
Semenjak Sisi di dalam penjara, hidup Ami merasa sedikit tenang. Dimana Ami tengah menikmati masa-masa bahagia, bersama keluarganya.
Delia dia terus mencari tentang kesalahan Sisi karna itu yang bisa membuat Sisi, membusuk di penjara lebih lama.
Karna ke sibukan Delia yang sebentar lagi akan menikah, Delia izin pada Ami untuk berhenti dalam menyelidiki Sisi dan akan lanjut setelah ia menyelesaikan kesibukannya sendiri.
Ami mengerti tentang Delia saat itu juga, tak lupa Ami menyelipkan satu lembar kertas yang bertulisakan nominal uang 50 juta.
Delia menolak karna bagi dia membantu sahabat adalah hal yang indah.
Apalagi seorang sahabat bisa bahagia karna bantuan dari dirinya sendiri.
Karna Ami memang berniat membayar Delia saat itu juga, Ami membayar semua keperluan pernikahan Delia.
Dari sanalah Delia harus menerima, karna Ami memaksa.
*****
Sesaat Ami dan Rudi tengah bergurau, mengobrol di ruang tamu, bersama Bu Sumyati. Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu depan rumah.
Ami langsung berdiri berjalan menghampiri pintu depan rumah, sesaat pintu terbuka.
Sosok seorang wanita berpakaian lusuh. Ia datang bersujud meminta maaf pada Ami.
Meraung menagis mencium-cium kaki Ami.
Wanita itu tak lain adalah Bu Nunik, wanita yang selama ini telah membuat hati Ami sering terluka. Kini datang dengan kata maaf, menyesal atas perlakuannya dulu.
Ami seakan tak kuasa melihat Bu Nunik yang menagis, hingga akhirnya ia menyuruh Bu Nunik bangun. Bediri di hadapan Ami.
Sebenarnya Ami sudah memaafkan Bu Nunik dari dulu. Tapi untuk menerima ia kembali ke rumah ini tidak mungkin.
Karna Ami takut, kejahatannya terulang lagi.
"Ibu mohon maaf kan ibu, dan izin kan ibu tinggal di sini sementara. Ibu sudah tidak sanggup tinggal di jalanan," ucap Bu Nunik kedua tanganya memegang tangan Ami. Memohon agar Ami mau menerimanya lagi di rumahnya.
"Maaf bu, Ami tidak bisa menerima ibu tinggal di sini ...,"
Belum mulut Ami berucap, Bu Nunik sudah direndungi amarah yang menggebu. Kedua tangannya mengepal. Rahangnya mengeras.
Ia malah menjabak hijab yang melingkar dan menutupi kepala Ami. Sampai hijab itu terlepas, memperlihatkan rambut Ami yang belum sempurna tubuh.
Bu Nunik tertawa, seraya berkata." Dasar wanita sialan, kurang ajar. Sudah penyakitan juga belagu."
Ami menagis kesakitan karna rambu yang tak seberapa itu dijambak oleh Bu Nunik.
Bu Sumyati yang heran karna Ami tak kunjung datang. Mencoba untuk menghampiri Ami di pintu depan rumah.
Begitu pun dengan Rudi. Disela pintu yang sedikit terlihat. Rudi melihat Ami yang tidak memakai hijab seakan tengah di jambak oleh seseorang.
__ADS_1
Bergegas berlari, Rudi langsung melepaskan tangan yang menjabak rambut istrinya itu.
Tapi, jambakan itu begitu kuat. Hingga Rudi tak segan mendorong tubuh Bu Nunik hingga terjatuh.
Rudi langsung mengambil hijab Ami yang tergeletak di atas lantai. Menutupi rambut yang tak seberapa itu.
Dari sana Rudi menyuruh Bu Sumyati untuk masuk ke dalam rumah dan membawa Ami pergi, dari hadapan Bu Nunik.
Langkah kaki lelaki bertubuh kekar itu langsung menghampiri Bu Nunik yang tergeletak, sembari menagis. Tumitnya mengeluarkan darah karna gesekan dari batu kerikil.
Mata Rudi menatap kearah Bu Nunik dengan tatapan kesal.
"Rudi liat ibu, Nak. Ibu terluka. Tolong bantu ibu. Nak," ucap Bu Nunik sembari menangis.
Rudi malah, kesal melihat tingkah Ibu Nunik yang pintar berdrama itu. Rahang Rudi mengeras, kedua matanya membulat.
Hati Rudi berbisik." Baru saja kemarin melihat Bu Nunik merasakan prihatin dan juga kasihan. Sekarang berubah menjadi kekesalan yang berujung.
Bu Nunik menundukan kepala, tak kuasa melihat mata Rudi di selimuti dengan kebencian pada diri Bu Nunik.
Bu Nunik terbangun, langsung memegang pipi Rudi dengan ke dua tangannya.
Namun, Rudi malah menepis pegangan tangan itu.
"Rudi, kamu tidak apa-apa Nak," ujar Ibu Sumyati menghampiri Rudi dan Bu Nunik.
Tanpa aba-aba. Bu Nunik langsung mencekik Bu Sumyati dengan begitu keras. Menepiskan tangan Bu Nunik dari leher Bu Sumyati, tak mudah melepaskan genggaman tangan yang mencekik Bu Sumyati. Tenaga yang dimiliki Bu Nunik saat itu juga.
