
Dodi berlari dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi, sesekali punggung tangannya mengelap air mata yang berjatuhan tiada henti. Bibir mungil yang bergetar itu berkata, "Mama aku datang."
Tanpa sadar tubuh mungil itu terjatuh ke atas lantai, membuat lutut kecil Dodi terluka. Tapi semua itu bukan penghalang, Dodi terus berusaha berdiri agar keinginannya terpenuhi, melihat sang mamah yang sudah membuka mata.
Rudi yang melihat sang anak terjatuh ke atas lantai, membuat dirinya berlari lebih cepat, untuk segera membantu anaknya berdiri.
Namun ternyata Dodi sudah berdiri terlebih dahulu, sebelum sang ayah datang membantunya. Anak kecil itu berjalan berjingkat-jingkat, menahan sakit pada lutut kaki kirinya yang sedikit berdarah.
Dalam hati Dodi terus berkata, aku kuat harus kuat. Aku ingin sekali bertemu dengan Mama, menjadi orang pertama yang di lihat mama.
Setelah sampai di ambang pintu, Dodi melihat Ami Tengah membuka mata dengan perlahan. Anak kecil itu mulai menghampiri sang mama.
Ami masih terdiam pilu, menatap ke arah Dodi.
Kepalanya masih terasa sakit, apalagi mengigat raut wajah anak yang berada di hadapannya.
Rudi yang telah sampai, menatap ke arah Ami yang masih diam tanpa bertanya kepada Dodi.
Hingga akhirnya perawat menyuruh Rudi untuk datang ke ruang sang dokter.
Ada hal yang mengganjal pada hati Rudi, dimana ada sesuatu yang sedikit aneh saat melihat Ami.
Perawat mengantarkan Rudi sampai ke ruangan sang dokter.
Perawat itu mengetuk pintu ruangan sang dokter.
"Masuk."
Mereka berdua masuk ke ruangan sang dokter, begitupun dengan Rudi. Dokter langsung menyuruh Rudi untuk duduk di kursi.
Setelah Rudi duduk di atas kursi, dokter pun menjelaskan. Bagaimana perkembangan dan apa keluhan Ami sekarang, dengan menarik nafas pelan Rudi mulai mendengarkan penjelasan sang dokter.
Raut wajah sang dokter, terlihat ragu untuk mengatakan apa yang terjadi pada Ami.
" Jadi bagaimana dengan perkembangan istri saya, dok. Mohon jelaskan sekarang?"
"Maaf sebelumnya Pak Rudi, sebenarnya istri bapak hilang ingatan!"
Deg ..., penjelasan sang dokter membuat hati Rudi seketika ambruk, rasanya Rudi tak percaya jika Ami lupa ingatan, bagaimana dengan Dodi. Apa anak itu akan menerima semuanya.
"Apa ingatan istri saya bisa kembali?"
__ADS_1
Rudi bertanya. Berharap ada harapan untuk bisa mengembalikan ingatan Ami, yang sekarang hilang begitu saja.
"Sepertinya itu tidak mudah pak!"
jawaban sang dokter membuat Rudi sedikit heran, kenapa bisa dokter berkata seperti itu?
"Kenapa tidak mudah? Apa separah itu, dok?"
Betanya dengan nada keluh. Rudi hanya bisa menahan rasa sedihnya.
"Jika pasien Ami, dipaksakan untuk mengigat. Pasien akan merasakan sakit di area kepalanya, dan membuat pasien trauma!"
Jawaban sang dokter membuat Rudi. Benar-benar hancur.
Apa yang harus dikatakan Rudi saat ini, kepada Dodi anaknya. Apa Dodi akan menerima semua ini kalau sebenarnya Ami hilang ingatan, hanya itu yang berada di pikiran Rudi saat ini, tidak ada lagi yang Rudi pedulikan selain Dodi. Dimana Rudi takut jika anak satu-satunya akan terluka, bila sang Ibu tidak mengingat anaknya sendiri.
Setelah mendengar penjelasan dari sang dokter. Rudi berpamitan untuk pergi dari ruangan dokter dan berkata," Terima kasih atas penjelasannya, saya pamit untuk menemui istri saya."
Dokter hanya menganggukkan kepala.
