
Masa lalu itu sanggatlah menyulitkan Sarah, membuat akal pikirannya terus terganggu. Jika malam telah tiba, tengkorak- tengkorak itu seakan menghantui tidurnya, jerit kesakitan akan terdengar membuat Sarah tak tenang dalam tidur, apalagi dalam lemari itu ada tengkorak sang ibu yang terpaksa ia susun dengan tengkorak- tengkorak ketiga mayat istri Pak Anton.
Dirinya selalu terbayang akan perkataan sang ibu, bawah kematian di sebabkan oleh ulahnya sendiri, padahal semua gara-gara Tama yang sudah membuat tengkorak- tengkorak berada di dalam lemari. Sarah hanya menjalankan tugas dan perjanjian yang tidak di inginkannya.
Menjambak kepalanya sendiri, kesal akan masa lalu yang terus teringat.
Saat itulah ia kembali menutup pintu lemari terisi dengan susunan tengkorak di dalamnya.
Mengusap kasar air mata yang mengalir akan mengingat sang ibu, kini Sarah mulai melanjutkan dendamnya yang belum terbalas sebelum ia mati, Sarah mulai bergegas pergi menemui Tama di dalam penjara.
"Aku harus menemui, Tama terlebih dahulu. Ahkk sebenarnya malas sekali menemui lelaki itu, karna dia begitu menjijikan di mataku. Sampai saat ini pun hatiku tidak menyukai dia sedikitpun."
Sarah mulai menyuruh suruhannya untuk menyiapkan mobil.
@@@@@
Sedangkan Alan dan yang lainnya, kini bisa bernapas lega, mereka bisa berkumpul lagi di dalam rumah. Kesengsaraan kini lenyap di depan mata, tak ada rasa haus dan kelaparan seperti dulu saat dirinya berada di hutan belantara. Mereka bersyukur telah selamat dan bebas, tinggal menunggu kedatangan Rudi yang lolos dari Sarah.
Sedangkan Dodi hanya menunggu di dalam rumah, melihat ke arah kaca rumah.
“Dodi kamu kenapa?” tanya Alan. Mengusap pelan punggung anak itu. terlihat wajah Dodi yang begitu kuatir akan keadaan sang papah.
“Dodi kuatir dengan papah, om Alan!” jawab Dodi. Menundukan pandangan, membuat Alan tersenyum menyemangati anak itu dan berkata,” kamu jangan kuatir papah kamu akan segera kembali."
"Benar begitu om?" tanya Dodi yang masih tak percaya dengan ucapan Alan.
Alan mulai menyakinkan Dodi, mengusap lembut rambut kepalanya," kapan om bohong."
"Emh." Dodi terdiam.
"Ayo jawab. Kapan Om bohong?" tanya Alan berusaha menyemangati Dodi kembali.
Namun beberapa menit kemudian, di tengah keresahan dan kecemasan yang di rasakan Dodi. Pada saat itulah mobil taksi berhenti di depan rumah, dimana pintu taksi itu terbuka dan menampilkan sosok Rudi yang keluar dari dalam mobil.
"Lihat itu siapa." Ucap Alan menujuk ke arah jendela.
Membuat kedua mata Dodi berkaca-kaca, iya begitu senang dengan datang nya sang papah. Turun dari dalam mobil membuat Dodi ke luar dan menghampiri sang papa.
__ADS_1
“Papah.” Ucap Dodi berlari. Rudi yang melihat anaknya berlari menghampiri dan berlari, mereka kini saling berpelukan. Membuat air mata Alan menetes secara perlahan tanpa ia sadari.
"Air mataku." Gumam hati Alan. Mencoba mengusap air mata dengan sigap.
Kini Alan mendekat pada kebahagiaan mereka, dan tersenyum senang.
“Terima kasih sudah menjaga anakku dengan baik,” ucap Rudi.
Alan memukul pelan punggung Rudi dan berkata,” aku yang seharunya berterima kasih, karna kamu telah menyelamatkanku di rumah sakit bersama Arpan.”
"Bagaimana si Sarah itu?" tanya Alan.
