau tidak mau dia ke luar dan mencari barang seperti kayu.
“Tak ada kayu atau pun palu, untuk memukul mereka berdua.”
Ia melihat jam dinding sudah tak ada waktu untuk cepat menghapus rekaman tadi malam, Delia mencoba mencari ide agar bisa mengelabui para pengawas di dalam ruangan.
Pada saat itulah, Delia mulai terpikirkan cara yang licik. Dimana ia akan menggoda para pengawas itu.
Delia terpaksa hanya untuk menghapus semua bukti.
Dia perlahan membuka kancing baju, perlahan buah yang seharusnya ia tak perlihatkan kini terlihat sedikit menggoda.
Satu cara lain lagi, ia mempunyai obat tidur yang selalu ia minum. Obat penenang sekalian obat tidur, ia ambil dari ruang obat.
Melangkahkan kaki, ke arah pengawas, tampilan Delia begitu berbeda sekali. Membuat kedua mata para pengawas membulat, mereka seakan tergoda dengan tampilan yang begitu seksi dari Delia.
Saat itulah Delia duduk di atas paha pengawas yang tengah berjaga, membuat para pengawas itu tersenyum senang. Di saat para pengawas memperhatikan tubuh Delia yang sedikit terbuka, pada saat itulah Delia menaburkan serbuk obat pada kopi mereka yang berada di samping kiri mereka.
Ucap salah satu pengawas, yang terus menatap ke arah gunung yang melingkar. Membuat Delia tersenyum jijik, tangan lembut Delia kini mengusap lembut pada pipi pengawas itu.
“Kamu suka, ayo mendekat.”
Saat wajah pengawas itu mulai mendekat ke arah dada Delia, pada saat itulah Delia malah mengambil kopi dan menyuruh mereka untuk meminumnya sampai habis.
Delia berucap,” Kopi ini akan membuat kalian segar bugar, makan habiskan.”
“Oke kalau itu keinginan kamu.”
Mereka langsung meminum kopi itu sampai habis, saat itulah mereka tertawa, tangan yang tak sabar kini mulai menyentuh daerah sensitif Delia.
Namun tiba-tiba, kepala mereka seakan berdenyut kesakitan. Rasa pusing begitu terasa, membuat mereka tak bisa menatap Delia dengan fokus.
“Ayolah aku sudah tak tahan nih.”
Delia terus menggoda kedua lelaki itu, tapi kedua lelaki itu malah meringis kesakitan. Kepala mereka seakan tak tahan lagi, pada saat itulah mereka pingsan.
Delia menyingkirkan mereka berdua, mengijak-ngijak tubuh mereka.
“Beres, sepertinya pengaruh obat itu begitu kuat. Pantas saja jika aku mengamuk mereka selalu memberiku obat berdosis tinggi.”
__ADS_1
Pada saat itulah, jari tangan Delia mulai beraksi. Ia mulai mencari rekaman semalam.
“Ah, ketemu.”
Delia mulai menghapus rekaman itu, ia tersenyum licik. Bukti kini sudah hilang, begitu mudah bagi Delia.
Karna di dalam rumah sakit, kini para staf dan juga pengawas tengah berada di ruangan pasien Dokter Deni. Itulah cara licik Delia mengelabui semua orang.
“Hah, beres.”
pada saat itulah Delia mulai pergi ke ruangannya lagi, namun saat Delia keluar dari ruangan cctv.
Dokter Ane tengah berjalan ke arah ruangan cctv, membuat Delia seketika panik.
"Ane."
dengan terpaksa Delia masuk lagi ke dalam ruangan CCTV itu, ia bersembunyi di ruangan yang terlihat gelap. berusaha agar seseorang tidak menemukannya.
Ane datang membuka ruangan CCTV itu, ya begitu terkejut melihat para pengawas yang berjaga di ruangan CCTV itu tergeletak di atas lantai. membuat Ane dengan Sigap menghampiri mereka.
"Kenapa dengan mereka."
Ane mencoba membangunkan mereka berdua, namun mereka tak bangun-bangun. Dokter itu mencoba melihat ke arah kopi yang sudah mereka minum.
Mencium bau pada gelas kopi itu.
"Emh."
"Sepertinya ada yang sengaja membuat mereka pingsan."
Delia kini terduduk, Iya bersembunyi di bawah meja. berharap Ane tidak menemukannya pada saat itu.
"Cepat cari di ruangan ini, siapa tahu ada orang yang bersembunyi di ruangan ini."
Deg ....
Jantung Delia kini berdetak tak karuan, ia seakan ketakutan jika dirinya ketahuan.
Ahkkkkkk.
baru saja Ane, memerintahkan orang untuk mencari orang yang mencurigakan bersembunyi di ruangan CCTV, teriakan seseorang mengagetkan mereka.
Ane dengan Sigap menemui orang yang berteriak itu, dengan berjalan tergesa-gesa. Ane melihat orang yang berteriak itu ternyata ialah suster Liana.
Di mana suster Liana melihat suster Ainun lompat dari gedung atas. Ternyata suster Ainun begitu ketakutan, hingga dirinya terpaksa mengakhiri hidupnya pada saat itu juga.
__ADS_1