
Rudi yang mendengar masa lalu tentang Ami dan Sarah, sedikit termenung.
Saat itulah suara Sisi terdengar dari ponsel Rudi, membuat lamunan Rudi membuyar.
“Rudi, aku tak tahu jika semua menjadi serumit ini. Apalagi Sarah sampai bisa balas dendam sampai detik ini. Maaf kan aku Rudi.”
Entah apa yang harus Rudi jawab, antar memaafkan atau memarahi Sisi.
“Rud, pasti kamu marah besar kepadaku. Aku pantas kamu hukum.”
Sisi terus memohon-mohon pada Rudi, meminta maaf atas kejahatannya di masa lalu. Yang membuat Ami harus menanggung semuanya.
Rudi yang memang dari dulu terkesan arogan dan pemarah. Kini berucap,” apa kamu bisa menebus kata maaf dengan membalikkan keadaan.”
Deg ....
Jantung Sisi serasa ketakutan mendengar ucapan Rudi, mana mungkin dia bisa membalikkan keadaan. Sedangkan dia tak tahu bagaimana keadaan Sarah.
Apakah masih hidup atau sudah meninggal, apalagi Sarah berada dalam kecelakaan pesawat bersama Dodi dan juga Alan.
“Rud ....”
Rudi langsung mematikan ponselnya, secara tiba-tiba tanpa berucap satu patah kata pun pada Sisi. Rudi menahan setiap amarah, setelah mendengar apa yang di lakukan Sisi di masa dulu.
Karna itu sudah lama sekali, apalagi Rudi sudah melupakan surat yang di berikan Sarah. Ia tak sempat membaca surat itu.
“Bagaimana ini, kenapa semua jadi serumit ini.”
Gerutu Alan.
Ami datang dengan di bantu sang suster pada kursi roda, keadaan Ami kini terlihat semakin membaik. Saat Bu Sumyati yang selalu ada di sampingnya dan menyemangatinya.
“Pah, kamu di sini ternyata.”
“Mamah, kenapa ke sini?”
“Mamah ingin jalan-jalan sebentar, bosan berbaring terus di ranjang rumah sakit.”
__ADS_1
Rudi langsung melayangkan sebuah senyuman kepada istrinya, Iya Mulai mengambil alih kursi roda yang tengah di dorong oleh sang suster.
“Biar saya saja sus, yang membawa istri saya jalan-jalan.”
Sang suster hanya menganggukkan kepala, mengerti apa yang di katakan Rudi.
“Baik, pak. Tapi jangan terlalu lama, kondisi ibu Ami belum stabil sepenuhnya.”
“Ya.”
Rudi langsung membawa Ami, untuk keluar menuju taman. Perasaan Ami terlihat sangat segar, ia menatap dedaunan yang berguguran. Melihat indahnya bunga di pagi hari.
Sedangkan Rudi masih dengan keraguan hatinya, ia harus memulai dari mana. Untuk bisa menjelaskan semua cerita tentang Sarah.
Belum cerita yang akan dibahas oleh Rudi terlontar dari mulutnya, Ami sudah memulai duluan.
“Pah, andai saja dulu, mamah meminta penjelasan pada Sarah Kenapa dia tiba-tiba saja berubah terhadap mama. Mungkin tidak akan ada rasa sesal sampai sekarang.”
Rudi seakan tak terima mendengar perkataan sang istri seperti itu, bahwa kami tidak pernah mempunyai salah apa-apa terhadap Sarah. Yang harus menanggung semua kesalahan itu adalah Sisi, dan rasa sesal itu harusnya Sisi.
Rudi mulai mengusap kasar wajahnya, tak tahan ingin menceritakan semuanya. Tapi masih tak tega, karna yang terlibat dari semua masalah adalah Sisi, biang kerok itu adalah Sisi.
"Mah, sebaiknya mamah jangan bahas tentang wanita bernama Sarah itu lagi. Kita ini lagi menikmati sejuknya matahari dan juga indahnya taman di hiasi bunga-bunga bermekaran, jangan sampai suasa ke indahan ini. Mamah malah bersedih."
Ami kini terdiam pilu, sedangkan Sisi terus menelpon Rudi. Berusaha menjelaskan semuanya.