"Si Sarah mungkin tidak akan tinggal diam, dia pasti tengah merencankan sesuatu lagi. Karna saat di rumah sakit. Sarah sudah curiga dengan penyamaranku. Tapi kamu tenang saja, aku sudah mengancam suster itu agar tidak mengatakan hal-hal yang bersangkutan denganku!" jawab Rudi.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Alan
Kini Sisi mulai ke luar rumah, melihat Rudi yang sudah kembali, ia mulai memanggil Rudi dan Alan, begitu pun dengan Dodi. Untuk segera masuk ke dalam rumah, karna Sisi sudah mempersiapkan makan malam untuk mereka semua.
Pak Tejo yang melihat ke adaan Rudi sangatlah senang, dan merasa tenang.
"Rudi, kamu baik-baik saja nak?" tanya lelaki tua itu, ia hanya bisa duduk di kursi roda sementara waktu. Karna kakinya yang belum sembuh akibat pukulan yang bertubi-tubi dari suruhan Sarah.
"Syukurlah."
@@@@
Makan malam pun telah tiba, di mana Rudi dan yang lainnya berkumpul. Mereka mulai menikmati makan malam yang sudah di sediakan Sisi. Alan melihat pemandangan yang begitu hangat, di mana semua orang berkumpul dengan buah hati dan cinta mereka, membuat ia mengingat akan istrinya yang sudah lama tak jumpa. Rindu akan sosok wanita yang selalu memperhatikannya dan tak pernah jauh darinya.
“Alan, kamu kenapa?” tanya Sisi. Melihat wajah Alan yang begitu muram.
“Tidak, aku tidak kenapa- napa!” jawab Alan.
Rudi mulai membuat sebuah lelucon agar Alan tidak muram kembali, ia mulai berucap,” pasti rindu istri ya. Huuh kasihan yang jauh sama sang istri.”
Kedua pipi Alan memerah, ia malu dengan candaan Rudi. Saat itulah Sisi mulai berucap,” bagaimana setelah makan nanti kita, telepon Delia.”
Ucapan Sisi tentulah membuat Alan senang, ia memang sudah lama tak mendengar keadaan Delia. Karna setiap yang mengangkat telepon selalu Ane dan itu pun Ane selalu beralasan jika Delia tak mau di ganggu.
__ADS_1
Entah apa benar Delia tak mau di ganggu?
Bagaimana keadaan Delia yang sekarang?
Apa dia sudah sembuh dari depresinya?
Hanya pertanyaan itu yang terus terbayang pada kepala Alan.
“Sudah kamu jangan banyak melamun,” ucap Sisi. Saat itu Sisi mulai menampilkan layar ponselnya, di mana layar itu menujukan tiket keberangkatan Alan menuju ke luar negeri.
Alan dan yang lainnya sanggatlah terkejut, begitu pun dengan Rudi,” cie yang sebentar lagi mau ketemu bebeb.”
Alan tak menyangka jika Sisi begitu mengerti akan perasaannya yang selalu melamun akhir-akhir ini.
“Besok kamu bisa menemui istrimu Alan, jadi jangan kuatir aku sudah menyiapkan dana dan juga uang sakumu di dalam perjalanan,” ucap Sisi.
“Terima kasih Sisi,” balas Alan.
“Ini belum seberapa, aku yang harusnya berterima kasih padamu, karna kamu suamiku selamat,” ucap Sisi.
Sedangkan dengan Pak Tejo, dia terdiam pilu. Melihat kebahagiaan terpancar dari keluarga yang berkumpul di depannya, membuat sang cucu berkata,” kakek jangan bersedih kan masih ada aku.”
Pelukan hangat sang cucu, membuat hati sedih Pak Tejo kini berbunga.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Alan sampai lupa dengan Dina dan Riri.
“Tunggu, jika aku pulang. Dina dan Riri belum di temukan,” ucap Alan.
Dodi mulai angkat bicara dan berkata,” om Alan tenang saja. Biar papah yang mencari keberadaan mereka berdua.”
“Tapi ....”
Rudi mulai berucap,” kamu tenang saja. Aku akan mencari keberadaan mereka. Jadi tak usah kamu pikirkan.”
“Baiklah kalau begitu.”
Bagaimana kah keadaan Dina dan Riri?
__ADS_1
@@@@@@