Istriku Kumel

Istriku Kumel
145


__ADS_3

Alan melambaikan tangan kearah para pelayan, untuk segera membawakan menu makanan yang akan ia pilih bersama Dodi dan juga Delia.


" Silakan dipilih menu, makanannya?"


Satu pelayan menyodorkan menu makanan. Dodi tampak sedih karena acara makan malam yang ia rasakan saat ini, mengingatkan Dodi akan sang ibunda.


Delia dan Alan saling memandang satu sama lain. Membuat Delia bertanya kepada Dodi, anak kecil yang duduk di sampingnya.


"Dodi kamu melamun lagi? Kenapa kamu melamun lagi?"


Dodi tampak malu, Delia mulai meraih buku menu makan menyodorkan ke arah Dodi.


" Kamu mau pilih yang mana, ayo."


Dodi membuka setiap lembar menu makanan, memilih beberapa hidangan.


Ada beberapa hidangan yang selalu mengingatkan dirinya terhadap ibunda tercinta.


"Dodi." Tangan lembut Delia menyentuh punggung tangan Dodi. Terseyum penuh kehangatan.


Dodi mulai bangkit pada akhinya, karena dirinya yang tak mau lagi bersedih pada saat itulah. Dodi mulai memilih makanan yang paling dia suka, tanpa mengingat sang Ibunda tercinta.


Dodi mulai berbisik dalam hatinya sendiri," kalau aku terus begini aku akan menjadi orang yang sangat menyesal. Seharusnya aku bangkit pada saat ini juga."


Ada rasa senang yang menyelimuti hati Delia dan juga hati Alan. Karena Dodi yang masih kecil begitu bisa berpikir seperti orang dewasa, entah dari mana anak kecil seperti Dodi bisa berpikir seperti orang dewasa. Yang akan tahu setiap masalah yang dihadapinya.


"Gimana Dodi? kamu pilih yang mana?"


Dodi menunjuk beberapa makanan yang sangat ia sukai tanpa mengingat sang ibunda.


"Aku mau yang ini, dan yang ini?"


"Oke."


Delia mulai memanggil pelayan restoran untuk mengambilkan hidangan yang sudah mereka pilih.


" Saya ingin ini, ini dan ini," ucap Delia menunjuk beberapa menu makanan yang sudah dipilih dirinya dan juga Alan, tak lupa Dodi.


" Saya akan ambilkan hidangan anda tuan dan nyonya, tolong tunggu sebentar."


Beberapa menit kemudian hidangan pun datang dan mulai tersusun rapi.


Dengan lahapnya Dodi memakan makanan yang berada di atas meja, yang sudah tersedia oleh para pelayan.


Delia benar-benar bahagia. Melihat Dodi yang menikmati menu makanan di restoran.


"Gimana Dodi? makanannya enak?"


Dodi yang sudah belepotan kini mengusap pipi dengan tisu.


" Wah ini enak banget, om. tante. Makasih ya."


Dengan lahapnya Dodi memakan makanan yang iya pesan, hatinya kini mulai terobati lagi, walau bayangan dan ingatannya. Masih terlintas pada sang Mama Yang selalu makan malam bersama dirinya.

__ADS_1


Malam itu benar-benar malam yang sangat indah bagi Delia, malam yang tak akan pernah terlupakan sepanjang hidupnya. Setiap kali ia melihat Dodi, seakan menganggap Dodi adalah anaknya sendiri.


Ia selalu memimpikan seorang anak dalam tidurnya. Karna sudah berapa kali, Delia terus saja kehilangan sang jabang bayi. Yang selalu ia nantikan dalam hidup dan bayangannya.


Kini hati Delia bahagia dengan kehadiran Dodi, yang akan dia angkat sebagai anak angkatnya. Delia sangat berharap sekali. kalau Dodi mau menjadi anak asuh Delia.


Setengah jam sudah berlalu, dengan makanan mereka yang sudah habis, tak tersisa.


Delia mulai tenang, tidak mempertanyakan lagi pertanyaan yang berada di dalam pikirannya terhadap Dodi.


Karna Delia tahu, Dodi pasti sulit untuk menerima menjadi anak angkat Delia dan Alan.


Acara makan-makan pun selesai, dimana Alan dan Delia mengajak Dodi untuk segera pulang ke rumah.


" Ayo jadi kita pulang."


Namun Dodi mulai berteriak." Tunggu." Saat itulah Alan dan Delia dengan terpaksa membalikkan badan dan bertanya ke arah Dodi.


" Kamu kenapa Dodi? Apa kamu masih lapar?"


Dodi menggelengkan kepala membuat Delia tak mengerti," terus kamu kenapa?"


Tanya Delia yang amat ragu dengan raut wajah Dodi.


" Ayo bicara nak," ucap Delia pelan.


Dodi mulai membuka mulutnya lebar ia berkata," aku ingin menjadi anak angkat kalian. Selama mamah Ami masih amesia."