Tapi Rudi yang sudah terlanjur emosi mengabaikan panggilan telepon dari Sisi, Rudi berusaha berbuat seperti itu. Agar Sisi mau bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri.
"Pah, ponsel papa dari tadi bunyi terus. Emang enggak mau papah angkat apa?" tanya Ami.
"Malas, palingan orang enggak penting!" jawab Rudi menampilka n wajah sedikit kesal.
"Pah mamah mau menelpon Sisi, siapa tahu Sisi tahu keberadaan Sarah."
Ucapan Ami menbuat Rudi berucap sedikit bernada tinggi," tak usah. Biarkan saja."
"Loh, kok gitu sih pah."
Ami heran dengan tingkah suaminya yang tiba-tiba berucap seperti itu. Padahal tadi pagi Rudi terlihat baik-baik saja, tapi sekarang sedikit terlihat agresip.
"Yo, kita ke ruangan lagi."
"Tunggu pah. Ada yang papah sembunyikan dari mamah, ya."
"Enggak ada."
__ADS_1
"Jangan bohong, nada suara paoab berbeda sekali dari tadi. Sedikit terlihat kesal."
"Perasaan mamah, kali."
Suara ponsel berbunyi kembali, Ami mulai membalikan kursi rodanya menghadap sang suami. Tangannya kini mengambil ponsel yang berada pada saku celana Rudi.
"Mah, jangan."
Ami menatap pada layar ponsel, ternyata Sisi terus menelepon tiada henti. Membuat Ami heran.
"Pah, Sisi telepon papah tak angkat, papah ini kenapa sih."
Rudi mulai berusaha merebut ponselnya dari tangan Ami, tapi Ami mehempaskan tangan suaminya. Ia langsung mengangkat panggilan telepon Sisi.
"Hallo, Rudi. Akhirnya kamu mengangkat panggilan teleponku juga. Aku hanya ingin menjelaskan tentang Sarah."
Deg ....
Ami yang mendengar nama Sarah langsung mengucapkan satu patah kata membuat Sisi terdiam.
"Di mana Sarah sekarang."
"Hallo, Si."
Sisi terdiam mematung tak bisa berucap satu patah kata pun lagi, saat Ami menanyakan Sarah.
"Hallo Sisi, apa kamu masih ada di sana."
Rudi dengan sigap mengambil, ponselnya dari telinga Ami. Membuat Ami sedikit kesal.
"Pah, kenapa kamu ambil ponselnya. Sisi menelpon."
"Sudah tak usah kamu mengobrol dengannya."
"Kamu ini kenapa sih. Pah."
"Nanti aku jelaskan, mah."
Ami berusaha mengambil ponsel yang berada di tangan Rudi, namun Rudi terus menyingkirkan ponselnya dari hadapan Ami. Ia mematikan sambungan telepon yang menyambung pada Sisi.
"Sudah ayo kita beristirahat ke dalam."
"Tapi pah, aku belum selesai mengobrol dengan Sisi."
"Sudah, nanti saja."
saat itu Rudi langsung mendorong kursi roda Ami, membawa sang istri ke dalam ruangannya untuk segera beristirahat kembali.
sedangkan Ami terus meronta-ronta berteriak tak ingin masuk ke dalam ruangannya sendiri. dengan terpaksa Rudi menggendong sang istri menidurkannya ke atas ranjang rumah sakit.
"Pah, kamu ini kenapa sih."
Rudi dengan sigap menyelimuti sang istri dan berkata," diam. Atau nanti aku panggil suster agar menyuntik kamu."
Jelas saja Ami langsung terdiam, ia tak mampu bertanya lagi kepada Rudi. karena takut jika nanti Rudi memanggil sang suster untuk menyuntik dirinya.
"Sebenarnya apa yang sudah di obrolkan Sisi dan suamiku, sehingga Mas Rudi terlihat sekali emosi. anda saja aku memegang ponsel mungkin aku sudah bertanya pada sisi saat ini juga. tapi kenyataannya saat ini aku tidak memiliki ponsel sama sekali."
Ami mulai merebahkan tubuhnya kembali untuk tetap tidur, agar Rudi segera pergi dari ruangannya.
"Nanti jika Mas Rudi pergi, aku akan berusaha meminjam ponsel ibu." Gerutu hati Ami. Berpura- pura menutup mata.
__ADS_1