
"Ambillah nak, mudah-mudahan dengan ini. Kamu bisa cepat bertemu dengan istri dan anakmu," ucapan lembut dari seorang satpam kepada Rudi, membuat lelaki bertubuh kekar itu. Tak bisa menahan air mata, tidak ada rasa malu saat Rudi menangis dan orang-orang melihatnya.
Satpam itu menepuk-nepuk pundak, Rudi.
"Terima Kasih. Pak."
Dengan gagahnya satpam itu pergi dan pamit kepada Rudi, menunjukan satu jempolnya.
Rudi mengusap air mata, pertolongan selalu ada bagi suami yang selalu memuliakan Seorang istri terlebih dahulu.
"Ami, aku akan segera datang."
Menunggu penerbangan selanjutnya, dimana Rudi sudah bersiap-siap.
Ada satu penjaga mengecek idetitas Rudi, membuat Rudi sedikit kuatir karna tiket tak sama dengan nama dirinya.
Berusaha untuk tetap tenang, Rudi hanya pasrah jika apapun menimpa dirinya. Tapi ternyata petugas itu mengedipkan sebelah mata, memberi satu jempol. Sesaat membuka masker.
"Farhan Kamu."
Lelaki yang menjadi sahabat Rudi ternyata bekerja di salah satu penerbangan.
Farhan menempelkan jari tangan pada bibirnya sendiri dan berkata, " pelan kan suaramu."
Rudi bisa bernafas lega, begitu di beri kemudahan untuk dirinya. Sekarang Rudi bisa duduk tanpa kuatir di usir dari pesawat, karna tiket yang bukan miliknya.
Sedangkan satpam yang berjalan menangis seraya berkata," maafkan aku, istriku. Perjalanan aku tunda. Karna orang lain begitu membutuhkannya, rasa Rindu bisa di tahan, tapi ajal seseorang siapa yang akan tahu."
Lelaki yang menjadi satpam itu, bekerja di suatu pabrik swasta, yang jauh dari tanah airnya sendiri. Ia melerakan kerja jauh agar bisa mencukupi keluarganya.
Ketika pulang, dia berencana memakai baju satpam agar keluarganya bangga. Melihat dirinya sukses di negri orang, walau hanya bekerja sebagai satpam saja.
Namun, perjalanannya tertunda. Saat orang yang berada di sebelahnya menangis, orang itu tak lain adalah Rudi. Di dalam telepon dia terus menyemangati anaknya. Apalagi saat mendengar Rudi berkata sang istri sedang berada di rumah sakit, tidak sadarkan diri.
Membuat hati satpam yang bernama Galih itu bergerak untuk membantu.
Sesaat telepon berbunyi.
__ADS_1
Pak Satpam yang tak lain Pak Galih itu, menganggkat telepon, saat melihat benda pipih pada layar ponselnya. Ternyata dari sang istri.
"Papa jadi pulangnya hari ini?" tanya anak kecil bersuara merdu. Membuat hati sang papa merindu, lelaki itu terus berusaha menahan air mata.
"Maafkan papa, ya. Sayang. Papa enggak jadi pulang, kebetulan papa kehabisan tiket!" jawab Galih berbohong pada sang anak. Tiba-tiba saja panggilan dimatikan.
Dreett .... Ponsel bergetar kembali.
"Kenapa papa enggak jadi pulang bukannya sudah dapat tiket?" tanya sang istri pada sambungan telepon.
"Maafkan papa, Mah. Papa ngasih tiket papa ke orang lain yang lebih membutuhkan!" jawab Galih, menjelaskan semuanya.
Sang istri hanya menarik nafas pelan dan berkata," kamu luar biasa suamiku. Enggak papa kamu enggak pulang, asal jaga kesehatan, ya. Kami di sini akan menunggu kepulanganmu."
Kata-kata semangat yang terlontar dari mulut sang istri membuat Galih, bisa bernafas lega. Dengan mengusap pelan dada. Pak Galih pulang dengan keadaan senang.
Bagi Pak Galih, tidak akan rugi kalau kita bisa menolong seseorang. Apalagi dia dalam kesusahan, karna suatu saat kita sama akan ditolong oleh orang lain, walau bukan orang yang sama yang pernah kita tolong.