Dari sana itu Rudi meniju Bu Nunik dengan tanganya hingga mengenai mata.
Bu Sumyati hampir saja kehilangan nyawanya karna cekikan yang sangat kuat. Nafasnya terengah-engah.
Entah kenapa, setelah mencekik Bu Sumyati malah tertawa. Dan berkata." Ku bunuh kamu Yati, karna kamu datang, hidupku hancur saat ini juga."
Ami berlari menghampiri Bu Sumyati yang diam mendengarkan ocehan Bu Nunik.
Menggiring dengan tangan Ami, Bu Sumyati akhirnya mau diajak ke rumah.
"Dengarkan ucapanku Yati, kamu akan terbunuh oleh tanganku sendiri," teriak Bu Nunik sembari jarinya menunjuk kearah Bu Sumyati.
Bu Sumyati yang mendengar teriakan Bu Nunik yang mengancam dirinya.
Seketika Bu Sumyati melirik dan berkata." Apa kamu gila Nunik?"
Rudi hanya bisa mengusap kasar wajahnya dan memegang pundak Bu Nunik. Menyadarkan dia dari amarah yang menggebu-gebu.
"Tolong, sadarkan dirimu bu. Jangan setan merasuki akal sehatmu, Sehingga merugikan dirimu sendiri," ucap Rudi air matanya jatuh. Membasahi pipi.
"Jangan sok bijak kamu Rudi, kamu hidup karna siapa!" jawab Bu Nunik menepis tangan Rudi.
__ADS_1
Rudi langsung memeluk Bu Nunik begitu erat.
Sampai saat mulut Bu Nunik berhenti berbicara. Air mata mulai jatuh di pelipih mata Bu Nunik, ada rasa tidak biasa. Saat Rudi memeluk Bu Nunik.
Apa ini yang dinamakan kasih sayang? Tanya dari hati Bu Nunik. Air mata itu jatuh tanpa di undang.
Rudi tak melepaskan pelukan itu di malah berkata." Apa ibu pernah merasakan pelukan dari seorang anak?"
Pertanyaan Rudi membuat hati Bu Nunik, seakan tak karuan. Ia hanya menagis dan menggeleng-gelengkan kepala.
Karna Bu Nunik tidak menjawab, Rudi langsung berkata." Bangaimana pun Rudi sangat sayang pada ibu, sejahat apapun pasti di hati ibu ada rasa sayang kepadaku."
Hati Bu Nunik terus berbisik." pelukan Rudi mengigatkan dimana aku bahagia saat bersama seorang ibu."
Saat itu juga Bu Nunik langsung menyingkirkan pelukan Rudi. Mendorong begitu keras hingga Rudi terlepas dari pelukan Bu Nunik.
Bu Nunik malah berlari dan pergi begitu saja, Rudi mengejar Bu Nunik tapi. Bu Nunik malah menghilang. Entah kemana dia?
Kerikil-kerikil jalanan membuat kaki Bu Nunik terluka, ia berjalan tanpa merasakan sakit, setelah pulang dari rumah Rudi dan Ami.
"Aku jahat, aku wanita jahat dan tak tahu diri. Ada apa dengan dadaku sesak rasanya."
Ucapan Bu Nunik membuat semua orang melihat ke arahnya, karna tingkahnya seperti orang gila. Berjalan sambil menagis dan tertawa menepuk-nepuk dadanya sendiri.
Tubuhnya begitu kurus sejak kejadian dimana Rudi memeluk sang Ibu, tak lain ialah hanya seorang wanita perusak rumah tangga orang lain.
Banyak orang yang simpati terhadap Bu Nunik, mereka memberi makanan dan uang pada Bu Nunik. Tapi Bu Nunik menghiraukan pemberian orang-orang baik yang berjalan melewati Bu Nunik.
Raut wajah Bu Nunik begitu pucat, sampai akhirnya Bu Nunik tiba-tiba pingsan.
Dari sanalah, semua orang berkumpul. Tidak ada orang yang berani menolong Bu Nunik.
Rudi yang melihat kerumunan itu langsung menghentika mobilnya dan melihat dikerumunan orang-orang itu.
Saat melihat orang yang tergeletak dan dikerumunan para pengunjung. Rudi langsung tertohok kaget, ia membawa Ibu Nunik ke rumah sakit.
Sesaat sadarkan diri di rumah sakit, Bu Nunik malah tertawa, menagis dan memukul para perawat di sana. Hingga perawat memegang tubuhnya yang gendut itu dengan sekuat tenaga.
Rudi tak kuasa melihat Bu Nunik seperti itu, dan pada akhirnya sang dokter. Menyuruh Rudi untuk menanda tangani surat pengalihan pasien ke rumah sakit jiwa.
Dengan rasa hati yang sangat sedih Rudi mensetujui pengalihan Bu Nunik ke rumah sakit jiwa.
Ami yang melihat Rudi memukul-mukul tembok berkata." Jangan sesali yang ada, ini semua sudah menjadi takdir."
Mengelus punggung Rudi, saat itu juga Rudi langsung memeluk tubuh Ami.
Mungkin ini yang terbaik untuk Bu Nunik dari semua kesalahan, yang telah ia perbuat di masa dulu.
Karma itu ada dan nyata. Jangan berbuat jahat kepada orang lain walau itu seujung kuku. Karna semua perbuatan akan berbalik pada diri kita sendiri.
__ADS_1