Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 183 Suara gedoran pintu.


__ADS_3

Alan dan Pak Tejo langsung menatap ke arah belakang, melihat ke arah pintu pesawat yang di tutup rapat. Oleh mereka berdua, karna rasa takut jika nanti ada hewan buas memangsa jasad-jasad di dalam pesawat.


Alan dan Pak Tejo berniat untuk mengubur jasad-jasad itu besok.


“ Pak, bapak dengar tidak suara orang mengedor-gedor pintu pesawat?” tanya Alan pada Pak Tejo.


Lelaki tua itu menganggukkan kepala, dan menjawab,” dengar Nak Alan!”


“Apa kita lihat saja ke sana,” ucap Alan mengajak Pak Tejo untuk melihat keadaan pesawat itu.


“Jangan, lebih baik kita tunggu besok saja,” balas Pak Tejo. Rasa takut mulai menghantui pikiran lelaki tua itu.


“ Tapi, pak. Perasaan Alan tak enak, Alan penasaran sekali kenapa dalam pesawat itu terdengar ada orang yang menggedor pintu pesawat beberapa kali,” ucap Alan. Ia penasaran dengan suara gedoran pintu itu.


Tiba-tiba saja Dodi datang menangis meminta ingin di temani tidur.


“Dodi, kamu tidur dengan Tante cantik dulu, ya. Om ada urusan penting,” ucap Alan. Berusaha berkata lembut agar Dodi mengerti.


“ Ya sudah kalau begitu,” balas Alan sedikit memajukan bibir atas bawanya. Seakan kesal dengan jawaban sang Om.


Dodi mulai membalikkan badan pergi dengan wajah muramnya.


“ Pak Tejo, jaga mereka di sini. Alan ingin melihat ke bangkai pesawat sebentar.” Ucap Alan. Lelaki berbadan kekar itu mulai berpamitan untuk segera bergegas pergi menuju lokasi.


Pak Tejo hanya menganggukkan kepala, seraya berucap,” hati-hati.”


Alan bergegas pergi menuju pesawat, hanya bermodalkan keberanian. Dengan membawa alat seadanya, hanya penerang dari kayu yang ia bawa.


Suara itu tiba-tiba hilang seketika, saat Alan menghampiri pesawat. Keadaan tampak sunyi, hanya angin yang terasa menusuk pada badan Alan.


“ ke mana gedoran itu, kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja.”


Alan terus mencari mengelilingi pesawat, ia mulai berjalan perlahan ke arah belakang pesawat. Siapa tahu ada hewan yang berusaha memakan jasad manusia di dalam pesawat. Mungkin sebisa mungkin ia akan mengusir hewan-hewan itu.


Jantung mulai berdetak tak karuan, tiba-tiba rasa takut menyelimuti hati Alan.


Setelah mengelilingi pesawat, langkah kaki seakan ada yang mengikuti. Alan mulai curiga, ia berusaha bersikap tenang.


Sampai beberapa menit kemudian. Satu pukulan hampir mengenai wajah Alan. Namun berhasil dihindarinya.


Alan mulai melayangkan satu pukulan pada orang itu, dengan sebisa yang ia mampu.


“ Ampun.”


Seorang lelaki tua berlumuran darah di wajahnya, membuat Alan tak tega memukulnya lagi.


Alan langsung menolong, lelaki tua itu. Namun lelaki tua itu malah mendorong tubuh Alan, tangannya gemetar ketakutan.

__ADS_1


“ Menyingkir. “


Lelaki tua itu malah berlari ke arah hutan, Alan dengan sigap menarik tangan lelaki tua itu dan membuat ia pingsan.


Melihat dari wajahnya, ia seakan trauma dengan apa yang sudah terjadi.


Menunggu beberapa detik. Akhirnya lelaki tua itu sadar juga, ia mulai bergerak menjauh di hadapan Alan. Sedangkan Alan berusaha menenangkan lelaki paruh baya yang seakan tak asing baginya.


“ Bapak tenang dulu, saya tidak akan macam-macam kok pak.”


Alan berusaha mendekat satu langkah, ke arah lelaki itu. Berharap dia bisa di ajak bicara dengan tenang olehnya.


“ Stop. Jangan melangkah lagi, atau aku akan bunuh kamu.” Teriaknya ketakutan.