***********
Di atas ranjang yang besar ini, Bu Ira tidak mendapatkan ketenangan hanya rasa ketakutan. Ia memikirkan cara agar Sisi tidak mengungkapkan semua yang ia tahu tentang rahasia besar Bu Ira.
Menempelkan kedua tangan, menahan rasa gemetar dalam hati dan pikiran Bu Ira.
Ia mulai menyingkirkan selimut yang menutup kedua kakinya, beranjak berdiri dari tempat tidur.
Berjalan menghampiri jendela luar, ia merasakan angin menusuk pori-pori kulit. Membuat rambut pendeknya sedikit terangkat oleh hembusan angin.
Pikirannya seakan bingung saat ini.
"Apa aku harus mengungkapkan semuanya."
Resah gelisa, nafas Bu Ira rasanya seakan sesak. Menahan semua rahasia yang sudah ia simpan puluh- puluhan tahun ini.
Perkataan Sisi terus terdengar dari telinga Bu Ira, padahal Sisi sudah ke luar dari dalam kamar.
"Sisi, kenapa kamu bisa tahu semuanya?"
__ADS_1
Ketukan pintu terdengar lagi.
Ternyata Sisi datang dengan membawakan air minum untuk dirinya.
"Obat sama air minumnya, bu."
Sisi hanya meletakan di atas meja, dia berlalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Membuat Bu Ira langsung memanggil dirinya.
"Sisi, tunggu."
Langkah kaki wanita bermata bulat itu berhenti seketika, ia membalikan badan dan berkata," ada apa bu?"
Wanita tua itu berjalan mendekat kearah Sisi, memegang kedua bahu Sisi dengan telapak tangannya.
"Si, apa kamu mau membantu ibu, mengatakan semuanya?" tanya Bu Ira. Membuat Sisi terseyum, dan meraih punggung Bu Ira, menempelkannya secara bersamaan.
"Kalau untuk berkata jujur, Sisi akan bantu. Bu, demi kebaikan Arsyla dan Arpan!" jawab Sisi terseyum. Bu Ira yang mendengar perkataan Sisi langsung memeluk wanita berwajah bulat itu.
"Terim kasih, sih. Ibu akan berkata semua rahasia ibu pada mereka berdua, karna ini yang terbaik. Ibu sudah lelah menyimpan kebohongan demi kebohongan dan ibu sudah siap masuk ke dalam penjara," ungkapan Bu Ira kepada Sisi. Membuat wanita berbulu mata lentik itu kaget.
"Jadi yang membunuh Pak Burhan, suami ibu adalah ibu sendiri?" tanya Sisi. Karna dia baru tahu semuanya, apa yang Sisi tahu hanyalah perselingkuhan Bu Ira dengan ayahnya Arpan.
"Iya, Sisi," ucap Bu Ira. Melihat telapak tangannya dan berkata," tangan ini yang sudah membunuh Pak Burhan tanpa sengaja. Dan tangan ini menjadi saksi bisu masuknya Pak Ardan ke dalam penjara.
Bu Ira menangis tersedu-sedu. Hatinya rapuh, saat membahas tentang masa lalu dirinya yang menjijikan.
Sisi mendekat mengusap punggung Bu Ira.
"Manusia tidak ada yang sempurna, mereka pasti mempunyai kekurangan. Begitu pun dengan kesalahan tidak ada manusia yang tidak mempunyai kesalahan, mereka semua punya."
Nasehat dari Sisi, membuat Bu Ira terseyum. MemeluK Sisi begitu erat.
"Terima kasih, atas kata-kata semangatmu, Sisi."
"Sudah Bu Ira jangan menangis lagi, jangan anggap diri Bu Ira itu Jijik. Karna sejatinya manusia itu tidak ada yang hina dan jijik, dimata yang maha kuasa mereka mulia. Yang membedakan hanyalah di mata manusia yang tidak bisa menhargai orang lain.
Bu Ira tahukan, orang yang tidak menghargai orang lain sama saja orang yang tidak bisa menghargai dirinya sendiri. Dia paling mulia di matanya sendiri, padahal dimata sang maha kuasa. Kita tidak tahu."
__ADS_1