Rudi berjalan menuju ke ruangan istrinya, dengan perasaan tidak karuan. Tubuhnya terasa lemas, bibirnya sulit untuk berkata kebenaran.
"Aku ada dimana?"
"Siapa kalian?"
Membuat lelaki bertubuh kekar itu, berlari melihat keadaan di dalam ruangan Ami. Benar saja Rudi melihat Ami meronta-ronta, menangis. Tangan kanan dan kirinya tengah dipegang oleh kedua perawat yang berjaga di sana.
Rudi langsung membantu perawat. Ia hanya mampu memegang kedua kaki Ami, terlihat sekali istrinya itu begitu trauma setelah bangun dari komanya
Entah apa yang Ami pikirkan saat ini, ketika ia hilang ingatan. Apa hanya hal-hal buruk yang diingat Ami sekarang. Sehingga membuat Ami beguti syok berat.
"Mama, sadarlah. Tenangkan dirimu," ucap Rudi.
Namun Ami tidak mendengarkan ucapan suaminya, kedua tangannya terus memegang kepala, seakan Ami itu merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa. Entah apa yang dipikirkan Ami saat itu.
Rudi melihat kearah sang Ibu dan juga anaknya, Dodi hanya bisa memeluk lutut sang nenek dia terlihat gemetar ketakutanan. Rudi Sempat berpikir apa Dodi mengingat-ingat sang Mama sampai Ami dengan bersikeras mengingat siapa dirinya sebenarnya.
"Bu, tolong bawa Dodi ke luar dari ruangan ini." Printah Rudi. Sang nenek langsung membawa cucunya untuk ke luar dari ruangan.
"Ayo Dodi. Kita ke luar dulu."
__ADS_1
"Ta-pi, nek?"
"Sudah, Nurut aja dulu sama nenek!"
"Baik, nek."
Dokter datang berlari, mengecek keadaan pasiennya.
"Ada apa ini? kenapa pasien seperti ini?" Tanya Sang dokter tanpak panik.
"Maaf, dok. Kami baru tahu pasien seperti ini. Saat kami masuk Pasien tiba-tiba begini." Ucap para perawat. Yang terlihat sekali dari raut wajah mereka, rasa kelelahan.
"Ya sudah. Tolong ambilkan suntikan dan obat penenang." Perintah sang Dokter.
"Baik dok."
Salah satu perawat langsung mengambilkan obat penenang dan suntikan.
"Ini dok."
Dokter langsung menyuntikkan obat penenang pada pasien. Agar Ami tetap tenang, tidak merasakan rasa sakit pada kepalanya.
Setelah obat penenang itu, disuntikkan pada infusan Ami. Saat itulah perlahan tubuh Ami merasakan rasa lemas, ia mulai tertidur dan menutup kedua matanya.
Rudi mengusap keringat dingin yang bercucuran pada keningnya sendiri, dengan punggung tangan.
Rudi merasakan pada badannya, rasa lelah karena menahan saat istri yang terus meronta-ronta. Menahan rasa sakit pada kepalanya.
lelaki berbadan kekar itu, tak menyangka jika Ami sangat menderita setelah bangun dari masa komanya.
Dokter, berucap pada Rudi." Pak Rudi. Ingat pesan saya di ruangan tadi."
Dokter langsung berlalu pergi, tanpa berkata apa-apa lagi. Rudi langsung menghampiri sang istri melihat wajah putihnya, mengusap pelan pipi Ami dengan telapak tangannya.
"Begitu menderitanya dirimu, Ami."
Dodi dan sang nenek langsung masuk keruangan Ami pada saat itu, Dodi yang masih merasakan rasa takut ketika melihat sang mamah meronta-ronta kesakitan, membuat Dodi menangis dan meminta maaf kepada sang papah.
Kaki mungilnya berjalan menghampiri punggung sang papah, tangannya mulai meraih lengan tangan sang papa dan berkata," Maafkan Dodi Pah, semua salah Dodi, kalau Dodi tidak membuat Mamah mengingat siapa Dodi. Mungkin, Mama tidak akan merasakan rasa sakit pada kepalanya. Maafkan Dodi Pah, Dodi menyesal, karena Dodi Mama menderita seperti ini."
Rudi menahan tangisnya, apa yang harus ia katakan lagi pada anaknya saat ini?
__ADS_1