Memegang kedua tangan seraya berkata," kamu yakin dengan keputusanmu sayang."


"Aku sangat yakin, tante."


Delia memeluk erat tubuh Dodi dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"Terima kasih tante."


Delia langsung membawa Dodi pulang. Berencana untuk memberi tahu Bu Sumyati dengan keputusan yang Dodi pilih saat ini.


Setelah sampai di rumah, nampak Bu Sumyati yang tengah menatap ke sana kemari, mencari keberadaan cucuknya.


"Nenek."


Dodi berlari, kearah sang nenek. Memeluk erat wanita tua itu. Pak Gunandi yang merasa bersalah langsung bertanya pada Dodi.


"Kamu kemana aja? Kenapa hilang begitu saja."


Dodi menundukan pandangan enggan mengatakan kemana tadi ia pergi.


Delia angkat bicara, tentang dirinya yang sudah membawa Dodi pergi tanpa pamit.


" Maaf tante, om. Saya bawa Dodi keluar sebentar, karna melihat Dodi yang tampak murung."


Bu Sumyati terseyum seraya berkata," terima kasih, Delia."

__ADS_1


"Sama-sama, bu."


Delia langsung berpamitan pada Dodi untuk segera pulang ke rumah." Dodi, tante sama om pulang dulu ya."


"Oke, makasih tante."


Terlihat raut wajah Dodi, menampilkan senyuman yang begitu indah, membuat sang nenek tak menghuatirkan dirinya.


"Ya sudah saya juga mau pulang dulu. Dodi baik-baik di rumah, jaga nenek."


" Baik pak dokter."


Seyuman Bu Sumyati dilayangkan pada Pak Gunandi, mereka bersalaman seperti kedua sejoli yang tengah merasakan cinta.


Dodi, mulai menyindir mereka berdua," cie Dodi bakal punya kakek nih, sebentar lagi."


Bu Sumyati yang malu langsung menarik lengan tangan Dodi untuk segera masuk ke dalam rumah.


" Ayo kita masuk, ke rumah Dodi."


" Yaelah malu ya nek."


Wanita tua itu langsung menutup mulut Dodi, menarik lengan tangan cucuknya lagi untuk masuk kedalam rumah.


Pak gunandi. Melambaikan tangan ketika Bu Sumiati dan Dodi masuk ke dalam rumah.


Ketika Dodi berjalan ber sejajar dengan sang nenek, kedua matanya melirik kearah raut wajah Bu Sumyati yang penuh dengan kebahagiaan.


Dodi mulai berbisik dalam hati," selamat tinggal nek, Dodi ingin melihatnya nenek bahagia bersama Pak Dokter. Dodi gak mau kalau suatu saat nanti nenek menikah dengan Pak Dokter nenek akan merasa terbebani dengan hadirnya Dodi di samping nenek dan Pak dokter."


" ya cepat bersihkan dirimu, nanti kita tidur, Dodi mau tidur sendiri apa mau tidur sama nenek?" tanya sang nenek pada cucuknya


"Sekarang kan Dodi udah gede, jadi Dodi mau tidur aja sendiri!" jawab Dodi dengan seyuman manisnya.


" Yakin, kemarin juga Dodi tidur sama nenek," ucap sang nenek sedikit membuat Dodi malu.


" Yakin kok Nek, sekarang Dodi kan anak pemberani, nggak kaya dulu." balas Dodi.


Tawa Dodi terdengar nyaring, begitupun dengan Bu Sumyati," memang ya cucu nenek pintar sekali, ya sudah cepat Kamu bersihin badan kamu. Habis itu jangan lupa gosok gigi ya sebelum tidur."


" Oke nek," ucap Dodi berlari ke arah kamarnya.


Di dalam kamar Dodi mulai merebahkan tubuhnya di kasur yang begitu empuk, membuat rasa nyaman pada hati dan pikirannya.


Perlahan Dodi mulai menutup kedua matanya, tapi ingatan itu kembali lagi, dimana Dodi mengingat semua tentang ucapan Delia.


Saat itulah Dodi meneguhkan hati, dia sudah yakin dengan dirinya sendiri, yang akan ikut dengan Delia pada saat yang tempat, karna ini yang terbaik untuknya.


"Mamah Nenek dan juga Papa aku akan pergi bersama tante dan juga Om Alan, semoga saja dengan kepergianku mereka akan bahagia tanpa harus menderita, begitupun dengan Mama. Mama akan bahagia dan tak akan merasakan kesakitan lagi karena terus mengingatkan akan diriku di masa lalu." Air mata mengalir deras membasahi pipi.


Acara pernikahan sudah usai digelar di mana Ami dan Rudi menikmati malam pertama, Ami tersenyum dengan bahagia," aku tak menyangka kita akan menikah Rudi.


Namun tiba-tiba saja. "Aw. Sakit."

__ADS_1


__ADS_2