Alan mulai berusaha menenangkan ketakutan lelaki tua itu. Meyakinkan bahwa dirinya bukan orang jahat.


“Saya ini bermaksud baik sama bapak, jadi bapak tenang dulu.”


Lelaki tua itu mengerutkan dahinya menjawab dengan tegas,” jangan bohong.”


“ Saya tidak bohong pak.”


Lelaki tua itu mulai luruh oleh kata-kata Alan. Membuat ia menjatuhkan besi panjang.


“ Bapak percaya sama saya. Saya akan obati luka bapak sekarang juga,” ucap Alan meyakinkan lelaki tua itu.


“ Ayo, pak. Kita ke tempat saya, di sana banyak orang yang terluka seperti bapak,” ajak Alan pada lelaki tua itu.


“ Aku akan ikut kamu, tapi jika jamu bohong. Awas saja,” balas lelaki tua itu.


“ Baik pak.”


Alan mulai menggandeng, bahu lelaki tua.


Di saat langkah kaki mulai melangkah.


Suara keras terdengar lagi.


Di dalam pintu pesawat?


“ Tunggu pak, saya akan mengecek pintu pesawat dulu.”


Lelaki tua itu menghentikan Alan, agar tidak membuka pintu pesawat itu.


“ Jangan buka pintu itu,” ucap lelaki tua itu seakan. Mengisyaratkan hal yang begitu penting.


“ Kenapa pak? Saya takut orang yang minta pertolongan saya?” ucap Alan dengan begitu yakin jika yang mengedor pintu adalah orang yang selamat dari pesawat.

__ADS_1


“ Saya ingatkan kamu jangan buka. Jika kamu buka, kamu akan celaka!” Jawaban lelaki tua itu sangat menegangkan sekali membuat perasaan penasaran.


“ Memangnya kenapa pak?” tanya Alan.


“ Tidak apa-apa hanya saya ingatkan kamu saja!” jawab lelaki tua itu.


Alan hanya bisa menurut saja, walau sebenarnya hatinya sangat penasaran sekali.


Sebenarnya apa yang ada di dalam pesawat itu? Gumam hati Alan.


Mereka langsung meneruskan perjalanan menuju ke lokasi, dengan harapan Pak Tejo dan yang lain dalam ke adaan baik-baik saja.


“Jangan pikirkan orang-orang di pesawat. Sekarang kamu pikirkan diri kamu sendiri dan orang lain yang berada di sekelilingmu,” Ucap lelaki tua itu secara tiba-tiba. Membuat Alan merasa heran.


setelah sampai di tempat tujuan. Alan melihat semua baik-baik saja, sedangkan orang yang ia gandeng tiba-tiba berubah menjadi bambu.


Alan benar-benar kaget bukan main. kenpa bisa berubah seketika, apa lelaki tua itu tertinggal.


Ia benar-benar dibuat bingung pada malam itu, entah kenapa hal mistis yang ia tak percaya menjadi kenyataan di depan mata.


Pak Tejo mendekat, ke arah Alan. Ia heran dengan wajah Alan yang putih pucat seakan syok berat.


Dengan tergesa-gesa Pak Tejo terus mendekat dan membuyarkan lamunan Alan.


" Alan ... nak ...."


Alan tetap saja diam mematung seakan ia tengah memikirkan sesuatu hal yang begitu berat.


" Alan, eling kamu kenapa?'


Seketika tubuh Alan melemas ia terjatuh pada tanah, kedua lututnya seakan melemas.


" Loh, kenapa ini?"


Bibir Alan seakan keluh, apa yang ia ingin ucapkan seakan berat.


Pak Tejo masih bingung dengan perubahan Alan yang tiba-tiba diam, ia mulai menepuk-nepuk bahu Alan. Berusaha menyadarkan Alan dari lamunanya.


sedangkan Alan masih bingun dengan apa yang ia pegang.


" Lan. sadar."


setelah PaK Tejo melantukan beberapa bacaan, Alan mendadak ketakutan dan gemetar hebat. tubuhnya mengigil.


Pak Tejo dengan sigap membawa Alan ke gubuk yang mereka buat, agar Alan tetap tenang dan kembali sehat seperti sedia kala.


Ada apa dengan Alan? Gumam hati Pak Tejo

__ADS_1


__ADS_2